Deburan Gairah Sang Segara

Deburan Gairah Sang Segara
Eps. #67 Tidak Tahu Harus Kemana


__ADS_3

Taksi online itu pun melaju cepat melintasi jalanan padat di pusat kota dan Mutiara terus mengarahkan pandangannya keluar melalui jendela mobil itu. Sejenak pemandangan di kota itu membuatnya tertegun. Gedung-gedung yang tinggi, jalanan yang begitu padat oleh kendaraan sungguh sebuah pemandangan yang tidak biasa baginya. Kalau sebelumnya semua itu hanya bisa dihatnya melalui layar televisi, namun saat itu dia bisa melihatnya secara langsung di hadapan matanya.


Baruna juga sangat girang selama di dalam taksinya, bocah kecil itu berdiri dan melompat-lompat di jok mobil dan terus melihat keluar. Kata-kata lucu selalu terlontar dari mulut kecilnya dan bertanya banyak hal tentang yang dilihatnya di kota itu kepada Mutiara. Maklum saja, biasanya mereka hanya tinggal di kampung terpencil, untuk pertama kalinya mereka berkunjung ke kota besar seperti itu.


Setelah kurang lebih satu jam dalam perjalanan, taksi online itu kini memasuki sebuah perumahan dan berhenti di sebuah gang.


"Mbak, kita sudah sampai," ujar sopir taksi sambil menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah yang cukup besar.


"Ini sudah sesuai alamat kan, Pak?" tanya Mutiara sambil melihat kembali alamat yang dikirim Genta di pesan singkatnya.


"Iya, Mbak. Blok 1, rumah nomor 5 ini sudah sesuai aplikasi," sahut sopir itu sambil menekan tombol unlock pintu mobilnya.


"Hoyeee..., kita cudah campai, Una mau cayi Ayah!" seru Baruna girang, bocah itu sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Genta.


"Iya, sebentar ya, Una." Mutiara turun sambil menggendong putranya dan memberikan sejumlah uang kepada sopir taksi itu.


"Terima kasih ya, Pak," ucapnya saat sopir itu menurunkan tas-tasnya dari bagasi mobil itu.


Di depan rumah itu Mutiara terdiam, dia teringat kalau semenjak dia sampai di pelabuhan dia belum sempat menghubungi Genta lagi.


Mutiara lalu mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi ponsel Genta, namun nomor itu masih saja tidak aktif bahkan semua pesan-pesan yang dikirimnya pun masih hanya bercentang satu. Berkali-kali Mutiara mencoba menghubunginya lagi, namun tetap sama, nomor Genta tidak aktif. Mutiara menghela nafas panjang, perasaan was-was kini memenuhi hatinya.


"Kenapa sampai sekarang Bang Genta masih tidak bisa di hubungi? apa dia sudah pergi berlayar lagi?" pikirnya.


Mutiara memperhatikan rumah yang ada di hadapannya, halaman rumah itu cukup luas dan ada logo perusahaan ekspedisi tempat Genta bekerja di pintu gerbang rumah itu, Mutiara bisa memastikan kalau alamat yang ditujunya sudah sesuai dengan yang dikirimkan Genta sebelumnya.


"Alamatnya sudah benar, ini rumah inventaris yang disebutkan oleh Bang Genta, tapi kenapa rumah ini terlihat sepi?" gumam Mutiara kebingungan.


Gerbang rumah itu terkunci dan tidak seorangpun terlihat disana, namun dia tetap menekan bel yang ada di sisi kanan gerbang itu. Beberapa kali bel itu ditekannya tapi tidak ada jawaban dari sana.


Dari ujung gang rumah itu, nampak seorang pria sepuh berjalan tergopoh mendekat ke arah Mutiara.


"Maaf, Mbak. Mbak cari siapa ya? saya penjaga rumah ini" ungkap pria itu.


"Apa benar ini rumahnya Bang Tirta ya, Pak?" tanya Mutiara.


"Ini rumah inventaris dari perusahaan ekspedisi, Mbak. Rumah ini khusus buat pekerja kapal di perusahaan itu."


"Iya, suami saya kapten kapal di perusahaan ini, Pak. Namanya Tirta, apa dia ada?"


"Mbak ini siapanya, Kapten Tirta?" tanya pria itu dengan wajah terlihat kebingungan menatap ke arah Mutiara.


"Saya istrinya, Pak. Saya baru datang dari kampung untuk menyusulnya kesini."


"Tapi Kapten Tirta tidak jadi tinggal disini, Mbak!" sahut pria itu.

__ADS_1


"Saya dapat informasi dari kantor, Kapten Tirta tidak datang di hari pertamanya bekerja, jadinya pemilik perusahaan ekspedisi ini akan mencari kapten yang baru, dan rumah ini tidak jadi diberikan kepada Kapten Tirta," lanjutnya menerangkan semua informasi yang diketahuinya kepada Mutiara.


