Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard

Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard
bab 50


__ADS_3

"Kalian akan pulang.?" Ratu Rosella bertanya saat melihat Putri Camelia bangkit dari duduknya.


"Iya, ibu ratu," sahut putri Camelia lembut.


"Dimana, Griffin,?" Tanya sang ibu ratu.


"Dia, mendatangi urusan mendadak yang mulia,!? Jawab Camelia dengan hati yang kesal.


"Hm. Begitu rupanya, aku harap kau tidak terlalu merepotkan pangeran, Griffin," sarkas sang ibu ratu.


Putri Camelia menatap lekat sang ibu ratu dan ia hanya bisa mengangguk pelan. "baik yang, mulai," lirihnya.


"Kami pamit pulang yang, mulia ratu," pamit putri Camelia dengan memberi penghormatan kepada ratu Rosella yang hanya menampilkan wajah tegas nan datar.


"Hm! Gumam sang ratu Rosella.


Kini tatapan ratu Rosella beralih ke belakang putri Camelia yang tepatnya kepada, Amber yang berdiri tegap dengan wajah dingin.


Ratu Rosella menatap lekat dan tajam wajah Amber yang datar dan manik mereka berserobok saling menatap tajam.


Ratu Rosella menyeringai tipis saat melihat keberanian dari raut wajah Amber.


"Jadi ini yang membuatmu ingin kembali, son,?" Batin ratu Rosella.


Putri Camelia pun meninggalkan kerajaan ratu Rosella dengan perasaan kecewa dan kesal menjadi satu.


Kecewa karena Bram meninggalkan dirinya sendiri dan melupakan janjinya.


Kesal karena Amber kecantikan alami Amber menjadi pusat perhatian para anggota keluarga kerajaan lainnya.


Malah para pria bangsawan memuji kecantikan Amber dengan terang-terangan di hadapannya, membuat jiwa iri hati yang dimiliki putri Camelia memanas.


Camelia menatap punggung Amber yang duduk di samping sang sopir. Ada tatapan iri dan benci di manik Putri Camelia.


Ia paling benci dibanding-bandingkan dengan wanita lain. Apalagi wanita biasa seperti Amber, yang hanya rakyat jelata.


"Apa, selain bekerja sebagai bodyguard, kau juga berprofesi sebagai wanita penggoda.?" Camelia melontarkan sebuah pertanyaan kepada Amber yang lebih tepat disebut menghina.


Amber terlihat tersedak oleh pertanyaan putri Camelia. Ia menatap pantulan Camelia melalui kaca pintu mobil.


"Apa maksud anda tuan, putri,?" Tanya Amber dengan menahan amarahnya.


"Kau, mendekati para pangeran dan Sok cari perhatian dengan memamerkan wajah plus tubuh jalaang mu," cetus Camelia dengan hina yang membuat Amber mengepalkan kedua tangannya.


"Maaf, yang mulia. Saya tidak seperti yang ada maksud," sahut Amber dingin.


"Cih! Mana ada jaalang mengaku, kalau ada pasti semua wanita murahan sepertimu akan punah," sarkas putri Camelia dengan sinis.


Dengan setengah jiwa dan raga Amber menahan gejolak api amarah di dadanya, ia hanya bisa melukai dirinya dengan menggenggam kuat senjata tajam yang ada di saku jaket kulit yang ia kenakan.


"Sabarlah, Amber," batin Amber.


"Maaf yang mulia saya tidak seperti yang anda tuduhkan," sahut Amber dengan nada dingin.


"Cih! Dasar wanita murahan," gumam Camelia yang masih bisa didengar oleh Amber.


"Aku, tidak perduli kau mau menggoda pria manapun, asal jangan suamiku," sarkas Camelia penuh penekanan.

__ADS_1


"Aku, hanya menginginkan nyawanya," lirih Amber.


"Kau mengatakan sesuatu,?"


"Tidak yang mulia,"


"Ingat itu, kau tidak boleh menampakkan wajah menjijikanmu di depan suamiku,"


"Baik yang mulia,"


"Jangan khawatir putri Camelia, karena aku hanya menginginkan nyawa dan juga kehancuranmu," batin Amber dengan masih menatap tajam pada pantulan Putri Camelia di kaca pintu mobil.


"Rubah licik seharusnya dipunahkan," gumamnya lagi dalam hati.


Sedangkan Camelia sibuk dengan ponselnya dengan mulut yang menggerutu kesal.


Camelia mencoba menghubungi ponsel Bram yang tidak mendapatkan jawaban di seberang sana.


Camelia melemparkan ponselnya ke arah depan dan memerintahkan Amber untuk mengambilnya.


"Dasar lamban," cetus Camelia.


