
Amber dan Bram terhempas jauh ketika Ken mendorong mereka dengan kuat.
Keduanya kini terdiam membeku di tempatnya, melihat Ken yang sudah bersimbah cairan merah di depan mereka.
Amber bahkan hanya bisa terdiam dengan air mata yang menetes teras, lidahnya seakan berat untuk mengeluarkan sepatah kata pun.
Ia menahan nafas sesaat dengan bola mata yang merah akibat genangan air mata.
Sedangkan Bram dengan segera mendekati Ken yang terkapar di lantai bersama cairan merah yang sudah mengalir dari bagian tubuhnya.
"K-ken," lirih Amber tanpa suara.
Ia lantas merangkak menghampiri Ken, yang mendapatkan pertolongan dari Bram yang mencoba menghentikan darah yang terus keluar dari kedua lututnya.
"K-ken!" Seru Amber terbata dengan diiringi tangisan.
"Ken, sadarlah," ucapnya yang meletakkan kepala Ken di atas pahanya.
Sedangkan Bram mencari sesuatu agar menghentikan darah Ken, yang terus bercucuran keluar.
"Bangunlah, Ken."
"Jangan membuatku takut." Amber menepuk-nepuk wajah Ken agar pria itu tersadar.
"KEN, BANGUNLAH SIALAN!" Pekik Amber.
"Kau berisik sekali," lirih Ken.
"Hukh" pria itu terbatuk dengan raut wajah yang menahan rasa sakit.
"Ken, kau tidak apa-apa? Katakan padaku di bagian mana yang sakit?" Tanya Amber dengan perasaan lega dan juga khawatir.
"Tidak, apa aku harus mati dulu? Agar aku bisa mendapatkan perhatianmu?" Tanya sendu dengan kekehan menyedihkan.
"Plak," Amber memukul kepala Ken dan melototkan matanya ia arah pria itu.
"Apa yang kau katakan. Bagaimanapun kau adalah sahabatku yang sangat berarti dalam hidupku. dan jangan lupa si kembar, pasti mereka akan bersedih kalau mereka tahu daddynya terluka," pungkas Amber yang membuat Ken tersenyum tipis.
"Si kembar," lirihnya.
"Aku, merindukan mereka," ujarnya dengan tatapan dalam kepada Amber.
"Mereka pun pasti merindukan mu," sela Amber.
"Harus, meskipun mereka bukan anak-anakku," sahut pria itu.
"Maka kau harus kuat dan bertahan, demi, Bryan dan Bryana," balas Amber.
Mereka tidak menyadari, kalau Bram sejak tadi menyaksikan dan mendengarkan, percakapan keduanya.
Bram yang sempat terkejut dan tidak terima, ketika Amber mengatakan si kembar dan Ken adalah daddynya.
Bram mengira Amber, mengkhianatinya dengan mengandung anak dari Ken.
__ADS_1
Ia pun ingin menghampiri keduanya tapi, langkahnya terhenti saat, Ken mengatakan kalau dia bukanlah daddy si kembar.
Jadi anak siapa yang si kembar yang dimaksud, Ken dan Amber.
Pria sekali lagi terkejut, ketika Amber mengatakan anak-anakku yang lucu.
"Si kembar? Anak-anakku?" Cicit Bram yang tatapannya terus mengarah pada Ken dan Amber yang sedang saling bertatapan.
"Amber, memiliki anak kembar?" Tanya dalam hati.
Lamunan pria itu terhenti, saat mendengar suara tepuk tangan menggema di seluruh villa.
Bram menajamkan matanya ke sosok wanita setengah baya yang berdiri angkuh di depan pintu utama villa pribadi sang ibu.
~
Karena terlalu asyik mengeluarkan perasaan mereka masing-masing, sehingga Amber, Ken dan Bram, melupakan sosok yang sangat licik mengintai mereka sejak tadi dari jauh.
Anak buah Ken pun sudah habis di lenyapkan oleh, para pengawal ratu Rosella asli, yang mengintai bergerak Ken sejak tadi dari atas bukit yang tidak jauh dari villa keluarga Alexander.
Yah ratu Rosella, sengaja mengikuti rombongan Ken dan mengintainya.
Ia hanya ingin memastikan kalau pria itu melakukan tugasnya dengan cepat dan ia ingin menyaksikan sendiri kematian Bram.
Tapi angan-angannya menjadi hancur, ketika adegan pembunuhan yang ingin ia saksikan menjadi adegan dramatis.
Dengan geram, ratu Rosella memerintahkan pengawalnya yang handal dengan senjata api yang mampu menembus kulit manusia meski dari jarak jauh, untuk membidik ke arah Bram dan Amber.
