
Sambil melambaikan tangan, Arkha dan Mutiara menaiki kapal pesiar itu. Para crew dan pelayan yang tadi menyambut mereka, juga ikut masuk menuju kabin kapal. Tidak lama kemudian, mesin kapal sudah terdengar gemuruh pertanda kapal itu akan segera berangkat.
Kapal pesiar yang biasanya bisa menampung sekitar 160 orang wisatawan hanya untuk menikmati one day cruise trip, kini hanya di tempati oleh Arkha dan Mutiara saja, bersama beberapa orang pelayan yang akan siap siaga melayani mereka. Karena, kapal pesiar itu sudah di buy out secara exclusive oleh Mama Yuna khusus untuk bulan madu putranya.
Seorang pelayan langsung mengantarkan Arkha dan Mutiara menuju ke deck lantai tiga kapal itu dimana sebuah kejutan lain juga sudah menunggu mereka disana.
Di posisi tengah deck kapal itu sudah di set up sebuah meja dengan dua kursi yang juga sudah dipenuhi hiasan bunga dan lilin. Rose petal berbentuk hati juga terlihat mengitari meja itu. Sebuah romantic dinner yang sangat indah sudah dipersiapkan di deck kapal itu.
"Ah, Mama ..., ku rasa ini terlalu berlebihan," gumam Arkha sambil tersenyum tidak dapat menyembunyikan kekagumannya akan semua usaha Mama Yuna mempersiapkan semua kejutan romantis ini untuknya.
Mutiara yang sedari tadi terus bergelayut manja di tangan Arkha ikut tersenyum, hembusan angin laut yang semakin kencang saat kapal itu melaju pelan, menambah suasana romantis di antara mereka malam itu.
Dengan sigap pelayan menarik kursi saat Arkha dan Mutiara akan duduk disana lalu memasangkan napkin di pangkuan mereka.
Arkha tak pernah lepas memegang tangan dan menatap wajah cantik Mutiara saat mereka duduk saling berhadapan. Senyum bahagia juga selalu terulas dari bibir keduanya. Sesekali Arkha mengusap rambut yang menutupi wajah Mutiara saat hembusan angin laut menerpanya, suasana romantis begitu terasa diantara mereka.
Pelayan kemudian mengambil sebotol red wine dari wine stand yang penuh dengan es batu sebagai pendingin suhu minumannya. Wine stand itu memang sudah dari awal disiapkan di sebelah meja, dan dengan cara yang sangat propesional pelayan itu menuangkan wine ke dalam wine glass di hadapan Arkha dan Mutiara.
"Sayang, ayo kita bersulang!" ajak Arkha sambil mengangkat gelas wine-nya.
Mutiara juga ikut menaikkan gelas wine di hadapannya. Meski melakukan hal itu adalah hal yang sangat asing baginya, tetapi Mama Yuna sudah pernah mengajarinya table manner, sehingga tidak susah baginya menirukan kebiasaan orang-orang bersulang seperti di sebuah acara fine dinning pada umumnya. Keduanya lalu menyilangkan tangannya dan mulai bersulang.
"Uhuk ..., uhuk ...!" Mutiara tersedak, untuk pertama kalinya dia menegak wine sehingga rasa minuman yang mengandung alkohol itu terasa sangat aneh di mulutnya.
"Kenapa, Sayang?" sentak Arkha sambil memberikan water goblet yang berisi air putih untuk Mutiara.
"Rasa minumannya aneh, Bang. Tidak enak! Mending minum jus buah saja, lebih seger," jujur Mutiara dengan polosnya.
Arkha hanya tersenyum menanggapi keluguan istrinya. "Rasa wine memang seperti itu, Sayang. Kan ada kandungan alkoholnya," terangnya.
"Minum alkohol dilarang agama, Bang. Sebaiknya jangan diminum lagi!" hardik Mutiara sambil menyingkirkan gelas-gelas wine itu dari meja.
"Ha .. ha .. ha, sekali-kali tidak apa-apa, Sayang. Hanya untuk momen spesial kita ini saja," bujuk Arkha sambil terkekeh.
"Aah, tetep aja nggak boleh!" ketus Mutiara.
