
"Sayang, kau tidak apa-apa?" Bram menatap penuh khawatir kepada istrinya dan memindai seluruh tubuh sang istri.
"Hm!" Gumam Amber.
Keempatnya kini sedang bersembunyi di balik dinding, ketika sebuah tembakan mengarah kepada mereka.
"Kalian, cari keberadaan si kembar. Biar kami menghadapi mereka," ujar Carlos.
"Hum, kalian teruslah mencari keberadaan si kembar, kami akan mengalihkan perhatian mereka," timpal Boy.
"Ayo! Ucap Bram sambil menarik tangan istrinya dan berjalan hati-hati untuk menghindari musuh.
"Dor"
"Dor"
Tiba-tiba suara tembakan saling beradu di lain sisi.
Bram tidak menyia-nyiakan kesempatan, ia dan Amber segera memasuki sebuah pintu yang bergeser sendirinya saat Amber menggeser sebuah miniatur yang berbentuk binatang singa.
"Ayo! Ajak Bram.
"Apa senjatamu, aman?" Tanya Bram menyakinkan keamanan sang istri.
"Hm! Amber hanya bisa bergumam lirih, pikirannya kini hanya tertuju kepada anak-anaknya.
"Jangan, khawatir kita pasti bisa menyelamatkan, mereka," bisik Bram.
"Harus," cicit Amber.
Kedua pasangan suami-istri itu, kini berjalan menyusuri lorong sepi dan remang tersebut.
Tangan mereka tidak lepas dari senjata api dan juga senjata tajam.
Mereka berjalan dengan sangat hati-hati. Takut wanita licik itu meletakkan beberapa perangkat bahaya di terowongan pengap ini.
Mereka terus berjalan, hingga netra mereka kini melihat sebuah cahaya.
Amber sangat yakin kalau mereka berada tidak jauh dari persembunyian ratu Rosella.
Saat mereka sudah mendekat, sebuah tepuk tangan menyambut kedatangan keduanya yang diikuti kekehan sinis.
"Wah, wah, wah, lihatlah siapa yang datang?" Sinis ratu Rosella yang hanya menyambut kedatangan pasangan suami-istri di hadapannya.
"Lepaskan, anak-anakku!" Seru Bram dingin dengan gigi yang bergesekan.
"Sabarlah, son. Bagaimana, kalau kita melakukan tawar menawar?" Ujar ratu Rosella.
"APA MAKSUD KAMU!" Hardik Bram.
"Maksud aku, menginginkan nyawa istrimu," sahut ratu Rosella.
"Dasar wanita, licik," geram Bram.
"Kalau aku tidak licik, mana bisa aku sampai seperti ini," sarkas ratu Rosella.
"Contohnya, aku berhasil membuat keluargamu, hancur," imbuh ratu Rosella kepada Bram.
"Bukankah, aku wanita hebat?"
"SIALAN KAU!" Bentak Bram.
"Serahkan istrimu," pinta ratu Rosella.
"Tidak!" Tolak Bram yakin.
"Baiklah, kalau begitu, kau harus kehilangan mereka," ucap ratu Rosella sambil menyuruh anak buahnya untuk membawa kedua anak kembar Bram dan Amber.
"Mommy!" Lirih Bryana lemah.
"Sayang!" Lirih Amber.
"Mommy, sakit," adu Bryan.
Amber yang sudah tidak tahan dengan keadaan kedua anaknya, segera maju menghadapi ratu Rosella.
"Jangan mendekat! Kalau tidak kedua anakmu akan dalam bahaya," ancam ratu Rosella.
Amber tidak menggubris ancaman ratu Rosella, ia tetap maju kedepan dengan aurat pembunuh.
Diam-diam Amber mengeluarkan kedua belatinya dan melemparkannya ke arah kedua anak buah ratu Rosella, sehingga menembus kepala para bawahan ratu Rosella.
Rosella hanya bisa terdiam melihat tindakan Amber yang begitu mengerikan.
"Dor" Bram memberi timah panas di kaki Rosella yang kabur lagi.
"Jlep" Amber melemparkan senjata tajam ke arah Rosella
"Argha" teriakan ratu Rosella saat berusaha kabur.
Belati Amber mendarat tepat mengenai punggung ratu Rosella.
"Yang mulia!" Pekik Martin.
__ADS_1
"Arghh" teriak Rosella, ketika Amber menarik kuat rambutnya dan menghajar wajah Rosella yang sejak tadi tersenyum sombong.
"Lepaskan!" Sentak Martin.
Martin yang ingin menembak Amber terhenti, saat Bram menendang tangan Martin yang sedang memegang senjata.
"Bugh" tanpa banyak tanya, Bram memberikan pukulan di perut Martin dan juga di punggung pria setengah baya itu saat menundukkan tubuhnya.
