
"Bos Arkha sangat mencintaimu, Ra! percayalah padaku!" ucap Genta mencoba meyakinkan Mutiara dan menghilangkan semua keraguannya.
"Kalau benar dia mencintaiku, dia tidak akan berbohong seperti ini, Bang!" bantah Mutiara.
"Kalau dia tidak mencintaimu, lalu buat apa dia mengirimku kesini untuk menemuimu, Ra?"
"Kau kesini membawa banyak barang barang dan memberi aku banyak uang, Bang. Semua itu sudah cukup membuktikan kalau sebenarnya dia hanya ingin membalas budi sama aku dan juga Bapak. Kalau dia memang mencintaiku seharusnya dia sendiri yang datang kesini menemuiku!"
"Bukankah tadi aku sudah cerita kalau kami di kota sedang menjalani misi penting, Ra. Itu alasan kenapa dia belum bisa kesini untuk menjemputmu!"
"Entah kebohongan apa lagi yang sedang kamu karang, Bang! Aku sudah tidak percaya lagi dengan semua alasanmu itu!" tampik Mutiara lagi dengan air mata yang kembali menetes deras dari kedua bola matanya.
"Ok, kalau kamu tidak percaya, aku akan membawamu ikut bersamaku, kita akan sama sama menemui Bos Arkha di kota!" pungkas Genta karena sudah tidak bisa lagi menghentikan ucapan Mutiara yang seakan tidak bisa percaya lagi padanya setelah semua kebohongan yang dikarangnya sebelumnya.
Mutiara sesaat terdiam setelah mendengar keinginan Genta membawanya ikut ke kota bersamanya. Walau terdengar sangat meyakinkan, namun ia tidak mungkin menerima tawaran Genta.
"Tidak, aku tidak akan ikut denganmu ke kota, Bang! sampai disini saja aku sudah sangat kecewa, apalagi kalau aku ikut denganmu ke kota? disana aku pasti akan menelan pil pahit lagi karena melihat Bang Segara bersama anak dan istri pertamanya." sahut Mutiara dengan senyum getir sambil beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke ruangan di warungnya. Dari kedua matanya, air mata masih terus menetes dan ia terlihat begitu frustasi dengan kenyataan yang dialaminya saat ini.
Genta mematung di tempat duduknya. Ada rasa bersalah yang melingkupi hatinya, karena kecerobohannya, kini Mutiara sudah mengetahui semua kebenaran tentang Arkha.
"Apa yang akan terjadi setelah Bos Arkha tahu kalau aku sudah menceritakan semua rahasianya kepada Mutiara? mungkin saja dia akan membunuhku karena kesalahanku ini" gumamnya sambil mengacak acak rambutnya sendiri.
"Tapi Mutiara sedang hamil dan mengandung anaknya saat ini, apa aku juga harus merahasiakan semua ini dari Bos Arkha?" Genta berdecak bimbang, saat sedang hamil pastinya Mutiara membutuhkan kehadiran suaminya bersamanya.
"Aaahhh... tidak! aku tidak akan membiarkan Mutiara disini menderita, aku harus membawanya ke kota, kalau Bos Arkha tidak mau menerimanya, maka aku yang akan menjaganya disana!" Pikiran Genta meyakinkan keinginannya untuk harus membawa Mutiara ikut bersamanya ke kota.
__ADS_1
Genta menoleh ke arah warung Mutiara dan nampak Mutiara sudah menutup warungnya itu dan hendak pulang.
Genta segera beranjak dari tempat duduknya dan mengikuti langkah Mutiara sampai dia tiba di depan rumahnya.
"Buat apa kau mengikutiku, Bang! bukankah seharusnya kamu pulang ke kota sekarang?" seringai Mutiara saat melihat Genta yang terus mengikuti langkahnya hingga kini mereka sudah ada di depan pintu rumahnya.
"Aku akan minta izin kepada Pak Imran untuk membawamu pergi ke kota bersamaku, Ra!" sahut Genta tegas.
"Itu tidak perlu, Bang. Semua itu percuma, aku tidak akan sudi ikut bersamamu ke kota!" ketus Mutiara sambil mengetuk pintu rumahnya.
Wajah Imran langsung menyembul dari balik pintu seraya membukanya lebar lebar. Mutiara langsung meraih tangan bapaknya dan menciumnya.
"Tumben masih siang kamu sudah pulang, Ra?" tanya Imran pada Mutiara namun tatapan matanya menoleh ke arah Genta yang juga ada berdiri di sebelah Mutiara.
"Iya, Pak. Aku lelah, aku ingin istirahat di rumah saja!" sahut Mutiara.
"Baru siang ini saya tiba disini, Pak Imran," jawab Genta sambil ikut menjabat tangan Imran.
