
Boy dan kedua sahabatnya, Bram, Carlos, kini berada di ruangan kerja Boy di perusahaan Pattinson group.
Boy yang sedang berkutek dengan setumpuk berkas yang ia terima dari sekretaris pribadinya.
Sedangkan dua bersaudara dengan wajah tampan bak titisan para dewa Yunani itu, sibuk dengan ponsel mereka masing-masing.
Carlos yang memantau bisnis gelapnya dan juga perusahaan pribadi milik keluarganya.
Bram yang hanya mencari informasi tentang bagaimana cara membuat pasangan luluh, di salah satu web terkenal di dunia Maya.
Jari-jari ketika pria gagah nun maskulin itu, kini sibuk bergerak di atas benda canggih kesayangan mereka masing-masing.
Bram dan Carlos yang sibuk memainkan jari-jari mereka di ponsel mahal mereka.
Sementara Boy yang sibuk dengan laptop dan juga beberapa keras yang dibungkus oleh map.
Kening Boy kadang terlihat mengkerut dan matanya menyipit, menatap sederet angka-angka yang ada di layar laptopnya.
Boy menarik nafas sambil melepaskan kacamatanya. Ia menyandarkan punggung lebarnya di sandaran kursi yang ia duduki.
Boy mengusap wajahnya pelan dan menengadahkan kepalanya ke atas.
Boy mengalihkan perhatiannya kepada kedua sang sahabat yang masih sibuk dengan ponsel mereka.
Boy terdengar mendengus kesal melihat sahabatnya yang tidak peduli dengannya, yang sedang frustasi.
"Daripada, waktu kalian terbuang sia-sia, lebih baik kalian membantuku," seru Boy tiba-tiba, membuat Bram dan Carlos mengalihkan perhatian mereka kepada Boy.
"Apa?" Tanya Carlos dengan suara beratnya yang terdengar seksi.
"Bantu aku, menyelesaikan ini!" Pinta Boy, sambil membalikkan laptop miliknya yang masih memperlihatkan sederet angka-angka di sana.
"Ck. Itu deritamu," ketus Bram yang kembali menatap ponselnya.
"Sialan kau," pekik Boy.
Boy kini menatap Carlos yang juga menatapnya. " Ck. Bukankah, kau memiliki sekretaris dan juga asisten?" Ujar Carlos tidak acuh.
"Dasar brengsek, kalian," maki Boy dengan wajah emosi.
"Sebaiknya, kalian keluar dari ruanganku!" Usir Boy.
"Kalau, kami tidak mau?"
"Aku akan menyeret, kalian!"
"Apa, kau yakin ingin menyeret kami?"
"Kenapa tidak. Ini adalah ruangan ku," sahut Boy yang begitu terlihat emosi dengan tingkah seenaknya kedua sahabatnya ini.
"Keluarlah!" Usir Boy kembali dengan raut wajah masam.
"Dasar benalu, sialan," ketus Boy pelan yang mendelik kedua sahabat tidak tahu diri.
"Kami sangat suka menjadi benalu mu, bukan begitu, dude?" Bram meninju pelan lengan keras kakaknya.
"Hum! Gumam Carlos datar.
"Cih, dasar tembok," sinis Bram kepada sang kakak.
"Keluarlah, sialan." Boy yang kehabisan kesabaran melemparkan kedua sahabatnya sebuah pajangan yang ada di meja kerjanya.
"Aku butuh ketenangan untuk menyelesaikan pekerjaan ku dan kalian berdua merusak ketenanganku," dengus Boy yang kembali mengenakan kacamatanya.
"Oh, begitukah? Jadi kau ingin menyelesaikan pekerjaanmu dengan tenang, dan ditemani oleh sekretaris seksi mu itu?" Tanya Bram dengan mata yang menyipit.
__ADS_1
"Apa yang kau katakan, bodoh." Boy mengeram kesal.
"Bukankah, kau memiliki sekretaris yang begitu seksi dan cantik?" Goda Bram yang kini berdiri dari duduknya dan mendekati sang sahabat.
"Diamlah, bodoh," pekik Boy.
"Bagaimana kalau Ruby tahu?" Sambung Bram dengan bergaya seakan sedang berpikir.
"Hey. Apa maksudmu, bedebah. Dia sekertaris baru, aku juga baru melihatnya." Pekik Boy sambil menjambak rambut sahabatnya.
"Tapi, sepertinya dia terlihat menggoda, dude," bisik Bram.
"Brengsek!" Teriak Boy dan menjambak rambut Bram lebih kencang.
"Bolehkah, aku mengatakannya kepada, Ruby?"
"TIDAK!"
"Why?"
"Kalau sampai dia tahu maka, kedamaian dan ketentraman pusaka ku terancam," lirih Boy.
