Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard

Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard
bab 75


__ADS_3

"Ck! Boy berdecak kesal ketika kedatangan tamu yang tak diinginkan, menyusut kedalam Mansionnya.


Daddy Gie itu, menatap tidak suka pada sosok pria tinggi menjulang, yang sedang duduk di kursi kerjanya dengan bersilang kaki.


Boy menghampiri pria tersebut dan, …" pletak" bunyi pukulan keras di belakang kepala pria menawan itu, yang dilakukan oleh Boy.


Boy menarik tangan pria tersebut dan mendorong tubuh kekar tamunya itu ke belakang.


"Cih, sebuah penyambutan tamu yang sangat menyenangkan," sindir pria tersebut, yang mendelik ke arah Boy.


Boy menulikan sindiran pria yang mendegus ke arahnya, ia kini duduk di kursi kerjanya dengan memasang wajah yang sangat sulit di tebak.


"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Boy sambil memicingkan matanya ke arah pria dengan penampilan serba hitam.


"Hey, apa begini caramu menyambutku," jawab pria tersebut.


"Terus, aku harus menyambutmu seperti apa? Kau ingin aku mengarahkan ini?" Boy mengeluarkan senjata api yang ada di laci kerjanya dan mengarahkan kepada pria di depannya.


"Cih! Senjata mu jelek sekali," ujar pria itu lagi.


"Sialan, ini senjata kesayanganku, asal kau tau," jawab Boy geram.


"Kenapa kau belum tidur?" Dengan tidak tahu malunya, tamu Boy itu bertanya kepada sang pemilik mansion.


"Hey, kaparat. Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kau mengganggu malam panas ku," hardik Boy dan melemparkan miniatur mobil ke arah sang tamu.


Pria dengan senyum menawan itu hanya terkekeh, melihat wajah kesal Boy Raymond Cole.


"Dasar penyusut lacknat, tamu yang tak diundang menjengkelkan," degus Boy.


"Sepertinya, aku harus memakai keamanan yang lebih ketat,"


"Cih, percuma"


"Karena aku pasti bisa menerobos keamanan, mansion mu ini."


"Dasar jin lacknat," maki Boy.


Pria itu tidak tersinggung dengan makian Boy, ia malah tertawa lepas hingga wajahnya mendongak keatas.


"Katakan, apa yang sedang kau lakukan disini pangeran Carlos Philips," ujar Boy dengan nada bicara yang penuh penekanan.


Yah Carlos lah, yang menyusut keamanan mansion Boy dan Ruby.


Pria rupawan nan hot itu dengan sangat mudah merusak semua keamanan di mansion Boy.


Bahkan semua cctv di mansion Boy dengan sangat mudah ia rusak dengan bantuan sang asisten jeniusnya.


Carlos tersenyum miring ke arah Boy yang menatap jengah kepadanya.


"Simpan saja ucapan terimakasih mu, aku ikhlas membuat adik bodoh mu menjadi pintar," cibir Boy.


Carlos hanya menanggapi cibiran boy dengan tersenyum menawan.


"Berhentilah, tersenyum seperti itu, kau membuatku merinding!" Celetuk Boy sambil mengusap bahunya seakan sedang merinding.


"Aku, masih normal, sialan,"

__ADS_1


"Jadi, kau ingin berhenti normal?"


"Lupakan. Katakan dimana si kembar," sela Carlos.


"Kembar? Boy membeo.


"Ck! Kedua keponakanku dimana dia?" Tanya Carlos kembali.


"Dari mana ka, …." Perkataan Boy terhenti di udara kala Carlos menyela perkataannya.


"Apa kau lupa siapa aku?" Seru Carlos dengan pongah.


"Cih! Boy berdecih.


"Kenapa, kau mencari anak-anakku?"


"Mereka keponakanku, kalau kau lupa tuan, Boy."


"Mereka anak-anakku, kalau kau lupa tuan, Carlos Philips," balas Boy yang tak mau kalah.


"Di dalam tubuh mereka ada darah ku, tuan Boy," sengit Carlos.


"Asal kau tahu, aku yang membesarkan mereka," jawab Boy yang tetap tidak mau kalah.


"Si kembar bukan anak-anakmu, brengsek,"


"Kau juga bukan orang tua, keduanya,"


"Aku pamannya!"


"Aku daddy angkat mereka,"


"Tapi bukan kau yang mengolah mereka," sarkas Boy yang berhasil membungkam mulut Carlos.


"Cih, ternyata kau kalah dengan adik bodohmu," cibir Boy.


"Diamlah, sialan," umpat Carlos dan melemparkan Boy dengan bantal sofa.


Dengan sigap Boy menangkap bantal tersebut dengan sangat mudah.


"Biarkan, aku bertemu dengan mereka," ucapnya pelan.


"Tidak" tolak Boy.


"Why?"


"Mereka sudah tidur," jawab Boy.


"Aku, hanya ingin melihat mereka," Carlos tetap bersikeras ingin melihat keponakannya.


"Playboy!" Panggil Carlos.


"Jangan, memanggilku seperti itu, bedebah," pekik Boy.


"Izinkan aku bertemu mereka,"


"Langkahi dulu mejaku ini, baru aku akan mengizinkanmu," ujar Boy dengan seringai licik.

__ADS_1


"Brengsek!"


Carlos tidak menghiraukan umpatan Boy, pria itu dengan segera keluar dari ruang kerja Boy, setelah melemparkan bantal sofa ke arah sahabat lamanya.


*


*


*


"Hey, kau," panggil Carlos kepada salah satu pelayan.


Pelayan itu menoleh ke segala arah mencari arah suara.


"Aku di sini, bodoh" geram Carlos.


Pelayan wanita itu pun mendongakkan ke atas, "akhh! Teriaknya.


Teriakkan wanita setengah baya itu mengundang sebagian pelayan yang ada di mansion Boy yang belum tertidur.


"Ada apa, bibi lili,"


"Sial! Umpat Carlos yang segera melarikan diri.


Carlos pun dengan langkah terburu-buru menyusuri Mansion mewah Boy.


Dia ingin mencari keberadaan kamar keponakan kembarnya.


Dengan secara acak, Carlos membuka satu persatu pintu kamar yang ada di lantai dua tersebut.


Setelah memeriksa satu persatu kamar yang ada di lantai dua dan hasilnya nihil atau zonk, kini harapan Carlos tinggal di pintu kamar paling sudut.


Sambil berdoa dalam hati, Carlos menggapai gagang pintu kamar tersebut dan membukanya secara perlahan.


"Clek"


"Akhh"


"Prang"


"Pletak"


"Oh sial"


"Dasar maling mesum!"



Bram



carlos



keenan

__ADS_1



Amber


__ADS_2