"Bugh" Martin membanting tubuh Bram kasar dan berniat menginjak perut Bram, namun dengan gesitnya Bram menghindari serangan Martin.
Bram segera bangkit dan memberikan pria bertubuh tinggi kekar itu, tendangan mematikan tepat di ulu hati Martin.
Martin terhuyung kebelakang dan terbatuk-batuk dengan darah segar keluar dari mulutnya.
Beberapa anak buah Martin yang ada di sana, menyerang Bram tapi, sebuah tembakan dari arah belakang menyerang anak buah Martin sehingga anak buah Martin mati tanpa sisa.
Martin yang melihat itu, berusaha bangkit untuk melarikan diri, namun gerakannya dapat di baca oleh Carlos yang baru memasuki ruangan rahasia ratu Rosella.
Tanpa aba-aba Carlos memberikan tembakan tepat di kepala Martin. Sehingga pengawal setia ratu Rosella mati seketika.
Boy segera menyelamatkan si kembar dan membawanya keluar dari ruangan itu, mengendong ke dua anak kembar Amber menuju mobil mereka.
Sikembar sendiri sudah tak sadarkan diri, karena rasa terkejut yang mereka lihat hari ini dan juga kejadian ini adalah mimpi buruk bagi mereka.
~
Sementara Amber masih memberikan ratu Rosella pembalasan setimpal atas apa yang ia lakukan kepada kedua anaknya.
Amber menampar wajah Rosella dan bahkan menghempaskan kepala wanita paruh baya itu ke tembok.
Kondisi ratu licik itu terlihat mengenaskan, dengan cairan merah mengalir dari kepalanya, membasahi wajah wanita itu.
Amber menyeret ratu Rosella ke arah sebuah lubang yang mana di bawahnya terdapat beberapa ekor buaya.
"Lepaskan!" Lirih ratu Rosella yang masih memperlihatkan wajah sombongnya.
"Sabarlah, aku pasti akan melepaskan mu," bisik Amber.
"Melepaskan mu dan menjadi santapan buaya peliharaan mu sendiri," kembali Amber berbisik sambil menekan kepala Rosella kedalam lubang tersebut.
Tampak terlihat ketakutan di raut wajah Rosella saat melihat ke bawah, para buaya berlomba-lomba untuk menangkap makan siang mereka.
"Lepaskan!" Bentak ratu Rosella.
"Ini balasan seorang ibu, atas apa yang kau lakukan kepada kedua anakku," ujar Amber datar.
"Aku, juga ingin membalas kematian anakku!" Teriak Rosella di wajah merah padam.
"Itu karena kesalahanmu sendiri, Karena obsesi dan serakah mu, anak tersayang mu menjadi korban."
"Tapi jangan khawatir, aku akan mengirimmu menyusul putramu itu."
"Aku akan membunuhmu wanita, sialan!"teriak Rosella.
"Maka aku akan membunuhmu lebih dulu,"
"Lepaskan!" Pinta Rosella, ketika Amber bersiap untuk melemparkan tubuh Rosella kedalam lubang buaya itu.
"Selamat tinggal, ratu Rosella terhormat," bisik Amber yang bersiap mendorong Rosella.
"Tunggu!"
Teriakkan seorang pria di kursi roda dan seorang gadis di belakangnya, mengurungkan niat Amber.
"Ken?" Lirih Amber.
Bram da Carlos secara refleks mengeluarkan senjata api mereka, saat kedatangan Ken tiba-tiba bersama beberapa anak buahnya.
"Lepaskan dia!" Ujar Ken.
Amber menatap Rosella dan Ken bergantian dengan dahi mengerut.
"Apa maksud kamu, sialan!" Pekik Bram tidak terima.
"Mber, lepaskan!" Tanpa mengindahkan pekikan Bram, Ken memohon kepada Amber.
"Dia mempunyai utang nyawa kepadaku," lirih Ken dingin dengan tatapan menajam ke arah bibinya Rosella.
Kell yang berdiri di belakang kakak nya begitu benci melihat wajah sang bibi.
Tanpa banyak berkata-kata, Kell maju kedepan di mana Rosella masih berada di kuncian tangan Amber.
Kell mengeluarkan sebuah benda tajam yang ia bawa dari tempat sang kakak.
Melihat tatapan benci Kell yang di tujukan kepada Rosella, Amber mendorong tubuh lemah itu ke arah Kell.
"Aku percaya kepada mu," ucap Amber dingin.
"Hm! Jangan khawatir, aku Hanay ingin mengabulkan sumpah kami kepada mendiang orangtua kami," sahut Ken.
Tanpa tidak acuh, Amber menjauh dari sana, dan keluar di ikuti oleh Bram pun Carlos.