__ADS_1
Arkha kembali hanya tersenyum dan membiarkan saja Mutiara merampas gelas wine dari tangannya. Dia tahu walau Mamanya sudah mengajarkan Mutiara menjadi seorang wanita modern, akan tetapi sejatinya Mutiara masihlah seorang wanita yang sangat polos dan sederhana.
Acara makan malam romantis mereka berlangsung cukup cepat. Arkha tidak mau menunda waktu lebih lama karena dalam hatinya dia sudah sangat tidak sabar ingin segera menikmati malam pengantinnya bersama Mutiara.
Setelah romantic dinner itu selesai, pelayan langsung mengantar mereka ke subuah suite room di sana.
Di dalam kamar suite yang luas dan mewah itu mereka kembali terpana. Kamar itu juga sudah dihias dengan banyak bunga dan lilin aromaterapi. Di atas ranjang putih itu juga sudah ada hiasan rose petal merah berbentuk hati dengan dua handuk yang dilipat berbentuk angsa di tengah-tengahnya.
"Ini luar biasa, Bang. Mama sudah menyiapkan semuanya begitu indah buat kita," seru Mutiara sangat terpesona.
"Tapi ada yang jauh lebih indah dari semua ini, Sayang," ujar Arkha sambil menarik pinggang Mutiara dan mendekap tubuh Mutiara sangat erat.
Dengan pupil matanya yang sudah melebar sempurna, Arkha mendekatkan wajahnya ke wajah Mutiara sambil tersenyum menggoda. Detak jantung mereka berlomba, darah mereka sama-sama berdesir lebih cepat.
"Kamu sudah siap untuk pertempuran kita malam ini, Sayang?" bisik Arkha penuh gairah.
"Pertempuran apa, Bang?" tanya Mutiara berpura-pura lugu.
"Hmm ..., ini ritual malam pertama kita, Sayang. Aku akan membahagiakanmu malam ini,"
"Tapi ini pertama kalinya kau bersama Arkha, bukan?" Arkha tersenyum semakin genit sambil mengecup bibir Mutiara.
Mutiara ikut tersenyum sambil membuka mulutnya dan memberi ruang agar Arkha bisa leluasa meciumnya lebih dalam. Bibir itu saling mel***t penuh gairah, lidah mereka bertautan saling bertukar saliva. Kecupan Arkha juga sudah tidak hanya di bibir Mutiara saja. Arkha membenamkan wajahnya di belahan gaun Mutiara yang terbuka di bagian dada.
"Ahh ..., Bang!" desah Mutiara tak mampu menahan gairah yang kini sudah menguasainya.
"Lebih dari tiga tahun Segara kehilangan saat-saat bahagia ini, Sayang. Segara mu ini sangat merindukanmu. Malam ini tidak akan sedetikpun aku melepaskanmu," goda Arkha sambil mengangkat tubuh Mutiara dan menggendongnya. Mutiara juga mengalungkan tangannya dengan begitu manja di leher Arkha. Tatapan mata penuh hasrat berpadu di antara keduanya.
Arkha lalu membaringkan Mutiara di atas ranjang. Rose petal berhamburan dari ranjang itu saat Arkha menghempaskan tubuh Mutiara di atas kasur. Aroma kelopak mawar menambah suasana hangat di kamar itu yang membuat gairah semakin tak terbendung diantara mereka.
Arkha menindih tubuh Mutiara dan kembali mengecup dadanya seraya meninggalkan noda-noda cinta di sana. Tangannya menarik resleting gaun pernikahan mahal itu hingga terlepas, dan dengan kasar Arkha melemparkannya ke lantai. Arkha kembali tersenyum, setelah perpisahan mereka di kampung nelayan itu, ini kali pertamanya Arkha melihat lagi tubuh polos Mutiara tanpa busana.
Arkha berdiri dengan kedua lututnya dan mengapit pinggang mutiara dengan kedua pahanya. Dengan tergesa Arkha juga melepaskan jas serta kemeja pengantin yang ia pakai dan menghempaskannya sembarang.
Keduanya begitu terbuai hasrat dan tangan Arkha kini sudah mulai nakal mengembara menggerayangi semua yang ada di lekuk tubuh indah Mutiara.
