
Di terminal kedatangan internasional, pesawat yang ditumpangi Arkha dan Mutiara baru saja mendarat. Hari itu mereka kembali dari bulan madunya.
Setelah dua malam menghabiskan waktunya di atas kapal pesiar mewah, akhirnya kapal itu membawa mereka menuju ke pelabuhan yang ada di sebuah pulau yang sangat digemari wisatawan di negeri ini. Sebuah pulau yang terkenal akan keindahan alam serta keunikan budayanya.
Di pulau yang sering disebut sebagai Pulau Dewata nan romantis itu, mereka menyewa sebuah luxury private villa dan menginap disana selama beberapa hari.
Dari Pulau Dewata mereka kemudian terbang lagi menuju negeri Gajah Putih dan berlanjut ke beberapa negara lain di Asia dan Eropa, hingga kini waktunya mereka mengakhiri masa bulan madunya untuk kembali pulang.
Raut kebahagiaan terus terpancar di wajah keduanya.
"Aku kangen sama Baruna, Bang. Mudah-mudahan bocah itu tidak merepotkan Omanya selama kita tinggal," ujar Mutiara saat mereka berjalan menuju pick up zone di bandara itu.
"Aku juga kangen sama anak kita, Sayang. Baruna anak yang penurut, aku yakin dia tidak akan pernah menyusahkan Mama," sahut Arkha. Tangan kanannya tidak pernah lepas merangkul pundak Mutiara sementara tangan kirinya mendorong baggage trolley yang penuh berisi koper dan oleh-oleh yang mereka beli selama masa liburan mereka.
"Papa ...! Mama ...!"
Baruna segera berlari menyambut Arkha dan Mutiara saat mereka bertemu di pick up zone.
"Apa kabar kesayangan, Papa?" Arkha segera mengangkat tubuh putranya dan mencium gemas pipi bocah itu.
"Mama kangen sama Una," timpal Mutiara sambil mengusap kepala Baruna dan mendekatkan pipnya ke wajah putranya agar Baruna menciumnya.
"Una juga kangen cama Mama dan Papa," ucap bocah itu sambil memeluk Arkha dan Mutiara karena senang menyambut kepulangan orang tuanya.
"Selamat datang kembali, Bos. Pasti bulan madunya penuh kesan, kan?" Rendy menjabat tangan Arkha.
"Iya, Rendy sangat menyenangkan," terang Arkha tersenyum bahagia.
Rendy ikut tersenyum, semenjak pertemuannya kembali dengan Mutiara, Arkha memang sangat berubah. Lebih banyak tersenyum dan terlihat sangat ceria. Tidak ada lagi wajah kusut dan kemarahan yang dulu selalu nampak di wajah atasannya itu.
Rendy bergegas mengambil alih trolley dari Arkha dan memasukkan semua barang-barang bawaan Arkha dan Mutiara ke dalam bagasi mobil yang sudah dari sebelumnya stand by di pick up zone itu.
"Loh, Mama mana, Rendy? Nggak jadi ikut menjemput kami, ya?" tanya Arkha karena tidak melihat Mamanya ada bersama Rendy saat itu.
Akan tetapi, sebuah senyum penuh arti terulas di bibir Arkha, ketika ia melihat Sandra ada bersama Rendy saat itu.
"Nyonya Besar mendadak harus bertemu psikiater, Bos. Jadinya beliau batal ikut," sahut Rendy. Tangannya tetap sibuk memindahkan koper dari trolley dan mengaturnya di dalam bagasi mobil.
"Oh ..., karena Mama nggak ikut, jadinya kamu ngajak Sandra. Begitu ya?" cibir Arkha.
"Tadi saya hanya kebetulan ketemu perempuan tengil ini di jalan, Bos. Kasihan dia luntang-lantung di jalan, saya ajak saja dia ikut supaya ada yang jagain Baruna," kilah Rendy tersenyum penuh ejekan terhadap Sandra.
"Eh ..., kamu bilang apa, Rendy? Ketemu di jalan? Enak saja! Dasar cooler box!" balas Sandra mengumpat.
Dia seketika memasang wajah kesal setelah mendengar Rendy yang mengatakan kalau mereka hanya kebetulan bertemu di jalan.
"Beruang Kutub ini bohong, Tuan Arkha. Saya ikut kesini karena diperintahkan oleh Nyonya Yuna agar bisa jaga Baruna, soalnya Mama Anda mendadak harus bertemu psikiater dan tidak bisa ikut menjemput Tuan Arkha dan Nyonya Mutiara," tampik Sandra sambil mencebikkan bibirnya menatap gusar ke arah Rendy.