"Kau yakin melepaskannya kepada, pria itu?" Bram bertanya kepada istrinya.
__ADS_1
"Hm!
"Really?"
"Dia memiliki sumpah dan utang nyawa kepada wanita itu, jadi kenapa tidak!" Ujar Amber cuek.
Ketiganya melangkah keluar dari ruangan rahasia Rosella.
Markas Rosella kini sudah tampak lautan darah, dari hasil bertarung antar dua kubu.
"Patrick bereskan ini semua, bakar tempat ini!" Perintah Carlos.
"Baik tuan," sahut Patrick.
Kalau Bram dan Amber berjalan ke arah mobil yang terparkir di luar bangunan, maka lain halnya Carlos yang melangkah ke suatu kamar di sana.
~
"Halo bibi rose!" Sapa Kell.
Rosella menatap dengan mata yang sudah mulai mengabur.
"Siapa kalian?"
"Oh ayolah, bibi melupakan kami? Melupakan keponakan bibi, yang di jual dan di pisahkan oleh kedua orang tuanya?" Bisik Kell dengan benda tajam yang ada di tangannya menari-nari di kulit wajah Rosella.
"K — kalian?" Ucap Rosella terbata.
"Yap kami," jawab Kell.
"T – tolong bibi, nak," mohon Rosella gugup.
"Tolong?" Sinis Kell.
"Selamatkan bibi, nak. Bibi berjanji akan memberikan apa yang kau mau," tawar ratu Rosella.
Kell tersenyum remeh dan dia berpikir sejenak, kemudian tertawa.
"Aku tidak menginginkan, apa-apa bi. Aku hanya menginginkan nyawamu," sarkas Kell di telinga Rosella.
"Kau tahu, karena perbuatanmu aku harus menjadi budak nafsu pengawal mu selama bertahun-tahun, dan karena mu aku harus hidup menderita, terpisah dari keluarga ku. Tapi, … tenang saja, kali ini aku akan memisahkan nyawa bibi dari raga mu bi," pungkas Kell dingin.
"T – tidak nak. Lepaskan bibi, aku akan memberikan semua yang kau mau," ujar Rosella, mencoba menawarkan sesuatu menggiurkan kepada Kell.
"Aku hanya menginginkan, nya.wa.mu," tekan Kell di akhir kalimatnya.
"Habisi dia segera, Kell!" Seru Ken tepat di belakang adiknya dan Rosella.
"Ken, lepaskan aku!" Teriak Rosella.
"Beri di dua tusukan di dadanya, seperti dia melakukan kepada, mommy dan daddy," pinta Ken dingin.
Jangan lupa tatapannya yang begitu mengerikan ia berikan kepada Rosella, saat mengingat kematian mommynya dan sang daddy yang begitu tragis.
"Jlep"
"Jlep"
Seperti yang di perintahkan sang kakak, Kell melukai ratu Rosella tepat di jantung wanita itu sebanyak dua kali.
Tidak sampai di situ saja, Kell bahkn melampiaskan dendamnya dan amarahnya yang selama ini ia pendam, dengan menusuk perut Rosella berkali-kali, hingga ratu Rosella mati dalam keadaan yang begitu mengerikan.
"AKU MEMBENCIMU, AKHH, AKU SANGAT MEMBENCI WANITA SIALAN!"
Kell berteriak sambil menusuk-nusuk area perut Rosella yang kini sudah mati dengan bola mata terbuka dan mulut menganga.
"Akh" teriak Kell histeris.
"Mommy, lihatlah. Aku berhasil menghabisi wanita sialan ini," teriak Kell kembali.
Ken masih terdiam dengan tatapan kosong ke arah mayat Rosella.
Wajah dan tatapannya sangat sulit di artikan, saat melihat kekejaman Kell menghabisi nyawa Rosella.
"Keisha?"
Tiba-tiba ia tersentak kaget, ketika mengingat adik kembarnya yang satu lagi.
Kell menghentikan teriakannya, saat mendengar lirihan sang kakak.
"Kakak, lihatlah. Kita berhasil menghabisi wanita ini," sela Kell mencoba mengalihkan perhatian Ken.
"Iya, kita berhasil menghabisi nyawa wanita ini dan menjalankan sumpah kita, kepada mommy dan daddy," jawab Ken.
"Ayo!" Ajak Ken.
"Sebentar kak," sela Kell.
Kell pun menyeret mayat Rosell yang begitu mengerikan ke arah lubang buaya.
Dengan susah payah, Kell mendorong tubuh mengenaskan Rosella kedalam lubang buaya itu sehingga mayat Rosella menjadi rebutan para buaya peliharaannya sendiri.
"Selamat tinggal, bibi!" Gumam Kell.
__ADS_1