Deburan Gairah Sang Segara

Deburan Gairah Sang Segara
Eps. #43 Dua Garis Merah


__ADS_3

Genta sudah kembali ke kota, kedatangannya langsung disambut pertanyaan bertubi tubi oleh Arkha


"Genta, bagaimana keadaan Mutiara, apa dia baik baik saja disana?" tanya Arkha. Ia sudah sangat tidak sabar ingin mengetahui kabar kekasih hatinya.


"Nona Mutiara titip salam rindu untuk anda, Bos," sahut Genta.


"Aku juga sangat merindukanmu, Mutiaraku," batin Arkha.


Mendengar ada salam rindu yang dititip Mutiara untuknya melalui Genta, membuat sebuah senyum bahagia terulas begitu saja di bibirnya, membayangkan wajah polos Mutiara membuat rasa rindunya semakin menggebu gebu.


"Hanya saja, sepertinya Nona Mutiara agak kurang sehat akhir akhir ini, sepertinya dia terlalu lelah bekerja," sambung Genta.


"Ah, pasti dia terlalu memforsir dirinya untuk bekerja, selama ini aku selalu membantunya, tapi sekarang dia harus mengerjakan semua pekerjaannya sendiri." Arkha menggerutu.


"Lalu apa dia bertanya macam macam tentang diriku, Genta?" tanya Arkha lagi.


"Oh itu sudah pasti, Bos!" sahut Genta slengean.


"Tapi jangan panggil saya Genta kalau saya tidak pintar berbohong," ucap Genta penuh percaya diri.


Arkha hanya menaikkan satu ujung bibirnya mendengar pernyataan Genta, akan tetapi ia sangat yakin kalau Genta pasti bisa mencari alasan menjawab semua hal yang ditanyakan Mutiara tentangnya.


"Ok, minggu depan kau harus pergi ke pulau itu lagi, Genta. Aku akan memberikan uang lebih banyak lagi untuk mereka," ucap Arkha.


"Sebaiknya saat ini anda jangan terlalu banyak memberi uang untuk Nona Mutiara dulu, Bos! dia akan semakin curiga dari mana Segara bisa mendapatkan uang semudah itu!" sangkal Genta, ia sangat tidak setuju apabila Arkha menitipkan banyak uang untuk Mutiara karena itu akan menyulitkannya mencari alasan lagi apabila Mutiara bertanya kepadanya.


"Kalau aku tidak memberinya banyak uang, itu artinya Mutiara akan terus lelah bekerja. Apa kamu pikir aku tega membiarkannya memeras keringat dan hidup susah disana!" protes Arkha mempertahankan pendapatnya.

__ADS_1


"Bukan begitu, Bos! kemarin anda memberinya segitu saja dia sudah sangat curiga, apalagi kalau anda menambahnya lagi, pasti Nona Mutiara akan semakin curiga dari mana anda bisa mendapat uang sebanyak itu dalam waktu singkat." tampik Genta tetap kukuh dengan pemikirannya.


Arkha hanya menggelengkan kepalanya mendengar sanggahan Genta, kata hatinya juga membenarkan apa yang diutarakan asisten kepercayaannya itu.


"Ya sudah, sekarang kamu boleh pergi, Genta!" ujar Arkha sambil menaikkan tangannya memberi isyarat agar Genta keluar dari apartemennya.


Arkha menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, bayangan Mutiara terlintas begitu jelas dalam benaknya.


"Mutiara, semoga saja kamu selalu sehat disana, Sayang! aku kangen kamu!" Arkha terus membatin dengan sebuah senyum masih terus tersungging di bibirnya. Rasa rindu semakin membuncah di jiwanya,


****


Hari demi hari berjalan sangat lambat bagi Mutiara. Tanpa Segara bersamanya seolah jarum jam berdetak sangat lambat di pulau nelayan yang terpencil itu.


Kondisi kesehatannya juga semakin tidak menentu, tiap pagi ia merasakan mual dan nafsu makannya juga sudah tidak ada sehingga tubuhnya tampak kurus dan lemah.


Pagi berikutnya saat Mutiara baru saja terbangun dari tidurnya, ia bergegas ke kamar mandi.


