
♥️Dear my lovely Readers,♥️
Harap siapkan tissue sebelum membaca episode-episode selanjutnya ya, banyak keharuan yang akan diceritakan. Kalau ada yang ikut baper, berarti harus ceritakan nanti di kolom komentar tentang kebaperan kalian.
🌹Terimakasih dan selamat baper deh 🌹
______________________
"Ayo, Ra. Kita duduk di sana saja," ajak Arkha sambil menggiring Mutiara berjalan menuju sebuah bangku yang ada di bawah tiang lampu jalan di pinggir trotoar tak jauh dari tempat duduknya saat itu. Di sana mereka duduk bersebelahan, suasana di sana jauh lebih terang sehingga mereka bisa saling melihat satu sama lain lebih jelas.
"Mutiara, Baruna, aku tidak menyangka pertemuan kita harus dengan cara seperti ini," ucap Arkha sambil menatap intents mata Mutiara yang juga basah oleh air mata harunya. Jantungnya berpacu cepat, berbagai perasaan semakin membuncah bergejolak di hatinya saat itu.
"Baruna putra kita, dia sudah sebesar ini, Ra," lanjutnya sambil tersenyum penuh haru dan mengusap lembut kepala bocah itu.
"Dari mana kamu tahu Baruna adalah putramu, Bang?" tanya Mutiara dengan air mata yang terus terburai di pipinya.
"Baruna darah dagingku, Ra. Bagaimanapun kalian berusaha menghindar dariku, aku yakin ikatan itu akan mempertemukan kita," sahut Arkha sambil mengusap air mata di pipi Mutiara dengan jari telunjuknya.
"Tidak, Bang. Baruna bukan anakmu. Hanya dia satu-satunya milikku saat ini, kau tidak boleh mengambilnya dariku," ketus Mutiara sambil menjauhkan wajahnya menghindari tatapan Arkha, air mata semakin deras mengucur dari kedua matanya.
"Mengapa kau bicara seperti itu, Ra. Aku tidak pernah ingin mengambilnya darimu, justru kita akan merawatnya sama-sama," ucap Arkha sendu. Dia merasa bingung menghadapi sikap ragu Mutiara terhadapnya.
Arkha mendesak Mutiara dan kembali mendekatkan tubuhnya memeluk Mutiara dan Baruna, suasana haru begitu terasa diantara mereka.
Mutiara menundukkan wajahnya, jantungnya juga berdetak sangat tidak beraturan. Pria yang sangat dicintai dan begitu dirindukannya selama ini kini ada begitu dekat tanpa jarak di hadapannya. Untuk sesaat dia hanyut akan perasaannya, rasa rindunya terhadap Segara tidak kuasa ditutupinya, sehingga tanpa sadar ia membenamkan kepalanya di dada Arkha membiarkan semua gemuruh yang selama ini terpendam dalam jiwanya tumpah ruah di pelukan Arkha.
Akan tetapi, pikiran buruk Mutiara akan Arkha tiba-tiba saja kembali menyelinapi benaknya.
__ADS_1
"Tidak, Anda bukan Bang Segara. Saya tidak pernah kenal dengan Anda, Tuan Arkha!" seru Mutiara semakin ketus sambil mendorong dada Arkha sekuat tenaga melepaskan pelukannya. Mutiara lalu berusaha bangun dan berdiri dari tempat duduknya.
"Ra, tolong maafkan aku. Aku tahu, aku membuat kesalahan besar sudah berbohong padamu dan tidak menceritakan tentang ingatanku waktu itu, sekarang aku sudah tahu semuanya, aku ingin memperbaiki semua kesalahanku." Arkha ikut berdiri dan tetap menatap lekat mata Mutiara. Air mata juga menetes tak tertahankan di pipinya, kalimat yang diucapkan Mutiara membuatnya tersudut dalam rasa bersalahnya.
"Segara dan Arkha adalah pria yang sama, pria yang sangat mencintaimu, Ra. Kapan, dimanapun dan dalam keadaan apapun cintaku padamu tetap sama. Aku mohon percayalah padaku, Ra!" terang Arkha sambil memegang pundak Mutiara dan terus menatap matanya.
Arkha menoleh ke arah Baruna yang terlihat bingung melihat yang terjadi di hadapannya. Bocah kecil itu hanya diam, belum mengerti dengan apa yang terjadi dengan kedua orang tuanya.
Arkha menjulurkan tangannya hendak mengambil Baruna dari gendongan Mutiara. Namun, Mutiara dengan cepat menghindar dan berusaha menjauh dari Arkha.
"Tuan Arkha, saya tahu Anda tidak pernah mencintai Mutiara. Anda menikahinya hanya karena merasa berhutang budi saja, kan? Mutiara sudah mati ditelan tsunami, Tuan! Saya tahu Anda pasti sudah melupakan wanita kampung yang miskin ini," sahut Mutiara jengah. Akan tetapi, air mata kebohongannya semakin deras membasahi pipinya. Kata hatinya sangat bertentangan dengan ucapannya.
"Jangan, Ra!" Arkha menggeleng, "Jangan ucapkan kata-kata seperti itu lagi! Kau tidak pernah tahu betapa sedih dan menderitanya aku saat mendengar berita bahwa kau dan Bapak sudah menjadi korban bencana di kampung itu," sahut Arkha menunjukkan rasa penyesalannya.