__ADS_1
Arkha dan Mutiara saling menatap dan sama-sama tersenyum geli menanggapi kekonyolan dua orang itu. Meski saling melempar ejekan, tetapi Arkha bisa merasakan kalau keduanya sebenarnya saling menyukai dan sama-sama menyimpan kekaguman satu sama lain.
"Awalnya saling ejek, lama-lama bisa saling jatuh hati loh!" ledek Arkha terkekeh.
"Butuh perjuangan keras untuk bisa mencairkan es di puncak Jaya Wijaya, Tuan," cibir Sandra.
"Ngomong apa sih? Aku nggak ngerti," kilah Rendy berpura-pura culun.
"Bukan apa-apa," ketus Sandra, menyudahi perdebatan mereka.
Arkha dan Mutiara kembali hanya terkekeh melihat tingkah Sandra dan Rendy yang semakin terlihat konyol saat sama-sama gengsi dan berusaha menyembunyikan perasaannya.
Setelah Rendy selesai memasukkan semua barang-barang Arkha dan Mutiara ke dalam bagasi, mereka semua kemudian masuk ke dalam mobil.
Baruna yang sebelumnya duduk di kursi penumpang depan dan dipangku oleh Sandra, kini berpindah duduk di kursi penumpang di belakang bersama Arkha dan Mutiara.
"Una nggak nakal kan, selama Mama dan Papa tinggal?" tanya Mutiara kepada putranya saat mobil itu sudah meluncur keluar dari area bandara.
"Enggak, Mama," sahut Baruna polos.
"Anak Mama memang pintar," puji Mutiara sambil kembali mengecup pipi putra kecilnya.
"Bukan cuma anak Mama, anak Papa juga dong!" timpal Arkha ikut mencium pipi Baruna penuh kasih sayang.
"Ohya, Sandra. Kenapa Ardila nggak ikut?" Arkha teringat akan Ardila yang sudah dianggap sebagai putri sulungnya sendiri.
"Dari semenjak hari pernikahan Anda, Nona Ardila hanya mau berbicara dengan Mbak Desti, pengasuhnya, Tuan. Nona Ardila lebih suka berdiam diri di kamar." Akhirnya Sandra mulai bercerita, "Sedangkan Nyonya Yuna, beliau sama sekali tidak peduli sama Nona Ardila. Jadinya Nona Ardila merasa cemburu dan beranggapan kalau Nyonya Yuna hanya menyayangi Baruna saja," terang Sandra.
"Hmm ..., aku tahu itu. Ardila masih terlalu kecil untuk bisa memahami semuanya," gerutu Arkha.
"Dan Mama, aku juga nggak ingin menyalahkan Mama dalam hal ini. Wajar kalau Mama tidak mau menganggap Ardila sebagai cucunya, Mama terlalu sakit hati atas semua kejahatan yang telah dilakukan Alfin dan Livina."
Kendati merasa kecewa akan sikap Mama Yuna terhadap Ardila, Arkha juga tidak mau menghakimi Mamanya yang begitu berlebihan membenci Alfin dan Livina.
Wajar saja Mama Yuna seperti itu, kelakuan buruk Alfin dan Livina di masa lalu sudah pernah membawa Mama Yuna ke titik terendah dalam kehidupannya.
"Kamu harus sabar, Bang. Lama-lama Mama pasti akan bisa menerima Ardila sebagai cucunya juga!" urai Mutiara sambil tersenyum dan mengusap punggung suaminya.
"Walaupun Mama tidak setuju, aku tetap ingin membesarkan Ardila sebagai anakku sendiri, Sayang. Apa kamu keberatan jika aku melakukan semua itu?" tanya Arkha kepada Mutiara.
Mutiara menggeleng, "Sama sekali tidak, Bang. Sedari kecil, Ardila sudah tumbuh dengan perhatian dan kasih sayangmu, anak itu juga sudah menganggapmu sebagai Papa kandungnya, bukan? Sudah kewajiban kita membesarkannya dengan penuh tanggung jawab juga, Bang. Anak itu tidak bersalah, Ardila masih sangat polos, tidak seharusnya dia menjadi korban keserakahan orang tua kandungnya," sahut Mutiara.
