Deburan Gairah Sang Segara

Deburan Gairah Sang Segara
Eps. #72 Ditawari Pekerjaan Baru


__ADS_3

Tiba di rumah sakit, kedua suster itu langsung membawa Mama Yuna ke sebuah paviliun perawatan khusus. Selama dirawat disana, Mama Yuna memang mendapat perlakuan istimewa, dan pastinya iya, karena Arkha adalah donatur terbesar untuk rumah sakit itu, paviliun yang ditempati Mama Yuna adalah paviliun pribadi yang dibangun Arkha khusus untuk Mamanya selama perawatan di sana.


Mama Yuna membawa Baruna duduk di sofa ruang tamu di paviliun itu sambil memainkan miniatur kapalnya. Senyum bahagia terus terpancar di wajahnya, dia terlihat sangat senang bermain bersama Baruna.


Kedua suster itu juga tersenyum senang, baru kali ini mereka melihat Mama Yuna terlihat begitu bahagia karena menemukan seseorang yang terus dinantikannya.


"Memangnya ada apa dengan putra Nyonya ini, Suster?" tanya Mutiara merasa penasaran mengapa wanita itu sampai mengalami gangguan jiwa.


"Dulu putranya pernah mengalami kecelakaan, Mbak. Awalnya Nyonya Yuna mengira putranya sudah meninggal, karena itu beliau mendapat guncangan kejiwaan. Tapi sebenarnya Tuan Kaka masih hidup, tapi Nyonya Yuna tetap belum bisa mengingatnya. Beliau hanya ingat kalau Tuan Kaka masih kecil, dan putra Mbak wajahnya mirip dengan Tuan Kaka, mungkin karena itu Nyonya Yuna menganggap putra Mbak ini adalah Tuan Kaka," terang suter itu.


"Ah, masa iya Baruna mirip dengan putra Nyonya ini?" batin Mutiara, dia tidak mengindahkan kata-kata suter itu yang mengatakan Baruna mirip dengan anak Nyonya Yuna yang bernama Kaka, karena menurutnya itu mungkin hanya kebetulan saja.


"Kaka lapar, Sayang?" Tiba-tiba saja Mama Yuna bertanya seperti itu kepada Baruna, dan bocah kecil itu dengan cepat menganggukkan kepalanya.


"Ambilkan makanan, aku akan makan bersama putraku!" perintah Mama Yuna kepada dua suter pribadinya.


Kembali suster itu tersenyum lebar menoleh ke arah Mutiara.


"Mbak tahu, Nyonya Yuna sangat sulit dibujuk untuk makan selama ini, tapi kali ini beliau malah minta makanan. Anak Mbak sudah membawa perubahan besar terhadap Nyonya Yuna," terang suster itu kepada Mutiara sambil berlalu menuju pantry untuk mengambil makanan yang diminta Mama Yuna.


"Hei, kamu ayo duduk disini. Nanti kita makan sama-sama," tunjuk mama Yuna ke arah Mutiara yang hanya berdiri di depan pintu dan terus memperhatikannya.


Demi keamanan Baruna, Mutiara pun ikut duduk di sofa bersama Mama Yuna dan Baruna.


"Siapa namamu? Kamu cantik, seperti aku sewaktu masih muda dulu, hi...hi...hi...," kikik Mama Yuna menatap lekat wajah Mutiara.


"Nama saya Ara, Nyonya. Dan anak ini putra saya namanya Baruna," sahut Mutiara.

__ADS_1


"Bukan! ini Kaka anakku, bukan anakmu!" ketus Mama Yuna sambil mengusap lembut kepala Baruna.


Mutiara hanya tersenyum tipis dan tidak menanggapi, dia paham kalau Mama Yuna mengalami gangguan jiwa dan pastinya dia akan selalu menganggap Baruna adalah Kaka putra kesayangannya itu.


Tak menunggu lama, suster sudah kembali ke paviliun itu dan membawa tiga porsi makanan untuk mereka.


"Ayo Kaka makan yang banyak." Mama Yuna terlihat begitu senang menyuapi Baruna makan, bocah itu juga makan sangat lahap sehingga Mama Yuna semakin terlihat bersemangat.


"Ayo, Ara. Kamu juga makan!" perintah Mama Yuna.


