Deburan Gairah Sang Segara

Deburan Gairah Sang Segara
Eps. #41 Bos Bucin


__ADS_3

Dua minggu berlalu, Arkha masih sangat sibuk dengan semua rencananya untuk merebut kembali perusahaannya serta menjebloskan Alfin ke dalam penjara.


Tidak mudah baginya untuk mengungkap semua kejahatan yang dilakukan Alfin, setahun Alfin memimpin perusahaanya, selama itu pula banyak saksi dan bukti yang sudah dilenyapkannya. Alfin memang sangat lihai dalam menjalankan semua rencana jahatnya itu, ia banyak bekerja sama dengan gerombolan mafia sehingga dia akan sangat berani menghabisi siapa saja yang menentangnya. Meski harus kucing kucingan dengan anak buah Alfin, namun Genta dan Rendy juga adalah orang yang sangat terlatih. Sedikit demi sedikit mereka sudah bisa mengumpulkan bukti kejahatan Alfin. Meskipun demikian mereka tidak mau bertindak gegabah, Arkha masih tetap belum menunjukkan dirinya, tentu saja rencana lain yang lebih matang sudah mereka persiapkan.


Hari itu mereka bertiga sedang berada di apartemen Arkha dan terlihat sangat serius membahas rencana mereka.


"Lalu kapan kita akan bisa mulai menggerebek komplotannya Alfin, Rendy?" gusar Arkha yang sudah sangat tidak sabar ingin segera membalas pengkhianatan Alfin.


"Tinggal selangkah lagi, Bos! kita akan serang dan hancurkan markas mereka yang ada di pelabuhan terlebih dahulu!" tegas Rendy.


"Tapi untuk saat ini kita jangan gegabah dulu, kita tunggu sampai mereka benar benar sudah lengah!" sambung Rendy menjelaskan rencana mereka.


"Mata mata kita juga sudah berhasil menyusup ke kantor Pak Alfin, Bos. Setelah semua berkas kecurangan Pak Alfin berhasil kita curi dari kantor itu, kita akan langsung melaporkan Pak Alfin ke polisi!" imbuh Genta.


"Bagus, kali ini kerja kalian sangat rapi, aku salut pada kalian berdua!" puji Arkha.


"Tumben anda memuji kami, Bos! biasanya kami hanya jadi sasaran kemarahan anda saja!" kekeh Rendy dengan seringai miringnya.


Arkha hanya menaikkan satu ujung bibirnya sambil menatap tajam ke arah Rendy, yang membuat Rendy seketika menghentikan kekehannya lalu menundukkan kepalanya.


"Genta, bersiaplah! hari ini saatnya kamu pergi ke kampung nelayan itu!" Arkha kini menoleh ke arah Genta.


"Tolong bawakan semua kebutuhan pokok untuk Mutiara dan Pak Imran." perintah Arkha kepada Genta kemudian.


'Baik, Bos!" sahut Genta singkat dan paham.


"Dan ingat jangan ceritakan apapun tentang diriku pada mereka! Kau cukup katakan bahwa aku sudah membeli semua barang barang itu dengan gajiku!" lanjut Arkha.

__ADS_1


"Siap, Bos!" sahut Genta lagi sambil membalikkan badannya untuk bersiap pergi ke pulau terpencil tempat kampung nelayan itu.


"Tunggu, Genta!" teriak Arkha lagi menghadang langkah Genta.


"Tolong sampaikan juga kepada Mutiara kalau Segara nya disini baik baik saja dan sedang sangat merindukannya," ujar Arkha dengan senyum penuh kerinduan terbias di wajahnya.


Kembali Genta hanya mengangguk, meski tidak menjawab perintah Arkha, dia tetap paham dan dengan patuh melaksanakan perintah atasannya itu.


"Mutiara, sabar ya, Sayang, sementara ini aku hanya bisa mengirim Genta kesana. Setelah semua beres aku sendiri yang akan kesana menjemputmu dan aku yang akan menceritakan semua tentang diriku kepadamu," gumam Arkha.


"Dasar Bos Bucin!" cibir Rendy dalam hati, sambil kembali terkekeh tertahan melihat tingkah Arkha, meski suka marah marah, saat itu cintanya terhadap Mutiara sudah membuatnya terlihat begitu lemah.


"Kenapa kamu senyum senyum, Rendy? kau sedang mengejekku?" geram Arkha dengan nada ketus. Dia menjadi sangat kesal ketika melihat Rendy yang tersenyum sendiri seolah sedang menertawakannya.


