Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard

Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard
bab 94


__ADS_3

Keempatnya kini sudah mendarat di landasan pesawat pribadi milik Boy.


Sementara Ken sudah terlebih dahulu di antar ke rumah sakit oleh Patrick dan juga Jastin.


Bram masih belum sadar, jadi terpaksa pria itu di bopong oleh Boy dan juga Carlos.


Boy sendiri sejak tadi bersungut-sungut kesal saat mengangkat tubuh tinggi Bram.


Yang ternyata bobot tubuh pria itu sangatlah berat.


Sedangkan Amber mengikuti langkah kedua pria yang berjalan di depannya dengan menuntut tubuh Bram.


"Kenapa, si brengsek ini berat sekali," gerutu Boy, yang berada di sisi kiri tubuh Bram.


"Apa karena dia kebanyakan, dosa? Atau dia kebanyakan menampung benihnya yang tak tersalurkan," seloroh pria itu dengan bersungut-sungut.


"Aku, akan membuatmu menyesal. Karena sudah membuatku kesusahan!" Celetuk suami Ruby.


"Karenanya, aku harus cuti semalam untuk mencari lubang yang tepat milik istriku," ketus pria itu lagi dengan terus bersungut-sungut kesal.


Namun tetap saja membantu sahabatnya, hingga sahabatnya itu berbaring dengan aman dan nyaman.


"Dasar bedebah! Aku kelelahan karenanya," pekik Boy yang berkacak pinggang di depan ranjang.


"Berisik!" Sela Carlos.


"Urus adik bodohmu, aku ingin istirahat," ujar Boy.


"Keluarlah!" Usir Carlos santai.


"Hey, balok kayu," Pekik Boy.


"Apa kamu lupa ini, rumah siapa!? Sambungnya lagi.


"Sepertinya iya," jawab Carlos sekenanya.


"Asal, kau tahu, kalau mansion ini adalah istanaku, bersama anak-anakku dan juga istri cantikku." Dengan nada pongah Boy mengingatkan kepada Carlos untuk menjaga sikapnya.


Carlos hanya terdiam mendengar perkataan ketus Boy, yang sudah mengetahui watak gesrek sahabatnya itu.


"Ingat! Jaga sikapmu," pesan Boy, sebelum benar-benar hilang dari pandangan Carlos dan Amber yang kini ikut berbaring di samping Bram.


Carlos menatap kepada pasangan kekasih yang terbaring di ranjang.


Dengan Amber yang memeluk erat tubuh kekar Bram.


Sudut bibir Carlos terangkat sedikit ke atas saat memindai wajah lelah Amber.


Jujur ia sempat tidak terima antara hubungan Bram sang adik dengan wanita yang menjadi cinta pertamanya.


Namun Carlos tidak ingin egois yang akan membuat sang adik dan juga Amber terluka.


Apalagi ada si kembar yang menjadi keponakannya sekarang, yang masih membutuhkan sosok kedua orang tua.


Carlos menarik nafas panjangnya dan menghembuskannya kasar.


Carlos berdiri dari duduknya di sofa yang ada di sana.


Ia akan menemui si kembar di kamarnya, yang mungkin sudah tertidur.


Carlos berjalan ke arah ranjang dan menyelimuti sepasang kekasih itu yang terlelap nyaman di atas ranjang king size.


Pria itu mengusap pelan rambut dan wajah Amber.


Sekarang tatapan pria itu tertuju pada sang adik, dia mengacak pelan rambut adiknya, penuh kasih sayang.


~

__ADS_1


Carlos berjalan ke arah dapur yang sudah gelap tanpa satu peng cahaya pun.


Carlos berjalan pelan menuju sudut dapur, di mana kulkas dengan berukuran besar berada di sana.


Carlos ingin mencari minuman dingin yang akan membasahi tenggorokannya yang terasa kering.


pria itu semakin mendekat ke arah dalam dapur dengan langkah pelan.


dengan tatapan tertuju pada ponselnya yang terus bergetar.


tanpa diketahui, sosok tubuh mungil kini berada di balik kulkas, dengan sebuah kaleng minuman bersoda berada di tangannya.


dan sebelah tangannya memegang ponsel.


pandangan gadis itu tertuju pada ponsel pintarnya.


tanpa ia sangka seorang pria tampan berjalan ke arah kulkas di mana ia sekarang bersembunyi di samping benda pendingin itu.


Carlos yang sudah berada di depan kulkas dan membuka pintu kulkas itu, yang tatapannya masih ditujukan pada ponsel pintarnya.


Carlos membuka pintu kulkas dengan sedikit kasar, membuat sosok gadis mungil di samping pintu kulkas menjerit kesakitan.


"Akh!" jerit Kitty.


yang membuat Carlos terloncat kaget, sehingga ponsel miliknya terlepas dari tangannya dan terjatuh.


"shut" ringis lembut dari balik pintu kulkas.


Carlos menutup pintu kulkas tersebut dan menegok ke samping.


"akhhk!"


"akhhk!"


keduanya pun terpekik secara bersamaan. Kitty bahkan melemparkan ponselnya ke wajah Carlos, yang mana mengenai hidung pria tampan itu.


"Apa yang kau lakukan, si Kitty, hello Kitty!" geram Carlos yang mengusap hidungnya yang lecet.


