Deburan Gairah Sang Segara

Deburan Gairah Sang Segara
Eps. #55 Akhir Dari Sebuah Kejahatan


__ADS_3

"Belum cukup katamu, Al?' tanya Arkha tersenyum mengejek.


"Sekarang kau sudah tidak bisa berkelit lagi. Dasar serakah! kau itu memang benar benar licik! Kau sengaja membohongi semua orang dengan meyakinkan bahwa aku sudah mati agar tidak ada seorangpun yang mencariku, bukan? hanya dengan cara seperti itu orang orang akan mengira kalau aku sudah mati dan dengan cara itu kau bisa mengambil alih semua kekayaanku!" beber Arkha berteriak berang.


"Kau juga sengaja menikahi Livina agar semua harta yang aku wariskan padanya dan juga putriku jatuh ke tanganmu!" tuduhnya semakin geram.


"Jangan bawa bawa nama Livina dalam urusan kita, Arkha! Aku menikahinya karena aku kasihan padanya, bukan karena menginginkan warisannya!" tangkis Alfin. Tentunya dia tidak mau Livina ikut terlibat dalam urusannya dengan Arkha.


"Masih coba mengelak juga kau, Al! aku punya saksi hidup atas semua keserakahanmu!" bentak Arkha.


"Saksi hidup apa, Arkha! lagi lagi kau memberi tuduhan palsu terhadap diriku!" tampik Alfin acuh karena dia merasa kalau dia dan anak buahnya sudah menghabisi semua saksi yang mengetahui kejahatannya.


"Saksi hidup yang mana lagi yang akan ditunjukkan Arkha kepadaku?" gumam Alfin dalam hati, sebenarnya dia merasa gentar dengan semua tuduhan Arkha.


"Panggil dia kesini, Rendy!" perintah Arkha kepada asistennya.


Rendy langsung memberi sebuah isyarat kepada anak buahnya yang berjaga di depan pintu, dan seorang pria berpakaian formal langsung masuk ke ruangan itu.


Lagi lagi Alfin terkesiap melihat pria yang baru saja masuk ke ruangannya, pria itu tak lain adalah pengacaranya Arkha yang pernah diancam dan dipaksanya untuk mengubah isi surat wasiat Arkha dan pengacara itu sudah menghilang selama dua bulan lamanya.


Setelah Arkha kembali ke kota itu, Arkha bersama Rendy lah yang menyembunyikan keberadaan pengacara itu dari mata - matanya Alfin yaitu dengan cara mengirimnya ke luar negeri dan mengganti identitasnya. Arkha sudah tahu akal busuk Alfin yang pasti akan mengancamnya lagi dan memaksanya untuk mengubah isi surat wasiatnya.


"Demi mendapatkan warisanku, kau mengancam pengacaraku agar dia mau menuruti keinginanmu untuk mengubah surat wasiatku. Apa itu bukan tindak kejahatan namanya, Alfin!" seru Arkha.


"Sekarang anda sudah tidak bisa mengelak lagi, Pak Alfin! kami akan segera mengajukan tuntutan atas semua tindak kejahatan yang anda lakukan!" ujar pengacara ikut menimpali.

__ADS_1


"Saran saya, serahkan diri ke polisi sebelum polisi - polisi itu datang untuk menangkap Anda, Pak Alfin!" sambung pengacara itu lagi.


Alfin seketika terdiam, nyalinya semakin menciut, satu per satu kejahatan dan kecurangannya berhasil diungkap oleh Arkha. Terlebih saat itu semua anak buahnya juga sudah berhasil dilumpuhkan oleh Rendy dan kawanannya. Akan tetapi, Alfin tidak langsung menyerah, karena merasa terdesak, dia secepat kilat membuka laci mejanya dan mengambil sebuah pistol dari dalamnya. Alfin langsung menodongkan pistol itu tepat di kepala Arkha.


"Jangan ada yang berani melapor ke polisi!" ancam Alfin dengan berteriak, "kalau ada yang berani melakukan itu, peluru ini akan menembus kepalanya!" lanjut Alfin.


"Bos!" pekik Rendy mengkhawatirkan keselamatan Arkha.


Arkha hanya memejamkan matanya sejenak dan menarik nafas dalam dalam, dia tidak dapat berkutik saat ujung pistol Alfin menempel di pelipisnya.


"Perintahkan mereka semua pergi dan jangan sampai ada yang melapor ke polisi, Arkha! atau kau akan benar benar mati hari ini!" bisik Alfin di telinga Arkha.


