Deburan Gairah Sang Segara

Deburan Gairah Sang Segara
Eps. #59 Nafkah Batin


__ADS_3

Pukul sembilan malam Arkha kembali pulang dengan perasaan campur aduk yang  berkecamuk di dalam hatinya. Sudah tiga tahun ini perasaannya selalu sama, meski perusahaan dan hartanya semua sudah kembali, namun seperti tidak ada kebahagiaan yang bisa dirasakannya. Kenangan hidup sederhana namun bahagia bersama Mutiara di pulau terpencil itu begitu membekas di hatinya. Kebahagiaan yang tidak mungkin dirasakannya lagi saat ini.


Arkha melangkah gontai melewati ruang tamu di rumah besarnya dan ingin langsung menuju kamarnya.


"Hore, Papa pulang!" seru Ardila, putri kecilnya yang langsung berlari menyambutnya saat dia tiba di depan kamarnya.


"Papa ayo main, Pa!" rengek Ardila sambil memegang dan menggoyang-goyangkan tangannya.


Arkha hanya tersenyum melihat putrinya itu. Arkha lalu berjongkok menyamakan posisinya dengan gadis kecil itu, sambil menatap wajah imutnya, serta mengusap rambut lurusnya yang tergerai lepas.


"Dila Sayang, papa capek banget baru pulang kerja, papa mandi dulu sebentar, ya!" sahut Arkha menolak secara halus ajakan putrinya.


"Nggak boleh mandi dulu, Papa. Sudah malam, nanti Dila keburu ngantuk, nggak bisa main lagi sama Papa," jawab bocah yang usianya sudah hampir empat tahun itu dengan sangat polos.


"Papa janji, setelah mandi Papa pasti akan ajak Dila main. Nanti kita main apa, Sayang, main kuda-kudaan, mau?" tanya Arkha.


"Yey..., mau, Pa! Papa yang jadi kudanya, ya!" seru gadis kecil itu sangat senang.


"Dila tunggu di kamar ya, Pa. Kalau Papa sudah selesai mandi, Papa harus ke kamar Dila! awas enggak, nanti Dila marah sama Papa!" ancam bocah itu sambil berlari girang menuju kamarnya.


Arkha tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah lucu gadis kecil itu. Meski sedang lelah, senyum gadis kecil itu selalu membuatnya merasa terhibur. Arkha lalu segera masuk ke kamarnya dan bergegas mandi.


Setelah berganti pakaian, Arkha tidak melupakan janjinya kepada Ardila, dia langsung menuju kamar putrinya itu untuk mengajaknya bermain. Sampai di dalam kamar Ardila, Arkha melihat putri kecilnya itu sudah terlelap di pelukan Livina.


"Loh, Dila sudah tidur ya, Vin? padahal tadi dia mengajakku bermain," tanya Arkha saat melihat ke arah Livina yang tengah memegang sebuah buku dongeng di tangannya sambil ikut berbaring di sebelah putrinya.


Livina pelan-pelan bangun dari ranjang putrinya dan mendekati Arkha.


"Kamu sih pulangnya kemalaman, Kha. Padahal Dila sudah menunggumu dari tadi," sahut Livina sedikit kecewa karena Arkha yang memang selalu pulang larut malam.

__ADS_1


"Maafkan aku, pekerjaanku banyak sekali di kantor," kilah Arkha.


"Iya nggak apa-apa, Kha. Aku bisa memakluminya, tapi anak kecil seperti Dila belum tentu bisa mengerti kesibukan kita para orang tua, kan?" sergah Livina sambil tersenyum menatap Arkha dan Arkha hanya menganggukkan kepalanya pelan.


"Memangnya kamu janji mau main apa tadi sama Dila, Kha?" tanya Livina.


"Main kuda-kudaan," sahut Arkha singkat dan tersenyum datar.


"Kalau nggak jadi main kuda-kudaan sama Dila, sama aku kan bisa, Kha?" kikik Livina tersenyum genit sambil menutup mulutnya dengan tangannya.


Livina lalu menarik tangan Arkha dan mengajaknya ke kamar mereka.


Sampai di kamarnya, Arkha langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang disusul oleh Livina. Dengan manja Livina memeluk Arkha sambil mengecup pipinya, Livina menempelkan dadanya di punggung Arkha dengan senyum menggoda terus terulas dari bibirnya.


"Aku capek, Vin. Jangan sekarang ya!" tolak Arkha.


Sudah dua tahun mereka menjalani bahtera rumah tangga dan selama itu Arkha sangat jarang memberi nafkah batin untuk Livina. Melakukannya pun, Arkha hanya terpaksa, sekedar untuk menjalani kewajibannya sebagai suami saja. Urusan ranjang mungkin Livina sangatlah berpengalaman, akan tetapi Arkha tidak pernah merasakan kepuasan saat bersamanya. Bahkan saat melakukannya, Arkha sering membayangkan wajah Mutiara lah yang sedang bersamanya.


"Bukan seperti itu, Vin. Aku hanya sedang lelah, pekerjaanku membuatku stress!" elak Arkha lagi.


"Justru dengan melakukan ini, stress bisa berkurang, Sayang." Livina terus menggodanya.


Livina lalu bangun dari ranjangnya dan membuka lemari pakaiannya. Setelah mengambil beberapa potong pakaian lain dari sana, Livina bergegas masuk ke kamar mandi dan mengganti pakaian yang sedang dipakainya saat itu. Livina keluar dari kamar mandi sudah mengenakan lingerie tipis berwarna merah marun dan kembali menghampiri Arkha di ranjangnya.


