Deburan Gairah Sang Segara

Deburan Gairah Sang Segara
Eps. #83 Mulai Sadar


__ADS_3

Arkha duduk di ruang kerjanya dengan kedua sikunya yang diletakkannya di atas meja. Kedua tangannya menopang dagu dengan netra yang terpaku menatap layar laptop di hadapannya. Akan tetapi, pikiran Arkha tidak sedang ada di sana.


Saat itu, suasana hatinya sangat berantakan, pikirannya sangat kacau. Begitu banyak masalah yang tengah dihadapinya. Hal itulah yang membuat Arkha merasa sangat tertekan, sehingga dia tidak dapat berkonsentrasi dengan pekerjaanya. Laporan-laporan perusahaan yang ada di laptopnya bahkan belum sempat digubrisnya sama sekali.


Tok...!


Tok...!


Saat itu terdengar seseorang tengah mengetuk pintu ruang kerjanya.


"Masuk, Rendy!" pekik Arkha.


"Apa Anda memanggil saya, Bos?" Rendy masuk ke ruangannya dan langsung duduk di kursi di hadapan Arkha.


"Apa ada perkembangan tentang Mama?" tanya Arkha. Namun, matanya tetap menatap kosong pada layar laptopnya.


"Sampai saat ini masih belum ada, Bos," sahut Rendy sambil menundukkan kepalanya, dia takut kalau Arkha akan memarahinya setelah mendengar jawabannya.


Akan tetapi, dugaan Rendy salah saat itu, Arkha hanya menghela nafasnya panjang lalu menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya.


"Rendy, aku akan memberimu tugas tambahan," ungkap Arkha.


"Aku ingin kau mengirim mata-mata untuk mengawasi semua gerak-gerik Livina, cari tahu apa saja yang dia lakukan selama ini," sambungnya dengan nada sengit.


Rendy mengerutkan keningnya dan memicingkan matanya, dia sama sekali tidak menyangka kalau Arkha memberi tugas seperti itu kepadanya.


"Anda serius, Bos? apa Anda mencurigai Nyonya Livina?" tanya Rendy ragu sambil mengangkat kepalanya dan mencoba melihat ekspresi wajah Arkha, untuk mengetahui keseriusan ucapannya.


"Iya, Rendy. Aku rasa dia menyimpan rahasia selama ini. Dan sepertinya dia juga ada kaitannya dengan kaburnya Mama dari rumah sakit. Selama ini dia tidak pernah peduli sama Mama, aku heran kenapa tiba-tiba kemarin dia ke sana. Aku menduga ada sesuatu yang dia tengah sembunyikan dariku," terang Arkha penuh keyakinan serta raut wajahnya yang penuh kecurigaan.


Rendy menganggukkan kepalanya paham, "baiklah, Bos. Saya akan segera mengirim anak buah saya untuk memata-matai Nyonya Livina sesuai perintah Anda!" sanggupnya.


Arkha mengalihkan pandangannya ke depan sambil memejamkan matanya sejenak dan kembali menghela nafas dalam. Perlahan ia mengusap wajahnya lalu menatap sendu ke arah Rendy.

__ADS_1


"Kapan semua masalah ini akan selesai, Rendy? kita belum bisa menemukan Mutiara. Tadinya aku sudah senang karena Mama sudah membaik, tapi malah sekarang Mama ikut menghilang. Kemana lagi kita harus mencari mereka?" ucap Arkha berkeluh kesah, ia merasa kecewa dan putus asa karena semua yang sudah dilakukannya selama ini sia-sia, tidak membuahkan hasil sama sekali.


"Kita harus sabar dan terus berusaha, Bos. Saya yakin kita pasti akan bisa secepatnya menemukan mereka," hibur Rendy berusaha mengurangi kekecewaan dan rasa tertekan yang tengah dirasakan atasannya itu.


Ting...!


Rendy bergegas merogoh sakunya saat mendengar notifikasi pesan singkat dari ponselnya. Rendy tersenyum sumringah saat membaca sebuah pesan yang masuk di ponselnya itu.


"Ada berita baik, Bos!" seru Rendy terlihat sangat bersemangat.


"Ada apa, Rendy?" Arkha merasa sangat penasaran saat melihat Rendy terlihat begitu senang.


"Saya dapat pesan dari rumah sakit. Genta sudah sadar, Bos!" sahut Rendy.


"Benarkah?" Arkha membalas tersenyum senang.


