
"Iya... kita usir saja mereka dari sini!" teriakan warga disana makin terdengar riuh, mereka semua menyoraki dan memberi umpatan kepada Segara dan Mutiara. Ujaran kebencian dari Togar sudah mempu menghasut warga disana sehingga percaya bahwa mereka baru saja melakukan perbuatan asusila. Togar terus saja mengumpat dan menuduhkan hal hal kotor lainnya tentang Segara dan Mutiara sehingga membuat warga semakin terpancing amarahnya. Selain itu warga juga merasa resah karena mereka tahu Segara dan Mutiara selama ini tinggal di satu rumah padahal mereka bukan pasangan suami istri.
Blak....!
Bluk....!
Beberapa orang malah ada yang melemparkan batu ke arah Segara dan Mutiara, dan mereka hanya bisa menutup wajah mereka dengan tangannya, batu batu itu tak pelak mengenai tubuh mereka.
"Tunggu dulu! Hentikan, ini semua tidak benar, ini fitnah, kami tidak melakukan apa apa, ini semua salah paham!" Segara kembali berteriak lantang berusaha mencari pembelaan, namun warga yang sudah terhasut malah semakin memojokkan mereka. Warga lalu menyeret Segara dan Mutiara sambil terus berteriak mengeluarkan kata kata umpatan kotor menghakimi mereka.
"Tolong hentikan! kami tidak salah, sekali lagi ini hanya fitnah!" Segara dan Mutiara pun terus berteriak membela diri namun warga sudah tidak lagi mengindahkan mereka dan terus menyeretnya untuk dibawa ke rumah kepala kampung.
"Usir saja mereka! usir!... hahaha...!" Togar terbahak karena sudah berhasil menghasut warga, senyum licik penuh kemenangan tersungging di bibirnya.
"Ini akibat kau menolak lamaranku, Mutiara! aku sangat beruntung mendapatkan kesempatan membalasmu hari ini! sekarang kau rasakan sendiri kemarahan warga, aku sangat puas sudah bisa memberimu pelajaran! ha..ha..ha..!" batin Togar semakin terbahak melihat warga yang dengan sengit menyeret Segara dan Mutiara dihadapannya.
"Hentikan! lepaskan mereka!" terdengar seorang pria berteriak nyaring dan menghadang warga itu, sebelum mereka sampai di rumah kepala kampung, ternyata kepala kampung itu sudah lebih dahulu menuju tempat kejadian, seorang warga ada yang langsung melapor kepadanya saat keributan itu mulai terjadi.
"Saudara saudara semua tolong, kita tidak boleh main hakim sendiri, jangan mudah terhasut, kita harus cari tahu dulu kebenarannya!" kepala kampung berbicara bijaksana dan berusaha menenangkan kemarahan warganya.
"Mereka berdua ini sudah melakukan perbuatan yang mencemarkan dan membuat resah warga kampung kita, Pak! sebaiknya kita usir saja mereka!" kembali teriakan itu dilontarkan oleh warga.
"Tenang saudara saudara mohon sabar sebentar! jangan mudah terpancing emosi, mari kita selesaikan ini dengan cara kekeluargaan! ijinkan saya bertanya dulu kepada Mutiara dan Segara kenapa mereka bisa sampai melakukan perbuatan tidak terpuji itu disini!" kepala kampung terus berusaha menenangkan warganya, dan akhirnya mereka pun terdiam sejenak, suasana mendadak hening.
Seorang warga yang sedari tadi menyeret Segara dan Mutiara lalu menghempaskan mereka dengan kasar ke hadapan kepala kampung hingga mereka jatuh tersungkur di tanah.
__ADS_1
"Ra, kamu nggak apa apa kan?" Segara mengangkat pundak Mutiara yang meringis karena lututnya terluka dan mengeluarkan darah saat ia terjatuh ke permukaan tanah yang kasar karena warga yang mendorongnya.
"Nggak apa apa, Bang! Abang juga baik baik saja kan?" bisiknya, ia juga mengkhawatirkan keadaan Segara.
"Iya aku nggak apa apa, Ra!" sahut Segara lirih.
Mereka berdua cukup merasa gentar dengan kemarahan warga yang menyerang mereka dengan cemoohan bertubi tubi, tubuh mereka pun bergetar menahan takut bercampur kesal.
Perlahan keduanya bangun dan berdiri di dekat kepala kampung yang kini sudah ada di tengah tengah kerumunan warga.
"Mutiara, Segara, tolong kalian jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?" kepala kampung itu mulai tegas bertanya kepada mereka.
