Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard

Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard
bab 56


__ADS_3

"Kakak, aku pamit ke toilet dulu," pamit Amber.


"Mau ditemani,?" Tawar Carlos dengan senyum jahil.


"Ck! Dasar usil," cebik Amber dan beranjak dari kursi yang ia duduki.


"Hati-hati," pesan Carlos.


Amber tak menyahut ia hanya mencebikkan bibir ranumnya ke arah Carlos.


Amber mengayunkan langkahnya ke arah toilet yang ada di ujung restoran. Tanpa merasa sepengetahuan Amber, Bram mengikutinya dari belakang dan menunggu Amber di balik pintu toilet.


Di saat Amber selesai dengan panggilan alamnya, ia keluar dengan perasaan senang.


Tanpa memperhatikan keadaan sekitar, Amber keluar dari toilet dengan tersenyum senang, namun senyum hilang di saat tiba-tiba sebuah tangan kekar menariknya dan menempelkan badannya ke tembok dengan pelan.


Amber membelalakkan saat menatap mata merah Bram yang kini mengurung dirinya di kedua lengannya kekarnya di tembok dan Bram menempelkan kening mereka berdua.


Dengan deru nafas cepat, Bram menyoroti Amber dengan lekat dan intens. Nafas hangat pria itu bahkan menyapu wajah indah Amber yang masih terkejut.


"Aku tidak suka kau dekat dengannya, sayang," bisik Bram dengan dada yang masih terlihat naik-turun.


Rasa panas masih menggerogoti tubuhnya hingga mencapai ubun-ubun.


Amber membuang pandangannya ke samping, ketika Bram ingin mengecup bibirnya, sehingga hanya hidung Bram yang menempel di pipi Amber.


"Bukan anda, aku dekat dengan siapa pangeran, Griffin," sarkas Amber dengan tatapan membenci.


"Kau cintaku, Amber Wilson," ujar Bram penuh tekanan.


"Cih" Amber berdecih dan tersenyum miring.


"Cinta apa dan, yang mana anda maksud pangeran, Griffin.?" Amber membalas tatapan Bram dengan membenci dan penuh dendam oleh luka hati.


"Sayang," geram Bram tertahan.


"Kau milikku, Amber Wilson. Dan selamanya kau akan menjadi milikku," tekan Bram. Kini mereka saling menatap tajam, melampiaskan perasaan mereka masing-masing.


"Itu tidak akan pernah terjadi, karena nyawa ada di tanganku," gumam Amber yang mencoba menyingkirkan lengan Bram yang menghalangi jalannya.


"Menjauhlah. Memandangi wajahmu membuatku muak," bisik Amber dengan nada benci. Tidak ada lagi nada kelembutan yang ia dengar dari wanita yang amat dicintai


ini.


"Menyingkirlah," pinta Amber dingin.


Bram meraih tengkuk Amber dan menempelkan kening mereka kembali.

__ADS_1


Dadanya begitu sakit mendengar ucapan sarkas Amber. Namun Bram tidak ingin menyerah, ia akan berjuang mendapatkan hati wanita yang selalu menempati hatinya yang paling dalam.


"Lepas," ucap Amber dingin dengan tatapan datar ke arah Bram.


"No! Aku tidak akan melepaskanmu , sayang," balas Bram.


"Brengsek," maki Amber sambil mengarahkan kepalan tangannya di perut keras Bram dengan kuat. Membuat Bram mundur beberapa langkah.


"Aku bukan milik siapa-siapa, aku adalah aku, bukan wanita bodoh lagi yang meratapi dan menangis pria brengsek seperti," ujar Amber dengan tatapan yang begitu membenci.


Amber pun memutar tubuhnya untuk meninggalkan lorong sunyi tersebut.


Namun langkahnya tiba-tiba terhenti saat Bram menarik tengkuknya kembali dengan sedikit kasar. Bram menabrakkan bibir mereka. Amber yang tidak mampu menahan keseimbangan tubuhnya jatuh di pelukan Bram.


Bram menyesap kasar bibir yang pernah menjadi candunya, bibir yang begitu ia nikmat sesuka hatinya dulu. Bibir yang menjadi mainannya di kala gundah.


Bram menahan kedua tangan Amber saat wanita itu meronta ingin melepas diri.


Bram memutar posisi dan memojokkan tubuh semampai Amber di dinding dan meletakkan tangan Amber ke atas kepala wanita itu dan menggenggamnya erat.