Mendengar penjelasan pria itu Mutiara sangat terkejut, dia sangat yakin Genta tidak mungkin berbohong kepadanya, karena saat tiba di kota itu, Genta masih sempat menghubunginya bahkan mengirim foto selfienya saat ada di kapal ekspedisi itu.


"Lalu Kapten Tirta kemana ya, Pak?" tanya Mutiara. Tiba-tiba saja kecemasan muncul di benaknya, ada kekhawatiran teramat sangat memenuhi jiwanya.


"Waduh maaf, kalau itu saya kurang tahu, Mbak." Pria itu menaikkan kedua pundak dan menengadahkan telapak tangannya sambil menggelengkan kepalanya.


"Maaf, Mbak. Saya permisi, saya masih banyak pekerjaan!" pungkas pria itu sambil membuka kunci gerbang rumah dihadapannya. Pria itu langsung masuk ke dalam rumah itu tanpa mempedulikan Mutiara dan Baruna yang masih berdiri disana.


"Oh Tuhan, Bang Genta ada dimana? aku harus mencarinya kemana sekarang, sedangkan ponselnya tidak bisa dihubungi," sungut Mutiara dengan wajah yang berubah sangat takut dan cemas. Dia bingung harus pergi mencari Genta kemana, sementara dia sendiri sama sekali tidak mengenal kota itu.


"Ayo cayi Ayah, Ibu! Cayi Ayah!" rengek Baruna sambil menarik-narik tangan Mutiara.


"Iya, Sayang kita akan cari Ayah, tapi Ibu bingung harus mencarinya kemana?" Setetes air mata mengalir di pipi Mutiara, dia tidak dapat menahan kecemasannya, dia sangat bingung dan takut, dia tidak tahu harus pergi kemana di kota besar yang sangat asing baginya itu.


Mutiara lalu menggendong Baruna dan mengambil semua tasnya. Perlahan dia berjalan menyusuri gang di perumahan itu tanpa tahu harus kemana akan melangkahkan kakinya


Meski dengan tertatih Mutiara terus berjalan, rasa takut dan cemas yang dirasakannya melebihi rasa panas sinar matahari sore yang menyengat tubuhnya. Sudah cukup jauh dia berjalan hingga akhirnya dia menghentikan langkahnya di tepi jalan dekat taman kota. Menggendong Baruna sambil membawa dua buah tas besar tentunya membuatnya merasa sangat lelah. Mutiara lalu duduk beristirahat di sebuah bangku di taman itu sambil mengatur nafasnya yang terengah.


"Harus pergi kemana aku sekarang?" Pertanyaan itu selalu ada di kepalanya. Mutiara mengusap wajahnya dan menyeka keringat yang bercucuran di keningnya, pikirannya sangat kacau dia gundah karena tidak tahu apa yang harus dilakukannya setelah dia tidak berhasil menemukan Genta di kota itu.


"Ibu, Una yapal!" bisik Baruna yang saat itu duduk di pangkuan Mutiara.


Mutiara kembali menghela nafasnya dalam-dalam, seketika dia teringat kalau dari siang mereka memang belum makan apapun, dan Baruna pasti merasa sangat lapar.


"Una mau makan, Sayang?" tanyanya kepada Baruna. Meskipun sedang sangat kebingungan, Mutiara tetap tersenyum menyembunyikan kecemasannya itu kepada putranya.


"Iya, Una mau mamam, yapal," sahut polos bocah itu lagi.


"Kita ke warung sana, yuk!" Mutiara menurunkan Baruna dari pangkuannya sambil menunjuk warung makan di pojok taman itu.


"Tapi, Una jalan kaki sampai di sana ya, Sayang. Ibu akan menggandeng tangan Una," pinta Mutiara. Bocah dua setengah tahun itu memang memiliki tubuh lumayan bongsor lebih berat daripada anak lain seusianya sehingga membuat Mutiara kelelahan jika terus menggendongnya.


Baruna mengangguk patuh, dan mereka berjalan menuju warung itu bersama-sama.


Tiba di warung itu Mutiara mengambil tempat duduk agak ke tengah tidak jauh dari etalase makanan di sana. Warung itu cukup ramai sehingga dia harus mengantri untuk memesan makanan. Mutiara merogoh dompet dari dalam tas tangannya, lalu kembali menghela nafas dalam saat melihat isi di dalam dompetnya yang hanya tersisa beberapa lembar uang lima puluh ribuan saja.


Genta memang sudah memberinya sejumlah uang, namun uang itu hanya cukup untuk bekalnya selama perjalanan saja. Sebelumnya Genta memang sudah memperkirakan jumlah uang yang diberikan itu lebih dari cukup untuk biaya perjalanan saja, karena setelah sampai di kota Mutiara akan tinggal bersamanya dan semua kebutuhan akan dipenuhinya setelah mereka tinggal bersama.


