Deburan Gairah Sang Segara

Deburan Gairah Sang Segara
Eps. #26 Ditunda Dulu


__ADS_3

Keesokan paginya, Mutiara sudah kembali melanjutkan aktivitasnya seperti biasa. Dibantu oleh Segara, ia terlihat sibuk melayani para pembeli yang cukup ramai di warungnya pagi itu.


Riuh obrolan di antara para nelayan yang baru pulang dari melaut itu pun terdengar saling sahut menyahut. Mereka mebahas banyak hal tentang kejadian di kampung itu atau hanya sekedar bersenda gurau saja.


Mutiara perlahan mendekati salah seorang nelayan yang terlihat sangat serius mengobrol dengan rekannya, dari perbincangan mereka, sepintas Mutiara mendengar sebuah berita yang membuatnya merasa penasaran.


"Siapa yang meninggal di kampung kita, Bang?" tanya Mutiara kepada pria nelayan itu yang terdengar membahas tentang berita kematian salah seorang warga di kampungnya.


"Loh, kamu nggak denger berita duka itu ya, Ra?" nelayan itu berbalik bertanya kepadanya.


"Enggak, Bang! memangnya siapa yang lagi berduka disini, Bang?" tanyanya lagi semakin penasaran.


"Itu Si Nana istrinya Faizal, tadi malam meninggal dan siang ini akan dimakamkan!" cerita pria nelayan itu .


"Nana sepupunya Tatin sahabatku itu, Bang! ah masa sih? baru kemarin lusa aku bersamanya di pasar, dia kan lagi hamil tua, Bang?" Mutiara menggelengkan kepalanya tak percaya, ia sangat terkejut mendengar berita duka yang tidak disangkanya itu.


"Justru karena itu, Ra! dia meninggal saat akan melahirkan bayinya!" sambung pria nelayan itu. "Posisi bayinya sungsang dan dukun beranak yang membantunya melahirkan tidak bisa menolongnya, dia mengalami pendarahan hebat. Sayang sekali dia terlambat dibawa ke kota kecamatan, dia dan bayinya meninggal sebelum sempat dibawa ke bidan!" terang nelayan itu menyelesaikan bercerita.


"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un" Mutiara seketika terhenyak mendengar berita itu.


"Kasihan Nana ya, Bang! dia masih sangat muda, sangat disesalkan meninggalnya saat akan melahirkan!" sambungnya dengan nada sedih.


"Kejadian seperti itu kan sudah sering terjadi di kampung kita ini, Ra! sudah banyak gadis disini yang meninggal karena melahirkan, itu karena mereka hamil saat usianya masih sangat muda, rahimnya belum cukup kuat karena mereka hamil saat baru menginjak usia remaja!" seru seorang nelayan yang lain ikut menimpali.


"Untung juga kamu baru nikah saat udah cukup umur, Ra!" celetuk nelayan yang lain yang juga ikut dalam obrolan itu.


"Iya, nggak apa apa disebut perawan tua, yang penting kan udah cukup umur kalau nanti hamil!" sahut nelayan yang lain. Lalu mereka semua terdengar tertawa terkekeh bersamaan menggoda Mutiara.

__ADS_1


Mutiara hanya tersenyum datar tidak melanjutkan obrolan di antara mereka lagi, karena ia harus melayani pembeli yang lain.


Segara pun hanya diam menyimak percakapan Mutiara dengan para nelayan itu. Ia langsung ingat kalau usia Mutiara juga masih sangat muda, ada rasa khawatir apabila Mutiara sampai hamil di usianya sekarang. Ditambah lagi fasilitas kesehatan di kampung itu sangat tidak memadai.


Akan tetapi, kemarin ia sudah begitu bebas melakukannya dengan Mutiara, tanpa pengaman apapun. Bahkan tadi malam ia juga melakukannya lagi sampai berkali kali.


Karena melihat kondisi Mutiara yang sedang tidak enak badan, Imran tidak mengijinkan Segara ikut melaut dan menyuruhnya menjaga Mutiara di rumah tadi malam, sehingga memberinya kesempatan memadu cinta lagi dengan istrinya itu.


