
"Hi, Rendy! Sibuk banget ya? Serius amat!" sapa Sandra sambil tersenyum manis kepada Rendy dan duduk di kursi di hadapan Rendy.
Namun, Rendy tidak terlalu memperdulikannya, dia tetap fokus memainkan jari-jarinya di atas keyboard laptopnya.
"Mau apa lagi kamu kesini, Sandra?" tanya Rendy dengan suara ketus tanpa menatap ke arah Sandra yang kini sudah duduk di kursi di hadapannya.
"Aku bawakan makan siang buatmu lagi, Rendy. Hari ini aku masak banyak khusus buat kamu," ujar Sandra sambil meletakkan rantang makanannya di meja di hadapan Rendy.
"Taruh saja disana!" sahut Rendy singkat dan datar.
Sandra hanya tersenyum tipis menanggapi sikap dingin Rendy yang memang selalu irit saat bicara.
"Ini sudah siang, Rendy. Memangnya kamu nggak lapar? Ayo makan dulu, nanti bisa sakit maag loh kalau terlambat makan," celoteh Sandra sambil membuka tutup rantangnya. Sedangkan, Rendy masih hanya diam tidak terlalu memperdulikannya.
"Masakanku enak loh. Kamu cobain deh!" Sandra mengangkat rantang makanannya sambil mendekatkannya ke hadapan Rendy.
Sesaat Rendy mengendus aroma wangi masakan yang tercium sangat lezat itu, dan membuatnya seketika menelan ludah. Perutnya yang memang sedang kosong pun menjadi semakin lapar.
"Singkirkan semua makanan ini dari hadapanku, Sandra! Aku nggak lapar! Mengganggu saja!" ketus Rendy berpura-pura cuek.
"Gimana kalau aku suapin kamu? Kan bisa makan sambil kerja." Sandra menyendok makanan itu dan mendekatkannya ke mulut Rendy hendak menyuapinya.
"Tidak perlu! Aku bisa makan sendiri," tampik Rendy.
"Kalau gitu, ayo dimakan! Keburu dingin nanti nggak enak loh!"
"Iya, nanti saja."
"Eh, jangan nanti. Se-ka-rang!" ucap Sandra menegaskan ajakannya.
"Apa sih. Bawel!"
"Ayo makan dulu, kalau enggak, aku gangguin terus nih!" ancam Sandra dengan senyum pecicilannya.
Rendy terus menolak. Akan tetapi Sandra terus membujuk.
Pada akhirnya, Rendy luluh juga dan bersedia makan mengikuti kemauan Sandra.
Setelah suapan pertama Rendy masih menunjukkan wajah biasa saja. Meski makanan itu terasa sangat enak baginya, tentunya pria yang suka jaga image seperti Rendy tidak akan seketika memberi pujian untuk Sandra. Dengan wajah yang dibuat sedatar mungkin dia tetap lahap menyantap makanan yang dibawakan Sandra khusus untuknya, tanpa ingin memuji kelezatan rasa masakan itu.
Sandra hanya tersenyum memandangi Rendy yang makan dengan lahap di hadapannya.
"Enak, tidak?" tanya Sandra berharap Rendy memuji masakan buatannya.
"Biasa saja," jawab Rendy singkat.
Kembali Sandra hanya tersenyum menanggapi sikap cuek Rendy terhadapnya. Meski mulut Rendy mengatakan kalau rasa masakannya biasa saja, tetapi Sandra tahu kalau Rendy menyukainya. Itu terlihat jelas dari cara Rendy yang dengan cepat bisa menghabiskan makannya tanpa bersisa.
"Nih, sudah habis." Rendy mengembalikan rantang yang sudah kosong kepada Sandra.
"Kamu silahkan pergi sekarang, Sandra!" usir Rendy.
"Hmm ..., gitu ya! Udah kenyang, aku malah diusir. Nggak tau terimakasih!" sungut Sandra.
__ADS_1
"Lalu mau kamu apa, Sandra?"
"Imbalan lah! Hari gini mana ada sih yang gratisan,"
"Jadi minta bayaran nih? Berapa?" tanya Rendy dengan senyum seringainya sambil meraih dompet dari saku celananya.
"Bukan pakai uang, Rendy. Memangnya aku food delivery service?" sungut Sandra lagi mencebikkan bibirnya.
"Lalu?"