"Mbak mau pesan apa?" sapa seorang pelayan di warung itu.


"Satu porsi nasi putih sama telur balado ya, Mbak dan minumnya air mineral," sahut Mutiara memesan makanannya.


"Baik, ditunggu ya, Mbak," sahut pelayan itu dengan nada terburu-buru karena dia bekerja sendiri di warung itu sedangkan pembeli terlihat sangat ramai disana.

__ADS_1


"Cukup satu porsi saja untuk aku dan Baruna, uangku sisa sedikit dan besok kami harus membeli makanan lagi," batin Mutiara semakin khawatir dengan keadaannya di kota itu.


Setelah makanan tersaji di hadapannya, Mutiara langsung menyuapi putranya yang makan dengan lahap karena memang sudah sangat lapar.


"Gimana, Sayang? makanannya enak?" tanya Mutiara sambil tersenyum menatap wajah polos Baruna. Bocah kecil itu tentunya tidak tahu kegalauan yang tengah dirasakan Ibunya saat itu.


"Enak, Ibu," jawab lugu bocah itu.


"Una makan yang banyak, ya! biar kuat jalan nanti sama Ibu," terang Mutiara.


"Ibu nggak mamam?" tanya Baruna karena melihat Mutiara hanya menyuapinya saja tanpa ikut menyuap makanan itu.


"Setelah Una makan baru Ibu akan makan." Mutiara merasa sangat senang karena putranya bisa makan dengan lahap dan dia tidak peduli walau dia sendiri juga merasa lapar saat itu.


"Aku harus cari pekerjaan di sini, kalau tidak bagaimana nanti aku bisa membelikan makanan untuk Baruna," gumamnya lagi.


Sesaat Mutiara menoleh ke dalam warung itu, pemilik warung terlihat sangat kerepotan bekerja dengan satu orang pelayan saja sedangkan warung itu sangat ramai pembeli.


"Una tunggu disini sebentar, ya. Ibu mau memesan makanan lagi." Mutiara menyodorkan piring makanannya ke hadapan Baruna dan membiarkan putranya menyuap sendiri makanannya lalu beranjak dari tempat duduknya mendekati pemilik warung.


"Permisi, Bu. Apa Ibu membutuhkan karyawan disini?" tanya Mutiara. Dia memberanikan dirinya bertanya kepada pemilik warung karena merasa sangat membutuhkan pekerjaan untuk bisa bertahan hidup di kota itu.


Pemilik warung yang terlihat masih sibuk dengan pekerjaannya itu langsung menoleh ke arah Mutiara. Matanya bergerak naik turun memandangi Mutiara yang berpenampilan sangat sederhana dengan celana panjang jeans dan kaos polos yang sedang dikenakannya.


"Mbak baru ya di kota ini, dan apa Mbak yakin mau bekerja harian disini?" tanya pemilik warung itu sambil tersenyum ramah kepada Mutiara.


"Iya, Bu. Saya yakin bisa bekerja disini." Mutiara menganggukan kepalanya cepat sambil membalas senyum ramah pemilik warung itu.


"Kebetulan karyawan Ibu baru berhenti kemarin, Ibu sangat kerepotan mengurus warung ini," tutur pemilik warung.


"Lalu kapan kamu bisa mulai bekerja," desak Ibu pemilik warung itu merasa antusias akan mempekerjakan Mutiara di warungnya.


"Sekarang pun saya bisa, Bu!" sahut Mutiara juga sangat antusias. Dia merasa senang apabila pemilik warung itu mau menerimanya mulai bekerja harian disitu.


"Tapi saya membawa anak saya, Bu. Kalau diizinkan, anak saya akan ikut disini selama saya bekerja. Apa boleh seperti itu, Bu?" tanyanya lagi.


Pemilik warung itu lalu menoleh ke arah Baruna yang terlihat duduk anteng menikmati makanannya sendiri.


"Anak saya penurut kok, Bu. Selama saya bekerja saya yakin dia tidak akan merepotkan saya." tutur Mutiara lagi meyakinkan pemilik warung itu agar menerimanya bekerja disana walau dia akan membawa Baruna bersamanya.


"Iya sudah, tidak apa-apa. Kamu boleh bekerja disini, dan anakmu ajak saja dia duduk di dalam biar dia bermain sendiri selama kamu bekerja,"


"Terimakasih banyak ya, Bu. Saya janji akan bekerja dengan baik disini," ucap Mutiara sambil tersenyum senang, setidaknya untuk sekedar makan dia tidak akan kesusahan saat itu.


"Oh ya, saya Rahma, nama kamu siapa?" tanya Ibu pemilik warung itu.

__ADS_1


"Saya Ara, Bu dan putra saya Baruna." Mutiara ikut memperkenalkan dirinya.


__ADS_2