Walau sebenarnya Mutiara merasa sungkan, Mutiara tidak mungkin menolak demi menjaga Baruna, dia ikut makan disana bersama Mama Yuna dan Baruna.


Mutiara tersenyum, Baruna terlihat begitu senang bersama Mama Yuna.


"Pasti sebenarnya Nyonya ini adalah wanita yang baik hati, sayang sekali dia mengalami gangguan jiwa seperti ini," gumam Mutiara dalam hati.


"Baru kali ini kita melihat Nyonya Yuna bisa berinteraksi sama orang lain dan mau makan tanpa dipaksa," ucap dokter itu.


"Iya benar, Dok. Bocah kecil itu sudah membawa perubahan positif terhadap kesehatan Nyonya Yuna," sahut salah seorang suster di sebelahnya.


"Kalau Tuan Kaka mengetahui hal ini, pasti dia akan sangat senang," ujar suster yang satunya.


Ketiganya terlihat sangat senang melihat perkembangan Mama Yuna yang membaik secara drastis hari itu.


"Sekarang bagaimana caranya agar bocah itu bisa terus disini? kita harus cari cara agar kondisi Nyonya Yuna bisa terus seperti ini, karena ini bisa membantu mempercepat kesembuhannya," sambung dokter itu.


"Kita minta saja Kepala Rumah Sakit untuk mempekerjakan Ibu bocah itu disini, dengan begitu anak itu juga akan tetap tinggal disini," usul seorang suster tadi.

__ADS_1


Dokter itu menganggukkan kepalanya menyetujui usulan suster itu.


Seolah tidak ingin lepas, Mama Yuna terus berada di dekat Baruna, setelah menyelesaikan makannya pun Mama Yuna masih mengajak Baruna main bersamanya.


"Nyonya, apa saya boleh membawa Baruna pulang? saya harus kembali ke warung untuk melanjutkan pekerjaan saya," tanya Mutiara berharap Mama Yuna mau mengijinkannya membawa Baruna kembali ke warung tempatnya bekerja.


"Tidak bisa! dia bukan anakmu, dia Kaka anakku!" ketus Mama Yuna lagi.


Mutiara menghela nafas panjang, dia menjadi bingung bagaimana harus membujuk Mama Yuna sedangkan dia harus kembali ke warung Bu Rahma karena sudah lebih dari satu jam dia meninggalkan warung itu. Dia takut kalau Bu Rahma akan marah kepadanya dan tidak menijinkannya bekerja lagi disana.


Mutiara melirik dan mendekat ke arah dua orang suster yang selalu ada di sana untuk merawat Mama Yuna.


"Suster, bagaimana caranya membujuk Nyonya Yuna agar mengijinkan saya membawa putra saya kembali ke warung tempat saya bekerja?" tanya Mutiara.


"Mbak nggak perlu kembali ke warung itu lagi. Mulai hari ini Mbak bekerja disini saja. Kepala Rumah Sakit sudah menyiapkan pekerjaan khusus buat Mbak disini dan gaji Mbak juga akan jauh lebih tinggi daripada bekerja harian di warung makan itu," sahut suster itu.


Mutiara mengernyitkan keningnya seolah tidak percaya dengan ucapan suster itu.


"Tapi saya bisa apa disini, Suster. Saya tidak memahami dunia medis sama sekali," sanggahnya.


"Mbak tidak usah khawatir!" Tiba-tiba seorang dokter menyela.


"Satu minggu pertama Mbak akan mendapat pelatihan khusus, dan setelah selesai pelatihan, Mbak akan kami angkat jadi suster pribadi untuk merawat Nyonya Yuna dan tinggal disini bersamanya," sambung dokter itu yang baru saja masuk ke paviliun itu dan langsung menimpali memperjelas keterangan suster sebelumnya.


Mutiara tersenyum sumringah, penawaran yang diberikan dokter itu sangat menarik baginya. Jika tinggal di paviliun itu, tentunya kehidupannya akan lebih baik bersama Baruna di kota itu, daripada hanya tinggal di warung Bu Rahma.


♥️🌹 Buat kalian para readers yang masih setia lanjut membaca kisah ini, author mengucapkan banyak terimakasih dan jangan lupa dibantu dukungannya dengan meberikan vote, hadiah, like dan komen untuk karya ini agar semakin lebih baik ke depannya. 🌹♥️

__ADS_1


__ADS_2