"Aku minta diizinkan nebeng pulang sama kamu." Sandra menjawab sembari tersenyum manis menatap tajam mata Rendy.
"Ini masih siang. Aku pulangnya sore," tolak Rendy ketus.
"Ya, nggak apa-apa. Aku bisa nungguin kamu disini,"
"Terserah! Yang penting jangan mengganggu. Aku lagi sibuk," pungkas Rendy cuek dan kembali mengalihkan fokusnya pada layar laptopnya.
"Dasar perempuan kepala batu!" batin Rendy bersungut.
Beberapa menit berlalu, Sandra masih saja duduk di hadapan Rendy dan terus memperhatikan Rendy yang masih sibuk dengan pekerjaanya.
Menyadari Sandra yang terus memandanginya dengan cara seperti itu, Rendy menjadi sangat kikuk. Untuk pertama kali dalam hidupnya ada seorang wanita yang tanpa rasa malu, berani menatap wajahnya apalagi dengan senyuman yang menggoda.
Sandra menopang wajahnya dengan kedua tangannya dan pandangannya tidak pernah lepas menatap wajah Rendy di hadapannya.
"Apaan sih ngeliatin terus?" sergah Rendy merasa grogi karena Sandra terus menunjukkan senyum manis nan menggoda kepadanya.
Semakin Rendy cuek kepadanya, semakin besar keinginan Sandra untuk mendekati Rendy.
Wajah maskulin dengan rahang persegi ditumbuhi banyak bulu-bulu halus yang dimiliki Rendy, membuatnya terlihat gagah dan macho. Usianya memang sudah cukup matang, tetapi sebuah karisma berbeda terpancar di wajah Rendy. Semua itulah yang membuat Sandra kian tergila-gila kepada Rendy.
Drrrtt ...!
Ponsel Rendy yang ada di mejanya bergetar dan mengeluarkan suara. Perlahan Rendy meraih ponsel itu dan membaca sebuah pengingat yang muncul di layar ponselnya.
Setelah membaca pengingat itu, Rendy langsung mematikan laptopnya dan segera menyambar jaketnya yang ia sangkutkan di sandaran kursi kerjanya.
Tanpa memperdulikan Sandra yang masih ada di ruangannya, Rendy bergegas melangkah menuju pintu keluar di ruangan itu.
"Eh ...! Kamu mau kemana, Rendy? Main kabur saja. Aku dari tadi menunggumu di sini, kamu anggap apa, hah?" Sandra menghadang langkah Rendy.
"Mau pulang. Kalau jadi mau ikut ayo kita pergi sekarang!" seru Rendy sambil mendorong pundak Sandra agar tidak menghalangi jalannya dan segera keluar mendahului Sandra dengan langkahnya yang dibuat secepat mungkin.
"Tunggu, Rendy! Aku ikut," susul Sandra membuntuti langkah Rendy.
Langkah Rendy semakin cepat sehingga sulit bagi Sandra mengejarnya dan akhirnya Sandra kehilangan jejak Rendy saat ia tiba di area parkir gedung kantor itu.
"Ah ..., cepat sekali jalannya si laki-laki puncak Jaya Wijaya itu. Aku kehilangan jejaknya dan entah dimana dia memarkirkan mobilnya," sungut Sandra dengan nafasnya yang tersengal karena harus setengah berlari menyusul langkah cepat Rendy. Sandra terus menoleh ke kanan dan ke kiri melihat-lihat keberadaan Rendy di area parkir itu.
"Rendy ...! Kamu ada dimana, Rendy?" teriak Sandra memanggil Rendy sambil terus mencari-carinya di area parkir itu.
Tiinnnn ...!
__ADS_1
Suara nyaring klakson motor mengagetkan Sandra. Tiba-tiba saja seorang pria dengan helm fullface dan jaket kulit warna hitam sudah ada di hadapannya.
"Rendy?" kaget Sandra. "Jadi kamu pakai motor ya?" tanyanya tercengang.
Melihat pria yang tengah jadi idolanya mengendarai sebuah motor matic buatan Jepang terbaru dan ber cc besar itu, membuat Sandra semakin terpukau. Rendy terlihat semakin gagah saat duduk di atas motor besarnya itu.
Sehari-harinya Rendy memang lebih suka memakai motor saat berangkat bekerja. Walau Arkha memberinya fasilitas mobil, tetapi Rendy sangat jarang memakainya.
