
Mereka tiba di lantai delapan gedung apartemen. Sandra membuka pintu sebuah unit disana dan mempersilahkan Mama Yuna dan Mutiara masuk.
Mama Yuna memperhatikan semua ruangan di apartemen itu dan sebuah senyum terlihat menghiasi wajahnya, "tempat ini masih sama, entah sudah berapa lama aku tidak pernah kesini," gerutunya.
"Iya, Nyonya. Saya memang menjaga agar semua yang ada di sini tetap sama seperti dulu," ungkap Sandra menerangkan kalau dia selama ini sudah menjalankan tugasnya dengan baik menjaga apartemen itu.
"Terima kasih, Sandra. Kau memang bisa dipercaya," puji Mama Yuna.
Mama Yuna lalu menoleh ke arah Mutiara yang sudah duduk di sofa ruang tamu bersama Baruna.
"Di apartemen ini kita akan aman, Ra. wanita jahat itu tidak akan bisa menemukan kita di sini. Bahkan, putraku sendiri tidak pernah tahu tempat ini!" tegas Mama Yuna bercerita.
"Apartemen ini peninggalan mendiang suamiku yang diwariskan khusus untukku, aku tidak pernah bercerita kepada siapapun tentang apartemen ini," imbuhnya menerangkan ceritanya, dan Mutiara hanya menganggukkan kepalanya. Sekarang dia paham tujuan Mama Yuna membawanya ke apartemen itu.
"Dan selama tinggal disini kalian tidak perlu khawatir, aku akan melayani kalian dengan baik," sela Sandra.
Sandra memang merupakan orang yang paling dipercaya oleh Mama Yuna, selama ini yang tahu perihal apartemen itu hanyalah mereka berdua dan Sandra juga yang ditugaskan menjaga apartemen itu oleh Mama Yuna.
Sandra sudah lama mengabdikan dirinya kepada Mama Yuna, dia merasa punya hutang budi, karena Mama Yuna pernah membantu dia dan keluarganya lepas dari jeratan kemiskinan. Selama itu pula, banyak hal yang dipercayakan Mama Yuna kepada Sandra. Bahkan, sebagian rahasia Mama Yuna juga diketahui oleh Sandra.
"Di sini ada dua kamar tidur, Ra. Nyonya Yuna akan tidur di kamar utama dan kamarmu yang di sebelah sana," lanjut Sandra seraya menunjukkan sebuah kamar yang ada di samping kamar utama kepada Mutiara.
"Baik, terimakasih, San," sahut Mutiara.
"Sekarang saya permisi dulu, Nyonya. Saya akan keluar sebentar untuk membeli beberapa barang kebutuhan Nyonya dan Ara selama tinggal disini," pamit Sandra.
"Iya, Sandra. Tolong kamu belikan pakaian untuk kami, jangan lupa juga belikan susu dan mainan untuk Baruna. Kami keluar dari rumah sakit secara diam-diam, dan kami tidak sempat mengambil barang-barang kami di sana," terang Mama Yuna.
"Pasti, Nyonya!," angguk Sandra menyanggupi.
****
Saat yang bersamaan di kantor Arkha.
Rendy menundukkan wajahnya tidak berani menatap Arkha yang saat itu terlihat sangat marah.
__ADS_1
"Dasar tidak becus! apa saja yang kau dan anak buahmu kerjakan selama ini, Rendy! ini sudah satu bulan, dan selama itu kalian belum juga bisa menemukan Mutiara!" bentak Arkha sangat kecewa, karena sampai saat itu dia belum juga bisa mendapatkan titik terang tentang keberadaan Mutiara,
"Maafkan saya, Bos. Saya dan orang-orang saya sudah berusaha semaksimal mungkin, segala upaya juga sudah kami lakukan. Tapi, sampai saat ini memang belum ada yang tahu dimana Nona Mutiara berada," sahut Rendy berusaha membela diri.
"Apa cuma Genta harapan kita satu-satunya? tapi kita tidak pernah tahu kapan dia akan sadar dari komanya," decak Arkha merasa sangat frustasi.
Rendy tidak berani menyahut, dia tetap diam menundukkan kepalanya. Untuk sesaat suasana menjadi hening di ruangan itu,
Drettt...!
Drettt...!
Ponsel di atas meja kerja Arkha bergetar dan dengan cepat Arkha menyambarnya.
"Hallo, ada apa, Dokter?" Arkha menjawab panggilan dari rumah sakit jiwa tempat Mamanya dirawat.
"Mohon maaf, Tuan! ada berita kurang baik yang ingin saya sampaikan kepada Anda, Tuan," sahut seseorang dari rumah sakit itu di sambungan teleponnya.
Setelah beberapa menit menerima panggilan itu, Arkha terlihat semakin marah seraya melemparkan ponselnya ke kursi kerjanya.
Arkha mendengus, "ahhhh....brengsek! kesialan macam apa lagi ini!" pekiknya dengan wajah memerah tidak dapat lagi menahan kemarahannya
Baik, Bos!" sahut Rendy. Tanpa berani membantah dan bertanya apa yang terjadi, Rendy menurut saja dan bergegas menyiapkan mobil sesuai perintah Arkha.
Mobil yang mereka kendarai pun melesat cepat di antara padatnya jalanan kota menuju rumah sakit tempat perawatan Mama Yuna.
Begitu sampai di sana, semua staf, petugas keamanan, suster dan dokter yang ada di rumah sakit jiwa itu sudah menunggu Arkha di lobby, ada kecemasan yang terpancar dari wajah-wajah mereka setelah menceritakan semua yang telah terjadi.