"Maaf, aku tidak sengaja," cicit Kitty sambil tertunduk.


"Apa! maaf katamu? lihat hidung indahku terluka!" bentak Carlos.


Kitty maju sedikit kedepan Carlos yang berdiri menjulang di depannya.


kelopak mata bulatnya memindai wajah tampan Carlos dengan tatapan lekat.


"Apa ini asli?" tanya Kitty dengan lancangnya menarik hidung carlos.


"Akhh! apa yang kau lakukan, hello Kitty!" pekik Carlos yang makin kesakitan.


"Aku hanya mengayakinkan, kalau hidung anda, ini asli," seloroh Kitty dengan polosnya.


sambil menyentuh hidung mancung Carlos dan mengamatinya lekat.


"Oh Tuhan. ini asli, karena hutan rimbun dalam hidung anda tumbuh sangat subur," celetuk Kitty lagi, kali ini dengan nada riang.


mendengar celotehan absurd Kitty membuat mata Carlos terbelalak.


bisa-bisanya gadis mungil di depannya ini menghinanya. dan melecehkan bagian wajahnya.


"hey," Pekik Carlos dengan kedua tangannya kini berada di pinggangnya.


"berani-beraninya, kau melukaiku dan sekarang kau lancang menghinaku! apa kau tahu aku siapa?" Carlos dibuat emosi dengan si Kitty di depannya.


dengan menundukkan sedikit tatapannya ke bawah, Carlos menatap Kitty tajam.


dengan polosnya, Kitty menggelengkan kepalanya. " aku tidak mengenal anda," sahut Kitty.

__ADS_1


"Maaf, bisa anda menjaga jarak dari saya!" pinta Kitty.


"why?" tanya Carlos.


"Karena, mulut anda mengeluarkan hujan lokal," sahut Kitty yang memundurkan kepalanya.


Carlos masih mengernyit bingung, dengan tatapan terus tertuju pada Kitty. Hidungnya pun terlihat kembang kempis ketika Kitty menjauhkan wajahnya.


Dengan konyolnya, pria itu meletakkan telapak tangannya di depan mulut dan menghembuskan nafasnya di telapak tangannya.


Setelah itu, Carlos terlihat mencium telapak tangannya. " Tidak bau?" Batin pria itu yang kembali melihat gadis mungil di depannya.


"Air Saliva anda, menyembur ke wajahku," sela Kitty,


"untung, baunya segar dan ada wangi-wangi mint gitu," seloroh Kitty lagi.


Kitty mendongak dan memajukan wajahnya ke wajah Carlos. Memindai wajah tampan Carlos dengan jarak sangat dekat.


Carlos sendiri hanya bisa terdiam, terpaku dengan apa yang dilakukan oleh gadis mungil ini.


Tatapan Carlos pun menelusuri setiap jengkal wajah imut Kitty dan kini tatapannya tertuju pada bibir ranum nan mungil milik gadis bar-bar di depannya.


Kitty memiringkan kepalanya untuk memindai wajah Carlos, gadis itu seakan mencari sesuatu di balik wajah sempurna Carlos.


Tanpa rasa sungkan Kitty berjinjit dan lebih mendekatkan wajahnya kepada Carlos, sehingga wajah mereka kini kehilangan jarak.


Hidung mancung keduanya pun saling bersentuhan.


Dengan percaya dirinya, Kitty membawa jari-jarinya ke arah kelopak mata Carlos dan memaksanya terbuka lebar.


"Apa ini asli?" Tanyanya dalam hati.


"Wajahnya, juga original, tanpa ada bahan plastik atau bahan pemutih," monolog gadis itu dengan bibir mungilnya yang bergerak lucu.


Carlos hanya bisa mematung di tempatnya dengan nafas yang terasa sesak, ia bahkan harus menahan nafas, ketika bibir keduanya hampir bertabrakan dan saat nafas hangat Kitty menyapu wajahnya.


Dan kini ia dibuat uring-uringan dengan tingkah Kitty dan juga bibir mungil gadis itu.


Dadanya tiba-tiba bergemuruh dan di bawah sana mulai mengembang sedikit demi sedikit.


"sial!" umpat Carlos lagi.


Carlos lalu menjauhkan wajah imut Kitty, dengan menggunakan telunjuknya.


Percayalah ini adalah hal baru yang ia rasakan. Rasa gugup dan panik.


Sejujurnya dia tidak pernah sedekat ini dengan seorang wanita.


Karena Carlos sangat menjaga dirinya dan yang namanya wanita.


Hanya Amber yang bisa berdekatan dengannya dan menyentuhnya dan sekarang gadis ini begitu lancang mengobrak-abrik wajah tampannya.


"hey, Kitty. kau sudah berani menghinaku dan sekarang kau akan aku beri hukum," ancam Carlos.


"Anda siapa? berani menghukum ku? dan juga ini bukan salahku, ini salah anda yang membuatku terkejut," pungkas Kitty.


"Ini salahmu, gadis kecil!" bentak Carlos yang kembali mendekatkan wajahnya ke wajah imut Kitty.


"Jangan dekat-dekat, tuan. Nanti aku bisa khilaf!"


"Apa katamu?!"


"Cup"


"Kitty, ... hello Kitty!!!


"Kan, ... aku khilaf."

__ADS_1



__ADS_2