"Iya. Memangnya kenapa? Kamu nggak suka naik motor?" seringai Rendy sambil membuka kaca helmnya.
"Bukan nggak suka, Rendy. Tapi, kamu makin terlihat macho mengendarai motor seperti ini," aku Sandra jujur dan tersenyum memuji. Dia memang sudah tidak bisa menyembunyikan kekagumannya terhadap Rendy sehingga dia hanya bisa diam tidak bergerak, terpaku menatap ke arah Rendy.
"Malah diem! jadi ikut, tidak?" seru Rendy membentak dan seketika membuyarkan kekaguman Sandra.
"Hmm ..., iya jadi!" pekik Sandra.
"Ayo buruan naik!" perintah Rendy. Sandra pun langsung menurut, naik ke atas motor dan duduk di belakang Rendy.
Motor itu melaju cepat di antara kepadatan kendaraan di jalan utama kota. Meski sengatan matahari masih begitu panas membakar kulit, tetapi ada sensasi berbeda yang dirasakan Sandra. Duduk di satu motor bersama Rendy membuat jantungnya berdetak tidak karuan.
Begitu halnya yang dirasakan Rendy. Untuk pertama kalinya membonceng seorang wanita di motornya membuat sebuah getaran bergolak di dadanya.
"Loh, buat apa kita kesini, Rendy?" Sandra membelalakan matanya saat Rendy menghentikan motornya di halaman rumah besar Arkha.
"Hari ini aku mau ke bandara jemput Bos Arkha. Kan hari ini si Bos dan Nyonya Mutiara kembali dari bulan madu," jawab Rendy menerangkan tujuannya membawa Sandra ke rumah itu.
"Aku kesini mau jemput Nyonya Besar dan Baruna dulu, mereka mau ikut bersama jemput ke bandara," Rendy kembali pemperjelas tujuannya ke rumah itu.
"Ahh ..., iya aku baru ingat kalau hari ini mereka kembali dari bulan madunya," ucap Sandra.
"Kamu mau ikut jemput mereka ke bandara?" tanya Rendy dan Sandra hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Eh kamu sudah datang, Rendy?" seru Mama Yuna yang baru saja keluar dari rumah besar itu sambil menggendong Baruna. Setelah pernikahan putranya, Mama Yuna juga sudah kembali tinggal di rumah besar itu.
"Iya, Nyonya. Apa Nyonya sudah siap? Kita akan berangkat sekarang," ujar Rendy.
"Aku mendadak harus bertemu psikiater dan akan menjalani therapi hari ini, jadi aku tidak bisa ikut," sahut Mama Yuna sambil menoleh ke arah Sandra yang ada di sebelah Rendy saat itu.
"Kebetulan kamu kesini, Sandra. Apa kamu bisa menemani Rendy ke bandara? Aku ingin kamu jaga Baruna. Cucuku ini akan ikut ke bandara bersama kalian," pinta Mama Yuna.
"Tentu, Nyonya," jawab Sandra sambil tersenyum dan mengambil alih Baruna dari gendongan Mama Yuna.
Pastinya Sandra menjadi sangat senang. Perintah Mama Yuna justru akan membuatnya punya kesempatan berlama-lama bersama Rendy.
"Ini kunci mobilnya! Kalian berangkat saja sekarang. Jalanan macet, takutnya nanti terlambat," terang Mama Yuna sambil menyerahkan remote mobil Arkha kepada Rendy.
"Una, maafin Oma tidak bisa ikut menjemput Papa sama Mama kamu di Bandara. Una sama Om Rendy dan Tante Sandra saja." Mama Yuna mengusap kepala Baruna sambil mencium pipi cucunya yang kini sudah ada di gendongan Sandra.
"Nggak apa-apa, Oma. Una kan udah cama Om Yendy dan Tente Candia," sahut Baruna sambil mencium tangan Omanya.
Selama ini Rendy memang selalu menjemput Arkha di bandara setiap kali dia kembali dari luar kota atau kemana saja untuk perjalanan bisnisnya.
Itu dilakukan Rendy semata-mata demi menjaga keselamatan atasannya itu. Sebagai seorang yang terpandang di kota itu, pastinya tidak semua orang mempunyai niat yang selalu baik terhadap Arkha.
__ADS_1