Deburan Gairah Sang Segara

Deburan Gairah Sang Segara
Eps. #87 Perkelahian Awal Sebuah Pertemuan


__ADS_3

Petang di hari yang sama.


Rendy merapikan semua kertas-kertas yang berserakan di meja ruang kerjanya dan bersiap pulang. Namun, saat ia keluar, lampu di ruang kerja Arkha terlihat masih menyala.


"Bos Arkha belum pulang, sebaiknya aku laporan dulu padanya," gumamnya.


Perlahan Rendy berjalan menuju ruangan Arkha dan mengetuk pintu.


"Masuk saja, Rendy!" Terdengar Arkha menyahut dan memanggilnya dari dalam ruangan.


"Anda belum pulang, Bos?" tanya Rendy saat melihat Arkha masih sangat serius di depan layar laptopnya.


"Aku malas pulang, Rendy!" sahut Arkha singkat dengan senyum datarnya dan terlihat tidak bersemangat.


"Bagaimana, apa sudah ada berita tentang Mutiara dan Mama? sudah sejauh mana pencarian kalian?" sambung Arkha.


"Anak buah saya sudah menyebar ke semua tempat di kota ini, Bos. Tapi sampai sekarang, kami belum mendapatkan jejak apapun dari mereka," jawab Rendy sambil duduk di kursi di hadapan Arkha.


"Tapi ada kabar lain yang ingin saya sampaikan, Bos" imbuhnya.


"Kabar apa?" tanya Arkha penasaran.


"Saya baru saja dapat informasi dari anak buah saya kalau Nyonya Livina selama ini masih sering datang ke Lapas mengunjungi Pak Alfin, Bos."


"Apa! Livina masih sering ke Lapas? untuk apa dia pergi kesana?" Arkha tersentak, di raut wajahnya ada aura kemarahan yang terlintas setelah mendengar laporan Rendy.


"Sepertinya Nyonya Livina dan Pak Alfin masih sering berhubungan, dan anak buah saya sedang menyelidikinya lagi, Bos!" sahut Rendy.


"Ok, selidiki terus, Rendy. Aku jadi semakin curiga terhadap Livina, sepertinya banyak rahasia yang dia sembunyikan di belakangku."


"Pasti, Bos!"


"Sekarang kau pulang saja duluan, Rendy. Biarkan aku sendiri disini. Kepalaku pusing," titah Arkha dengan tegas mengusir Rendy dari hadapannya.


"Baik, Bos." Rendy bergegas keluar dari ruangan Arkha dan meninggalkan Arkha seorang diri di ruangan kerjanya.


Arkha menyandarkan punggungnya di kursi ruang kerjanya sambil mendengus panjang.


"Livina...! apa yang sedang dia rencanakan? Kalau sampai dia berani bermain api di belakangku, maka aku sendiri yang akan membakarnya!" Ada emosi terpancar dari mata Arkha.


Arkha mengusap wajahnya dan mengalihkan pikirannya.

__ADS_1


"Mutiara...! kamu ada dimana, Sayang? Semoga Tuhan segera mempertemukan kita," doa Arkha dalam hati. Hari itu dia merasa begitu rindu kepada kekasih hatinya, tanpa disadarinya sebuah senyum terbias dari bibirnya saat teringat akan Mutiara.


Setelah beberapa menit melamun, Arkha melirik angka yang tertera di jam tangannya dan sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Arkha bergegas mematikan laptopnya dan meninggalkan kantornya.


Di atas mobilnya yang melaju pelan di jalanan kota, pikiran Arkha masih terus tertuju pada Mutiara, matanya menyapu semua sudut jalan yang dilaluinya dan berharap ada keajaiban yang membuatnya bertemu di ruas jalan itu dengan pujaan hatinya.


Mobil itu terus melaju tanpa tujuan pasti dan Arkha juga tidak tahu akan kemana dia mengarahkannya. Malam itu, dia enggan pulang ke rumahnya, karena jika dia pulang, dia pasti akan bertengkar lagi dengan Livina tanpa alasan yang jelas dan entah apa pemicunya.


Setelah cukup lama mengelilingi jalanan di kota itu, Arkha menghentikan mobilnya di tepi sebuah jalan yang cukup sepi. Arkha tetap duduk di dalam mobilnya sambil menurunkan setengah kaca mobilnya. Dari dalam dashboard, Arkha mengambil sebungkus rokok dan mulai menyesapnya perlahan. Arkha memang bukan pecandu rokok. Namun, saat dia merasa stress dan sedang banyak masalah, rokok bisa jadi pelariannya.


Arkha menyandarkan kepalanya di headrest jok mobil sambil menyemburkan keluar asap rokok melalui kaca mobilnya. Pikirannya menerawang, bayangan wajah Mutiara dan putra kecilnya Baruna selalu terlintas dalam ingatannya.


"Tolong...! lepaskan aku..., tolong...!"


Arkha terkesiap, sayup-sayup terdengar ada suara seorang wanita yang berteriak minta tolong melintas di indera pendengarannya.


"Sepertinya ada suara minta tolong, tapi suara itu tidak jelas, seperti suara seseorang yang mulutnya tengah dibekap." Sejenak Arkha berpikir dan ia mengerutkan keningnya seraya berusaha mempertajam pendengarannya.


"Diam! jangan berteriak! Kalau kau berteriak lagi, aku akan merobek mulutmu!"


Dari balik rerimbunan semak di pinggir jalan itu kini ada suara berat seorang pria yang terdengar memberi ancaman.