"Sedih? Benarkah?" Mutiara menyeringai, "Tidak perlu berpura-pura, Tuan Arkha! Cinta Anda hanya untuk istri pertama Anda yang bernama Livina. Sedangkan Mutiara, dia hanya sebutir pasir yang hanyut terbawa ombak ke tengah lautan, tidak berarti apa-apa bagi seorang pria terpandang dan kaya raya seperti Anda, Tuan!" Mutiara tetap bersikukuh dengan prinsip keras kepalanya. Tetapi, air matanya semakin tidak terbendung, mengalir deras tanpa henti.
Mutiara membeku hanya air mata yang kini berbicara mewakili semua perasaannya, percuma dia bersikeras membohongi kata hati dan dirinya sendiri. Semakin dia menolak, rasa cintanya terhadap Segara ataupun Arkha tetaplah sama. Sangat dalam sehingga diapun tak mampu menyelaminya.
"Pernikahan kedua antara aku dan Livina tidak akan pernah terjadi seandainya aku tahu kalau kau sebenarnya masih hidup dan juga sudah melahirkan seorang putra untukku, Ra!" ucap Arkha dengan penekanan emosinya.
"Bahkan, Mama sangat membenci Livina. Entah apa alasannya? Sekarang aku juga merasa bahwa Livina sudah membohongiku selama ini." Arkha terus berbicara meyakinkan Mutiara tanpa mendatarkan suaranya.
"Nyonya Yuna ...!" Mutiara kembali terisak saat teringat akan Mama Yuna.
Arkha terkesiap saat mendengar Mutiara menyebut nama Mamanya. "Katakan dimana Mama, Ra. Apa dia kabur dari rumah sakit bersamamu?" tanya Arkha sambil kembali menatap wajah Mutiara penuh tanda tanya.
Mutiara mengangguk, "Nyonya Yuna saat ini aman ada di apartemennya, Bang," jawab Mutiara jujur. Hatinya luluh oleh semua ucapan Arkha, dia pun tidak mampu lagi berkata bohong.
__ADS_1
"Apartemen?" Arkha menggeleng tidak paham.
"Iya, Bang. Saat ini Nyonya Yuna ada di apartemen, kondisi Nyonya Yuna sudah jauh lebih baik,"
"Apa kau bisa mengantarkan aku bertemu Mama, Ra?"
"Apartemennya ada di dekat jembatan penyeberangan itu, Bang. Kau bisa ke sana sendiri untuk bertemu dengannya." Mutiara menunjuk ujung jalan dimana disana ada sebuah jembatan penyeberangan yang menghubungkan sebuah mall kecil dengan sebuah gedung apartemen.
"Lalu kau,Ra, apa kau tidak ikut menemuinya bersamaku?"
Mutiara hanya menggelengkan kepalanya, "Tidak, Bang. Aku akan pergi bersama Baruna," jawabnya pelan lalu menundukkan wajahnya.
"Kalau kau tidak kembali ke apartemen itu, memangnya kau akan pergi kemana malam-malam begini, Ra? Kau belum mengenal kota ini. Apa kau mau orang-orang jahat itu menyakitimu lagi? Apa kau tidak kasihan dengan Baruna, sudah malam, dia sudah mengantuk dan butuh istirahat!" sergah Arkha ikut menggeleng heran dengan sikap keras kepala Mutiara.
"Aku tidak mau kalian mengambil Baruna dariku, sekarang biarkan aku pergi, Bang," ucap Mutiara dengan suara serak menahan tangisnya yang semakin terisak.
Namun, Arkha sadar kalau Mutiara saat itu sedang galau sehingga hilang logika dan ingin pergi menghindar darinya.
"Tidak ada seorangpun yang ingin mengambil Baruna darimu, Ra. Baruna tetap akan bersamamu, bersama kita, Ra!" tegas Arkha lagi sambil menghela nafasnya panjang.
"Ra, sekarang aku mohon, antarkan aku ke apartemen Mama. Kita bicara lagi di sana. Aku yakin disana kau akan lebih tenang," pinta Arkha. Dia sangat berharap kali ini Mutiara akan menuruti keinginannya.
"Baiklah, Bang," angguk Mutiara setuju. Rasa takut akan penyergapan pria-pria tadi membuatnya bersedia mengikuti permintaan Arkha. Selain itu dia juga tidak boleh egois. Berjalan sendiri di tengah gelapnya malam bersama seorang anak kecil, pastinya sangat berbahaya baginya.
Arkha tersenyum sumringah, dia merasa senang karena Mutiara sudah tidak lagi keras kepala dan mau menuruti kata-katanya.
"Ayo, kita ke mobil, kita sama-sama ke apartemen Mama sekarang!" ajak Arkha sambil meraih Baruna dari gendongan Mutiara dan berjalan menuju tempat ia memarkirkan mobilnya. Bocah itu terlihat sangat senang saat Arkha menggendongnya. Mutiara ikut tersenyum. Akan tetapi air mata haru kembali merembes keluar dari kedua matanya yang terlihat sembab.
__ADS_1