"Sungguh, mengerikan," ejek Bram.
"Tapi, sayang, aku tidak peduli,"
"Aku, akan mengatakannya kepada, Ruby," ancam Bram.
"Jangan brengsek!"
"Aku, akan memecatnya sekarang juga," ujar Boy dengan wajah pias.
Carlos tidak begitu tertarik menimpali atau melerai perdebatan sengit adik dan juga sahabat-sahabatnya itu.
Carlos masih sibuk dengan ponselnya yang mana sebuah foto seorang gadis imut terpampang di layar ponsel miliknya.
Namun tiba-tiba, pria itu menggeram dalam hati dengan jantung yang berdebar kencang, ketika mendapati sebuah foto yang begitu menantang dengan pose menggoda sang gadis imut tersebut.
Rahang pria itu mengeras dengan gigi yang kini saling bergesekkan. Tak kalah ia melihat berbagai komentar dari postingan sang gadis, yang kebanyakan seorang pria.
Rata-rata dari komentar mereka, yang mengajak sang gadis bertemu dan menjadi kekasihnya.
Dada Carlos kini bergerak naik-turun dengan begitu cepat, dengusan kasar dan berat keluar dari mulut pria itu.
Saat matanya menangkap komentar dari seorang pria yang menyebut sang gadis, sayang. Carlos langsung melemparkan ponsel mahalnya ke lantai.
"Brengsek!
"Prang"
Umpatan kasar dan juga sebuah benda terhempas di lantai, membuat Boy dan Bram yang sedang bergelut, terloncat kaget.
Bram melepaskan kedua tangannya di leher Boy pun, boy yang melepaskan tangannya di rambut Bram.
Bram dan Boy tampak saling menatap dan saling bicara lewat kode tatapan mata.
"Ada apa?" Tanya Boy, dengan mengedikkan kepala ke arah Carlos.
"Entahlah," sahut Bram dengan bahu terangkat.
Keduanya saling dorong-dorongan untuk mendekati Carlos dan menanyai pria itu.
Carlos kini terlihat marah dengan kedua matanya yang merah dengan raut wajah yang terlihat mengerikan.
"Brengsek!
__ADS_1
"Prang"
Carlos melemparkan vas bunga yang ada di meja ke arah, Bram dan Boy.
Bram dan Boy yang saling dorong-dorongan, kembali terloncat kaget, Bram bahkan menaiki punggung Boy.
"Apa yang kau lakukan, bodoh," geram Boy pelan.
"Aku terkejut," sahut Bram.
"Dia kenapa?" Tanya Boy heran.
"Mungkin dia sedang patah hati," jawab Bram sekenanya.
"Dia mana punya kekasih," imbuh Boy.
"Benarkah?! Sentak Bram pelan.
"Hum. Dia itu perjaka kadaluarsa," cibir Boy.
"Hati-hati!" Terang Boy.
"Apa?"
"Dia, sangat mencintai, Amber." Boy dan Bram kini saling berbisik dengan akrab. Mereka bahkan bergosip.
"What!" Pekik Bram.
"Pelankan suaramu," bisik Boy geram dan memukul belakang kepala Bram.
"Dia bisa saja jadi pengganggu hubunganmu dengan Amber. Istilah sekarang p.e.m.i.n.o.r." ucap Boy yang menekan ucapnya di akhir kalimat.
"Tidak, mungkin. Dia kakakku dan Amber sangat mencintaiku," ujar Bram.
"Tapi, itu bisa saja menjadi mungkin. Apa lagi dia memiliki tubuh yang begitu h.o.t," pungkas Boy, sambil tersenyum usil.
"Tidak. Aku percaya dengan Amber dan juga dengannya," balas Bram dengan wajah yakin.
"Terserah," dengus Boy, saat rencananya untuk menjadi malaikat jahat kini gagal.
"Brak"
Tiba-tiba pintu ruangan Boy, terbuka dengan kasar.
Ketiga pria tampan itu terkejut dan menoleh ke arah pintu, dimana kedua asisten Carlos masuk dengan wajah panik.
"Apa yang kalian, lakukan!" Teriak Boy.
"Maaf, tuan. Ini sungguh darurat," ujar Jastin.
"Ada apa?" Carlos bangkit dan mendekati kedua asistennya.
"Ini tuan," Jastin memberikan iPad yang ada di tangannya kepada Carlos.
Carlos segera menerimanya dan membaca sebuah berita di salah satu media berita terkenal di kota Chicago.
Mata Carlos terbelalak tajam dan menatap sang adik yang terlihat bingung dan juga penasaran.
"Sial!"
"Kita, ke sekolah si kembar."
"Ada apa?"
"Ayo!"
__ADS_1