"Kalian semua ceroboh! Bagaimana ceritanya suster itu bisa membawa kabur Mamaku!" Arkha berteriak dengan sorot kemarahan yang berkobar terlihat jelas di matanya.
Orang-orang itu tertunduk takut, tidak ada yang berani menatap ke arah Arkha. Mereka semua hanya bisa pasrah dengan nasib mereka dan harus siap kehilangan pekerjaanya.
Setelah mengetahui bahwa Mamanya kabur dari rumah sakit itu, pastinya mereka berpikir bahwa Arkha akan menutup rumah sakit yang menjadi tempat mereka mencari rejeki selama ini.
"Kalian tahu, aku membayar sangat mahal di sini untuk biaya perawatan Mamaku, tapi pelayanan kalian sangat buruk!" Arkha semakin menegaskan kemarahannya.
__ADS_1
"Maafkan kami, Tuan! semuanya terjadi di luar dugaan. Kami tidak menyangka kalau Suster Ara yang kami kira berhati baik ternyata punya niat jahat seperti itu, kami yakin dia sengaja menculik Nyonya Yuna untuk mendapat uang tebusan!" Kepala rumah sakit yang sebelumnya bungkam, mencoba angkat bicara berusaha mencari pembenaran atas semua yang sudah terjadi.
Arkha menghembuskan nafasnya kasar, ada rasa tidak percaya di benaknya mendengar tuduhan Kepala Rumah Sakit.
"Apa buktinya kalau suster itu ingin uang tebusan? aku sudah berjanji akan memberikan imbalan yang besar kepadanya karena telah merawat Mamaku dengan baik. Apa diantara kalian pernah ada yang melihat gelagat mencurigakan dari suster itu sebelumnya?" seringai Arkha.
Semua yang ada di ruangan itu tetap hanya diam, Kepala Rumah Sakit pun ikut bungkam tidak berani merespon lagi, alasannya menuduh Ara punya niat menculik Mama Yuna demi uang tebusan, memang tidak cukup bukti. Namun, demi membela dirinya dan juga semua staf di rumah sakitnya, dia tidak punya dalih lain selain mencari orang yang bisa dijadikannya kambing hitam atas semua kecerobohan yang terjadi di sana.
"Selain suster itu, apa ada orang lain yang pernah menemui Mama?" Arkha bertanya lagi dengan sorot matanya yang penuh interogasi.
Akan tetapi, suasana masih hening tidak ada yang berani menjawab, semua orang hanya saling menatap penuh tanya.
Seorang suster yang berdiri paling pojok di ruangan itu terlihat berbisik sambil sengaja menyenggol siku teman di sebelahnya.
"Ayo kamu katakan saja siapa yang tadi datang ingin menemui Nyonya Yuna?" desak suster itu kepada temannya yang merupakan seorang resepsionis di sana.
"Tapi Nyonya Livina melarangku menceritakan kalau dia pernah kesini kepada Tuan Kaka," sahut resepsionis itu.
"Kamu lebih takut mana, Tuan Kaka apa Nyonya Livina?" tanya suster itu menyeringai dan resepsionis itu tidak menjawab, dia hanya menundukkan wajahnya.
"Hei kalian berdua, ada apa kalian bisik-bisik disana! Apa kalian ingin mengatakan sesuatu?" Arkha yang tidak sengaja menoleh ke arah mereka langsung menuding ke arah mereka dan bertanya.
"Ma-maaf, Tuan. Ta-tadi siang istri Anda sempat kesini ingin menemui Nyonya Yuna. Tapi, mereka belum sempat bertemu, Nyonya Yuna sudah lebih dulu kabur dari sini bersama Suster Ara." Walau dengan tergagap, resepsionis itu akhirnya mengatakan juga kalau sebelum Mama Yuna menghilang, Livina sempat datang dan ingin menemuinya ke sana.
"Apa?" Arkha membulatkan matanya, "Livina datang ke sini?" sentaknya kaget.
Tentu saja dia sangat terkejut karena selama ini Livina sama sekali tidak pernah mengunjungi Mamanya di rumah sakit itu, dia heran kenapa tiba-tiba saja Livina berkunjung kesana.
"Iya, Tuan. Nyonya Livina juga melarang saya mengatakan ini kepada Anda, Nyonya Livina tidak ingin ada yang tahu kalau beliau sempat datang kemari untuk bertemu Nyonya Yuna," ungkap resepsionis itu berkata jujur.
"Livina!" geram Arkha.
"Aku yakin semua ini ada hubungannya dengan Livina. Dia memang tidak pernah suka sama Mama, dan dia juga selalu menolak saat aku mengatakan akan merawat Mama di rumah. Dia pasti ingin melakukan sesuatu agar aku tidak sampai membawa Mama pulang," batinya meyakinkan.
"Aku harus bicara dengan Livina," Arkha menggumam, kini tersirat kebencian di sorot matanya.
__ADS_1
Arkha kembali mengalihkan pandangannya menoleh ke Kepala Rumah Sakit yang masih menundukkan wajahnya.
"Aku tidak mau tahu apapun alasan kalian lagi, sekarang aku ingin kalian semua terus mencari Mamaku sampai ketemu. Dan kalau sampai terjadi hal yang tidak diinginkan terhadapnya, maka aku akan tutup rumah sakit ini untuk selamanya!" ancam Arkha berdecak penuh amarah.