Deburan Gairah Sang Segara

Deburan Gairah Sang Segara
Eps. #101 Menjelang Hari Bahagia 2


__ADS_3

Matahari bersinar cerah pagi itu, seakan menyiratkan kegembiraan dan harapan baru bagi semua orang.


Seperti halnya yang tengah dirasakan oleh sepasang pengantin yang sedang bersanding di atas pelaminan.


Hari yang sudah lama dinantikan kini sudah tiba. Kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata apapun tengah dirasakan oleh Arkha dan Mutiara, karena saat ini mereka sudah kembali sah menjadi pasangan suami istri.


Selain mereka berdua, kebahagiaan juga tengah dirasakan orang-orang di sekitar mereka terutama Mama Yuna.


Setelah melewati beberapa prosesi akad nikah, di hari yang sama, kini tiba waktunya Arkha dan Mutiara akan melanjutkan acara resepsi pernikahan mereka.


Sedari subuh, Mama Yuna sudah berkeliling di area sebuah ballroom besar di hotel bintang lima bertaraf international yang ternama di kota itu. Dia sangat sibuk memeriksa semua kesiapan untuk acara pernikahan putranya.


Meski mereka memakai jasa beberapa wedding organizer untuk mempersiapkan keseluruhan acara, tetapi Mama Yuna tetap merasa bahwa dia sendiri yang harus ikut turun ke lapangan untuk memastikan semua preparation acara sudah sesuai dengan keinginannya.


Arkha sangat kagum akan semangat Mamanya yang sudah mempersiapkan acara pernikahannya dengan begitu indah dan sempurna. Hal itu sangatlah berbeda dengan pernikahan pertamanya dengan Livina. Waktu itu, jangankan mempersiapkan semua susunan acara untuknya, Mama Yuna bahkan sangat terpaksa ikut menghadiri acaranya.


Sementara itu, di sebuah kamar Presidential Suite di hotel yang sama, beberapa orang make up artist baru saja keluar dari kamar itu. Mereka baru saja selesai menata ulang riasan Mutiara, karena acara akan segera berlanjut ke acara resepsi pernikahan mereka.


Gaun berwarna putih nan mewah yang dirancang khusus oleh desainer terkenal di kota itu terlihat sangat pas menghiasi tubuh mungilnya. Hiasan kepala berwarna senada dipadukan dengan make up yang selaras membuat wajah Mutiara nampak sangat berkilau. Ditambah perhiasan-perhiasan cantik, menambah pesona di diri Mutiara semakin terlihat jelas.


Mama Yuna yang juga ada di kamar itu tidak henti-hentinya memuji wanita yang kini sudah sah menjadi menantunya itu.


"Kamu itu benar-benar cantik memakai gaun pengantin ini, Ra. Kamu memang sangat cocok memakai gaun pilihanku." Kata-kata pujian dari Mama Yuna mungkin sudah beberapa kali didengar oleh Mutiara hari itu. Mama Yuna merasa sangat puas dengan gaun pilihannya yang sangat cocok dipakai oleh Mutiara.


"Jangan terlalu memuji saya, Nyonya. Saya tidak pantas menerima pujian itu. Saya seperti ini juga semua berkat Nyonya," sahut Mutiara merendah.


Mama Yuna hanya tersenyum menanggapi jawaban Mutiara.


Perlahan Mutiara bangun dari tempat duduknya lalu berdiri di depan sebuah cermin besar memandangi bayangannya. Akan tetapi, senyum sumringah yang sebelumnya selalu menghiasi bibirnya tiba-tiba berubah sendu. Air mata menetes tidak tertahankan membasahi pipinya.


"Mutiara, kamu kenapa, Sayang? Kenapa kamu tiba-tiba menangis seperti ini?" Mama Yuna menatap heran ke arah Mutiara.


"Bapak ..., saya ingat akan Almarhum Bapak saya, Nyonya," isak Mutiara dengan air mata yang semakin deras membasahi pipinya.


