
Hari menjelang petang saat mobil yang dikendarai Rendy membawa Arkha dan Mutiara pulang ke rumah kediaman Arkha.
"Akhirnya kalian sudah kembali. Bagaimana bulan madunya, apakah penuh kesan?" sambut Mama Yuna. Dia memang sudah menantikan kedatangan putra dan menantunya di depan rumah. Saat mendengar mobil yang menjemput mereka tiba di halaman rumah itu, Mama Yuna bersama beberapa orang pelayan juga ikut menyambut kedatangan mereka sambil membawa masuk semua barang-barang bawaan mereka.
"Semuanya sangat menyenangkan, Ma!" seru Arkha sambil mencium tangan mamanya.
"Terimakasih banyak untuk semua kejutannya, Ma." Mutiara menimpali sambil ikut mencium tangan Mama mertuanya.
"Sepertinya kalian sangat menikmati liburan kalian." Mama Yuna ikut tersenyum senang merasakan kebahagiaan yang tengah dirasakan Arkha dan Mutiara.
"Oma ...!" panggil Baruna yang baru saja turun dari mobil bersama Rendy dan Sandra.
Mama Yuna dengan segera mengangkat tubuh bocah itu dan menggendongnya.
"Ayo semuanya masuk! Mama sudah siapkan makan malam. Kalian pasti belum makan, kan?" ajak Mama Yuna, turut mempersilahkan Rendy dan Sandra ikut masuk ke dalam rumah itu.
"Mohon maaf, Nyonya. Hari ini saya tidak mampir dulu. Saya harus segera pulang," ujar Rendy menolak secara halus tawaran Mama Yuna.
"Saya juga mau permisi, Nyonya. Adik-adik saya menunggu di toko," timpal Sandra.
"Loh, nggak bisa gitu dong! Aku sudah siapkan banyak makanan. Tadinya aku pikir kalian akan ikut makan malam sama-sama disini,"
"Maaf, Nyonya. Lain kali kami pasti akan ikut makan malam disini," ucap Sandra sembari menoleh ke arah Rendy.
"Sudahlah, Ma. Biarkan mereka pulang," bisik Arkha memberi isyarat kepada Mamanya.
Mama Yuna hanya mengangguk dan paham akan maksud putranya.
"Rendy, kamu harus antar Sandra sampai tujuan ya! Jangan mlipir kemana-mana lagi," kekeh Arkha menggoda Rendy.
"Siap, Bos," sahut Rendy lirih dan tersipu malu. Rendy langsung menuju tempat dimana ia memarkirkan motornya.
"Makasih banyak ya, San, kamu sudah ikut menjemput kami di bandara." Mutiara dan Sandra cipika-cipiki.
"Sama-sama, Nyonya," sahut Sandra lalu bergegas menyusul Rendy dan naik ke motornya.
__ADS_1
Arkha, Mutiara dan Mama Yuna tersenyum senang saat menyaksikan kedekatan Rendy dan Sandra.
"Semoga saja Rendy dan Sandra memang berjodoh," celetuk Mama Yuna saat melihat Rendy sudah melajukan motornya sambil membonceng Sandra di belakangnya.
"Iya, aku harap juga begitu, Ma," timpal Arkha.
Setelah Rendy dan Sandra keluar dari halaman rumah itu, mereka lalu sama-sama melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
Tiba di ruang tamu rumah besar itu, Mutiara langsung tercengang. Rumah besar dan dipenuhi furniture dan hiasan-hiasan mewah nan indah membuatnya terpana.
"Rumah ini sangat besar dan mewah, Bang." Mutiara berdecak kagum. Untuk pertama kali dalam hidupnya dia masuk ke dalam rumah megah bak istana seperti itu. Netranya berputar mengamati semua yang ada di setiap sudut rumah itu.
"Iya, Sayang. Dan mulai saat ini, rumah ini adalah rumahmu juga. Di rumah inilah kita akan merajut kebahagiaan kita bersama Mama dan juga anak-anak kita."
Arkha menggandeng tangan Mutiara dan membawanya ke ruang makan menyusul Mama Yuna dan Baruna yang sudah lebih dulu menuju ke sana.
Para pelayan juga sudah terlihat siap siaga melayani mereka di ruang makan.
"Ardila mana? Dia tidak ikut makan disini sama kita, ya?" tanya Arkha saat mereka sudah duduk di kursinya masing-masing.
"Anak itu sepertinya masih marah terhadapku," gumam Arkha.
Semenjak ia mengatakan kepada Ardila bahwa dia akan menikah dengan Mutiara, Ardila memang menunjukkan rasa tidak setuju dan kecewa terhadap Arkha. Tentu saja, semua anak pasti tidak rela apabila posisi ibunya digantikan oleh seorang ibu tiri.
