
Di sebuah ruang ICU rumah sakit terbaik di kota, Arkha terus menatap layar patient monitor yang ada di ruangan itu.
Seorang pria terbaring lemah disana dengan berbagai alat medis yang terpasang di tubuhnya. Sudah seminggu semenjak Arkha dan Rendy menemukannya disekap di dalam container cargo, Genta belum juga sadarkan diri. Patah tulang punggung dan cedera serius di kepala yang diderita Genta akibat penyiksaan anak buah kapalnya cukup parah, sehingga kini dia mengalami koma.
"Kapan kau akan sadar, Genta? Cepatlah bangun dan katakan dimana Mutiara," ucap Arkha lirih sambil memegang tangan Genta yang terasa dingin dan tidak ada reaksi.
Ada kekecewaan yang tersirat di wajah Arkha. Berbarengan dengan ditemukannya Genta, sudah semenjak itu pula dia mengetahui bahwa Mutiara masih hidup. Akan tetapi, sampai saat itu dia belum juga mendapatkan informasi tentang keberadaan Mutiara.
Arkha mengusap wajahnya pelan, "Kemana lagi aku harus mencari Mutiara?" gumamnya.
Meski Arkha sudah melakukan berbagai upaya untuk mencari Mutiara, akan tetapi sampai saat itu usahanya belum mendapatkan hasil, justru makin sulit baginya menemukan informasi yang dicarinya.
"Apa aku harus melapor ke polisi? sepertinya tidak mungkin! polisi tidak akan percaya. Mutiara dan Pak Imran sudah dinyatakan meninggal saat bencana tsunami terjadi," batin Arkha bertentangan, lalu ia memutar gerak kepalanya pelan.
Perlahan Arkha beranjak dari tempat duduknya dan berdiri sambil kembali memandangi tubuh Genta yang tidak bergerak.
"Genta, saat ini hanya kau yang tahu dimana Mutiara. Kau satu-satunya harapanku, dan semoga kau secepatnya sadar, Genta." Arkha memalingkan wajahnya dan melangkahkan kakinya keluar dari ruang ICU.
Di kursi ruang tunggu di depan ruangan itu tampak Rendy sedang duduk menunggunya.
"Bagaimana, Bos. Apa ada perubahan dengan kondisi Genta?" tanya Rendy saat melihat Arkha tertunduk lesu saat keluar dari ruangan itu.
Kembali Arkha hanya menggeleng, "tidak ada perubahan, Rendy. Genta masih belum menunjukkan tanda-tanda akan sadar dari komanya," sahut Arkha.
"Lalu apa ada informasi lain dari anak buahmu, apa kau dapat berita baik mengenai Mutiara?" sinis Arkha sambil menatap tajam ke arah Rendy.
"Maafkan saya, Bos. Sampai saat ini semua anak buah saya masih melakukan pencarian. Mereka juga sudah menyisir semua pulau dan kampung nelayan yang ada di wilayah selatan, tapi sampai saat ini memang belum ada informasi mengenai keberadaan Nona Mutiara," ungkap Rendy. Melihat sorot mata Arkha yang penuh kekecewaan terhadap kinerjanya kali ini, membuat Rendy merasa takut untuk bertatap muka dengan atasannya itu.
__ADS_1
"Teruskan pencarian, Rendy. Aku tidak mau dengar apa alasanmu! bagaimanapun caranya, kau harus menemukan Mutiara. Bila perlu, sampai ke ujung dunia sekalipun kau harus terus mencarinya!" Arkha menegaskan perintahnya.
"Baik, Bos," sahut Rendy sigap. Meski dia sendiri bingung harus memikirkan cara menemukan Mutiara, namun perintah Arkha harus tetap dijalankannya.
"Sekarang ayo, kita harus segera kembali ke kantor!" Akha melangkah meninggalkan rumah sakit itu dengan rasa kecewa yang masih memenuhi hatinya dan Rendy juga tetap setia mengikutinya.
Rendy menginjak pedal gas mobil lebih dalam, mobil yang membawa mereka kembali ke kantornya kini melaju kencang di ruas jalan tol yang ada di kota itu.
Arkha duduk di kursi penumpang depan di sebelah Rendy sambil menatap hampa ke arah depan kaca mobilnya. Selama perjalanan tidak satu patah kata pun terucap diantara mereka. Tidak ada candaan, tidak ada juga pembasahan urusan pekerjaan, bahkan bentakan Arkha yang suka memarahi Rendy karena gaya berkendaranya yang kadang kerosokan pun tidak terdengar saat itu. Sangat berbeda dengan biasanya, hari itu keduanya bungkam, Rendy takut memulai pembicaraan kala melihat aura kekecewaan yang tergambar jelas di wajah Arkha.
