
"Hasil kita lumayan hari ini, pak! dan pagi ini juga kita sudah bisa pulang ke darat lebih awal."
Senyum Segara mengembang saat ia dan Imran baru saja kembali dari melaut.
"Kamu itu memang pembawa keberuntungan, Gara. Semenjak ada kamu disini ikut bapak melaut, hasil tangkapan kita selalu melimpah!" sahut Imran juga dengan senyum senang di wajahnya.
Pagi itu mereka kembali dari melaut jauh lebih pagi dari biasanya, mereka sangat puas karena hasil tangkapannya cukup banyak malam itu.
Suasana masih sangat gelap ketika Imran dan Segara menepikan perahunya di dekat dermaga.
"Mutiara mana ya, Pak? tumben dia belum datang." Segara menoleh ke kanan dan ke kiri mencari cari keberadaan istrinya yang biasanya selalu datang lebih pagi sebelum mereka menyandarkan perahunya di dermaga itu.
"Ini masih terlalu pagi, Gara. Mungkin saja dia masih tidur," terka Imran.
Keduanya lalu kembali sibuk menurunkan semua hasil tangkapannya dan membawanya ke pasar untuk menunggu para pemasok yang akan datang kesana untuk membeli ikan ikan mereka.
Segara nampak gelisah karena sejauh itu Mutiara belum juga datang ke pasar.
"Tidak biasanya Mutiara belum kesini, harusnya dia sudah bangun dari tadi, kenapa pagi ini dia belum muncul?" resah Segara dalam hati.
"Pak, aku mau ke warung sebentar! Mutiara semalam tidur disana, aku mau lihat apa dia memang belum bangun!" ujar Segara.
Entah mengapa tiba tiba ia merasakan firasat aneh karena tidak biasanya Mutiara belum sampai di pasar di jam itu.
Segara berjalan cepat menuju warungnya, dia terkejut melihat warung itu sangat gelap, tidak ada satu lampu pun menyala disana.
"Apa iya Mutiara masih tidur? jangan jangan dia sakit, kemarin dia sempat mengeluh pusing." gumamnya.
Segara berjalan mendekati warung itu dan betapa kagetnya ia saat melihat pintu warung itu terbuka, Segara langsung masuk, namun ia tidak mendapati Mutiara ada disana. Segara meraba dinding ruangan untuk mencari saklar lampu lalu menyalakannya.
"Mutiara..., sayang..., kamu dimana, Ra?" Segara memanggil - manggil istrinya dan terus mencarinya ke semua sudut di warung itu.
Segara menghela nafas datar, Mutiara tidak ada disana.
"Hmm... Mutiara pergi kemana sepagi ini, apa dia pulang ke rumah? tapi mengapa pintu warung tidak ditutup? dia tidak biasanya seceroboh ini!" gerutu Segara dengan wajahnya yang berubah was was.
__ADS_1
Segara semakin terkejut ketika ia menuju ke dapur dan mendapati beberapa peralatan disana sangat berantakan, panci dan sendok berserakan di lantai dan ada pecahan gelas juga terlihat disana. Di atas kompor terlihat ada mie yang setengah dimasak tapi belum diangkat dari panci, kondisi dapur sangat berantakan. Pikiran Segara semakin tidak tenang, ia khawatir sesuatu terjadi terhadap istrinya.
"Apa yang terjadi, kenapa alat alat dapur semuanya berantakan?" Segara tak habis pikir.
"Aku akan menyusul ke rumah, mungkin saja Mutiara pulang tadi malam!" gumamnya lagi.
Segara lalu berlari menuju rumahnya, tiba disana Segara kembali tertunduk lesu. Mutiara tidak ada disana, bahkan rumah itu juga masih terkunci dengan kondisi yang sama seperti saat ia tinggalkan kemarin sore saat akan pergi melaut.
"Mutiara kamu kemana, sayang?"
Segara duduk di kursi yang ada di teras rumahnya, tatapannya nanar, rasa khawatir memenuhi jiwanya, ia sangat takut terjadi sesuatu dengan istrinya namun dia juga tidak tahu harus mencarinya kemana.
Segara menoleh ke arah jalan setapak di depan rumahnya dan melihat Lis yang juga baru keluar dari rumahnya yang hendak ke pasar.
"Mbak Lis! Mbak ada lihat istriku tidak?" Segara langsung beranjak dari tempat duduknya dan bertanya kepada Lis yang tengah berjalan terburu - buru menuju dermaga.
"Loh biasanya kan jam segini kalian lagi di warung, kenapa kamu malah mencarinya disini, Gara?" ucap Lis sambil mengangkat kedua pundaknya acuh, lalu melangkah pergi tanpa memperdulikan Segara.
Kembali Segara hanya bisa menghela nafasnya sambil mengusap wajahnya kasar, dia sangat bingung kemana harus mencari Mutiara lagi.
"Mungkin dia sudah di pasar, aku akan coba mencarinya kesana lagi!" pikir Segara.
"Mutiara mana, Gara?" Imran justru bertanya kepadanya.
"Aku pikir dia sudah kesini, Pak! tadi aku bahkan menyusulnya ke rumah tapi dia juga tidak ada pulang dari kemarin!"
Segara semakin cemas karena di pasar pun ia tak menemukan Mutiara.