Dengan tubuh yang bergetar menahan semua perasaan takutnya, Mutiara dan Segara kemudian menceritakan semua kejadian yang sebenarnya kepada kepala kampung, dan kepala kampung itupun mengangguk paham.
"Semua itu bohong, Pak! mereka hanya berusaha menutupi aibnya. Saya saksi semua perbuatan tercela mereka! Mereka sudah meresahkan warga kita disini" sela Togar. Melihat kepala kampung mempercayai cerita Mutiara, dia pun kembali mencoba menghasut.
"Cukup, Togar! Kamu tidak usah menghasut lagi. Biar saya yang menyelesaikan semua permasalahan ini!" seru kepala kampung menghentikan kalimat Togar.
"Kalian semua bubar sekarang! Saya yang akan membawa mereka ke rumahnya. Pak Imran harus tahu masalah ini!"
Sejurus kemudian warga pun bubar dengan tertib dari sana. Kepala kampung langsung membawa mereka ke rumahnya untuk menemui Pak Imran.
"Ada apa ini, apa yang putri saya sudah lakukan?" Pak Imran yang baru saja hendak berangkat melaut langsung tergemap saat melihat putrinya dan Segara pulang bersama Pak Kepala Kampung.
"Kita bicara di dalam saja, Pak!" ajak Mutiara.
__ADS_1
Mereka lalu masuk dan duduk di ruang tamu. Pak Kepala Kampung itu mulai menceritakan semua duduk permasalahan yang tengah terjadi kepada Imran.
Meski merasa tidak bersalah, Mutiara dan Segara hanya bisa diam menundukkan kepalanya tanpa berbicara sepatah katapun.
"Saya menaruh kepercayaan yang besar terhadap Mutiara dan Segara, Pak. Mereka tidak mungkin melakukan hal tercela seperti itu." tampik Pak Imran, dia menjadi sangat geram mendengar tuduhan warga terhadap putrinya. Pak Imran sangat mengetahui keseharian Mutiara dan Segara yang sudah seperti saudara kandung, sudah pasti mereka tidak mungkin melakukan hal yang seperti dituduhkan oleh warga kampung terhadapnya.
"Saya juga tidak ingin mempercayai tuduhan itu, Pak Imran! Sebagai orang yang disegani di kampung ini saya harapkan Bapak harus segera menyelesaikan sendiri permasalahan ini." ujar Pak Kepala Kampung.
Pak Imran memang termasuk orang yang masih disegani di kampung itu, sebelumnya ia pernah menjabat sebagai kepala kampung di sana sebelum kepala kampung yang sekarang.
"Maksud Bapak bagaimana, Pak?" Pak Imran terlihat bingung.
"Segara bukan anak kandung Pak Imran kan? walau dia masih kerabat jauh Pak Imran, tapi Segara dan Mutiara bukan muhrim dan tidak seharusnya mereka tinggal di satu rumah, semua orang akan menganggap itu zina. Hal itulah yang menyebabkan selama ini warga kita selalu mempergunjingkan mereka! Selama mereka masih tinggal serumah, cibiran warga akan selalu ada, mereka meresahkan status hubungan Segara dan Mutiara yang tidak jelas!" Pak Kepala Kampung menegaskan kata katanya.
"Lalu saya harus bagaimana, Pak?" cecar Pak Imran lagi.
"Hanya ada dua pilihan, Pak Imran!" serunya. "Segara harus meninggalkan kampung ini atau Pak Imran menikahkannya dengan Mutiara, dengan begitu warga tidak akan memberi cemoohan lagi kepada mereka!"
Deg...!
Segara langsung tercengang mendengar kata kata Pak Kepala Kampung, detak jantungnya seakan tertahan sejenak mendengar pilihan yang dijejalkan tentangnya.
Bagaimana bisa ia menikahi Mutiara. sedangkan dia sendiri tidak ingat apapun tentang jati dirinya, sedangkan kalau harus pergi, dia akan pergi kemana, semua masih sangat abu abu di ingatan Segara.
Mutiara juga terlihat menundukkan kepalanya dan ada kegalauan yang jelas terpancar dari wajahnya. Dia juga merasa dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit, dia tidak tega kalau harus mengusir Segara dari kampungnya dalam keadaan ia belum bisa mengingat siapa dirinya, tapi untuk menikah dengan Segara sangat tidak mungkin baginya, Segara hilang ingatan, dan bisa jadi saja ia sebenarnya sudah mempunyai istri. Mutiara tidak ingin menjadi orang ketiga dalam kehidupan Segara.
__ADS_1
Pak Imran hanya bisa menghela nafasnya dalam dalam, sungguh pilihan yang sangat sulit baginya.