Triiing...!
Triiing...!
Suara dering ponsel memecah keheningan diantara mereka. Arkha merogoh saku jasnya dan mengambil ponselnya yang bergetar di dalam saku itu.
"Hallo," Arkha segera menerima panggilan yang masuk di ponselnya. Terdengar Arkha begitu serius berbicara dengan seseorang yang tengah menelponnya.
"Rendy, kita putar balik. Aku ingin pergi ke paviliun perawatan Mama!" perintah Arkha menyuruh Rendy membawanya ke rumah sakit jiwa tempat Mama Yuna dirawat.
"Apa harus hari ini kita kesana, Bos?" protes Rendy.
"Anda tidak lupa kan, kalau jam empat sore ini kita ada meeting penting dengan para exportir?" imbuh Rendy mengingatkan agenda kerja Arkha.
"Masih dua jam lagi, Rendy. Masih ada waktu menemui Mama dulu, lagi pula sudah seminggu ini aku tidak sempat mengunjungi Mama di rumah sakit," ungkap Arkha sambil melirik jam yang melingkari tangan kanannya. Arkha masih mengulas sebuah senyum setelah mendengar informasi dari kepala rumah sakit yang mengatakan bahwa Mama Yuna kondisinya saat ini semakin membaik.
"Baiklah, Bos. Tapi ingat, Anda tidak boleh berlama-lama disana, waktu luang kita hanya sebentar saja." Rendy kembali mengulang mengingatkan Arkha akan jadwalnya yang cukup padat hari itu.
__ADS_1
Rendy kembali menginjak pedal gas lebih dalam, sehingga mobil itu kini melaju kencang menuju rumah sakit jiwa tempat Mama Yuna dirawat.
Tiba disana, Arkha langsung melangkahkan kakinya dengan cepat menuju paviliun khusus tempat Mama Yuna dirawat.
"Selamat datang, Tuan," sapa seorang dokter yang sudah siaga menyambut kedatangannya di depan pintu paviliun itu. Dua orang suster juga ada disana mendampingi dokter itu.
"Bagaimana Mama saya, Dokter?" tanya Arkha dengan tergesa karena sudah tidak sabar ingin menemui Mama Yuna.
"Keadaan beliau jauh lebih baik, Tuan. Nyonya Yuna sekarang sudah mau makan dan minum obat dengan teratur," jawab dokter itu sambil tersenyum senang.
"Baguslah. Sekarang aku akan menemui Mama." Arkha ingin segera masuk untuk menemui Mamanya.
"Tapi mohon maaf, Nyonya Yuna saat ini sedang tidur, Tuan," cegah dokter itu.
"Tidak masalah, aku hanya ingin melihat keadaan Mama sebentar saja," sahut Arkha sambil mempercepat langkahnya masuk ke paviliun itu dan dokter itu tidak berani melarangnya.
Saat tiba di ruang tamu paviliun itu, Arkha menghentikan langkahnya. Kembali sebuah senyum terkembang di bibirnya saat melihat seorang bocah laki-laki kecil tengah bermain sendiri disana.
"Apa anak kecil ini yang tadi dibilang sudah membuat kondisi kesehatan Mama jadi lebih baik?" tanya Arkha sambil mendekati bocah kecil yang duduk anteng di atas sofa dan terlihat begitu asyik bermain sendiri dengan mainan kapal-kapalan kesukaannya.
"Iya benar, Tuan. Bocah kecil ini lah yang selalu dipanggil Nyonya Yuna dengan panggilan Kaka seperti nama Anda," sahut dokter itu.
Arkha lalu ikut duduk di sofa itu sambil menatap wajah bocah kecil yang terlihat sedikit terkejut saat dia ikut duduk di sebelahnya.
Tidak mengerti mengapa, tiba-tiba saja jantung Arkha berdegup kencang saat anak kecil itu berada dekat dengannya, entah apa yang tengah dirasakannya, seperti ada sesuatu dalam diri bocah itu yang seketika menyebabkan endorfinnya meningkat dan membuatnya ingin terus mengulas senyum di bibirnya.
"Hallo, anak ganteng, namamu siapa?" tanya Arkha sambil mengangkat tubuh anak kecil itu dan membawanya ke pangkuannya.
__ADS_1
Bocah itu ikut tersenyum tanpa rasa takut terhadap Arkha, "namaku Una, Om," sahutnya terdengar sangat polos dan lucu yang membuat Arkha semakin tak dapat mengendalikan perasaan tidak biasa yang memenuhi benaknya saat itu.
"Anak ini namanya Baruna, Tuan. Orang-orang biasa memanggilnya Una," timpal dokter yang juga mengikutinya masuk ke ruangan itu.