__ADS_1
Arkha meraih tangan Mutiara dan diarahkannya ke bagian utamanya. Mutiara tersenyum geli merasakan ada sesuatu yang mulai mengeras di balik celana suaminya dan dengan genit ia menarik gesper pengait ikat pinggang Arkha lalu melepaskan celananya sehingga benda keras itu kini menyembul seutuhnya dari balik boxer yang dikenakan Arkha.
"Kita akan melakukannya sampai pagi, kamu harus kuat melayaniku malam ini, Sayang," bisik Arkha sambil mengecup telinga Mutiara dan kembali membenamkan kepalanya di ceruk leher Mutiara. Tangan Arkha semakin lincah membelai semua yang ada di raga Mutiara. Bibirnya juga semakin ganas mel***t dua pucuk indah di dada Mutiara sambil meremasnya degan lembut.
"Aahh ..., aku sudah nggak tahan, Bang!" desah Mutiara. Hangat hembusan nafas dan sentuhan-sentuhan Arkha membuat tubuhnya menegang hebat. Bagian bawahnya pun sudah basah oleh belaian tangan Arkha yg begitu liar menjamahnya.
"Kamu mau sekarang, Sayang?" Arkha menurunkan kepalanya dan memberi kecupan di area luar telaga terdalam di tubuh Mutiara hingga membuatnya semakin basah dengan cairan salivanya.
"Ahhh ...," Mutiara sudah tidak sanggup lagi menjawab pertanyaan Arkha. Matanya terpejam berharap Arkha segera memulai perjalanan mereka menuju surga dunia.
Arkha mendesak tubuh Mutiara sembari perlahan memasukkan pusakanya dan sukses membuat mulut Mutiara berdesis nikmat.
Keduanya tersenyum penuh gairah hingga malam yang sudah mereka nanti-natikan itupun terlewati dengan sangat indah. Hanya deru nafas dan lenguhan panjang yang terdengar bergema di dalam kamar di kabin kapal pesiar mewah itu.
Pergulatan mereka begitu panas, keringat mengalir di sekujur tubuh mereka.
Meski merasa lelah setelah beberapa kali merasakan puncak hasratnya, Mutiara tetap mencengkram erat pinggang Arkha dan berusaha sekuat tenaga mengimbangi permainan suaminya itu.
Hingga lebih dari satu jam lamanya tidak ada kata terucap dari bibir keduanya. Hanya hasrat yang berbincang dan seakan membahas betapa hangatnya keintiman mereka saat itu.
Seiring laju kapal yang semakin kencang memecah gelombang, seperti itulah deburan gairah yang tengah melanda pasangan yang baru menyatu kembali setelah begitu banyak aral melintang yang mereka lalui.
"Aahh ...," ******* hebat keluar dari mulut Arkha saat merasakan cairan cintanya berdebur kencang membasahi raga Mutiara.
Arkha menghempaskan tubuh lelahnya di atas tubuh Mutiara sambil kembali mengecup bibir indah itu dengan mesra.
"Terima kasih, Sayang. Malam ini aku sangat bahagia. Dan mulai malam ini kita tidak akan pernah terpisahkan lagi. I love you, Mutiaraku." Arkha membenamkan kepalanya di dada Mutiara dan ia bisa merasakan nafas Mutiara begitu memburu setelah pergulatan mereka.
"Sama-sama, Bang. I love you too," bisik Mutiara sambil mengusap kepala Arkha yang penuh keringat terbenam di dadanya.
Setelah beberapa menit diam tanpa kata dan melepaskan semua ketegangan di antara mereka, perlahan Arkha mengangkat kepalanya dan mengganti posisinya berbaring di sebelah Mutiara. Tangannya tetap mendekap erat tubuh Mutiara seakan tidak ingin melepaskannya.
"Aku masih ingin melakukannya lagi sekali, Sayang," bisik Arkha menggoda.
"Aku masih lelah, Bang. Istirahat dulu, ya!" tolak Mutiara.
__ADS_1
"Hmmm ...," Arkha hanya tersenyum sambil kembali mencium bibir Mutiara sangat dalam.