Amber berusaha melawan namun tenaga kerja Bram begitu kuat.


Amber menutup rapat-rapat bibir agar Bram tidak dapat mengekspor lebih dalam bibir ranumnya itu.


"Lepas brengsek," maki Amber di sela berlakaun Bram kepadanya.


Bram mengarahkan tangannya yang menganggur ke arah leher panjang Amber dan menyentuhnya di sana dan yah Amber berhasil membuka mulutnya.


Bram menjelajahi rongga mulut Amber begitu puas. Ia begitu merindukan bibir manis wanita kesayangannya ini.


Mengekspor di setiap sudut mulut Amber dengan lidahnya.


Sambil memejamkan mata Bram menikmati cumbuannya yang begitu ia rindukan. Cumbuan yang amat di sukai oleh kekasihnya itu.


Amber mencoba menggeleng dan meronta untuk terlepas dari jeratan pria brengsek di depannya ini.


Amber mencoba menggigit kuat bibir Bram namun nihil. Pria itu tak menghiraukan rasa sakitnya.


Amber bahkan merasa jijik dengan perlakuan Bram kepadanya. Ini semua sudah membuktikan kalau pria ini adalah seorang pria brengsek.


"Bugh! Suara hantaman Amber berikan di area pusat inti Bram menggunakan lututnya yang menjuntai.


"Akh! Bram meringis saat tautan bibir mereka terlepas.


"Bugh! Amber menambah satu pukulan di wajah tampan Bram membuat sudut bibir pria dengan manik abu-abu itu mengeluarkan cairan merah.


"Hari ini aku baru tau kalau kau memang pria brengsek. Aku membencimu, bedebah," amuk Amber dengan tatapan benci yang dipenuhi genangan air mata.

__ADS_1


Bram membeku di tempatnya dengan wajah terkejut, mendengar makian Amber.


Bram hanya bisa berteriak frustasi sambil menjambaki rambutnya kasar dan mengarahkan pukulannya di udara.


"Sial! Umpat pria itu.


Amber berjalan dengan langkah gontai sambil menghilang jejak air mata di pipinya.


Ia menghirup udara untuk mengisi pasokan udara di dalam dadanya yang tiba-tiba terasa kehabisan nafas.


Dada Amber naik turun dengan cepat dengan wajah yang menengadahkan ke atas agar genangan air di maniknya tidak jatuh, yang akan membuatnya terlihat rapuh.


"Kau disini, honey," sebuah suara lembut mendayu mengejutkan Amber.


"K-kakak," lirih Amber dengan segera menghapus air matanya.


"Kau, menangis,?" tanya Carlos.


"Aku hanya teringat masa laluku, kak," jawab Amber dengan sendu.


"Maaf," ucap Carlos dengan wajah bersalah.


"kenapa kakak minta maaf," jawab Amber.


"Karena aku mengingatkan mu dengan masa lalu kamu," bisik Carlos sambil mengusap air mata Amber.


"Tidak masalah, itu akan mengingatkan ku pada penderita masa lalu yang menjadi pelajaran hidup saat ini," imbuh Amber dengan senyuman lembut.


"Kau adalah wanita tangguh yang tidak pernah aku temui," lirih Carlos yang kini telapak tangannya berada di pipi sebelah kiri Amber.


Amber hanya mengangguk dan membalas senyum hangat Carlos.


"Kita pulang," ajak Carlos yang meraih telapak tangan Amber dan menautkan jari-jari mereka.


"Hm! gumam Amber sambil mengangguk.


Carlos pun menarik Amber lembut dengan telapak tangan kekarnya memgenggam telapak tangan mungil Amber.


sementara Bram hanya bisa menahan amarahnya yang lagi-lagi harus menyaksikan wanita yang sangat ia cintai di perlakukan manis dan lembut oleh kakak tirinya sendiri.


"bugh! Bram meninju tembok dinding di depannya dengan kuat. cairan dengan bau khas itupun mengalir dari kepalan tangannya.


dengan mata yang berkilat amarah dan juga deru nafas yang begitu menyesakkan Bram kembali menghantam dinding berkali-kali.


Bram tidak merasakan sakit pada kepalan tangannya. yang amat sakit sekarang ini adalah hatinya yang di tambahin dengan percikan api cemburu.


"Amber adalah milikku,"

__ADS_1


"Tidak akan aku biarkan kau merebutnya dariku, sialan."


__ADS_2