"Aku akan cari Mutiara, Pak!" Segara segera berlari meninggalkan Imran menyeruak di antara kerumunan para nelayan yang sudah mulai ramai disana karena semuanya sudah kembali dari melaut.
Segara terus berjalan menyusuri pantai sambil terus memanggil nama Mutiara. Dia juga bertanya kepada siapa saja yang ditemuinya di area pantai itu, namun tak seorangpun mengaku melihat Mutiara di area itu.
Segara akhirnya tiba area muara sungai kecil tempat ia dan Mutiara biasanya menghabiskan waktu bersama. Segara berdiri disana sambil melemparkan pandangannya ke tengah lautan, ia sangat bingung dan cemas, firasatnya mengatakan kalau saat itu Mutiara sedang tidak baik baik saja, dia sangat mengkhawatirkan Mutiara.
Suasana saat itu sudah semakin terang karena matahari sudah muncul di ufuk timur, tiba tiba saja pandangan Segara tertuju pada sebuah benda yang teronggok di pasir, ia merasa tidak asing dengan benda itu lalu perlahan tangannya meraih benda itu.
__ADS_1
"Ini kan ikat rambutnya Mutiara, kenapa bisa ada disini? berarti dia sempat kesini tadi malam, aku ingat kemarin sore sebelum aku melaut, Mutiara memakai ikat rambut ini?" Segara memperhatikan ikat rambut yang ada di tangannya, dan ia bisa mengenali bahwa itu adalah ikat rambut milik Mutiara karena hampir setiap hari ikat rambut itu dipakai oleh Mutiara.
Entah mengapa kakinya tergerak begitu saja menyusuri pantai itu, seperti ada sebuah ikatan yang memanggilnya agar terus berjalan melewati area muara sungai di depannya.
Tidak terlalu jauh dari sana, pandangan Segara tertuju pada sebuah gubuk kayu yang cukup jauh dari pantai itu, ada sebuah pohon besar di belakang gubuk itu, namun ia sangat ragu, tidak mungkin Mutiara ada disana karena tempat itu cukup jauh dari dermaga dan juga warungnya. Sudah pasti Mutiara tidak mungkin pergi ke tempat itu, apalagi disana sangat sepi dan jauh dari permukiman warga.
"Mutiara tidak mungkin ada disini, sebaiknya aku mencarinya keliling kampung saja!" Segara terus menggumam.
Segara membalikkan badannya dan hendak meninggalkan tempat itu untuk mencari Mutiara ke tempat lain, namun tiba tiba ia terkesiap, samar samar dia mendengar suara teriakan minta tolong dari dalam gubuk kayu itu dan suaranya terdengar sangat tidak asing baginya.
"Mutiara!"
"Itu suara teriakan Mutiara, apa yang terjadi dengannya?" seketika Segara menjadi panik. Secepat kilat ia berlari mendekati gubuk kayu itu.
Segara melebarkan matanya saat melihat dua orang pria berdiri di depan gubuk itu seperti tengah berjaga jaga. Segara mengintip dari balik pohon besar di belakang gubuk sehingga dua pria itu tidak menyadari kehadirannya disana.
"Tolong! lepaskan aku, Bang! jangan sakiti aku!" suara teriakan itu kini makin jelas terdengar di telinganya.
"Mutiara..., iya itu suara Mutiara!" emosi Segara langsung tersulut mendengar teriakan itu.
Braakk...!
Segara menendang keras sebuah kotak penyimpanan ikan rusak yang ada di depan gubuk itu sehingga terlempar ke arah dua pria yang tengah berjaga jaga itu.
Dua pria itu tersentak kaget karena mereka sama sekali tidak menyadari kehadiran Segara disana.
"Lepaskan istriku! kalian jangan berani menyentuhnya!" dengus Segara sangat marah sambil menatap tajam ke arah dua pria itu.
"Kita serang dia!" seru salah seorang dari pria itu dan langsung menyerang Segara dengan tendangan dan pukulan, namun dengan mudah Segara menangkis serangan dua orang pria yang berkeroyok menyerangnya itu.
Segara memang sangat terlatih dalam hal berkelahi, sedari kecil kehidupan seorang Arkha memang sudah mendapat pendidikan bak militer, semua jenis bela diri dipelajarinya mulai dari karate, silat dan taekwondo, hal itu karena orang tua Arkha mengharapkan Arkha tumbuh menjadi seseorang yang kuat dalam menjalankan bisnis dan perusahaannya yang banyak berhubungan dengan kekerasan serta kriminalitas.
Meski diserang oleh dua orang sekaligus, tapi Segara dengan sangat mudah melumpuhkan dua orang itu, hanya dalam beberapa tendangan saja dua pria itu langsung tumbang ambruk ke tanah. Setelah mengalahkan dua orang itu, Segara langsung mendekati pintu gubuk itu dan menendangnya dengan keras.
Praakk....!
__ADS_1
Pintu gubuk reot itu langsung terlepas dan terbuka lebar. Segara mendelikkan matanya sangat marah ketika melihat Mutiara ada di sana dalam keadaan kedua tangannya terikat dan matanya di tutup kain hitam.
Segara menatap tajam ke arah seorang pria yang berdiri di sebelah Mutiara sambil menodongkan sebilah pisau ke leher Mutiara.