Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard

Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard
bab 99


__ADS_3

Atmosfer di dalam ruangan kerja Boy, kini terlihat tegang.


Dimana, seorang pria dengan wajah tampan dan tubuh tinggi kekar, sedang dalam terancam, oleh kedua kakak beradik yang berdiri di depannya dengan tatapan tajam.


Boy hanya bisa menatap bergantian, Kakak beradik yang masih setia berdiri dengan raut wajah mereka yang terlihat, penasaran, bingung, kesal, dan juga marah, kepadanya.


Boy menarik nafas panjang dengan rakus dan mengeluarkan nafasnya secara perlahan.


Sekali lagi, netranya menatap kedua pria rupawan di hadapannya.


"Duduklah!" Perintah Boy, yang kesekian kalinya.


"Ck! Katakan, apa yang sebenarnya, kau sembunyikan dari kami," cecar Bram dengan wajah penasaran.


"Duduklah, dulu, bodoh!" Bentak Boy.


Akhirnya kedua kakak beradik itu pun, duduk di sofa di depan Boy.


Dengan wajah penuh tanda tanya, Bram dan Carlos, memicingkan mata mereka, kepada Boy.


"Berhentilah, menatapku seperti itu," ujar Boy, mencoba untuk tetap menjaga kewarasannya.


"Aku tahu, aku tampan dan seksi. Semua orang mengakui itu," ucap Boy santai.


"Pletak" dan sebuah pena mendarat di kening suami Ruby itu.


Bram yang kesal dengan sikap sombong Boy, meraih pena yang ada di meja dan melemparkannya ke arah Boy.


"Sakit, … bedebah!" Pekik Boy.


"Ternyata, sikap jadul mu, masih berlaku," cibir Carlos.


"Harus, agar aku tetap merasa bangga dengan ketampanan ku," jawab Boy, yang membuat Bram mengerang.


"Hey, bodoh. Kalau kau ingin mengerang jangan di sini, tapi di dalam kamar atau di kamar mandi," celetuk Boy, tidak acuh.


"Bugh" kali ini Bram melemparkan, sepatunya ke arah Boy.


Boy tentu saja dapat menghindari dengan lincah, lemparan Bram yang terbilang lemah.


"Cih! Lemah," cibir Boy.


"Cepat katakan pada kami, apa yang dimaksud, si kembar adalah, daddy kami?" Tanya Carlos yang sejak tadi tampak tenang.


"Mungkin!" Jawab Boy ambigu.


"Katakan, dengan jelas, sialan!" Hardik Bram.


"Kenapa kalian tidak melihatnya sendiri,"seloroh Boy santai.


"Apa maksud kamu?"


"Kalian, bisa mendatanginya."


"Dia Dimana?"


"Di sini?"


"APA!!"


"Bisakah, kamu memperjelas perkataanmu, Boy Raymond Cole?!


Boy terlihat bangkit dari duduknya. Ia membuka tirai jendela dan menatap keluar melalui kaca jendela yang berukuran besar itu.


Dengan santainya ia berdiri dengan melipat kedua tangannya di dada.


"Coba lihat disana!" Tiba-tiba Boy, menyuruh kedua sahabatnya menatap pada halaman belakang Mansionnya.

__ADS_1


Dengan segera kedua kakak beradik itu mendekat kepada Boy dan ikut berdiri di samping, daddy Gie itu.


"Apa?" Tanya bram bingung.


"Itu." Boy menunjuk kepada seseorang yang terlihat sedikit jauh dari mereka.


Bram dan Carlos, menyipitkan mata mereka, untuk melihat kepada, seorang pria tua sedang terlihat menyapu sebuah taman kecil, yang ada di belakang Mansion.


"Tukang kebun?" Cicit Bram.


"Coba, kalian membesarkan mata kalian,"


"Kami sudah melihatnya dan dia seperti tukang kebun kamu,"


"Perhatikan, gerak-gerik nya, dan juga postur tubuhnya," ucap Boy.


Keduanya pun mengikuti ucapan Boy. Mereka menatap dengan intens kepada, seorang pria paruh baya sedang memelihara taman minimalis, milik Ruby.


Dengan tatapan melekat dan intens, Bram dan Carlos, menajamkan tatapannya kepada sosok di sana.


"Daddy!" lirih Carlos.


Bram dan Boy menoleh bersamaan kepada Carlos.


"Apa yang kau katakan, daddy?! tanya Bram bingung.


Carlos tidak menyahuti pertanyaan sang adik.


ia segera berlari keluar dari ruangan kerja Boy.


pria itu berlari menuju tangga, ia tidak memperdulikan rasa sakitnya, ketika ia tidak sengaja terbentur anak tangga.


