
"Pangeran." Ratu Rosella menghentikan langkah pangeran Carlos, saat pria dengan tubuh tinggi menjulang berjalan ke arah kamarnya.
"Ada apa," sahut pangeran Carlos dengan wajah datar.
Tanpa menjawab pertanyaan pangeran Carlos, ratu Rosella membalikkan badannya dan berjalan ke arah perpustakaan pribadi miliknya.
Dengan enggan pangeran Carlos mengikuti sang ibu menuju perpustakaan yang ada di ujung lain tiga istana megah ratu Rosella.
*
*
*
"Katakan." Tanpa basa-basi pangeran Carlos meminta kepada ratu Rosella maksud wanita itu mengajak dirinya ke sini.
"Duduklah dulu, son," pinta ratu Rosella.
"Aku tidak ingin menghabiskan waktu ku hanya untuk mendengarkan perkataanmu yang tidak masuk akal, jadi katakan apa yang ingin ibu sampaikan padaku," pungkas Carlos dengan raut wajah datar.
"Pangeran Carlos, jaga ucapan anda," sentak pengawal pribadi sang ratu.
"Cih. Kau masih saja setia pada wanita tua ini," sinis Carlos dengan tatapan mencemooh ke arah pria setengah baya yang setia berdiri di belakang ratu Rosella.
"Pangeran, …." Ucapan pria itu terhenti di udara saat melihat tangan ratu Rosella terangkat ke atas.
"Keluarlah," perintah ratu Rosella dingin.
"Tap, …."
Pria setengah baya itu pun terpaksa keluar saat melihat tatapan tajam sang ratu.
"Cih! Carlos berdecih sinis ke arah pria itu.
"Son!"
"Hm. Katakan," ujar Carlos yang berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah rak buku yang berjejer rapi.
"Jauhi wanita itu,!" Ucap ratu Rosella.
Carlos yang sedang merotasi pandangannya di setiap sudut perpustakaan ratu Rosella, kini pandangannya menatap ke arah sang ibu dengan tajam.
"Apa yang kau maksud," balas Carlos dengan raut wajah yang kini berubah mengerikan.
"Ibu ingin kau menjauhi wanita itu," ujar ratu Rosella dengan wajah tenang.
"Kenapa,?" Tanya Carlos dengan alisnya yang menukik tajam.
"Dia hanya seorang wanita biasa dan kau seorang pewaris tahta," pungkas ratu Rosella.
"Aku tidak peduli dengan tahta, pun aku tidak pernah menginginkan ini semua, jadi jangan pernah memerintahkan ku. Aku punya jalan hidupku sendiri dan aku hanya ingin mengatur diri ku sendiri. Jangan pernah mengharap aku akan menjadi boneka mu, ratu Rosella terhormat," sarkas Carlos, yang membuat ratu Rosella geram.
"Pangeran Carlos,!" Hardik ratu Rosella.
"Jauhi wanita itu atau tid, …." Ucapan ancaman ratu Rosella terhenti ketika Carlos balik membentak dan mengancam ratu Rosella.
"Jangan pernah menyentuhnya," bentak Carlos dengan wajah yang sudah terlihat merah darah.
"Aku bersumpah akan menghancurkanmu jika kau melukai wanitaku walaupun hanya seujung kuku saja. Ingat itu ratu Rosella, aku akan menghancurkanmu," ujar Carlos yang terlihat begitu marah atas nada ancaman ratu Rosella.
Carlos sendiri sangat mengenali ibunya itu yang memiliki kelicikan untuk melenyapkan orang-orang yang menghalangi jalannya.
__ADS_1
"Semoga kau tidak berbuat sesuatu kepada wanitaku, yang pada akhirnya akan membuatmu hancur," ucap Carlos pelan yang ucapannya tersirat sebuah ancaman.
Tanpa memperdulikan berubah wajah ratu Rosella, Carlos keluar dari perpustakaan mewah itu.
Carlos tidak ingin berlama-lama berada di dekat ibunya yang hanya akan menyulut emosinya saja.
Carlos melangkah ke arah taman belakang di mana dia melihat Amber berjalan menuju taman belakang.
Dari arah yang berlawanan Bram juga melangkah untuk ke taman belakang.
Bram ingin mencoba mendekati Amber kembali dan meyakinkan wanitanya itu agar memberikannya ke sempat kedua.
Bram ingin menjelaskan kepada Amber kalau dia terpaksa menikahi putri Camelia.
Dengan keyakinan penuh, Bram berjalan dengan dada yang berdebar kencang.
