Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard

Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard
bab 59


__ADS_3

Saat ini seluruh keluarga istana sedang berkumpul di ruangan makan. Malam sudah tiba dan mereka melakukan makan malam bersama.


Sesuai keinginan Carlos, sekarang Bram dan juga keluarga kecilnya kembali tinggal di istana ratu Rosella.


Hanya kesunyian yang terlihat di meja makan. Semua orang sibuk menyantap makan malam mereka masing-masing.


Karena memang peraturannya seperti itu. Tidak ada yang boleh suara pembicaraan di waktu makan.


Hanya suara alat makan mereka saja yang terdengar. Bahkan itu pun harus dengan gaya elegan agar tidak menimbulkan gesekan alat makan yang cukup nyaring.


Cara mengunyah makanan mereka pun harus penuh kehati-hatian, agar tetap menjaga etika di meja makan.


Amber yang melihat itu hanya berdecak dalam hati. 


Wanita itu heran kenapa mereka harus begitu menjaga images mereka.


Bukankah mereka satu keluarga? Jadi untuk siapa mereka melakukan itu semua? Sungguh peraturan yang begitu meresahkan.


Carlos menikmati santap malamnya, sembari menatap wajah menggemaskan Amber. Yang terkadang mengerucutkan bibirnya, hidungnya yang terkadang kembang kempis atau dahinya yang terangkat keatas.


Carlos terdengar terkekeh, membuat semua anggota keluarga kerajaan mengarahkan perhatian mereka kepada Carlos.


Mereka semua terdiam membeku di tempat mereka masing-masing. 


Ini adalah hal langka, melihat kelakuan pangeran Carlos yang terkekeh sendiri dan tersenyum-senyum sendiri.


"Ada apa, pangeran,?" Tanya sang ibu ratu.


Carlos mengalihkan perhatiannya yang sejak tadi ke arah Amber kini menatap sang ibu.


"Tidak! Jawab Carlos dengan dingin.


Anggota keluarga kerajaan mengernyit heran melihat perubahan ekspresi wajah pangeran yang terkenal dingin dan arogan itu.


Ibu ratu melirik Amber dengan ekor matanya. Ia sangat yakin kalau wanita itulah yang menjadi objek keceriaan sang putra.


"Bersiaplah, kita akan berangkat ke kita Chicago," imbuh ratu Rosella, yang mengumumkan kepada anggota keluarga.


"Chicago,?" 


Bram, Amber dan Carlos membeo bersamaan.


Bram menatap wajah Amber yang terlihat senang mendengar berita ini. Pun ia juga sangat senang mendengar pengumuman ibu suri.


Di kota Chicago adalah sumber kenangan Bram dan Amber.


Sementara Carlos menatap Amber dengan wajah yang tidak dapat terbaca.


"Kita, akan menghadiri sebuah undangan lelang sebuah barang berharga di sana," imbuh sang ratu Rosella.


"Besok pagi kita akan berangkat, jadi bersiaplah," titah ratu Rosella, setelah itu ia pun bangkit meninggalkan meja makan.


"Baik yang mulia," sahut semua anggota keluarga kerajaan, kecuali Carlos yang terdiam dengan tatapan lekat ia berikan kepada Amber.


Amber menukik alisnya dan mengedikkan kepalanya saat pandangan mereka beradu.


Carlos menggeleng dengan tersenyum tampan, dan ia kembali terkekeh ketika melihat Amber mencebikkan bibir kepadanya.


Kelakuan keduanya tidak lepas dari mata tajam Bram yang kini menahan amarah. Tangannya bahkan sudah mengepal di bawah sana.


"Sial," umpatnya tanpa sengaja.


"Kau mengumpat pangeran, Carlos,?" Tanya salah satu tetua di kerajaan.


"Maaf," ucap Bram dingin.

__ADS_1


Setelahnya Bram berdiri dan mengikuti sang ratu Rosella meninggalkan meja makan. Hatinya terlalu panas menyaksikan kedekatan Amber dan Carlos.


Belum reda rasa cemburunya atas kejadian tadi siang di rooftop istana. Dimana pangeran Carlos dan pangeran Mateo saling berdebat untuk mencari perhatian wanita yang begitu dicintai.


Bram sendiri hanya bisa menjadi penyimak adegan perebutan hati seorang wanita. Yang tak lain adalah wanitanya.


Ingin rasanya Bram menarik paksa Amber dan membawanya pergi jauh, sejauh mungkin. Dimana hanya ada mereka berdua.


"Argh" teriak Bram dengan rasa panas yang menguasai dadanya.


"Sial," umpatnya lagi dikala ia membayangkan senyum Amber yang begitu ceria dengan pangeran Carlos dan Mateo.


Sementara kepadanya hanya tatapan datar yang ia terima dari wanita yang masih menempati hatinya.