"Makasih, Sayang. Dari dulu kamu selalu sama. Kamu seorang wanita yang sangat baik dan punya hati yang besar. Kamu selalu pengertian terhadapku." Arkha menatap wajah Mutiara dan ikut tersenyum. Dia sangat bahagia, merasa bersyukur memiliki Mutiara dalam hidupnya. Seorang wanita yang berhati bersih serta tulus terhadap siapapun.
"Jangan memujiku seperti itu, Bang. Aku tidak pantas menerimanya." Mutiara tersipu malu.
"Selain itu, ada satu berita lain tentang Nyonya Livina yang ingin saya sampaikan kepada Anda, Bos!" sela Rendy.
__ADS_1
"Berita apa, Rendy?"
"Seminggu yang lalu, Nyonya Livina dipindahkan dari sel tahanan ke rumah sakit jiwa," ungkap Rendy.
"Apa?" Arkha dan Mutiara tersentak bersamaan mendengar apa yang disampaikan Rendy.
"Memangnya ada apa, Rendy? Kenapa Livina bisa dibawa ke rumah sakit jiwa?" tanya Arkha seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
"Nyonya Livina terus berteriak, menangis dan tertawa sendiri selama di penjara, Bos. Sepertinya Nyonya Livina menderita depresi berat setelah tinggal di dalam tahanan," terang Rendy.
"Agar tidak mengganggu petugas serta penghuni tahanan yang lain, maka polisi membawa Nyonya Livina ke rumah sakit jiwa untuk dirawat di sana, Tuan," imbuh Sandra ikut menerangkan cerita Rendy kepada Arkha.
"Livina ..., ini semua karma atas perbuatan burukmu. Kamu pantas menerima semua itu, Livina. Kamu juga harus merasakan apa yang pernah Mama rasakan akibat perbuatanmu," geram Arkha.
Namun, dalam hatinya dia merasa iba mengetahui keadaan Livina. Bagaimanapun juga Livina pernah menjadi bagian dalam hidupnya.
"Tidak baik berkata seperti itu, Bang. Seburuk apapun perbuatan Alfin dan Livina terhadapmu dan juga Mama di masa lalu, mereka tetap adalah sahabat masa kecil Abang, kan?" ujar Mutiara.
"Kamu benar, Sayang. Bagaimanapun juga, Alfin dan Livina adalah sahabat masa kecilku. Dan Ardila, bagiku anak itu adalah satu-satunya yang tersisa dari persahabatan kami. Aku juga sangat sayang padanya, karena itu aku tetap ingin membesarkan Ardila seperti darah dagingku sendiri,"
"Aku juga akan selalu sedia menjadi ibu sambung yang baik untuk Ardila, Bang. Seperti halnya kamu, aku janji aku akan selalu menyayanginya tanpa pernah membedakan kasih sayang yang akan aku berikan untuknya dan juga Baruna.
"Sekali lagi terima kasih, Sayang. Aku sangat beruntung mempunyai istri sebaik dirimu." Arkha memeluk erat Mutiara sambil mengecup lembut keningnya.
Lagi-lagi Rendy dan Sandra yang duduk di kursi depan mobil itu hanya saling menatap dan sama-sama tersenyum melihat kedekatan dan kemesraan Arkha bersama Mutiara.
"Semoga aku dan Rendy bisa seperti Nyonya Mutiara dan Tuan Arkha." Sandra membatin. Dia semakin membulatkan tekadnya untuk bisa mencairkan kebekuan hati Rendy, pria dingin yang sudah membuatnya jatuh hati.
Arkha lalu menatap wajah Baruna yang masih anteng duduk di tengah-tengah mereka sambil memainkan sebuah mainan mobil-mobilan.
"Selama Mama dan Papa pergi, Una main sama siapa di rumah?" tanya Arkha sambil ikut memainkan mobil-mobilan itu bersama putranya.
"Cama Oma,"
"Kak Dila nggak Una ajak main juga ya?"
"Nggak boyeh cama Oma, Papa," sahut Baruna jujur.
Arkha hanya tersenyum tipis, "Mulai hari ini, Una harus ajak Kak Dila main bareng, ok! Kak Dila itu kakaknya Una, dia juga anak Papa sama Mama,"
"Ok, Papa!" Baruna mengangguk patuh dan tersenyum senang.
🌹🌹🌹
Maafkan author lama tidak up ya guys...
Semoga pembaca setia tidak pada kabur.
__ADS_1
Mulai hari ini author janji akan rajin up lagi 💪💪