Deburan Gairah Sang Segara

Deburan Gairah Sang Segara
Bonus Part #6


__ADS_3

Bias fajar selaras dengan sayup merdunya suara kicauan burung-burung. Dedaunan pun nampak masih basah oleh terpaan air hujan yang sempat mengguyur kota tadi malam.


Di pagi hari nan sejuk itu, seberkas cahaya mulai menyelinap di antara tirai kamar Arkha yang seketika membuatnya mengerjapkan mata. Namun, rasa malas masih menyelimuti raganya sehingga ia kembali memejamkan matanya.


"Sayang, sudah siang kenapa kamu nggak bangunin aku?" racau Arkha sambil meraba gulungan selimut di sebelahnya dan menyangka kalau istrinya saat itu masih ada di sebelahnya.


"Sayang, kamu dimana?" Arkha menggeliat saat menyadari Mutiara tidak ada di sebelahnya.


Gegas ia bangun dari ranjangnya dan bola matanya berputar mencari keberadaan istrinya di setiap sudut kamar itu. Arkha bangun dan mendekat ke arah kamar mandi.


"Mutiara, apa kamu ada di dalam, Sayang?" panggilnya sambil menempelkan telinganya di pintu kamar mandi.


"Ueekk ..., ueekk ....!" Terdengar suara Mutiara tengah memuntahkan isi perutnya di dalam toilet.


"Sayang, kamu kenapa?" Seketika Arkha merasa cemas dengan keadaan istrinya. Arkha mendorong pintu kamar mandi dan segera masuk.


"Kamu sakit, Ra?" Arkha terkejut melihat istrinya muntah-muntah di depan wastafel dan wajahnya tampak sangat pucat. Dengan lembut Arkha mengurut tengkuk Mutiara. "Sepertinya kamu masuk angin, Sayang," terkanya semakin terlihat khawatir.


"Nggak tahu, Bang. Dari bangun tidur tadi, kepalaku pusing dan rasanya mual sekali," sahut Mutiara lirih.


"Ayo sekarang balik tidur lagi!" Arkha memapah Mutiara membawanya kembali ke tempat tidur dan membantunya berbaring.


"Kamu istirahat saja ya, Sayang. Aku akan panggilkan dokter pribadiku kesini untuk memeriksamu," ujar Arkha sembari menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya.


"Nggak usah, Bang. Aku hanya sedikit pusing saja. Nanti juga sembuh dengan sendirinya," tolak Mutiara.


"Lagian kita kan janji mau ngajak anak-anak jalan-jalan hari ini, Bang," lanjutnya. Mutiara ingat kalau hari itu adalah Hari Minggu. Biasanya setiap kali Arkha tidak ke kantor, mereka akan menyempatkan waktunya membawa Baruna dan Ardila untuk berjalan-jalan di hari libur.


Arkha menggeleng pelan, "Kalau kamu lagi sakit, acara jalan-jalan sama anak-anak kita tunda saja dulu ya, Sayang. Kesehatanmu kan jauh lebih penting," tegasnya. Arkha mengusap wajah istrinya yang masih tampak pucat.


"Aku nggak sakit kok, Bang. Ini hanya hal yang biasa terjadi," elak Mutiara.


"Sakit kok dibilang biasa?" sungut Arkha dan Mutiara hanya tersenyum melihat ekspresi wajah suaminya yang terlihat khawatir akan keadaannya. Perlahan ia meraih tangan Arkha dan memegangnya erat.


"Bang, aku mau tanya sesuatu padamu," ucap Mutiara sambil tersenyum manis menatap wajah suaminya.


"Apa, Sayang?"

__ADS_1


"Apa Abang pengen punya bayi lagi, Bang?"


"Bayi? Maksud kamu apa, Sayang?" Arkha terlihat bingung.


"Kalau aku hamil lagi gimana, Bang?"


"Hah, hamil?" Arkha membulatkan matanya.


Mutiara terus melengkungkan sebuah senyum di bibirnya dan mengangguk pelan.


"Aku sudah terlambat datang bulan lebih dari dua minggu, Bang. Kalau dari tanda-tanda yang aku rasakan, sepertinya aku hamil lagi," ungkap Mutiara.


Semenjak menyadari bahwa ia tidak mendapatkan haid selama beberapa minggu ini, Mutiara menjadi yakin kalau dirinya tengah mengandung. Terang saja, semenjak menikah lagi dengan Arkha, hampir setiap malam Arkha tidak pernah libur menaburkan benih di dalam rahimnya. Bukan hal yang mustahil kalau dia saat ini hamil lagi.


"Benar kah, Sayang?" Senyum bahagia juga mengembang di bibir Arkha dan Mutiara kembali hanya menganggukan kepalanya.


"Sepertinya iya, Bang."


"Terimakasih, Tuhan! Aku akan punya anak lagi," girang Arkha sambil memeluk istrinya erat dan merasa sangat bahagia mendengar apa yang disampaikan Mutiara.


"Berarti mulai hari ini aku harus lebih rajin menyirami benihku di rahimmu, Sayang. Aku juga harus lebih sering nengokin dedek bayi di dalam sana," goda Arkha sambil mengusap perut Mutiara dan tersenyum genit.


