
"Tunggu, Nyonya! Kenapa Nyonya jalannya cepat sekali? saya tidak kuat mengejar Nyonya," teriak Mutiara sambil ikut melebarkan langkahnya mengikuti Mama Yuna yang sudah berjalan mendahuluinya.
Mutiara dan Mama Yuna sudah cukup jauh meninggalkan rumah sakit. Sehingga, orang-orang tidak ada yang berhasil menemukan mereka.
Mutiara akhirnya memilih menghentikan langkah kakinya di trotoar sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah karena sudah sangat kelelahan.
Ditambah lagi, dia harus berjalan sambil menggendong Baruna, tentu saja itu membuatnya tidak kuat lagi mengimbangi langkah cepat Mama Yuna.
"Ayo, Ra! kita harus berlari lebih cepat, aku takut wanita itu akan mengejar kita!" pekik Mama Yuna sambil terus melangkah meninggalkan Mutiara.
"Kita beristirahat dulu sebentar, Nyonya. kaki saya sakit sekali, saya sudah tidak kuat berjalan lagi," keluh Mutiara. Karena tidak sanggup lagi mengejar Mama Yuna, Mutiara memilih duduk untuk sejenak di sebuah bangku yang ada di pinggir trotoar.
Melihat Mutiara yang sudah terlihat kelelahan dan tidak mampu menyusulnya lagi, Mama Yuna memutar langkahnya dan kembali untuk menghampiri Mutiara.
"Nyonya, sepertinya tidak ada yang mengejar kita. Apakah tidak sebaiknya kita kembali saja ke rumah sakit?" saran Mutiara saat Mama Yuna duduk di sebelahnya.
"Tidak, Ra. Aku bukan orang gila, aku tidak akan kembali lagi ke rumah sakit itu, aku tidak mau lagi tinggal di sana," tolak Mama Yuna.
"Lalu kita harus pergi kemana sekarang, Nyonya?" sergah Mutiara, ada rasa menyesal sudah mengikuti keinginan Mama Yuna untuk pergi meninggalkan rumah sakit itu, karena dia tidak tahu harus tinggal dimana lagi di kota itu, sementara untuk kembali ke sana lagi tanpa Mama Yuna, pastinya sudah tidak mungkin baginya.
Mama Yuna mengerutkan keningnya dan menatap wajah Mutiara yang terlihat menyimpan keraguan.
"Apa aku boleh meminjam ponselmu?" pinta Mama Yuna sambil menengadahkan tangannya berharap Mutiara akan meminjamkan ponselnya kepadanya.
"Ponsel? memangnya Nyonya mau menghubungi siapa?" tanya Mutiara heran.
__ADS_1
"Aku lahir di kota ini, Ra. Aku punya banyak teman dan kerabat disini," sahut Mama Yuna enteng.
"Apa Nyonya akan menghubungi putra Nyonya?"
"Tidak, Ra. Putraku itu orang yang sangat bodoh, selama dia masih bersama wanita jahat itu, aku tidak akan pernah mau menghubunginya, apalagi pulang ke rumah itu, aku tidak sudi!" sengit Mama Yuna. Ada kekecewaan terhadap putranya yang dia tunjukkan melalui kata-katanya itu.
Mutiara tidak terlalu menanggapi, ia lalu bergegas membuka tas selempangnya dan mengambil ponselnya. Tanpa ragu dia memberikan ponselnya kepada Mama Yuna.
"Terima kasih, Ra." Mama Yuna meraih ponsel itu dan berdiri dari tempat duduknya agak menjauh dari Mutiara. Dengan menggunakan ponsel milik Mutiara, Mama Yuna terlihat berbicara serius dengan seseorang di seberang sana.
Setelah menutup pembicaraannya di sambungan telepon, Mama Yuna langsung mengembalikan ponsel itu kepada Mutiara.
"Sekarang kita harus cari taksi, Ra. Aku akan membawa kalian ke apartemenku dan kita akan aman tinggal di sana," ajak Mama Yuna sambil tersenyum penuh arti.
Mama Yuna memutar kepalanya menoleh ke semua area di jalan itu lalu tersenyum sumringah, "Itu di ujung jalan itu ada taksi lagi ngetem, Ra. Kita bisa naik itu untuk sampai di apartemenku," pekik Mama Yuna sambil menunjuk ke arah beberapa taksi argo yang sedang parkir di pinggir jalan.
"Baruna biar aku yang gendong, Ra." Mama Yuna menjulurkan tangannya untuk mengangkat Baruna dari pangkuan Mutiara.
"Una sama Oma, ya!" ujarnya.
"Iya, Oma," sahut Baruna menurut seraya berhambur ke gendongan Mama Yuna.
Mereka lalu memesan sebuah taksi di sana untuk mengantarkan mereka menuju apartemen yang dimaksud Mama Yuna.
Tiba di apartemen itu, seorang wanita bergegas menghampiri saat mereka turun dari taksi.
__ADS_1
Wanita itu tersenyum saat melihat Mama Yuna, "Nyonya Yuna!" teriaknya girang menyambut kedatangan Mama Yuna.
"Saya seperti bermimpi bisa melihat Nyonya datang lagi ke apartemen ini," ucapnya sambil memeluk erat Mama Yuna. Air mata haru menetes deras dari mata wanita itu, begitu juga dengan Mama Yuna, dia ikut menangis haru saat mereka berpelukan.
"Aku juga tidak menyangka akan bisa kembali lagi ke sini, San," sahut Mama Yuna.
"Syukurlah Anda sekarang sudah sembuh, Nyonya. Tadi sewaktu Nyonya menelpon, saya seakan tidak percaya sedang berbicara dengan Nyonya, tapi sekarang Nyonya ada di hadapan saya, Nyonya sudah tidak perlu lagi di rawat di rumah sakit itu," urai wanita itu sambil tersenyum senang melihat kesembuhan Mama Yuna.
"Ohya, San. Kenalkan ini Ara dan putranya Baruna. Ara ini yang merawatku selama di rumah sakit," ujar Mama Yuna memperkenalkan Mutiara kepada wanita itu.
"Ara, ini Sandra orang kepercayaanku, dia yang selama ini menjaga apartemen ini, dan dia lah yang akan melayani kita selama tinggal di sini." Mama Yuna juga memperkenalkan wanita yang bernama Sandra itu kepada Mutiara.
"Terima kasih banyak karena sudah merawat Nyonya Yuna, Ara!" sambut Sandra menjabat tangan Mutiara.
"Sama-sama, Sandra." Mutiara ikut menjabat tangan Sandra.
Sandra menoleh ke arah bocah kecil di gendongan Mutiara dan memperhatikan wajahnya.
"Nyonya Yuna, kenapa wajah anak ini sangat mirip dengan putra Nyonya?" celetuk Sandra merasa heran dengan kemiripan Baruna dan Arkha.
"Iya, San. Aku juga berpikiran sama sepertimu, tapi justru karena kemiripan Baruna dengan Kaka makanya aku sangat menyayanginya," sahut Mama Yuna.
Mutiara tidak terlalu heran mendengar pertanyaan Sandra, karena selama di rumah sakit, ungkapan seperti itu sudah sering di dengarnya dari suster-suster di sana.
"Baiklah, sekarang ayo kita naik, Nyonya. Saya sudah persiapkan kamar Nyonya dan Ara," ajak Sandra sambil menunjuk ke arah lift yang akan membawa mereka naik ke apartemennya.
__ADS_1