"Bisakah, aku meledak kepala tuan putri sombong ini,?" Monolog Amber dalam hati.


"Kau, dimana sayang,?" Lirih Camelia, smabil memijat pelipisnya.


*


*


*


Tiada satu orangpun yang mengetahui apartemen ini selain dirinya dan juga mengawal pribadi Bram.


Bram sendiri membeli apartemen ini untuk menyimpan semua kenangannya bersama Amber.


Apabila ia sangat merindukan Amber maka Bram akan menghabiskan seharian di apartemen nya yah di hiasi tentang Amber. Kesukaan Amber, tanaman, hiasan dan bahkan tatanan pun sesuai kesukaan wanita yang begitu berarti dalam hidupnya.


Bram kini sedang menangisi kesalahannya yang sudah membuat wanita yang begitu amat di cintanya telah menyimpan kebencian terhadapnya.


Bram terguguk di d lantai dengan kepala ia letakkan di atas sofa.


Sesekali ia meneguk minuman merah yang ada di tangannya.


Ia terluka dengan perkataan dan tatapan benci Amber yang ia layangkan kepadanya.


Hatinya hancur dan dadanya begitu perih ketika kata-kata benci keluar dari mulut Amber.


Lebih sakit mendengar perkataan Amber daripada pukulan dan tamparan yang wanita itu berikan kepadanya.


Wanita yang sangat berarti dalam hidupnya. Wanita yang amat sangat ia rindukan dan cintai.


Wanita yang mengisi hatinya sampai saat ini.


Bram tidak akan rela wanitanya dimiliki oleh orang lain.


Amber tetap miliknya dan Bram akan melakukan apapun agar Amber memaafkan kesalahan yang dia lakukan kepada wanitanya.

__ADS_1


"Kau, tidak boleh menjadi milik orang lain, sayang. Kau hanya milikku dan selamanya akan menjadi milikku,"


"Maafkan, aku yang tidak bisa memperjuangkanmu dan memilih menyerah dalam keegoisan mereka. Aku tidak punya pilihan lain, sayang. Aku bingung, aku rapuh dan aku hanya lah sebuah pion mereka." Bram begitu sedih malam ini. Ia merasa dirinya hanyalah seorang pecundang yang sangat lemah.


Bram yang berharap semuanya akan berakhir dan dia juga berharap akan kembali kepada ke pelukan wanitanya.


Tapi dirinya malah terlena dengan istri statusnya sendiri. Hingga ia pasrah dengan keadaan dan menyerah.


Bram melupakan kalau dirinya hanyalah tumbal dan dia malah asyik menjadi tumbal para penguasa egois.


"Aku, berjanji kali ini akan memperjuangkanmu, sayang."


"Berikan, aku kesempatan untuk memperjuangkan kembali hubungan kita, aku mohon," racau Bram yang berbicara sendiri seakan Amber berada di sisinya.


"Tuan," seru Luis.


"Saat nya kita kembali, tuan," ujar sang pengawal pribadi.


"Biarkan, aku sendiri Luis. aku hanya ingin meratapi kesedihanku," lirih Bram.


"Aku sakit Luis, aku menderita mendengar dia berkata membenciku," gumam Bram dengan tangisan yang masih terdengar.


"Aku harus apa, Luis,?!


"Apa yang harus aku lakukan, agar dia bisa memaafkan ku," lirih Bram bertanya kepada pengawalnya.


Luis hanya bisa menghela nafas melihat kondisi pangeran Griffin dalam keadaan hancur dan berantakan.


"Aku sangat merindukannya dan sangat mencintainya, Luis. aku melakukan ini semata-mata hanya ingin melindunginya, apakah keputusan yang aku ambil salah? tolong katakan padaku, aku harus apa," racau Bram dengan tangisan yang lagi-lagi meledak dan ia merebahkan tubuhnya di atas ubin.


"tuan, tuan, tuan,!" panggil Luis saat tidak mendengar lagi racauan tuannya.


Luis menopang tubuh Bram dan membawanya keluar dari apartemen.


Bram sendiri sudah dalam keadaan mabuk dan tak sadarkan diri.


"sebegitu menderitanya kah dia,?" batin Luis.


*


*


*


sedangkan Camelia terlihat mondar-mandir di depan pintu istana milik pangeran Griffin.


Camelia terlihat begitu khawatir dan juga kesal.


dia sudah menugaskan orang suruhannya untuk mencari keberadaan suaminya itu.


tapi tidak satupun orang yang mengetahui dimana sekarang suaminya.


malam sudah semakin larut tapi dirinya masih menunggu sang suami.


Amber kembali terluka saat melihat Camelia begitu mengkhawatirkan Bram.


"keluarga yang bahagia dan romantis," batin Amber dan tersenyum miris.

__ADS_1


__ADS_2