"Ayo masuk. Kita ngobrol di dalam!" ajak Imran ramah.
Ketiganya lalu masuk dan duduk di ruang tamu. Sejenak Imran memperhatikan mata Mutiara yang nampak sembab dan wajahnya menyiratkan kesedihan.
"Kamu kenapa, Ra? habis nangis ya, kok matanya sembab gitu?" tanya Imran sambil menatap lekat wajah putrinya.
Mendengar pertanyaan Imran, Mutiara kembali menangis tersedu dan segera berhambur ke pelukan bapaknya.
__ADS_1
"Ada apa, Nak. Apa ada masalah? kenapa kamu tiba tiba sedih seperti ini?" tanya Imran sambil mengusap kepala putri kesayangannya itu.
"Bang Segara, Pak." ucap Mutiara terisak. "Bang Segara sudah mengingat semua masa lalunya dan dia ke kota bukan untuk bekerja, tapi dia pulang ke kota kelahirannya dan meninggalkan kita disini!" jawab Mutiara dengan tangisnya yang semakin tersedu.
"Dari mana kamu mendapatkan berita seperti itu, Ra? Segara hanya pergi sementara, bukan untuk meninggalkan kita selamanya!" sahut Imran seraya melepaskan pelukan Mutiara dan menatap mata putrinya yang basah oleh air matanya yang terus menetes di pipinya.
"Nama sebenarnya Bang Segara itu adalah Arkha, Pak. Dia berasal dari kota, dan dia juga sudah pernah menikah sebelum menikahiku, bahkan dia juga sudah punya seorang anak." beber Mutiara menceritakan semua yang diketahuinya tentang Segara.
Mendengar cerita Mutiara, Imran hanya mengerutkan dahinya, meski ia sangat terkejut dengan cerita putrinya, namun ia berusaha memahami karena hal seperti itu memang sangat mungkin terjadi. Imran menyadari Segara hanyalah pria asing yang hilang ingatan saat ia temukan di laut dan sewaktu waktu ketika ingatannya kembali, bisa saja akan meninggalkannya.
"Segara tidak pergi untuk meninggalkan kalian, Pak. Dia hanya pergi sementara untuk menyelesaikan semua urusannya di kota terlebih dahulu, setelah semua beres, dia akan kesini untuk menjemput kalian!" sela Genta ingin meluruskan semua dugaan Imran dan Mutiara.
"Coba ceritakan semuanya tentang Segara sama Bapak, Nak Genta!" bujuk Imran sambil mengalihkan pandangannya ke arah Genta yang sedari tadi duduk di sebelahnya.
Genta lalu kembali menceritakan semua hal mengenai identitas Segara yang sebenarnya adalah Arkha atasannya dan juga menerangkan semua tujuan Arkha kembali ke kota untuk sementara waktu saat ini.
Imran hanya menghela nafas datar setelah mendengar cerita Genta, lalu menoleh ke arah putrinya yang sudah kembali duduk di kursi di hadapannya.
"Mutiara, kamu tidak boleh berprasangka buruk terhadap suamimu sendiri, bukankah dari awal kita sudah tahu siapa sebenarnya Segara itu. Dia hanya pria asing yang bapak temukan di laut dan hilang ingatan, saat ingatannya kembali kita sudah harus siap menerima dia dengan semua masa lalunya!" terang Imran mencoba menghibur Mutiara yang tampak begitu sedih.
Mutiara hanya diam tidak menyahuti kata kata Imran, ia menundukkan kepalanya dan masih menangis tersedu, dalam hatinya ia sependapat dengan Imran, dari awal ia menerima Segara menjadi suaminya, sejak itu dia juga harus siap dengan segala kemungkinan saat ingatan Segara sudah kembali.
"Karena itulah saya ingin minta izin pada Pak Imran kalau saya ingin membawa Mutiara ikut saya ke kota, Pak," lanjut Genta lagi.
"Saya ingin Mutiara percaya kalau Bos Arkha itu adalah pria yang baik, dia tidak bermaksud membohongi kalian, dia hanya ingin menyelesaikan urusannya dulu!" ujar Genta tetap kukuh meyakinkan Pak Imran dan Mutiara bahwa atasannya itu bukanlah pembohong seperti dugaan Mutiara.
__ADS_1
"Selain itu, Mutiara juga sedang hamil, kalau dia tinggal di kampung ini, dia tidak akan bisa mendapatkan pengawasan kesehatan yang baik selama kehamilannya. Di kota kami akan merawatnya dengan baik karena fasilitas kesehatan disana jauh lebih baik daripada di kampung ini!" terang Genta lagi, ia terus berusaha menyakinkan Mutiara agar mau ikut bersamanya ke kota.