Arkha tersenyum gemas dan semakin mengeratkan pelukannya serta mengecup semua yang ada di wajah Mutiara. Kini tangannya menyibak selimut dan perlahan membenamkan kepalanya di dada bagian bawah Mutiara hingga mengecup perut istrinya itu.


"Kamu baik-baik di dalam sana ya, Nak. Papa janji akan selalu menjagamu," bisik Arkha di perut Mutiara walau belum ada perubahan apa-apa terlihat disana.


"Geli ah, Bang!" kikik Mutiara terkekeh sambil mengusap kepala suaminya.


Arkha kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Mutiara dan menempelkan bibirnya ke telinga Mutiara.


"Kalau gitu, apa aku boleh memulai menyirami benihku di dalam sana, Sayang?" bisik Arkha genit. Mendengar pengakuan Mutiara tentang tanda kehamilannya, seolah ada rangsangan yang membuat gairahnya tiba-tiba membuncah. Tanpa disadarinya, sang penghuni hutan belantara di bawah sana ikut terbangun dari tidurnya dan siap memberi serangan fajar.


"Sudah siang loh, Bang. Abang nggak mandi dulu," elak Mutiara sambil mendorong pipi Arkha dengan telapak tangannya.


"Aku mau olahraga dulu sebentar, setelah itu baru aku akan mandi," goda Arkha dengan pupil matanya yang membesar dan tersenyum penuh hasrat. Arkha mengecup mesra bibir Mutiara. Semakin lama ciuman itu semakin dalam yang membuat keduanya mulai terbuai.


"Bang, tadi malam kita sudah melakukannya dua kali, memangnya Abang masih kuat melakukannya lagi," bisik Mutiara meremehkan. Semenjak tidak mendapatkan haid lagi, entah apa yang membuat libidonya juga meningkat. Mutiara bahkan tidak ragu menggoda Arkha dan meminta jatah lebih dulu dari suaminya itu.

__ADS_1


"Eh, kamu jangan meremehkan aku, Sayang. Kamu mau berapa kali lagi sekarang? Aku yakin aku pasti memuaskanmu sampai kamu nggak bisa bangun seharian ini," tantang Arkha semakin genit menggoda.


Keduanya sama-sama terkekeh dan Arkha kembali mengarahkan bibirnya untuk ******* semua yang ada di dada Mutiara serta melanjutkan gerakan-gerakan pemanasan yang lain. Sebelum berolahraga di atas ranjang cinta itu, tentunya pasangan ini membutuhkan warming up yang cukup agar kegiatan mereka terasa semakin panas membara.


Beberapa menit kemudian, keduanya sudah sama-sama polos tanpa busana.


"Aaahhhh ..., ouuhhh ...," d*s*han itu terus terlontar dari mulut Mutiara yang meracau saat Arkha dengan gagah perkasa menghujamkan pusaka miliknya di liang kehangatan Mutiara.


"Pelan-pelan, Bang! Kasihan dedek bayinya di dalam sana," bisik Mutiara setengah memejamkan matanya sangat menikmati setiap gerakan suaminya yang terus menyerangnya tanpa jeda.


"Tenang saja, Sayang, Si Dedek juga pasti sangat senang karena papanya sedang mengajaknya main petak umpet," bisik Arkha menggoda dan semakin memperdalam serangannya. Dia pun tampak sangat bergairah melanjutkan kemesraannya pagi itu.


"Aaahh ...," d*s*han panjang kembali menggema. Mutiara melentingkan tubuhnya saat puncak kenikmatan menyapanya.


Mutiara mencengkram pinggang suaminya kuat-kuat, mulutnya menganga dan matanya terpejam saat merasakan tubuhnya bagai terbang ke langit ke tujuh.


Tok ...!


Tok ...!


Tok ...!


"Papa ...!"


"Mama ...!"


"Bangun ...! Cudah ciang ...!"


"Kita jadi jalan-jalan nggak?"


Belum tuntas Arka bermain petak umpet bersama calon bayinya, tiba-tiba terdengar ketukan pintu dan suara dua orang bocah terdengar memanggil dari depan pintu kamarnya.


"Itu Baruna dan Ardila, Bang," bisik Mutiara.


"Iya, mereka menggangguku saja," sungut Arkha sedikit kesal dan menghentikan gerakannya. Meski Mutiara sudah merasakan kenikmatan keintiman mereka saat itu, tapi dia sendiri belum berhasil menyiramkan pupuk di benih yang sedang tumbuh di rahim istrinya.


"Sudah ya, Bang. Kalau kita nggak buka pintu pasti anak-anak itu akan memarahi kita nanti." Mutiara mendorong dada Arkha yang masih menindihnya.

__ADS_1


"Iya, Sayang," kesal Arkha perlahan mencabut pusakanya yang masih menancap dalam di sarungnya dan beranjak dari atas tubuh Mutiara sambil memunguti pakaian mereka yang berserakan di lantai.


"Nanti malam kita akan lanjutkan lagi, aku belum puas bermain-main dengan calon bayiku," celoteh Arkha sambil memakai pakaiannya. Dan Mutiara hanya tersenyum geli menanggapi kekecewaan suaminya.


__ADS_2