Carlos terus berlari dengan tergesa-gesa, dan wajah yang begitu bahagia.


"Daddy!!" teriak Carlos.


sedangkan, sosok paru baya yang di teriaki, menghentikan aktivitas.


ia juga terperanjat kaget saat mendengar panggilan seseorang yang memanggilnya, daddy.


pria tua itu, membalikkan badannya dan betapa terkejutnya dia, ketika di hadapannya kini berdiri dua sosok yang sangat amat dirindukan oleh sang pria tua tersebut.


benda yang ia pakai untuk membersihkan rumput liar, terjatuh ke atas tanah.


tubuhnya bergetar, menahan tangisan yang ia tahan.


tangisan kebahagiaan, karena bisa bertemu lagi dengan kedua buah hatinya, setelah berpisah selama bertahun-tahun lamanya.


pria itu membuka kedua lengan tangannya dan menatap penuh harap kepada ke dua putranya, untuk memeluknya.


Bram dan Carlos, tentu saja tidak ingin membuang-buang waktu banyak.


mereka berdua segera mendekati sang daddy dan masuk ke dalam pelukan daddy mereka.


"Daddy," lirih Bram dengan terisak di pelukan sang daddy.


"Aku tidak bisa percaya ini, aku masih bisa melihat dan memelukmu, daddy," gumam Carlos.


"Kami sangat merindukanmu, dad," bisik Bram.


"Daddy, juga merindukan, kalian."


"OH Tuhan, aku tidak percaya ini semua. ternyata daddy masih hidup selama ini."


"Daddy juga merasa bersyukur, kalian berdua baik-baik saja, dan wanita itu tidak menghabisi kalian."


"Daddy, terus di hantui rasa takut, karena wanita itu masih berkeliaran di muka bumi ini."

__ADS_1


Bram dan Carlos menjauhkan tubuh mereka dari pelukan sang daddy.


mereka berdua menatap dalam manik abu-abu sang daddy.


"Daddy, terlihat berbeda?" seloroh Bram.


"Kenapa, daddy bisa jadi seperti ini!"


"Apa, si bedebah itu yang memaksa, daddy jadi pelayannya!" pekik Bram dengan hebohnya.


"Buk, ...."


"Jangan, khawatir, dad. aku pasti akan menghajar pria, sialan itu. bisa-bisanya dia membuat daddy menjadi seorang pelayan," amuk Bram yang meneliti sekali lagi penampilan sang daddy.


"Ini, tidak bisa di biarkan. dasar pria tidak punya perasaan!" pekik Bram, yang melihat penampilan sang daddy yang jauh dari kata layak.


"Awas, kau, Boy Raymond Cole!!!


Carlos hanya bisa diam dengan menggeleng melihat tingkah bar-bar sang adik.


sedangkan daddy Philips, hanya bisa tersenyum melihat tingkah Bram, yang tidak berubah.


~


Sebuah ruangan kamar rawat inap pasien, di rumah sakit terkenal di kota Chicago.


tampak seorang pria sedang terbaring lemah dengan kedua lutut masih berbalut perban.


Ken baru saja melakukan operasi, untuk mengeluarkan peluru pada kedua lututnya.


ia hanya seorang diri di ruangan, VVIP di rumah sakit tersebut.


Ken terlihat merenung jauh, dengan penglihatan ia tujukan ke arah luar.


Ia merasa, sendiri saat ini dan hatinya masih terasa sakit dan menyesakkan.


Tanpa sadar, Ken menitikkan air matanya.


ia begitu kesepian. pria itu membutuhkan seseorang yang dapat menghiburnya saat ini.


Ken menatap pada kedua kakinya, yang mengalami kelumpuhan sementara.


Namun dokter, mengatakan kelumpuhan Ken hanya sementara dan ia dapat berjalan lagi, kalau Ken rutin melakukan terapi.


"Semuanya, sudah sirna dan hancur tak bersisa."


"pasti kali ini, dia membenciku," lirih Ken dengan raut wajahnya terlihat sedih.


"harapanku, sudah hancur."


"Aku, kehilangan dia dan mendapatkan benci darinya." menolog Ken.


"clek" tiba-tiba pintu kamar Ken terbuka dengan kasar.


muncul seorang wanita setengah baya dari arah luar.


"Son" panggil wanita tersebut.


"Mommy?!


"Cepat, bangun. kita akan meninggalkan kota ini dan pergi jauh." perintah Risa kepada Ken putranya.


"why?"


"Cepatlah,"


"Kita, mau kemana, mom!"

__ADS_1


"Cepatlah, son. kita tidak punya waktu lama."


__ADS_2