"Saya teringat pernikahan saya sebelumnya dengan Bang Segara. Saat itu pernikahan kami sangat sederhana, tapi Bapak juga sangat antusias mempersiapkan semuanya seperti Anda saat ini, Nyonya," lanjut Mutiara bercerita.


"Bapak ..., bagaimana kabar Bapak di sana?"


"Dulu, Bapak jugalah yang paling menginginkan aku pergi ke kota ini untuk menyusul Bang Segara. Sekarang aku sudah bersama Bang Segara, Pak. Semoga Bapak di sana bisa ikut merasakan kebahagiaanku saat ini," gumam Mutiara makin terisak.

__ADS_1


"Jangan bersedih, Ra. Pak Imran pasti juga sangat bahagia melihat kebahagiaan putrinya disini," hibur Mama Yuna sambil mengusap pipi Mutiara dan perlahan menghapus air matanya menggunakan tisu. Ia ikut merasa haru mengingat besannya yang kini sudah tiada.


"Ohya, Mutiara." Mama Yuna melanjutkan kembali kata-katanya. "Mulai hari ini aku minta kamu berhenti memanggilku Nyonya. Aku sekarang sudah sah menjadi Mama mertuamu. Seperti halnya Pak Imran, aku juga orang tuamu sekarang. Jadi, panggil aku, Mama saja, ok!" ujar Mama Yuna sambil merapikan hiasan di rambut Mutiara dan menatap wajahnya dari pantulan cermin.


Mutiara hanya mengangguk, "Baik, Nyonya. Eh, maksud saya Mama," sahutnya canggung.


Selain Mama Yuna, Sandra juga ada di kamar itu dan tengah sibuk mempersiapkan sebuah koper untuk Mutiara.


"Apa semua sudah siap, Sandra?" tanya Mama Yuna sambil mendekati Sandra yang masih sibuk merapikan isi koper itu.


"Sudah, Nyonya. Semua sudah siap," sahut Sandra.


Koper itu memang sengaja disiapkan oleh Sandra atas perintah Mama Yuna. Karena, setelah acara resepsi selesai, Mama Yuna sudah merencanakan untuk keberangkatan Arkha dan Mutiara berbulan madu. Semua itu adalah kejutan yang sudah disiapkan oleh Mama Yuna untuk mereka.


"Hadiahku untuk Mutiara apa sudah kamu bawa juga, Sandra?"


"Pastinya sudah, Nyonya. Saya tidak mungkin melupakannya." Sandra lalu menyerahkan sebuah kotak berwarna merah bermotif bunga warna emas kepada Mama Yuna.


Sambil tersenyum penuh arti, Mama Yuna mengambil kotak itu dari tangan Sandra lalu kembali menoleh ke arah Mutiara.


"Hadiah ini Mama beli khusus buat malam pertamamu bersama putraku, Ra." Mama Yuna menyerahkan kotak itu kepada Mutiara.


"Kamu hanya boleh membuka hadiah ini saat kamu sudah bersama suamimu di tempat bulan madu kalian," pesan Mama Yuna sambil tersenyum menggoda.


"Memangnya apa isi kotak ini, Ma. Kenapa aku hanya boleh membukanya saat bersama Bang Segara?" Mutiara merasa heran.


"Sudah, tak perlu banyak bertanya dulu, nanti juga kau akan tahu sendiri," celoteh Mama Yuna dan keduanya saling melempar senyum.


"Apa semua sudah siap?" Terdengar suara seorang pria memasuki kamar itu.


Arkha yang sebelumnya berganti pakaian di kamar yang berbeda, langsung masuk ke kamar Mutiara. Arkha juga terlihat sudah siap dengan busana pengantinnya. Setelan kemeja putih dipadukan dengan jas berwarna perak memang sangat cocok dipakainya saat itu yang membuat Arkha terlihat semakin gagah dan berwibawa. Senyum bahagia yang selalau terulas di bibirnya membuat ketampanannya juga semakin terpancar.