Arkha bergegas turun dari mobilnya dan mendekati arah datangnya suara.


Selain itu, ada seorang anak kecil juga yang terlihat sedang digendong oleh seorang pria yang lain, dan anak itu sedang menangis karena ketakutan. Suasana disana cukup gelap sehingga dia tidak bisa melihat dengan jelas siapa orang-orang di hadapannya saat itu.


"Hentikan! Lepaskan mereka!" pekik Arkha.


Seketika keempat pria dengan penutup wajah itu menoleh ke arahnya.


"Jangan ikut campur urusan kami!" bentak salah seorang dari pria-pria berpakaian ala preman itu.


"Pergi kau, jangan sok jadi jagoan! kami bisa saja menghabisi mu di sini!" Salah seorang dari mereka ikut membentak memberi ancaman.


"Kalian semua pengecut bisanya menyakiti wanita dan anak kecil saja! kalian mau apakan wanita dan anak itu, hah? dasar manusia bejat, lepaskan mereka, cepat!" tantang Arkha merasa gusar melihat kelakuan empat pria di hadapannya.


"Kurang ajar...! banyak bacot! Ayo kalian habisi saja dia!" perintah salah satu dari mereka yang sedari tadi memegangi wanita itu.


Dua orang diantara pria itu langsung berlari mendekati Arkha dan berkeroyok menyerangnya.


Seperti biasa, berkelahi bukanlah hal yang ditakuti oleh Arkha, meski di keroyok dua orang sekaligus, Arkha tidak mudah untuk dikalahkan. Dengan lihai dia menangkis tendangan serta pukulan pria-pria itu, bahkan dia sendiri jauh lebih cekatan menyerang dua pria itu dan ikut menghujani mereka dengan tendangan serta pukulan bertubi-tubi.

__ADS_1


"Tolong lepaskan, aku. Jangan sakiti anakku, aku mohon!" rengek wanita yang tengah mereka tangkap, ia sangat ketakutan dan suaranya terdengar serak, memelas dan terus memohon.


"Diam!" bentak pria yang masih mencengkram kuat kedua tangannya.


Wanita dan anak itu adalah Mutiara bersama Baruna.


Saat Mutiara tengah kebingungan mencari-cari tempat penginapan, tanpa dia sadari empat orang pria tengah mengawasinya. Ketika Mutiara dan Baruna sampai di tempat sepi dan gelap itu, empat orang pria yang tidak dikenalnya itu langsung menyergap dan menangkapnya.


"Apa salah kami, kenapa kalian ingin menangkap kami?" jerit Mutiara dengan suaranya yang gemetar menahan takut. Dia sangat khawatir orang-orang itu akan menyakiti Baruna, apalagi dengan kondisi matanya yang tertutup dia hanya bisa mendengar tangis Baruna yang juga seperti sangat ketakutan.


"Aku bilang diam! kalau kau bicara lagi, aku tidak segan menyakiti anak ini!" Pria yang menggendong Baruna ikut membentak dan memberi ancaman.


Mutiara seketika bungkam, meski sangat khawatir dia harus diam demi keselamatan Baruna.


Sementara itu, dua orang pria yang tengah berkelahi dengan Arkha terlihat sudah kewalahan. Keduanya jatuh tersungkur ke tanah dan babak belur akibat pukulan dan tendangan Arkha.


"Arrgghhh...., lemah! kalian berdua bukan tandinganku!" pekik Arkha sumbang dan tersenyum sinis.


Arkha lalu menoleh ke arah dua pria yang menangkap Mutiara, dengan tatapan iblis dan satu ujung bibir yang diangkatnya, Arkha menudingkan telunjuknya ke arah mereka.


"Lepaskan mereka, atau aku akan menghabisi kalian juga!" tantang Arkha lagi.


Meski mata Mutiara tertutup dan sedang ketakutan dalam ancaman pria-pria itu, Mutiara dapat dengan jelas mendengar suara pria yang berteriak di hadapannya.


"Bang Segara..., itu suara Bang Segara," gumam Mutiara. Hampir saja dia berteriak memanggil nama Segara, namun seketika ia sadar dan menahan suaranya.


"Aku tidak takut padamu!" pekik pria yang tengah menggendong Baruna. Dengan cepat ia melepaskan Baruna dari gendongannya dan mendudukkannya di tanah lalu menyerang Arkha. Dengan sengit keduanya berkelahi, Arkha tetap dengan mudah melawan pria itu.


Baruna kembali menangis menjerit karena ketakutan.


"Baruna...!" Mendengar tangisan putranya, Mutiara tidak dapat menahan diri, ia langsung berteriak yang membuat Arkha seketika menoleh ke arah bocah kecil yang sedang duduk di tanah dan menangis dengan keras.


Meski sedang berkelahi, Arkha masih bisa mengenali bocah itu.


"Baruna...!" Arkha ikut berteriak sambil memutar badannya dan mengarahkan tendangan ke arah pria yang tengah sengit menyerangnya.


Blaakkk...!


Tendangan Arkha tepat mengenai area inti di belahan paha pria itu yang membuatnya langsung terjungkal ke tanah dan mengerang kesakitan.


Secepat kilat Arkha berlari dan merangkul tubuh Baruna ke dalam gendongannya. Pantulan sinar dari lampu penerangan jalan menerpa wajah keduanya.

__ADS_1


"Om Ganteng!" pekik Baruna seketika menghentikan tangisnya dan memeluk Arkha.


"Baruna, putraku!" Arkha ikut memeluk bocah kecil itu dengan erat.


__ADS_2