Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard

Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard
bab 34


__ADS_3

"H-hamil?" Cicit Amber.


Amber seakan tidak percaya dengan keterangan yang dikatakan oleh, dokter wanita yang berada di sampingnya.


"Iya, nona. Usia kandungan anda sudah memasuki 7 Minggu." Terang dokter wanita tersebut sambil membaca berkas laporan pemeriksaan Amber.


"T-tujuh Minggu.?" Kembali Amber berkata lirih.


"Iya nona. Dan keadaan kandungan anda sangat baik dan sehat," ujar sang dokter lagi.


"Apakah, dia bisa pulang hari ini, dok.?" Ken menimpali perkataan dokter tersebut.


"Karena keadaan, nona Amber dan kandungannya baik dan sehat, maka istri anda boleh pulang.!" Ujar dokter tersebut sambil tersenyum ramah.


"Tapi, ingat anda harus rutin membawa istri anda kemari untuk, melakukan pemeriksaan sebulan sekali, tuan.!"


"Baik dokter, terimakasih."


"Hm, sama-sama."


"Ingat. Istri anda harus banyak istirahat dulu dan jangan banyak memikirkan, hal-hal yang bisa membuat istri Anda stres," ujar sang dokter kembali.


"Baik dokter, saya akan mengingatnya." Sahut Ken.


Sedangkan Amber masih terdiam, untuk mencerna kembali perkataan dokter yang sampaikan padanya.


Tangan Amber terulur untuk mengusap perutnya yang masih rata, yang terdapat sebuah nyawa di dalam sana. Sebuah janin hasil buah cintanya dengan masa lalunya yang perlahan ia lupakan.


Tapi apa ini. Disaat dirinya dengan perlahan melupakan masa lalunya, tapi kini ia harus mengorek luka itu kembali dengan adanya nyawa yang sekarang sedang tumbuh di dalam rahim.


Mata Amber mulai memanas dan berat. Kristal bening yang mengenang di kelopak matanya terasa gatal. Dan akhirnya iapun menyerah dan di detik itu juga, tangis Amber pecah.


Ken mendekati Amber saat ia baru saja mengantar dokter itu keluar.


Ken membawa tubuh bergetar Amber kedalam pelukannya.


Memeluknya erat dan mengusap-usap punggung belakang Amber yang masih bergetar itu.


Ken membiarkan Amber untuk melampiaskan emosinya terlebih dahulu. Ia tahu mendengar berita kehamilannya akan membuat mental Amber kembali dawn.


Ken hanya bisa berdoa agar Amber baik-baik saja dan tidak terlalu terpuruk atas kabar kehamilannya.


Amber masih menangis dan terisak di dalam pelukan Ken. Ia tidak percaya dan tidak menduga. Masa lalu yang ia akan kubur selamanya kini meninggalkan sebuah kenangan yang, entah Amber harus menyebutnya apa?


"Aku tidak percaya ini akan terjadi padaku," lirih Amber dengan masih menyisakan isakan pilu.

__ADS_1


Ken mengurai pelukannya, ia membingkai wajah sembab Amber dan menghapus jejak air mata di sana.


"Kenapa, dia hadir disaat aku mulai melupakannya. Kenapa dia hadir di saat aku berjuang mengobati luka ku. Kenapa di hadir disaat hatiku sudah mulai menyatu, dari luka yang menganga. Kenapa dia harus hadir di waktu tidak tepat. Kenapa."!! Tangisan pilu Amber kembali terdengar menyesakkan.


Tangisan pilu seorang wanita yang sedang dalam kegundahan dan keterpurukan.


"Aku tidak siap, … a-aku belum siap untuk menerimanya," racau Amber sambil memukuli perutnya.


"Aku tidak mau ia berada dalam diriku. Aku tidak ingin jejak pria itu ada pada diriku." Amber histeris dan masih berusaha memukuli perutnya. Tapi tangan Ken menahan kedua tangannya.


"Lepaskan! Biarkan aku menghilangkannya dari diriku. Aku tidak sudi jejak pria brengsek itu ada pada diriku," lepaskan.!" Teriak Amber yang masih berusaha menyakiti janin yang ada pada perutnya itu.


"Stop Amber Wilson.!" Bentak Ken.


"Amber, stop.!" Bentak Ken lagi, ketika Amber semakin menjadi.


Ken menarik Amber kembali ke pelukannya dan menenangkan wanita yang dicintainya itu.