Segara menghela nafas panjang,


"Ya Tuhan, jangan sampai Mutiara hamil dulu, dia masih sangat muda, aku tidak mau terjadi apa apa dengannya!" doanya dalam hati.


Semakin siang, warung itu juga sudah semakin sepi, kini sudah tak ada seorangpun disana kecuali Mutiara dan Segara.


"Ra, kamu kapan terakhir datang bulan, Sayang?" tanyanya sambil berbisik di telinga Mutiara. Saat itu Segara tengah memeluk Mutiara dari belakang sambil menyelipkan wajahnya di pundak Mutiara dan sesekali mengecup pipinya.


"Datang bulanku nggak teratur, Bang! aku bahkan nggak ingat kapan terakhir aku haid." jawabnya.


"Memangnya kenapa, Bang? kok tiba tiba tanya tentang tanggal haidku?" Mutiara sedikit heran dengan pertanyaan Segara.


"Nggak apa apa, Ra. Hanya saja setelah mendengar cerita para nelayan tadi aku jadi takut kalau kamu sampai hamil di usiamu sekarang." bebernya berterus terang.


Mutiara hanya menganggukkan kepala dan paham maksud dari kalimat yang diucapkan Segara.


Setelah itu Mutiara langsung terdiam ia juga mempunyai kekhawatiran yang sama dengan Segara. Lagi pula, meski usianya sudah dua puluh tahun saat itu, namun ia sendiri juga merasa belum siap memiliki seorang anak.


"Ra, kita harus sama sama jaga agar kamu jangan sampai hamil dulu, aku nggak mau terjadi hal seperti yang dialami sepupu sahabatmu itu!" tegas Segara.

__ADS_1


"Iya, Bang! kita akan sama sama jaga, ya!" sahut Mutiara mengiyakan.


"Tapi sekarang aku mau masak dulu, Bang! Abang tiduran aja dulu sebentar sampai aku selesai masak!" perintahnya sambil melepaskan pelukan Segara.


Segara langsung menurut dan duduk di kasur lipat tempat mereka pertama kali melewatkan kemesraan bersama. Segara tersenyum kaku melihat bercak darah yang sudah mengering di kasur itu. Kasur usang itu adalah saksi bisu bagaimana ia merenggut kegadisan istrinya di malam pertama mereka.


Selesai masak seperti biasa Mutiara memasukkan semua makanan itu ke dalam rantang untuk dibawa pulang.


"Aduh, perutku sakit, Bang!" Mutiara merintih sambil memegang perutnya yang tiba tiba terasa sakit dan wajah Mutiara tampak pucat.


"Kenapa, Ra?" Segara mulai cemas karena melihat Mutiara langsung berlari ke kamar mandi dan terus memegang perutnya.


"Kita harus cepat pulang, Bang!" ajak Mutiara saat ia baru saja keluar dari kamar mandi.


"Aku datang bulan, dan aku tidak punya pembalut disini!" sambungnya.


"Ah... untunglah saat ini kamu tidak hamil, Ra!" ucap Segara senang. Setidaknya mulai saat itu ia bisa menjaga agar Mutiara tidak sampai hamil walau mereka sudah pasti akan tetap melakukan hubungan suami istri.


"Tapi berapa lama biasanya kamu haid, Ra?" tanya Segara lagi.


"Paling seminggu sampai sepuluh hari, Bang!"


"Hah sepuluh hari? lama banget, Ra! apa aku harus puasa selama itu?" wajah Segara berubah nampak kecewa.


Mutiara hanya tersenyum geli menanggapi kekecewaan Segara, tentu saja ia berbohong sengaja mengolok oloknya. Masa haidnya biasanya hanya empat sampai lima hari saja.


"Memangnya sepuluh hari itu lama ya, Bang!" cibir Mutiara.

__ADS_1


"Ya lama lah! aku nggak kuat kalau harus lama lama tidak menyentuhmu, Ra! kamu itu candu buatku!" kembali Segara tersenyum kecut dan berterus terang. Entah mengapa keluguan Mutiara begitu membuatnya ketagihan dan ingin selalu mengecapi manisnya cinta mereka berdua.


__ADS_2