Siapa sangka wanita yang menjadi tersangka dari kegalauan dari kedua pangeran tampan yang berjalan ke arahnya dengan saling berselisih arah.
Posisi Amber Sekarang berada di tengah para pria tampan yang begitu menggilai seorang Amber wanita biasa.
Bram dan Carlos menerbitkan senyum mereka masing-masing di saat netra keduanya melihat Amber berjalan sambil menunduk.
Bram melangkahkan kakinya dengan cepat, pun dengan Carlos.
Sedangkan Amber tidak mengetahui keberadaan kedua pangeran tampan itu.
Disaat jarak mereka dengan Amber sudah dekat, kedua pangeran itu bersamaan menghentikan langkah mereka.
Ketika sosok pria manis menghentikan langkah Amber.
"Hay," sapanya pada Amber dengan senyuman yang begitu menawan.
"Pangeran Mateo," kejut Amber yang tiba-tiba menghentikan derap langkahnya.
"Kau tidak perlu terlalu formal padaku," ujar pangeran Mateo.
"Maaf saya tidak bisa," jawab Amber.
"Tapi, aku ingin menjadi temanmu, apa bisa.?" Dengan wajah memelas pangeran Mateo mencoba mendekati Amber.
"Saya menolak pangeran," balas Amber.
"Kenapa,?"
"Karena anda seorang pangeran dan aku hanya pelayan."
"Aku tidak peduli,"
"Tapi aku peduli."
"Kenapa?"
"Apa pangeran mau, aku menjadi bahan gosip para pelayan disini,?"
"Mereka menceritakan hal buruk tentangmu,?"
"Begitulah,"
"Biar aku yang bicara padanya,!"
"Tidak perlu pangeran,"
__ADS_1
"Aku, bisa melawan mereka,"
"Mau ikut denganku,?"
"Kemana,?"
"Ikut saja,?"
Pangeran Mateo lantas menarik tangan Amber lembut dan membawanya menaiki tangga.
Amber hanya bisa tersaruk-saruk mengikuti langkah panjang pangeran Mateo.
Sementara kedua pangeran lainnya begitu geram atas kelancangan pangeran Mateo membawa Amber.
Tidak ingin telapak tangan Amber disentuh oleh pria lain. Bram dan Carlos berlari menaiki tangga megah yang ada di istana ratu Rosella.
*
*
*
"Apakah stok wanita di negara ini Sudah habis, sehingga mereka bertiga merebutkan hati wanita rendahan itu. cih, sungguh memalukan." seorang wanita muda berdecak kesal ketika melihat ketiga pria tampan di istana ini merebutkan perhatian seorang wanita rendahan.
"Bagaimana kalau kita beri, wanita itu pelajaran," usul seorang gadis yang paling tua diantara ketiganya.
"kakak, sudah mencobanya dan hasilnya gagal," sahut Camelia. matanya menerawang tajam ke arah suaminya yang mengikuti langkah pangeran Mateo dan Amber.
"benarkah,?"
Camelia mengangkuk mengiyakan pertanyaan seorang wanita cantik yang di kenal putri paling muda di istana ratu Rosella.
"seharusnya, kita bermain cantik. kita buat dia terjebak dalam permainan kita dan setelah itu kita bikin dia malu seumur hidup." usul wanita cantik dengan dandanan sederhana.
"caranya," sahut Camelia yang tertarik dengan ucapan putri Agatha.
"kita buat dia menjadi jaalang," ujar putri Agatha dengan seringai licik.
"jaalang." Camelia membeo.
"Hm. kita jebak dia agar membuatnya malu dan para pangeran jijik dengan wanita rendahan itu." putri Karen m nimpali dengan senyum aneh.
"Baiklah, kita akan menjebaknya nanti malam,"
"oke, setuju," sahut kedua tuan putri itu.
"Kali ini kau akan hancur wanita murahan," batin putri Camelia sambil bertos ria dengan kedua putri dari keluarga ratu Rosella.
*
*
*
"Apa kau sudah mendapatkan informasi tentang wanita itu, Alex.?" ratu Rosella yang kini berada di ruangan rahasia miliknya dengan keadaan yang begitu frustasi.
"belum mulai ratu," sahut pengawal setia ratu Rosella dengan menundukkan kepalanya.
"Apakah kemampuan kalah oleh wanita sialan itu," bentak ratu Rosella geram.
"Maafkan hamba ratu," mohon pengawal Alex.
__ADS_1
"Aku ingin besok pagi informasi tentang wanita jelata itu sudah berada di hadapanku,"
"b-baik yang mulia, ratu."