
Bram terlihat mendengus kasar ketika keluar dari ruangan ganti, Camelia masih berada di dalam kamar. Wanita itu sedang menunggu suaminya sambil membaca majalah bisnis harian. Camelia sendiri adalah Putri dari kerabat jauh ibu ratu dan merupakan anak dari perdana menteri cukup berpengaruh di kota mereka. Oleh sebab itu ibu ratu bersikeras menikahkan, Bram dan Camelia untuk memperkuat posisinya, ia bisa mendapatkan dukungan dari besannya suatu hari.
"Maaf, aku hanya tidak ingin ibu ratu menyadari hubungan tidak sehat kita. Bukankah kita harus tetap terlihat akur di depan semua orang? Jadi izinkan aku berjalan di sampingmu dan menggandeng lengan mu." Pungkas Camelia dengan binar harapan.
Bram tidak tertarik menimpali perkataan Camelia. Ia melengos begitu saja keluar dari kamar tanpa menghiraukan Camelia yang menatapnya kecewa.
Camelia terlihat menarik nafas dan menyusul Bram yang akan melakukan kebiasaan di dalam istana yaitu sarapan bersama. Dengan ragu-ragu Camelia menyelipkan tangan mungilnya di lengan Bram. Sontak Bram menatapnya tajam, tapi Camelia tidak menghiraukan tatapan tajam Bram. Ia hanya sibuk membalas sapaan para pelayan. Bram hanya bisa menggertakkan giginya, apakah cara ia berjalan harus diatur juga? Ingin rasanya Bram menghancurkan tempat ini dan menghabisi semua orang-orang yang sudah membuatnya menderita.
"Kalian sudah tiba.?" Sapaan dengan nada lembut dan bijaksana menyapa dengan nada sindiran itu berasal dari keluarga kerajaan lainnya.
"Kalian sungguh tidak sopan menyuruh kami menunggu." Cibir seorang wanita yang seumur sang ratu.
"Maaf." Sahut Camelia.
Sementara Bram hanya terdiam dengan wajah datar. Ia bahkan tidak memberi salam pada ibu ratu dan lainnya. Sikap selalu mendapatkan cibiran dan tatapan sinis dari keluarga kerajaan lainnya.
Bram menggeser kursi makan untuk Camelia dan berpura-pura bersikap manis pada wanita yang ia benci.
"Terimakasih.! Ucap Camelia yang ingin mengecup telapak tangan Bram. tapi dengan segera Bram menghindar yang langsung duduk di kursi dekat ibu ratu.
Camelia pun merasa kecewa dengan penolakan Bram. Ia hanya bisa menampilkan senyum kikuknya pada semua orang.
__ADS_1
Semua orang hanya mencibir dan mulai menyantap menu sarapan yang sudah tersaji di atas meja makan yang memanjang itu.
"Bagaimana, dengan kehamilan mu, nak.?" Ratu Rosella menghilangkan kesucian di meja makan saat semua orang selesai dengan sarapan mereka.
"Keadaannya sangat baik yang, mulia." Jawab Camelia sopan.
"Hum,"
"Berapa usianya sekarang.?"
"Deg! Tiba-tiba wajah Camelia berubah pias dan dadanya tiba-tiba berdegup kencang.
"8 Minggu yang, mulia." Balas Camelia gugup dan dia melirik sosok, pria tampan yang duduk di depan Bram.
"Hm! Aku berharap dia seorang putra." Sela ratu Rosella dengan wajah penuh harapan.
"Semoga, ibu ratu." Sahut Camelia.
Sementara Bram tidak sedikitpun tertarik memasuki pembicaraan dua wanita yang ia benci.
Bram membeku saat mendengar pembawa berita di dalam layar televisi berukuran sangat besar itu di tengah ruangan makan.
__ADS_1
Segera saja Bram mengalihkan tatapannya ke arah benda persegi itu. Netranya membola dan ia makin terkesiap, saat melihat nama-nama korban pembantaian yang terjadi kepada salah satu pengusaha di kota Chicago.
Tanpa menghiraukan orang-orang yang ada ruangan makan tersebut. Bram berdiri dan segera berlari keluar, meninggalkan semua orang yang ada di meja makan dengan wajah bingung mereka. Camelia hanya bisa mengikuti suaminya dengan langkah terburu-buru.
Sementara ratu Rosella, bergeming di tempatnya saat mendengar nama klen mafia sang pembantai.
"Carlos!!! Monolog sang ratu dan ia seperti sedang menerawang tajam kearah depan.
"Brakk!
"Jalan! Perintah Bram kepada pengawal setianya. Bram tak sedikitpun memperdulikan istrinya yang berteriak dan mengejar nya.
"Apa kau sudah menemukannya.?" Tanya Bram pada pengawal pribadinya itu yang bernama Leon.
"Belum, pangeran."
"Semua data-data dan identitas nona, Amber di hapus, yang mulia."
"Akhh! Aku tidak mau tahu, kau harus mendapatkan kabar dari kekasih ku."
"Baik yang mulia."
__ADS_1
"Sayang. Aku memohon dan berharap kau baik-baik saja." Gumam Bram.