
Amber terlihat berjalan dengan setengah berlari ke arah lift yang akan mengantarkannya ke lantai tiga, dimana si kembar menunggu dirinya.
Dengan tidak sabaran Amber berulang kali menekan tombol lift agar segera terbuka.
Rasa rindu yang begitu menggebu-gebu kepada kedua anak kembarnya, membuat stok kesabarannya menipis.
"Ayolah," gumam Amber dengan raut wajah yang terlihat bahagia.
"Sabarlah, sweety," seru Ken yang menghentikan tangan Amber yang berada di tombol lift.
"Apa, lift nya rusak," cicit Amber pelan, seakan bertanya pada dirinya sendiri.
"Tidak. Tapi kau yang tidak sabaran, sweety," sahut Ken diikuti oleh kekehan lirih.
"Aku, hanya merindukan si kembar. Dan kau tidak merasakan bagaimana rasanya merindukan seseorang yang sangat berarti dalam hidup kita," pungkas Amber tanpa sadar perkataannya membuat Ken tersenyum sinis.
"Perasaan itu yang sekarang aku rasakan, sweety," lirih Ken.
Amber yang baru menyadari ucapannya terdiam dengan perasaan serba salah.
Amber pun hanya bisa tersenyum kikuk kepada Ken.
"Maaf," cicitnya.
Ken membelai rambut Amber lembut dan tersenyum hangat kepada wanita yang amat ia inginkan.
"Ting"
Pintu lift itupun akhirnya terbuka. Amber masuk dan diikuti oleh Ken di belakangnya.
Hanya ada kesunyian di dalam lift tersebut, suasana tiba-tiba terasa canggung.
Keduanya hanya saling terdiam dengan pikiran mereka masing-masing.
*
*
*
__ADS_1
"Apa ini sakit, little girl,?" Tanya Bram kepada gadis imut yang menatap dirinya dalam diam.
Bram menyentuh kening Bryana yang dihiasi poni yang menambah kesan menggemaskan gadis kecil itu.
Bram kembali menatap lekat wajah Bryana. Memindai seluruh sisi wajah imut Bryana. Bram sangat yakin kalau gadis di hadapannya begitu mirip dengan sang wanita yang masih mengisi hatinya.
"Bryan," Lirih Bryana, yang membuat kening Bram mengkerut.
"Bryan,?" Ucap Bram bingung.
Bryana mengangguk dengan wajah yang sangat imut dan lucu. Bram tanpa sadar tersenyum dan mengecup kening gadis imut di depannya.
"Kau gadis kecil menggemaskan," ucap Bram.
"Paman sangat mir, …." Ungkapan Bryana terhenti saat suara berat memanggilnya.
"My princess," panggil Boy yang belum menyadari sang putri bertemu dengan siapa.
Bram dan Bryana menoleh bersamaan ke arah suara tersebut.
Dan lagi-lagi Bram tertegun dan bergeming di tempatnya, saat melihat keberadaan sahabat lamanya sedang memanggil gadis kecil di depannya.
Bram menahan nafasnya sesaat ketika mendengar sahutan gadis mungil yang berada di hadapannya.
"Daddy,?" Bram membeo dengan perasaan yang ia sendiri bingung.
Boy tak jauh bedanya dengan Bram yang ikut terkejut dengan kehadiran sahabat lacknat nya itu.
Dan lebih membuat Boy kelabakan adalah pertemuan Bram dan juga putri biologis nya.
Boy hanya bisa berdoa, agar sang istri tidak menyusulnya kemari dengan Bryan.
Boy merotasi pandangannya ke setiap sudut lantai tiga yang menjadi tempat berlangsungnya acara pesta pelelangan.
Netra Boy berhenti di sebuah tembok penghalang lift dan tangga darurat. Boy dapat melihat wajah memohon Amber yang memintanya untuk membawa Bryana dari sana.
Boy mengangguk pelan dengan tatapan memohon Amber yang sedang bersembunyi bersama Ken.
"Ehem"
__ADS_1
Boy berdehem menghilangkan rasa gugup yang tiba-tiba muncul dalam dirinya.
Boy mengulurkan tangannya, meminta Bryana ikut dengannya.
"Ayo sayang,!" Ajak Boy. Tanpa memperdulikan kehadiran sahabat lamanya itu.
"Apa dia anakmu,?" Tanya Bram sembari mencekal pergelangan tangan mungil Bryana.
Boy menyoroti Bram dengan tatapan dingin nan tajam.
"Apa kau tuli? Dia memanggilku, daddy," sahut Boy dengan ucapan terakhir dengan intonasi penuh tekanan.
"Dia, tidak memiliki kemiripan dengan kalian? Dia lebih mirip dengan, …." Ucapan Bram terpaksa berhenti di udara ketika, Boy menarik lembut putri angkatnya yang begitu ia sayangi.
"Ayo, princess kita pergi," ajak Boy lembut lantas menggendong tubuh mungil Bryana.
Bram hanya bisa bergeming di tempatnya dengan tatapan yang sangat sulit diartikan kepada sosok mungil Bryana yang juga menatapnya lekat, hingga akhirnya Boy menghilangkan dari hadapannya dengan sosok mungil itu.
"Aku, sangat yakin dia sangat mirip denganmu, sayang," gumam Bram pelan.
*
*
*
Amber yang bersembunyi di balik tembok hanya bisa menghembuskan nafas leganya.
Wanita itu begitu takut akan pertemuan putrinya dengan sang ayah biologis.
Amber tidak bisa membayangkan akan kesadaran Bram mengenai keberadaan anak-anaknya.
Dia takut Bram akan merebut kedua buah hatinya yang sangat berarti dalam hidupnya kini.
Amber kembali menarik tangan Ken dan keluar dari persembunyian, ketika maniknya melihat Bram yang akan menyusul Boy dan Bryana.
Amber ingin mengalihkan perhatian Bram kepada anak gadis imutnya itu. Dia juga takut saat Bram bertemu dengan Bryan yang memiliki garis wajah yang sangat persis dengan bram.
Rencana Amber berhasil mengalihkan perhatian Bram.
__ADS_1
Terbukti pria itu kini mengikuti Amber dan Ken yang sedang berada di dalam lift untuk menuju lantai dasar.