"Ma.. ma..maaf, Bos. Saya tidak ada maksud seperti itu!" sahut Rendy terbata, berusaha membela diri.


Hampir satu hari penuh mereka mereka mengarungi lautan sampai akhirnya di siang hari berikutnya mereka baru tiba di pulau terpencil tempat kampung nelayan itu.


Siang di hari yang sama, Mutiara juga baru selesai membereskan warungnya. Wajahnya tampak lelah dan sedikit pucat, beberapa hari terakhir kondisi kesehatannya menurun, hampir setiap pagi ia merasa mual, nafsu makanya berkurang dan ia merasa lebih cepat lelah dari biasanya.


Mutiara duduk beristirahat di salah satu bangku di warungnya, saat itu warungnya sudah nampak sepi tanpa ada seorang pembeli pun disana. Pandangannya hampa menatap ke arah lautan, rasa rindu menyelimuti jiwanya, hari itu sudah lebih dari dua minggu Segara pergi meninggalkannya ke kota untuk bekerja disana.


Sesaat mata Mutiara berbinar, di kejauhan ia melihat sebuah kapal mendekat ke arah dermaga. Mutiara semakin melebarkan senyumnya saat kapal itu benar benar sudah berlabuh di dermaga dekat warungnya.


"Bang Segara!" jerit Mutiara.


"Semoga kapal yang datang ini membawa Bang Segara pulang!" gumamnya sambil tersenyum senang.

__ADS_1


Perlahan Mutiara berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekat ke arah dermaga. Senyum Mutiara semakin mengembang saat melihat Genta turun dari kapal itu. Mutiara segera berlari kecil menghampiri Genta.


"Hai Mutiara, bagaimana kabarmu?" sapa Genta saat melihat Mutiara sudah ada di hadapannya.


"Kabarku baik, Bang!" sahut Mutiara sambil tersenyum kepada Genta, namun kepalanya menoleh kesana kemari, bola matanya berputar putar mencari cari keberadaan suaminya. Genta hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah Mutiara yang seperti itu, dengan mudah ia menyadari kalau Mutiara berharap ada Segara datang bersamanya.


"Bang Genta kesini sama siapa, Bang? Apa Bang Segara ikut bersamamu?" tanya Mutiara, dia sudah sangat tidak sabar untuk bisa bertemu suami tercintanya itu.


Genta hanya menghela nafas panjang, dia tahu kalau Mutiara pasti akan kecewa saat mengetahui dia tidak datang bersama Segara.


"Aku kesini cuma sama Abey dan Johan, Ra! Segara tidak bisa ikut, dia sangat sibuk karena dia baru saja mendapatkan promosi jabatan dari atasan kami!" bohong Genta.


"Kamu pasti bohong kan, Bang. Aku yakin Bang Segara pasti ikut, dia pasti lagi sembunyi di dalam kapal karena mau kasih kejutan ke aku kan?" kekeh Mutiara sambil berlari kecil menuju ke dalam kapal.


Genta hanya diam tak berani mencegahnya sampai akhirnya matanya menatap ke arah Mutiara yang tampak tertunduk lesu. Setelah sempat masuk ke dalam kapalnya dan Mutiara tidak menemukan Segara disana, Mutiara menjadi sangat kecewa.


Perlahan Genta mendekati Mutiara.


"Segara belum bisa pulang, Ra. Karena itulah dia menyuruhku mampir kesini menemuimu, untuk mengabari kalau dia baik baik saja disana," ucap Genta menghibur Mutiara.


"Iya nggak apa apa, Bang. Maafkan aku, aku terlalu merindukan Bang Segara sampai sampai aku tak mengindahkanmu." sahut Mutiara dengan wajahnya yang makin terlihat lesu.


"Oh ya, Ra. aku kangen kopi hitam buatanmu, apa aku boleh minum kopi di warung mu?" seloroh Genta hanya untuk mengalihkan rasa kecewa Mutiara.


Mutiara hanya mengangguk dan keduanya berjalan bersama menuju warung itu.


**Terimakasih buat pembaca yang sampai disini masih setia mengikuti kisah Segara dan Mutiara. Jangan lupa tinggalkan jempol dan komennya ya supaya author yang masih bau kencur ini tetap semangat melanjutkan episode selanjutnya.**

__ADS_1


__ADS_2