
"Ceritakan pada kami, kenapa daddy bisa bersamamu?" Bram memberikan pertanyaan kepada Boy yang sambil memainkan rambut Bryana yang tertidur di pangkuannya.
Sedangkan yang lain juga menunggu jawaban Boy.
Kakek Philips masih terdiam dengan Bryan di pangkuan pria berumur lebih setengah abad itu.
"Aku menemukannya, saat mencari keberadaanmu," jawab Boy.
"Apa kau ingat? Saat kau tiba-tiba menghilang, di hari pernikahanmu sendiri?" Sindir Boy dengan kesinisan.
Ucapan Boy membuat Bram bungkam seribu bahasa, ia juga mengakui salah, karena sudah meninggalkan wanitanya, di hari pernikahan mereka.
"Anak buahku, menemukan, tuan Philips di sebuah sebuah rumah sakit jiwa," lanjut Boy.
"Apa kau tahu? Keadaan tuan Philips, sangatlah mengkhawatirkan. Seluruh tubuhnya penuh luka bakar dan juga dia harus mengalami Depresi." Ungkap Boy.
"Entah apa yang dialaminya, namun dia terus berteriak memanggil namamu dan juga ratu Agatha," imbuh Boy lagi.
Semua orang mendengarkan cerita Boy dengan perasaan perih.
Carlos bahkan mencoba menahan emosinya yang campur aduk. Antara marah, sakit hati dan juga rasa benci kepada ratu Rosella.
Bram sudah mengepalkan tangannya dengan sempurna dan raut wajah yang mengeras.
Amber yang berada di sampingnya, meraih gepalan tangan Bram dan menggenggamnya lembut.
Amber memberikan senyum manis kepada kekasihnya itu, supaya Bram tidak terbawa emosi.
"Terimakasih, sayang," bisik Bram yang langsung merangkul pundak kekasihnya.
"Tenanglah," bisik Amber balik.
Semua orang kembali terdiam dengan ekspresi wajah masing-masing.
King Philips duduk dengan elegan di kursi tunggal, wibawanya sebagai seorang raja tidak hilang, meskipun ia kini berpenampilan layaknya seorang pelayan.
King Philips mengusap rambut sang cucu yang tertidur di pelukannya.
Ia tersenyum hangat memandangi wajah tampan sang cucu yang memiliki kemiripan pada garis wajah dan juga manik yang berwarna abu-abu.
"Daddy, yang meminta kepadanya, agar menyembunyikan identitas, daddy," sela king Philips tiba-tiba.
"Ini semua demi keselamatan, daddy. Aku harus menyamar untuk mengelabui para orang-orang yang masih mencari keberadaan, daddy. Dan daddy merasa aman disini," imbuh king Philips menjelaskan semuanya kepada kedua putranya.
"Tapi kenapa harus sebagai pelayan!" Seru Bram dengan nada geram.
"Daddy, yang menginginkannya. Karena mereka masih memantau keluarga Boy dan juga kekasihmu," jawab king Philips.
"Apa semua di sini aman?" Tanya Carlos tiba-tiba.
"Tidak!" Jawab Boy dan king Philips bersamaan.
"Jadi maksudmu, kemungkinan ada seorang pengkhianat di sini?" Tanya Carlos.
"Hm" gumam Boy dan disetujui oleh king Philips dengan menganggukkan kepala.
"Siapa?" Tanya Bram pelan.
Yang mana matanya sudah mengitari setiap celah ruangan.
"Jangan khawatir, tempat ini aman. Dan tempat king Philips pun aman," ujar Boy yakin.
"Apa kau yakin?" Kembali Carlos mencecar pertanyaan kepada Boy.
"Hum. Buktinya, kalian tidak bisa menyadari keberadaannya," sahut Boy dengan senyum remeh.
__ADS_1
Membuat Bram dan Carlos kembali terdiam. Boy yang melihat wajah kedua sahabatnya hanya bisa tersenyum sinis.
"Kalian lemah dan masih labil plus bodoh," ejek Boy dengan gaya tengilnya.
Tentu saja ucapan Boy menyulut emosi Bram, yang sejak tadi ia tahan setiap mendengar ucapan demi ucapan sang sahabat yang menyimpan nada sindiran.
"Brengsek!" Geram Bram yang tanpa sadar mengebrak meja yang ada di hadapannya.
Perbuatan Bram membuat anak kembarnya menyengit kaget di pelukan, Boy dan king Philips.
"Sialan, apa yang kau lakukan," geram Boy dengan nada suara lirih di iringi giginya yang saling bergesekan.
"Dear! Tegur Amber di sampingnya.
"Kemarikan putriku," sentak Bram yang merebut paksa sang putri imutnya.
"Bram!" Geram Boy dengan wajah penuh permusuhan.
"Apa!? Dia anakku," tantang Bram dengan mata melotot kepada Boy.
"Sayang! Ruby menyentuh tangan suaminya itu.
"Dia merebut putri cantikku," adu Boy, bagaikan seorang anak kecil.
Ruby tersenyum dan mengusap punggung lebar suaminya.
"Bagaimana, kalau kita membuat satu, bayi perempuan seperti my princess," gumam Boy namun masih bisa didengar oleh semua orang yang berkumpul.
