
Amber menatap sendu kedua bayi kembarnya. Ia merasa bahagia dan juga merasa miris dengan nasib kedua bayi kembarnya.
Setelah melewati seminggu perawatan di rumah sakit, ia sudah diizinkan pulang. Dan disinilah sekarang Amber dan kedua bayinya di sebuah rumah villa milik Boy yang tersembunyi.
Hanya ia dan Ruby yang mengetahui villa mereka. Boy sengaja menempatkan Amber disini, itu dikarenakan anak buah Bram masih mengintai dan juga mencari tahu keberadaan Amber.
Bukan itu saja yang Boy khawatirkan, tapi ada satu orang yang ia takuti yaitu, keluarga kerajaan Bram.
"Aku, berjanji. Akan melindungi kalian," batin Boy yang melihat Amber menangis dengan menatap kedua bayinya.
Boy begitu geram saat mendengar berita dari orang suruhannya untuk mematai-matai kegiatan dan juga aktivitas Bram dan keluarganya.
Boy hanya bisa menyumpahi sahabatnya itu, ketika sang anak buah mengatakan kalau Bram telah bahagia dan sekarang ia sedang merayakan tujuh hari anaknya.
Boy membakar semua foto-foto senyum bahagia Bram saat merangkul dan menggendong seorang bayi.
Boy ikut merasakan betapa sakit dan menderitanya Amber dalam memperjuangkan kedua bayinya.
Dan Boy kagum dengan ketangguhan Amber untuk menyembuhkan luka sakit hatinya.
"Aku, pastikan pria brengsek itu, tidak akan bisa menemukan kalian," batin Boy kembali.
Boy mengelus rambut istrinya yang ikut menangis saat sahabatnya Amber terisak pilu, mengingat perjuangannya dalam melindungi anak kembarnya.
"Berhentilah, menangis. Kau akan membuat mereka ikut menangis." Ruby mencoba menenangkan sang sahabat.
"Aku hanya menangis terharu," jawab Amber.
"Lihatlah, dia begitu tampan dan cantik," puji Amber dengan tersenyum lembut.
"Hm! Yang kau katakan benar, mereka begitu cantik dan tampan." Ruby setuju dengan pujian Amber.
"Mereka, sangat mirip dengannya," lirih Amber yang kembali terisak.
"Diamlah, kau bisa membuat mereka terbangun."
"Lebih baik kau memberi nama pada kedua bayi mu,"
"Aku, sudah menyiapkan nama untuk mereka." Amber menatap satu persatu bayi mungilnya yang tertidur nyenyak di pangkuannya.
__ADS_1
"Siapa,?"
"Bryan dan bryana," jawab Amber.
"Nama yang bagus."
"Hm! Aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari."
"Kau, ingin memakai nama ay, ….?" Ucapan Ruby terhenti saat menyadari pertanyaan.
"Tidak! Ujar Amber dingin.
"Aku tidak ingin embel-embel pria itu berada di nama ke dua baby ku,"
"Oke! Itu hak kamu. Dan dia juga tidak berhak atas baby Bryan dan Bryana."
"Aku, ingin namaku tersemat di nama belakang mereka." Tiba-tiba Ken muncul dan menyela obrolan Amber dan Ruby.
"Cih! Ruby yang masih kesal dengan sahabatnya itu hanya menatapnya jengah.
"Bukankah, sekarang aku daddy mereka? Jadi mulai sekarang biarkan namaku tersemat di belakang nama mereka," ujar Ken.
"Shut! Diamlah dan turuti aku," paksa Ken.
Amber menatap Ruby dan Boy, seakan meminta pendapatnya sepasang suami-istri itu. Dan keduanya menggakuk setuju.
"Mereka, harus memiliki nama seorang ayah di belakang nama si kembar jadi kelak mereka tidak akan mendapatkan hina," sela Boy.
"Hm. Kau benar, mereka butuh sosok ayah dan juga di nama belakang mereka." Ruby membenarkan pendapat suaminya.
"Baiklah! Ujar Amber pasrah.
Ken tersenyum senang mendengar jawaban dan juga dukungan dari pasangan suami-istri yang ada di sampingnya.
"Berarti nama mereka sekarang adalah, Bryan Lerian dan Bryana Lerian," ucap Ken dengan raut bahagia.
"Mulai sekarang, kalian anak-anak, daddy," bisik Ken dan menciumi pipi kemerah-merahan si kembar.
"Baby, Bryana sangat mirip dengan," bisik Ken, ia takut si kembar bangun.
__ADS_1
"Mereka anak-anakku, Ken," cibir Amber.
"Oh iya, aku lupa," sahut Ken dengan cengiran khasnya.
"Aku, boleh mengendongnya,?"
"Hm! Silakan,"
Ken pun meraih sang baby Bryana dan membawanya ke dalam gendongannya yang hangat. Terlihat baby Bryana begitu nyaman dalam gendongan Ken.
"Sepertinya, dia sangat menyukaimu," Lirih Amber.
Ada perasaan sesak dan mencekik tiba-tiba di ruang hatinya. Bukankah seharusnya sang daddy biologis yang memberikan kenyamanan buat anak-anaknya.
Tapi apa ini, kedua bayinya mendapatkan kasih sayang dari orang asing.
"Mommy, janji akan selalu menjaga kalian dan melindungi kalian. Hanya kalian yang mommy miliki sekarang."guman Amber dalam hati.
"Sebaiknya, kau istirahat." Pinta Ruby.
"Tapi, …."
"Tenanglah, biar mereka bersamaku dan juga Boy," ujar Ruby.
"Hm! Terimakasih," ucapnya tulus dengan mata yang berkaca-kaca.
"Apa, yang kamu katakan. Kita adalah sahabat jadi sudah seharusnya kita saling membantu," sahut Ruby sambil membantu Amber berbaring.
"Tidurlah,!
"Hm.
"Baby nya."
"Mereka sudah tidur,"
Amber pun memejamkan matanya. Sudah beberapa malam ini dia kekurangan tidur, itu karena baby bry dan Bryana rewel. Untung ada Ruby dan Ken yang membantunya untuk merawat sang baby twist.
"Aku, pastikan. Kau akan menyesal, Griffin." Gumam Boy dan menatap sang istri yang sedang merawat baby Bryana.
__ADS_1