Arkha membelalakkan matanya melihat penampilan Livina. Sangat seksi mengekspos bagian bagian sensitif di tubuhnya. Meski sudah melahirkan seorang anak, Livina memang sangat menjaga penampilannya, lekuk tubuhnya terlihat sangat indah, leher jenjang dan juga kulit putih mulus. Dadanya yang padat dan bokong sintal terlihat sangat seksi apalagi dengan hanya dibalut lingerie tipis seperti itu.


Bagaimanapun juga, Arkha adalah seorang laki-laki normal. Melihat penampilan Livina yang seperti itu tentunya jiwa kelelakiannya meronta, hingga hasrat pun datang membuainya.


"Kalau kamu capek, biar aku yang mendominasi permainan, Kha!" bisik Livina genit tepat di telinga Arkha sambil memberi kecupan disana. Tubuh Arkha seketika menghangat, sesuatu yang tersembunyi di bagian bawahnya ikut menegang.

__ADS_1


Livina mendorong tubuh Arkha hingga jatuh terlentang di atas tempat tidur. Dengan gaya genitnya, Livina menindih tubuh Arkha. Livina kemudian berdiri dengan kedua lututnya, mengapit pinggang Arkha dengan kedua pahanya. Perlahan tangannya melepaskan piyama yang dikenakan Arkha sambil memberi kecupan-kecupan di dadanya. Tangan Livina juga sangat lincah membelai dada bidang itu hingga menjamah semua yang ada di tubuh Arkha.


Arkha juga ikut menyandarkan tubuhnya di headboard ranjangnya. Perlahan Livina mendekatkan dadanya ke wajah Arkha dan memberi kesempatan Arkha menikmati kedua keindahan yang dimilikinya itu.


"Sebagai istrimu aku membutuhkan sentuhanmu\, Kha. Aku butuh nafkah batin\, aku nggak suka kau selalu menolakku!" bisik Livina sambil terus memberi kecupan di bibir dan di leher Arkha. Livina bahkan tidak ragu untuk mencium hingga mel***t bagian bawah Arkha yang membuat Arkha semakin tidak bisa membendung hasratnya.


Hingga malam yang panas itu pun mereka lewati bersama, Livina tetap mendominasi permainan mereka malam itu.


"Aaahhh...!" d*sah Livina sangat kuat setelah menikmati puncak kehangatannya. Livina menghentikan gerakannya lalu menghempaskan tubuh lelahnya di atas tubuh Arkha sambil kembali mendaratkan kecupannya di dada itu.


Begitu juga Arkha, d*sahan kecil juga keluar dari mulutnya, "Aahh...., Mutiara!" Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya yang meracau.


Livina langsung tersentak mendengar Arkha menyebut nama wanita lain saat sedang bersamanya, dia segera bangun dari atas tubuh Arkha, turun dari ranjangnya dan memasang wajah kesal.


"Siapa Mutiara, Kha? kenapa setiap kali bersamaku kau selalu menyebut nama itu!" bentak Livina yang membuat Arkha terperangah. Dia tidak sadar kalau baru saja dia menyebut nama Mutiara.


"Tidak hanya hari ini, bahkan saat tidur pun kau sering mengigau dan menyebut nama itu! Apa dia selingkuhanmu? pantas saja kau tidak pernah ingin menyentuhku, ternyata ada wanita lain dalam hubungan kita, Arkha!" hardik Livina semakin kesal dan curiga terhadap Arkha.


Livina lalu mengambil semua pakaiannya yang tergeletak di lantai dan ke kamar mandi untuk memakainya kembali.


Livina duduk di atas ranjangnya dan menangis tersedu, dia merasa kecewa dan terkhianati.


Arkha hanya bisa menghela nafasnya melihat kekecewaan Livina. Perlahan Arkha bangun dari ranjang itu dan duduk sambil mengusap kepala Livina. Dia tidak tega membohongi Livina, dan Arkha juga sudah ingin jujur mengakui semua hal tentang Mutiara kepadanya.


"Maafkan aku, Vin. Aku tidak bermaksud menyakiti hatimu, jujur saja aku memang belum bisa mencintaimu sepenuhnya seperti dulu lagi. Saat aku hilang ingatan, aku jatuh cinta kepada seorang wanita bahkan aku sudah menikah dengannya, tapi takdir sudah memisahkan kami. Mutiara sudah menjadi korban keganasan alam, dia tewas bersama gelombang tsunami yang melanda kampungnya."


Akhirnya Arkha menceritakan semua yang terjadi padanya saat dia terdampar di pulau nelayan itu hingga dia di tolong oleh Pak Imran dan Mutiara.


Livina hanya bisa menatap wajah Arkha yang terlihat sedih setelah menceritakan pengalamannya selama hilang ingatan.

__ADS_1


"Jadi, Mutiara sudah meninggal ya, Kha?" tanya Livina. Sudah tidak ada alasan lagi baginya marah kepada Arkha saat mengetahui bahwa wanita lain itu ternyata sudah tidak ada lagi di dunia ini. Walau Arkha masih mencintainya, setidaknya wanita itu bukanlah saingan bagi Livina, karena kenyataanya wanita itu sudah tidak ada lagi, hanya tinggal nama dan kenangannya saja.


"Iya, Vin. Mutiara sudah meninggal, Tuhan sudah mengambilnya dariku!" sahut Arkha dengan wajah sedihnya.


__ADS_2