Wajah Ruby seketika memerah. Ia mencubit pelan lengan Boy yang malah tersenyum mesum ke arahnya.
"Cih, dasar mesum," cibir Bram, yang mana kini memeluk erat putri cantiknya dengan erat.
Bram menghujami ciuman di seluruh wajah imut Bryana dengan penuh rasa sayang.
"Dia putriku," sahut Amber sambil mengusap rambut panjang Bryana yang terlihat bergelombang pada bagian bawahnya.
"Dia putri kita, sayang," balas Bram.
Carlos hanya bisa terdiam dengan perasaan dongkol melihat kemesraan dua pasangan di hadapannya.
Membuat jiwa kesendiriannya memberontak. Tiba-tiba pikirannya kembali pada kejadian tadi malam.
Dimana dia harus kehilangan ciuman pertamanya, yang di ambil paksa oleh seorang gadis mungil yang sialnya wajahnya begitu imut, yang mampu menembus pikiran Carlos.
Carlos menggeleng pelan untuk mengusir bayang-bayang wajah imut hello Kitty dan juga kecupan manis gadis itu.
Carlos masih bisa merasakan lembutnya dan hangatnya bibir mungil Kitty. Ia belum bisa menebak rasa apa yang dimiliki bibir gadis itu, karena dia hanya bisa membeku dengan wajah melongo.
"Sial! Umpatnya pelan sambil memegangi bibirnya.
"Ada apa, son?" Tanya king Philips.
"Tidak, dad," sahut Carlos salah tingkah.
"Kapan kalian, menikah." Kali ini pertanyaan king Philips ia berikan kepada Bram dan Amber.
"Bagaimana, dengan anak tuan, Jersey?" Sambung king Philips.
"Apa, kalian sudah berpisah?" Tanyanya lagi.
"Dad," lirih Bram, yang tersentak kaget saat mendengar pertanyaan sang daddy.
Amber berniat melepaskan genggaman tangannya, namun dengan segera Bram kembali menautkan genggaman tangan mereka.
Amber baru sadar dengan status kekasihnya yang masih seorang suami dari wanita lain.
__ADS_1
Dan dia hanya seorang wanita asing yang hanya berstatus kekasih dan juga ibu dari anak kembar Bram.
Bram menggenggam erat telapak tangan kekasihnya dan juga menatap penuh cinta kepada Amber.
Semua orang kini menunggu jawaban Bram yang masih terlihat diam.
"Katakanlah!" Titah king Philips dengan aura tegas.
"Aku sudah memberikannya sebuah surat perceraian, dad," ujar Bram.
"Entah, dia sudah menandatanganinya atau belum. Karena aku sudah membuat kesepakatan kepadanya setelah menikah," lanjutnya lagi.
"Kesepakatan apa?" Sela Amber.
"Aku hanya memintanya, untuk tidak mengharapkan sebuah hubungan serius, atau mengharapkan sebuah cinta. Aku juga tidak pernah melakukan hubungan suami-istri dengannya," ucapnya dengan bangga.
"Cih, pembohong," cibir Boy, menyela ucapan Bram.
"Nyatanya, kau hampir menidurinya," sinis Boy.
Bram hanya bisa melebarkan kelopak matanya lebar-lebar, saat mendengar ucapan Boy.
"Bugh" tiba-tiba Bram menginjak kaki Boy dari bawah.
"Kenapa, kau bisa mengetahuinya? Apa kau memata-mataiku?" Cecar Bram.
"Jadi itu benar? Padahal aku hanya menebak saja," kelekar Boy.
"Sialan! Geram Bram.
Amber yang mendengar penuturan Bram langsung melepaskan genggaman tangannya dengan kasar dan meraih si imut Bryana dari pelukan daddynya.
"Sayang," seru Bram kelabakan saat melihat wajah Amber yang tampak mengerikan.
"Selesaikan, masalahmu terlebih dahulu, setelah itu kau bisa mendekatiku lagi. Aku tidak ingin dicap sebagai perusak hubungan pernikahan orang lain," sarkas Amber dingin.
Mendengar itu, Bram tentu saja menjadi uring-uringan dengan perkataan kekasihnya.
"S-sayang, dengarkan aku dulu," pinta bram yang mencoba menahan pergelangan tangan Amber.
"Aku, menunggu kabar darimu," ucap Amber lalu keluar dari ruangan itu dengan hati yang terasa panas.
"Sayang" teriak Bram.
"Kasihan," olok Boy dan Carlos.
"Calon duda dan calon suami di gantung," kelekar Boy lagi.
"Baguslah, berarti aku masih mempunyai kesempatan untuk mendekati, gadisku," sela Carlos dengan tersenyum licik kepada sang adik.
"Jangan berani-berani mendekati, wanitaku." Pekik Bram.
"Why! Dia masih free," timpal Boy.
"Lagian, si kembar akan merasa senang mempunyai, daddy sepertiku," sahut Carlos.
"BRENGSEK KALIAN!!!
King Philips hanya bisa melihat perdebatan anak-anaknya dengan diam. Sudut bibirnya tertarik ke atas, melihat kelakuan kedua putranya.
Tiba-tiba perasaan hangat menyeruak ke dalam hatinya.
"AKU AKAN MEMBUNUH KALIAN!!
"Oh takutnya," olok Boy.
__ADS_1