"Apa yang harus aku lakukan sayang, agar kau menjadi milikku lagi," gumam Bram yang sekarang berada di balkon kamarnya.


"Sebesar itukah kesalahan ku? Sehingga kau begitu membenciku. Maaf atas semua kesalahanku." Setetes kristal bening lolos membasahi wajah rupawan nya.


"Andai waktu dapat diputar kembali, aku pastikan akan memperjuangkan hubungan kita sayang," monolog Bram.


"Apakah kesempatan kedua itu masih berpihak padaku,?"


"Aku berharap kesempatan itu masih ada."


"Karena aku sangat mencintaimu, sayang."


Bram terus saja merenungi kesalahannya dan memikirkan cara agar Amber mau memberikan kesempatan kedua kepadanya.


"Bukankah, setiap manusia berhak mendapatkan kesempatan kedua,?" Batin Bram penuh harap.


"Jadi aku harus berusaha untuk mendapatkan, kesempatan itu," batinnya kembali dengan tekat yang sang kuat dan keyakinan besar.


*


*


*


"Daddy," panggilnya lagi sembari mengetuk pintu kamar Boy dan Ruby.


"Daddy. mommy," lirihnya dengan tangisan sendu.


Sementara penghuni kamar baru saja melakukan ritual pasangan suami-istri. mereka terkejut mendengar isakan gadis kecil di luar kamar mereka.


"my princess," gumam Boy, yang segera memakai pakaiannya kembali dan berjalan ke arah pintu.


"Clek"


"Daddy," lirih Bryana dengan wajah sembab oleh air mata.


"My princess," kaget Boy saat melihat wajah sedih putri angkatnya itu.


"apa yang terjadi, sayang." Boy segera mengendong Bryana dan memeluknya dengan sayang.


"Daddy," lirih gadis imut yang ada di gendongan Boy.


"Katakan, sayang," tanya Boy sambil mengusap air mata Bryana.


"Ryana, ... kangen, mommy Amber," sahut Ryana sambil sesenggukan.


"Sayang," bisik Boy menenangkan putri kesayangannya itu dengan penuh kasih sayang.


"Clek" Ruby yang baru keluar dari kamar mandi terloncat kaget, melihat keberadaan Bryana berada di kamar mereka.


"Ada apa, dad,?" tanya Ruby segera mengambil alih Bryana dari gendongan suaminya, tapi gadis kecil itu menolak.

__ADS_1


"Diam, sayang," ucap Boy sambil menepuk punggung putrinya.


"Ryana, mau mommy, Amber." putri imut Amber itu pun menangis dengan raungan kecil.


"shut, diam yah sayang," bujuk Ruby.


"Mau, mommy Amber," lirih Bryana dengan terisak bertahan.


"Diam yah sayang! kau membuat daddy terluka," ujar Boy dengan hati-hati membujuk Brayan sambil mengusap air mata gadis itu dan mengecupi keningnya.


"Sayang, lakukan sesuatu," bisik Boy kepada Ruby.


"sebentar." Ruby pun mendekati ranjang dan mengambil gawaiannya yang ada di atas nakes.


Ruby terlihat mengotak-atik ponsel mahal miliknya.


Ruby menempelkan ponselnya di telinga setelah menemukan nomor yang akan ia hubungi.


"Halo," sapa Ruby saat mendengar suara lembut di seberang sana.


"Amber, ka, ...." ucapan Ruby terhenti di udara ketika anak gadis imut Amber kembali histeris.


"mommy,!" teriak Ryana dengan menangis histeris.


" ...


"Aku, merindukanmu, mom,"


" ...


"Sangat," lirih gadis menggemaskan itu.


" ...


"Mom, serius,?"


" ...


"Hm. aku akan diam dan menunggu,. mommy,"


" ...


" Oke, love mom."


" ...


"Oke bye,"


Ryana menutup panggilannya dengan di ikuti senyuman.


"Besok, mommy, akan kembali dad," seru Bryana dengan wajah yang terlihat senang.


"Benarkah,? sahut Boy dan Ruby.


"Hm. katakan mommy," jawab Bryana, yang wajahnya masih terlihat lelehan air mata dan juga sisa tangisan.


"Kalau begitu, my princess, tidur lagi yah,?! ujar Ruby dan di ikuti anggukkan kepala oleh Boy.


"baik. mom, dad," sahut Bryana patuh.


"My princess, daddy Begitu menggemaskan," ucap Boy sembari menciumi pipi kemerahan Bryana.


"Brak" tiba-tiba pintu kamar Ruby dan Boy terbuka dengan kasar.


"Daddy!! pekik seorang bocah laki-laki yang wajahnya mirip Boy, bagaikan pinang di belah dua.

__ADS_1


Ruby dan Boy serentak menarik nafas mereka.


"Astaga, putraku yang bar-bar," gumam Ruby.


__ADS_2