Di wajahnya tersirat kegelisahan dan jantungnya berdetak kencang saat memandangi alat tes kehamilan di tangannya, samar samar ia bisa melihat dua garis merah di benda itu, semakin lama dua garis merah itu terlihat semakin jelas, yang seketika membuat air mata harunya menetes membasahi pipinya. Entah bahagia atau gundah yang tengah dirasakannya, yang pasti ia merasa sedikit syok menyadari kalau dirinya saat ini positif hamil.


Mutiara kembali ke kamarnya dan duduk di tepi ranjang sambil mengusap perutnya yang masih rata, tangannya yang tremor meremas kuat alat tes kehamilan yang sedari tadi dipegangnya.


"Bang Segara, aku hamil, Bang. Ada Segara kecil yang sedang tumbuh di rahimku." gumamnya sambil tersenyum bahagia, namun masih ada air mata haru yang juga menetes dari kedua bola matanya.


"Tapi bagaimana aku akan membagi kebahagiaan ini denganmu, Bang. Sementara aku sendiri nggak tahu kapan Abang akan pulang." batinnya terus bergumam.


Ada kegalauan yang juga mengisi hatinya saat dia menyadari bahwa dia akan menjalani harinya dengan perutnya yang akan semakin membesar sementara suaminya tidak ada bersamanya. Selain itu, dia juga ingat bahwa selama ini dia dan Segara belum menginginkan memiliki seorang anak, dalam pikiran lugunya ada rasa khawatir apabila nantinya Segara akan kecewa setelah mengetahui kehamilannya.

__ADS_1


"Mutiara, buka pintunya, Nak!" terdengar suara ketukan pintu dan Imran memanggilnya.


Mutiara mengusap pipinya untuk menghapus air matanya dan bergegas membuka pintu kamarnya.


"Bagaimana hasil tesnya, Ra? apa kamu beneran hamil?" tanya Imran dengan senyum penuh harap.


"Positif, Pak!" jawab Mutiara singkat sambil menundukkan kepalanya menyembunyikan air matanya.


"Wah, senangnya, terima kasih Tuhan, akhirnya bapak akan jadi seorang kakek!" ucap Imran girang. Dia sangat bahagia saat mengetahui bahwa dia akan segera memiliki seorang cucu.


"Tapi Bang Segara belum menginginkan punya seorang anak dariku, Pak! bagaimana nanti aku akan menceritakan semuanya kepadanya, aku takut dia kecewa, Pak!" ujar Mutiara ragu.


"Jangan berpikiran seperti itu, Ra. Setiap pasangan menikah pasti menginginkan mempunyai seorang anak. Itu anugerah Tuhan, Ra. Bapak sangat yakin kalau Segara tahu kamu sedang hamil, dia juga pasti akan sangat bahagia!" ucap Imran sambil tersenyum dan berusaha menghilangkan keraguan putrinya.


Tanpa Mutiara sadari, air mata haru kembali menetes di pipinya, dan untuk sesaat, kata kata Imran mampu membuatnya merasa tenang.


"Hari ini kamu nggak usah ke warung dulu, Ra. Kamu istirahat saja di rumah, jaga baik baik bayi dalam kandunganmu!" tegas Imran sambil melangkah meninggalkan Mutiara di kamarnya. Mutiara hanya mengangguk dan kembali menutup pintu kamarnya lalu kembali merebahkan tubuhnya di ranjang. Senyum bahagia masih terulas di bibirnya.


"Bang Segara, sebentar lagi kamu akan jadi seorang ayah, Bang."


Mutiara kembali mengelus elus perutnya, ia kini seolah bisa merasakan ada sebuah kehidupan baru yang sedang berkembang dalam rahimnya, hasil buah cintanya bersama pria yang sangat dicintainya.


"Ayahmu sedang berjuang mencari rupiah di rantau sana, Sayang. Kamu jangan rewel ya, Ibu akan selalu menjagamu sampai kamu lahir ke dunia nanti."


Senyum itu terus mengembang di wajahnya.


**Wah... senengnya Mutiara beneran hamil. Tapi authornya masih bingung nih mau kasih nama siapa buat bayinya Mutiara nanti\, kira kira readers ada yang bisa kasih saran kah? Kalau anakknya cewek siapa dan kalau cowok siapa. Tolong bantu idenya di kolom komentar ya... Mumpung belum lahir bayinya\, tolong siapkan namanya dulu deh**

__ADS_1


__ADS_2