Namun rencananya lagi-lagi gagal dengan Ken yang menjadi tameng mereka.
Dengan geram, wanita setengah baya itu mengajak para pengawalnya yang berjumlah 20 orang untuk mengepung ketiga manusia yang ada di dalam villa.
Ratu Rosella juga memastikan kalau para anak buah Ken sudah terbantai habis.
Dengan langkah percaya diri dan angkuh, ratu Rosella memasuki villa dengan bertepuk tangan, jangan lupa senyum manis yang penuh kelicikan itu ia berikan kepada Ken dan Amber.
"Wow, kalian sepertinya lagi saling melepas rindu," cibir ratu Rosella dengan senyum menyeringai ke arah Amber.
Amber dan Ken, tentu saja begitu kaget dengan kehadiran ratu Rosella.
Mereka membeku di tempatnya dengan pandangan ke arah wanita licik yang memasang senyum remeh ke arah mereka.
Ken hanya bisa mengeram dalam hati. Ternyata wanita tua ini benar-benar sangat licik dan pintar.
Ken yang masih terduduk di lantai dengan masih menggenggam tangan Amber.
Ia menatap ratu Rosella dengan tatapan nyalang, yang penuh kebencian.
Sedangkan Amber ikut menatap wanita picik itu dengan tatapan sulit diartikan.
Bram yang masih bersembunyi di tempatnya, begitu juga dengan Nicko yang masih bergeming di persembunyiannya.
Ia akan memantau setiap pergerakan pengawal ratu Rosella dari persembunyiannya.
__ADS_1
Tapi tidak dengan Bram, yang entah ingin tetap berada di balik dinding penghubung antara ruangan belakang dan juga dapur.
~
Ratu Rosella menatap sinis pada Ken dan Amber yang masih saling bergenggam tangan.
"Jadi, ini wanita yang kau ingin?" tanya ratu Rosella yang kini berdiri di depan keduanya dengan melipat tangannya didepan dada.
tatapan remeh dan sinis ia berikan kepada, Ken dan Amber yang raut wajah keduanya berubah.
Ken membeku di tempatnya dengan tatapan tajam ke arah ratu Rosella.
ia tidak ingin Amber mengetahui tentang apa yang ia lakukan kepada, wanita yang sangat ia cintai itu.
sedangkan Amber menyengit bingung akan perkataan ratu Rosella, Amber memandang ratu Rosella dan Ken secara bergantian.
"Jadi, kau belum memberitukan padanya?" tanya ratu Rosella kembali.
"hentikan!" geram Ken dengan wajah yang berubah merah.
"Apa?" sela Amber.
sedangkan Bram terdiam di tempatnya, mungkin dengan ini semua kebenaran akan ia ketahui.
"Apa yang kau sembunyikan dariku?" Amber bertanya kepada Ken yang memalingkan wajahnya.
"Katakan, Keenan Lerian!" Sentak Amber.
"Biarkan aku yang mengatakannya!" sela ratu Rosella.
yang menyungging senyum miring di sudut bibirnya kepada Ken.
Ken memicingkan mata tajamnya kepada ratu Rosella, seakan meminta kepada ratu Rosella untuk menghentikan ucapannya.
"Apa, kau tahu, ...." ratu Rosella sengaja menjeda ucapannya sejenak dengan menyerigai kepada Ken.
Dahi Amber makin mengkerut sehingga alis matanya hampir menyatu.
"Jangan dengar dia, sweety?" seru Ken.
"Apa yang sebenarnya kau rahasiakan padaku?" tanya Amber penuh rasa penasaran.
"Biarkan, aku menyelesaikan ucapanku nona, Amber jika kau begitu penasaran," ujar ratu Rosella.
"Jadi yang menginginkan kau dan Griffin berpisah adalah, Dia!" ungkap ratu Rosella dan telunjuknya mengarah kepada Ken.
"Apa maksud anda?" tanya Amber kebingungan dengan wajah terkejut.
Ken hanya bisa memejamkan matanya dengan menekan rasa amarahnya.
"ya, dia yang memintaku untuk menculik Bram dan memaksanya menikahi Camelia, yang kebetulan mengandung benih anakku William. dan rencananya itu membuatku merasa senang, karena aku tidak harus menikahkan anakku William dengan wanita murahan seperti Camelia. jadi aku ucapkan terimakasih," pungkas ratu Rosella yang terkekeh setelah mengungkap semuanya.
"Hentikan, wanita sialan!"
__ADS_1
"Apa kau ingin aku memberitahu pada semua orang, kalau kau dalang di balik kematian, king Philips Alexander dan, ...."
"APA YANG KALIAN LAKUKAN KEPADA KEDUA ORANG TUAKU!"