"Pengecut kau, Alfin!" seringai Arkha juga dengan berbisik penuh amarah.


"Kalian semua keluar!" Akhirnya Arkha memerintahkan Rendy dan semua orang yang ada di ruangan itu keluar.


"Aku bilang keluar, Rendy! bawa semua orang orang ini juga keluar dari sini, cepat!" seru Arkha mempertegas perintahnya lagi. Meski di bawah ancaman Alfin yang tengah menodongkan pistol ke arahnya, Arkha tidaklah merasa Gentar, dia hanya sedang mencari kelengahannya sehingga bisa menghajar Alfin dengan tangannya sendiri.


Walau dengan terpaksa, Rendy segera membawa semua saksi saksi itu keluar beserta semua anak buahnya, namun dia tetap berjaga - jaga di sekitar ruangan itu. Wajahnya nampak sangat khawatir takut sesuatu terjadi terhadap atasannya yang sangat diseganinya itu.


Doorr....!


Suara tembakan keras terdengar dari dalam ruangan itu.


"Bos Arkha....!" teriak Rendy semakin cemas. Rendy langsung berlari kembali masuk ke ruangan itu.

__ADS_1


Rendy melebarkan matanya, Arkha terlihat berdiri dengan pistol Alfin yang kini sudah berpindah ke tangannya, pistol itu berbalik ditodongkannya ke arah Alfin yang berdiri di hadapan Arkha sambil mengangkat kedua tangannya tanda dia sudah menyerah.


Rendy menoleh ke langit - langit ruangan dan melihat sebuah lubang kecil disana yang masih mengeluarkan asap tipis, berati peluru itu sudah menembak kosong ke atas, dan Rendy langsung tersenyum kecut melihatnya. Dia tahu kalau Arkha dengan mudah bisa mengatasi Alfin meski Alfin menggunakan senjata paling mematikan sekalipun.


"Hebat, Bos! Anda bisa dengan mudah mengatasi Pak Alfin!" puji Rendy dengan senyum sumringah.


"Apa kau masih meremehkan aku, Rendy!" sahut Arkha sambil tersenyum jumawa.


"Polisi juga sudah on the way kesini, Bos!" ujar Rendy seraya tersenyum sinis menoleh ke arah Alfin yang sudah tertunduk pasrah akan nasibnya yang akan segera digiring ke penjara oleh polisi.


"Bagus, Rendy!" Arkha ikut membalas pujian asisten kepercayaannya itu.


"Sebentar lagi kau akan meringkuk di penjara, Alfin!" teriak Arkha sambil terus menodongkan pistol itu ke arah Alfin.


"Cih...! jangan sombong kau, Arkha, aku sama sekali tidak takut dengan polisi!" umpat Alfin menyembunyikan rasa ketakutannya.


Beberapa menit berselang polisi sudah datang ke lokasi untuk menangkap Alfin, senyum kemenangan nampak terlukis di antara semua anak buah dan saksi yang berpihak kepada Arkha.


"Jangan senang dulu, Arkha! aku pasti akan balas dendam!" pekik Alfin saat polisi menggiringnya menuju kantor polisi, namun Arkha hanya tersenyum dingin menanggapinya. Setelah ditangkap polisi, Alfin bukanlah apa apa lagi baginya, sahabat baiknya yang berkhianat dan menjadi musuhnya, sebentar lagi akan menghuni bui dalam waktu yang lama bahkan bisa sampai seumur hidupnya.


"Sampai bertemu di pengadilan, Al!" Kembali Arkha mengejek Alfin dengan senyum seringainya.


"Ini akibat kau berkhianat dan berani menikamku dari belakang, Alfin!" gerutu Arkha saat melihat kedua tangan Alfin sudah diborgol oleh polisi.


Suasana di depan kantor itu mendadak ramai, setelah mendengar raungan sirine mobil polisi yang menangkap Alfin, banyak karyawan perusahaan berkumpul disana dan bertanya - tanya tentang apa yang tengah terjadi. Mereka semakin penasaran saat melihat Alfin yang digiring oleh polisi masuk ke mobil polisi itu.

__ADS_1


Arkha ikut keluar dari ruangan kerjanya dan otomatis semua mata karyawan - karyawan itu terbelalak saat tertuju padanya.


Atasan mereka yang dikira sudah meninggal ternyata masih hidup bahkan kini tengah berdiri di hadapan mereka.


__ADS_2