"Iya, Bos. Ini pesan dari dokter yang langsung menangani Genta selama dia koma." Rendy menerangkan isi berita yang baru saja diterimanya melalui pesan singkat.


"Siap, Bos. Saya akan siapkan mobil dulu" tanggap Rendy seraya melangkah keluar dari ruangan kerja Arkha.


Mendengar kabar bahwa Genta sudah sadar, memberi Arkha secercah harap sehingga wajahnya yang tadi terlihat kusut, kini berseri dengan sebuah senyum terlihat menghiasinya. Harapannya untuk segera menemukan Mutiara kembali bersemi dalam jiwanya.


****


Arkha dan Rendy tiba di rumah sakit dan langsung menuju ruang ICU.


"Maaf, Pak. Pasien atas nama Bapak Genta sudah kami pindahkan ke ruang perawatan, karena beliau sudah sadar dari komanya," terang seorang suster yang ada di sana.


"Oh ya, di kamar nomor berapa, Sus?" Rendy langsung bertanya.


"Di kamar 1706, Pak, letaknya di lantai tujuh belas," sahut suster itu sambil segera berlalu dari hadapan Rendy.


Arkha dan Rendy saling menatap lalu sama-sama senyum nyengir.

__ADS_1


"Kau terlalu gegabah, Rendy. Harusnya tadi kamu bertanya dulu di resepsionis," cibir Arkha.


"Anda yang mengajak saya langsung kesini, Bos," kelakar Rendy.


Keduanya lalu terkekeh menyadari kekonyolan mereka. Saking senangnya mengetahui Genta sudah sadar, tiba di rumah sakit itu mereka langsung saja menuju ruang ICU tanpa mencari tahu terlebih dahulu, padahal sebenarnya Genta sudah dipindahkan ke ruang perawatan.


Arkha dan Rendy bergegas melanjutkan langkahnya menuju lift untuk membawa mereka ke lantai tujuh belas gedung rumah sakit itu.


Tiba di ruang perawatan Genta, keduanya segera masuk dan mendapati Genta masih terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Akan tetapi matanya sudah sedikit terbuka.


Selang infus masih menempel di tangannya, gips penyangga leher dan punggungnya juga belum dilepas, alat bantu pernafasan pun masih terpasang di hidungnya. Meski sudah sadar, Genta masih terlihat sangat lemah dan kondisinya masih belum sepenuhnya pulih. Dia masih harus menjalani perawatan secara intensif.


"Bagaimana keadaanmu, Genta. Apa kau sudah merasa lebih baik?" tanya Rendy sambil langsung duduk di kursi di sebelah ranjang Genta.


"Sudah lebih baik, Rendy," sahut Genta lirih sambil berusaha membuka matanya lebih lebar. Namun, Genta tidak bisa menoleh, patah tulang leher yang dideritanya belum sembuh sehingga dia belum mampu menggerakkan kepalanya. Maklum saja, gips yang masih terpasang pada bagian lehernya membuat gerak kepalanya tertahan tetap pada posisi yang sama.


"Hampir satu bulan kau mengalami koma, Genta. Aku sangat senang sekarang kau sudah sadar," timpal Arkha ikut duduk di sebelah Rendy dan menatap wajah Genta yang masih terlihat pucat.


"Bos Arkha," sambut Genta dengan suaranya yang hampir tidak terdengar. Tangannya bergerak mencoba menggapai tangan Arkha.


"Iya, Genta. Aku disini." Arkha meraih tangan Genta.


"Sekarang coba kamu ceritakan apa yang sebenarnya terjadi denganmu, Genta?"


Dengan suaranya yang sangat lirih, Genta lalu menceritakan bagaimana anak buah kapalnya menyekapnya dan menyiksanya di dalam container cargo.


"Dasar manusia-manusia berpikiran sempit, tidak punya otak!" Rendy berdecak kesal, "memangnya apa yang mereka dapat setelah menyiksamu sampai seperti itu, Genta?" Rendy menjadi sangat gusar mendengar cerita Genta.


"Entahlah, Rendy. Aku juga tidak paham," jelas Genta.


"Lalu bagaimana dengan Mutiara, Genta? Kau bilang dia masih hidup, bagaimana kalian bisa selamat dari bencana tsunami saat itu?" sela Arkha.


Sesungguhnya dari awal dia sudah sangat tidak sabar mendengar cerita Genta tentang keberadaan Mutiara, wanita yang sangat dia cintai itu.

__ADS_1


__ADS_2