Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard

Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard
bab 131


__ADS_3

"Ada apa?" Amber yang baru saja keluar dari kamar, terlihat heran dengan sang suami yang terlihat panik.


"Pakai pakaianmu, sayang. Cepatlah." Dengan wajah panik dan khawatir, Bram memerintahkan sang istri.


"Sayang, cepatlah!" Pinta Bram lembut.


Amber masih terdiam dengan tatapan mata menelisik ditujukan kepada suaminya.


"Please!" Mohon Bram.


"Katakan padaku, apa yang terjadi?" Amber bertanya dengan wajah yang amat penasaran.


Bram tidak mengindahkan pertanyaan istrinya, segera saja pria itu ke ruangan ganti dan mengambil satu setelan pakaian serba hitam kepada Amber.


"Pakailah!" Suruh Bram sambil menyerahkan pakaian yang ada di tangannya kepada sang istri.


Tanpa Banyak pertanyaan lagi, Amber mengenakan pakaian yang diserahkan oleh suaminya dengan gerakan cepat.


Sambil memandangi wajah suaminya yang gelisah dan panik, dengan penuh pertanyaan dan juga rasa penasaran.


"Apa sudah selesai?" Bram yang keluar dari ruangan ganti dengan berganti pakaian serba hitam sama seperti sang istri.


"Pegang ini!" Bram menyerahkan sebuah senjata api kepada Amber.

__ADS_1


Amber menerima pemberian Bram dengan alis menyengit bingung.


"Kita akan mengakhirinya malam ini," bisik Bram sembari mengecup kening Amber.


"Katakan, apa maksud semua ini?" Sambil menelisik penampilannya sendiri dan sebuah senjata api yang ada di tangannya, membuat Amber mendadak bingung dan konyol.


"Ayo!" Tanpa menjawab pertanyaan istrinya, Bram menarik Amber keluar dari kamar, menuju rooftop istana Alexander yang ada di Chicago.


"Honey. Apa maksud semua ini? Kita mau kemana? Apa ada hal buruk terjadi?" Amber memberikan rentetan pertanyaan kepada suaminya.


Kini mereka sudah berada di rooftop istana Alexander, berdiri di tengah rooftop luas itu, Bram menangkup kedua pipi istrinya dan kembali memberikan kecupan sayang di kening Amber.


Bram menatap manik cokelat sang istri dan menghela nafas panjang, setelah itu membuangnya secara perlahan.


"Si kembar B, di culik!" Lirih Bram sambil menundukkan kepalanya.


"Apa yang kau katakan tadi?" Ulang Amber, mengyakinkan pendengarannya.


"Wanita itu, berhasil membawa, Bryan dan Bryana!" Ucap Bram pelan.


"T — tidak!" Gumam Amber yang berjalan mundur, jangan lupa raut wajahnya yang terlihat pucat.


"Kenapa, mereka bisa menemukan, si kembar?" Setelah mengumpulkan kesadarannya dan keterkejutan dengan apa yang ia dengar barusan, Amber bertanya.

__ADS_1


"Mereka, bermain licik lagi. Penyerangan kemarin adalah umpat untuk kita lengah dari pengawasan si kembar," ungkap Bram.


"Sial!" Geram Amber.


"Bagaimana sekarang dengan si kembar? Mereka pasti ketakutan, anak-anak kita pasti ketakutan." Amber terus meracau, membayangkan ketakutan anak-anaknya.


"Shht. tenanglah, sayang. Mereka pasti baik-baik, saja," ucap Bram mencoba menenangkan sang istri dengan membawanya ke dalam pelukannya.


"Mereka pasti ketakutan, dear!" Amber menangis di pelukan suaminya.


"Diamlah, kita tidak boleh lemah, kita harus bisa melawan wanita itu dan menyelamatkan, anak-anak kita. tapi, kau harus kuat dan jangan mudah terpancing, ok." Nasehat Bram panjang kali lebar.


"Hm! Amber bergumam dan menganggukkan kepala.


"Kau benar. Bukan waktunya kita bersedih, tapi kita harus mengakhiri semua ini, agar anak-anak kita aman," sahut Amber.


"Hm. Sekarang ayo kita berangkat, agar kita lebih cepat menyelamatkan si kembar.


"Baiklah!"


"Bryan, Bryana, tunggu kami, sayang," bisik Amber.


Kedua suami-istri itu pun, menaiki helikopter yang akan membawa mereka ke tempat penyekapan anak kembarnya di sebuah villa pribadi ratu Rosella.

__ADS_1


Helikopter itupun mulai sedikit demi sedikit bergerak keatas dan tidak butuh waktu lama helikopter itu terbang tinggi diatas langit cerah, menembus gumpalan awan putih yang terlihat begitu indah.



__ADS_2