"Untuk apa kamu memusingkan anak itu, Arkha? Biarkan saja dia. Beruntung sekali dia bisa tinggal disini. Kalau bukan karena kamu yang ingin tetap merawatnya, Mama tidak akan sudi anak itu ada di rumah ini. Menurut Mama lebih baik anak itu di rawat oleh orang tuanya Livina saja," ketus Mama Yuna.
"Jangan seperti itu, Ma. Ardila itu masih sangat kecil dan belum mengerti apa-apa. Mama jangan melampiaskan kebencian Mama terhadap Alfin dan Livina kepada Ardila," sosor Arkha tidak setuju dengan pendapat Mamanya.
"Ardila juga sudah mendapatkan nama belakang keluarga kita semenjak dia lahir, bagiku dia tetap adalah seorang putri di rumah ini," sambung Arkha lagi.
"Terserah kamu saja, Arkha. Mama tidak peduli. Bagi Mama satu-satunya cucu di rumah ini adalah Baruna. Dia calon pewarismu kelak, Arkha! Sedangkan Ardila, dia tidak akan pernah punya hak apapun di rumah ini. Mama juga tidak akan pernah sudi menerimanya sebagai cucu Mama."
Arkha hanya menggelengkan kepalanya melihat raut kebencian di wajah Mamanya. Kejahatan Alfin dan Livina begitu membekas di hati Mama Yuna sehingga menyisakan dendam yang teramat dalam.
"Apa kamu tahu, Kha? Livina sekarang sudah menerima karma atas semua perbuatannya. Sekarang giliran dia yang akan membusuk di rumah sakit jiwa!" Mama Yuna menyaringai.
__ADS_1
"Iya, Rendy sudah menceritakan semuanya kepadaku, Ma," sahut Arkha.
"Apa Ardila sudah tahu akan hal ini, Ma?" tanya Arkha.
"Sepetinya tidak," jawab Mama Yuna singkat sambil membuka piringnya dan mulai mengisinya dengan beberapa jenis makanan yang tersaji di meja makan saat itu.
"Sebaiknya Ardila jangan diberi tahu dulu akan hal ini, Bang. Ini tidak akan baik untuk psikisnya. Anak itu masih sangat lugu, dia akan susah menerima kenyataan tentang apa yang dialami Mamanya," sela Mutiara ikut andil di dalam pembicaraan mereka.
"Kamu benar, Sayang. Ardila tidak perlu tahu bagaimana keadaan Livina saat ini. Saat aku bilang akan menikah lagi denganmu saja, dia sudah sangat kecewa kepadaku, apalagi kalau aku cerita bahwa Livina ada di rumah sakit jiwa, Ardila pasti akan semakin marah kepadaku."
Arkha menarik nafas dalam-dalam.
"Setelah makan, aku akan menemuinya. Aku akan mencoba menjelaskan semua ini kepadanya," ujar Arkha.
"Aku akan menemanimu, Bang. Kita akan sama-sama mencoba mengambil hati Ardila, semoga anak itu bisa menerimaku sebagai ibunya juga," hibur Mutiara.
"Iya, terimakasih banyak, Sayang. Kamu memang sangat pengertian," puji Arkha tersenyum menatap wajah istrinya yang mulai sibuk mengisi piringnya dan juga piring Baruna dengan nasi dan lauk.
"Una, makannya yang sopan ya!" Mutiara menyerahkan sendok dan garpu kepada Baruna dan membiarkannya makan sendiri.
"Una biar Oma aja yang suapin ya!" Mama Yuna menyendok makanan dari piring Baruna dan menyuapinya.
"Biarkan saja Baruna belajar makan sendiri, Ma!" Mutiara menggeleng saat melihat Mama Yuna menyuapi Baruna dan tidak membiarkannya makan sendiri.
"Nggak apa-apa, Ra. Mama lebih senang menyuapinya saja,"
"Kalau Baruna terus-terusan disuapi, kapan dia akan belajar makan sendiri, Ma?" tentang Arkha.
"Kamu juga sewaktu kecil selalu minta disuapi. Bahkan sampai sudah kelas enam SD pun masih lebih suka makan kalau Mama yang suapi kamu," cibir Mama Yuna dan Arkha hanya tersenyum terkekeh mendengar cerita Mamanya yang memang selalu memanjakannya dari dulu.
"Sampai sekarangpun aku masih suka disuapi, Ma," celetuk Arkha sambil tersenyum menoleh ke arah istrinya yang duduk di sebelahnya.
Mutiara ikut tersenyum dan memahami maksud perkataan suaminya.
"Abang juga pengen aku suapi ya?" Perlahan Mutiara menyendok makanan dari piring Arkha dan menyuapinya.
__ADS_1
Mama Yuna hanya bisa tersenyum bahagia menyaksikan kemesraan putra dan menantunya saat itu.