"Stop! Jangan menyakitinya. Dia tidak bersalah, kau harusnya bersyukur karena mendapatkan titipan malaikat kecil di dalam dirimu. Kau jangan menjadikan ini adalah kesialan atau keburukan. Tapi jadikan ini adalah obat untuk dirimu." Ken mencoba menguatkan Amber di tengah perasaannya yang juga terluka.


Tangisan Amber terdengar merendah dan menyisakan isakan pilu yang mampu menyayat hati.


Siapa yang tidak akan terpukul. Di saat dirinya hanya hidup sebatang kara yang sedang terluka harus diuji oleh kehadiran mahluk yang akan tumbuh di rahimnya.


Amber menjauhkan dirinya pada pelukan Ken. Ia menatap pria itu dengan wajah kembali rapuh dan terluka.


"Jangan menangis lagi. Dia juga akan merasakan sedih." Ken mencoba menghibur Amber dan mengulurkan tangannya di atas perut Amber.


"Aku tidak yakin bisa menerima ini.!" Lirih Amber dengan suara yang serak.


"Kau harus yakin dan percayalah nanti juga kau akan menyayanginya dan menjaganya dengan baik."


"Ingin. Dia adalah milikmu dan jadikan itu hanya milikmu. Di dalam sini ada Amber kecil yang akan tumbuh. Maka berusahalah untuk menerimanya, karena suatu saat dia akan sangat berarti untukmu dan bahkan kau akan memilih mati untuk melindunginya." Imbuh Ken sambil mengusap perut Amber.


Perkataan Ken membuat Amber tersadar. Ken benar ia harus berusaha menerimanya, bagaimanapun dia adalah miliknya sekarang. Dan janin ini akan menjadi mengobat untuknya kelak. Entahlah mengobat untuk apa yang jelas Amber akan berjuang.


"Kau benar, sekarang dia adalah milikku yang harus aku jaga dan lindungi. Dia akan menjadi obat sakit hatiku. Dan aku akan berusaha menyayanginya." Ujar Amber sambil mengusap perutnya lembut.


"Kau hanya milikku, sayang. Dan mommy berjanji akan menyayangimu." Bisik Amber yang masih mengusap perutnya.


Ken tersenyum melihat Amber bisa menerima kehamilannya. yang Ken harus lakukan sekarang adalah menjaga Amber, agar ia tidak melakukan hal-hal yang bisa membahayakan janinnya.


Apalagi Ken sangat mengetahui mood seorang wanita hamil akan berubah-ubah.


jadi sekarang PR Ken adalah menjaga emosi Amber dan menjaga kesehatannya, pun keselamatan wanita kesayangannya ini.

__ADS_1


"Kau, pasti bisa. bukankah kau wanita tangguh dan pemberani.?" Ken terkekeh, melihat wajah cemberut Amber.


"Sekarang bersiaplah. kita akan pulang.!" sela Ken.


"hm! aku sudah merindukan tempat latihan," tiba-tiba wajah Amber berubah berbinar.


"Astaga, ternyata benar mood ibu hamil akan berubah-ubah." gumam Ken.


"kau, mengatakan sesuatu, Ken.?"


"Tidak! dan yah mulai sekarang kau harus istirahat selama satu Minggu, kau juga tidak akan ikut latihan itu lagi." cetus Ken sambil mengumpulkan barang-barang mereka.


"Tapi Ken."


"no! kau tidak akan ikut latihan berat lagi."


"kalau begitu, Latihan ringan boleh."


"tapi, ....!!


"please, setidaknya ajarkan aku tentang heaker dan senjata api." mohon Amber dengan wajah memelasnya.


"Baiklah! akhirnya Ken menyerah dan ia pun menyetujui permintaan Amber.


"terimakasih." ucap Amber tulus.


Ken menghentikan kegiatannya dan mengalihkan perhatiannya kepada Amber.


"hm. aku hanya ingin kau, tetap bahagia dan selalu tersenyum." sahut Ken.


"Kau sangat baik."


"mulai, sekarang kau adalah, daddy dari bayiku ini." imbuh Amber.


membuat Ken menatapnya tidak percaya.


"really!


"hm! kau akan menjadi, daddy satu-satunya."


Ken mengembangkan senyum indahnya dan memeluk kembali tubuh Amber.


"terimakasih dan aku berjanji, akan menjaga kalian." bisik Ken.


"hm! aku percaya itu."

__ADS_1


__ADS_2