"Anak Mama memang sangat gagah dengan pakaian pengantinnya ini," puji Mama Yuna sambil mengusap jas Arkha dan memegang pundak putranya itu.


Mama Yuna juga sangat mengagumi ketampanan putranya sehingga matanya tidak bisa lepas menatap wajah putranya.


Arkha menoleh ke arah Mutiara yang masih berdiri di depan cermin lalu mendekatinya.


"Kamu sudah siap, Sayang?" tanya Arkha sambil meraih tangan Mutiara.

__ADS_1


"Sudah, Bang." Mutiara hanya mengangguk.


"Kami sudah siap dari tadi. Kami hanya tinggal menunggu kalian saja," celetuk Mama Yuna.


"Ayo, Sandra kita harus sampai lebih dulu di tempat acara untuk memastikan semuanya sudah siap!" ajak Mama Yuna kepada Sandra lalu keduanya berjalan beriringan mendahului Arkha dan Mutiara meninggalkan kamar itu.


"Ayo, Bang. Kita juga harus segera ke tempat acara," ajak Mutiara sambil menarik tangan Arkha mengajaknya menyusul langkah Mama Yuna dan Sandra.


"Sebentar, Sayang." Arkha menahan tangan Mutiara sehingga Mutiara menghentikan langkahnya.


Arkha menarik pinggang Mutiara dan mendekatkan tubuh Mutiara agar menempel di tubuhnya.


Wajah mereka kini saling berhadapan sangat dekat, mata mereka beradu pandang dan senyum bahagia terus terlukis di bibir keduanya.


"Hari ini kamu terlihat cantik dan sangat menggairahkan, Sayang," bisik Arkha menggoda.


"Kamu juga sangat gagah dan tampan, Bang," balas Mutiara.


"Aku sudah tidak sabar menunggu acara ini selesai," bisik Arkha lagi.


"Sabar, Bang. Tinggal acara resepsi saja, setelah itu kita akan pergi ke tempat bulan madu yang sudah disiapkan Mama." Mutiara mengusap lembut dada pria yang sudah kembali sah menjadi suaminya itu.


"Tapi, aku sudah tidak sabar, gimana dong?" kekeh Arkha makin erat mendekap tubuh istrinya itu.


Arkha mengangkat dagu Mutiara dengan dua jarinya lalu mendekatkan bibirnya ke bibir Mutiara. Untuk pertama kalinya semenjak mereka bertemu kembali, kini Arkha berhasil mecium Mutiara dengan sangat dalam, dibarengi dengan gairah yang makin hangat menyapanya.


"Sudah ya, Bang. Kita harus ke tempat acara, semua undangan pasti sudah menunggu," sela Mutiara menghentikan kegiatan mereka.


Mutiara berusaha melepaskan tangan Arkha dari pinggangnya, tetapi Arkha justru semakin erat memeluknya.


Mendengar ucapan Mutiara, Arkha hanya menggelengkan kepalanya dan tetap tersenyum menggoda.


"Sekali lagi boleh, ya!" Arkha kembali mendekatkan bibirnya ke bibir Mutiara. Namun, Mutiara dengan cepat meletakkan telunjuknya di bibir Arkha mencegahnya agar tidak menciumnya lagi.


"Nggak boleh, Bang! Kita sudah ditunggu banyak orang, sebaiknya kita segera ke tempat acara."


Arkha hanya menghela nafasnya datar lalu melepaskan pelukannya.


"Baiklah, ayo kita ke sana sekarang." Arkha menggandeng tangan Mutiara sangat erat.

__ADS_1


"Tapi kamu harus siap-siap karena nanti malam aku tidak akan membiarkan sedetikpun kamu lepas dari pelukanku, Sayang," goda Arkha lagi. Mutiara hanya tersenyum geli melihat tingkah Arkha yang terlihat sudah sangat tidak sabar menunggu saat malam pertama mereka lagi.


__ADS_2