
Bram terkejut ketika Amber tiba-tiba mendekatinya yang sedang berbaring di sofa malas yang ada di teras villa miliknya.
"Kemarilah," panggil Bram lembut.
Bram lalu membuka tangannya agar wanitanya masuk ke dalam dekapan hangatnya.
Dengan patuh Amber menyusutkan Tubuhnya ke dalam pelukan Bram yang sedang berbaring miring di sofa panjang.
Bram memberikan kecupan hangat di kepala Amber dan mendekap wanita yang begitu amat cintai itu dengan erat dari arah belakang.
Menyerukan wajahnya di balik tengkuk Amber dengan kedua tangannya ia gunakan memeluk tubuh ramping sang wanita.
Bram menyingkirkan rambut Amber yang menutupi leher panjang wanitanya ke arah samping dan seterusnya ia mengecup leher putih Amber hingga ke pundak terbuka wanitanya.
Amber hanya bisa terdiam sambil memejamkan mata, saat Bram sibuk dengan leher dan pundaknya.
Ia hanya bisa menggenggam erat telapak tangan kekar Bram dan membawanya ke arah bibirnya, mencium lembut telapak tangan pria yang masih menempati hatinya hingga sekarang.
Amber bergerak, membalikkan badannya agar dapat melihat wajah sempurna Bram yang semakin bertambah tampan selama mereka berpisah.
Bram menggurui pelukannya ketika merasakan pergerakan Amber.
Pria itu tersenyum ketika wajah mereka kini saling berhadapan dan tanpa jarak.
Amber mendongakkan sedikit wajah untuk memandangi wajah yang begitu ia rindukan.
Senyum pria itu selalu membuatnya damai dan tenang, senyuman yang begitu sempurna dan menawan.
Amber memejamkan matanya saat ia merasakan bibir Bram berada di keningnya, mencium lama dan penuh cinta.
Amber hanya mampu terdiam dengan kedua tangannya yang memeluk pinggang kokoh Bram dengan erat.
"Apa kau bosan?" Tanya Bram lembut sambil meletakkan dagunya di puncak kepala Amber.
"Hm! Gumam Amber di balik dada lebar kekar Bram.
"Apa kau ingin menikmati keindahan matahari tenggelam?" Tanya Bram lagi.
"Dimana?" Tanya Amber balik yang mendongakkan sedikit kepalanya.
Bram menundukkan dan mengecup sekilas bibir ranum wanitanya sebelum menjawab pertanyaan Amber.
"Tidak jauh dari sini," jawab Bram.
"Apakah jauh?" Amber kembali bertanya di bawah dagu terbelah Bram.
"Tidak!" Sahut pria itu sambil menggigit pelan hidung mancung Amber.
Bram begitu gemes dengan wajah imut dan manis Amber yang terlihat menggemaskan.
Bram sekali lagi mengecup bibir ranum Amber yang begitu merekah yang selalu mengundang dirinya untuk memberinya kecupan.
"Mau sekarang?" Bisik Bram tepat di depan bibir Amber.
"Hm! Gumam Amber dengan diiringi anggukkan kepala.
Keduanya pun lantas bangkit dan duduk sejenak di sofa panjang tersebut.
"Tunggu disini!" Ujar Bram sambil bangkit dan berjalan ke arah kamar.
Amber hanya mengangguk patuh dan terduduk diam di tempatnya dengan pandangan yang menatap punggung Bram dengan pandangan sulit diartikan.
__ADS_1
Tidak lama kemudian Bram muncul dengan penampilan yang begitu menawan dengan kaos polos tanpa lengan, dipadukan dengan celana pendek di atas lutut dan sebuah topi bundar berwarna coklat menutupi kepalanya.
Terlihat di tangan pria itu sebuah kemeja sutra berwarna putih dan juga sebuah sandal yang bertali.
Amber hanya bisa menahan nafasnya sejenak, saat melihat penampilan Bram yang sangat mempesona.
"Rentangkan tanganmu, sayang!" Perintah Bram yang membuat Amber tersendak kaget.
"Apa?" Tanya Amber kelabakan dengan memaki dirinya sendiri dalam hati.
Bram hanya tersenyum dan ikut duduk di atas sofa, ia mengeluarkan sesuatu di dalam sakunya yang merupakan cream pelembab agar kulit wanitanya tidak terbakar oleh sengatan matahari.
Hari ini Bram akan membawa kekasih hatinya untuk berjalan-jalan menyusuri pulau pribadinya sambil menunggu matahari terbenam.
Dengan penuh kelembutan dan ketelatenan, Bram memakaikan sang kekasih cream pelembab tersebut di seluruh permukaan kulit Amber.
Pria itu juga memakaikan Amber kemeja lembut yang nyaman untuk sang kekasih untuk melindungi kulit Amber.
Terakhir Bram berjongkok di depan Amber dan memakaikan wanitanya sandal yang ia bawakan tadi.
"Pas!" Gumam Bram sambil mendongak menatap wajah cantik Amber yang terlihat bingung.
"Ini punya, mommy!" Ucap Bram yang mengetahui arti tatapan Amber.
"Benarkah?" Tanya Amber tidak percaya.
"Hm. Hanya kau wanita pertama yang datang kesini, sayang," ungkapnya.
"Aku tidak percaya," ketus Amber dan segera berdiri dari duduknya dan berjalan terlebih dahulu, meninggalkan Bram.
Bram hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya dan mengikuti langkah wanitanya dari arah belakang.
Dengan berlari sedikit Bram dapat menyusul Amber yang terlihat merengut kesal.
Bram meraih telapak tangan kekasihnya dan menggenggamnya erat, menariknya lembut ke arah pintu gerbang villa.
Jastin dan Patrick para bawahan Carlos kini sedang memasuki Mansion Boy.
Mereka berjalan ke dalam Mansion dengan wajah datar mereka, membuat para pelayan yang berpapasan dengan kedua bergidik ngeri.
Begitu juga Kitty yang berpapasan dengan kedua bawahan Carlos itu, tapi bedanya Kitty mencebikkan bibir mungilnya ke arah para pria berwajah kaku dan mengerikan.
"Cih, dasar wajah triplek," cibir Kitty pelan saat ke dua pria berlalu dari hadapannya.
"Mereka tampan sih, tapi, … sayang wajah mereka kaku kayak balok kayu," monolog gadis itu sambil berlalu ke arah pintu Mansion.
~
"Kalian sudah datang?" Seru Carlos.
"Iya tuan," jawab kedua bawahnya itu.
Keempat pria tampan itu kini sedang berada di ruangan kerja sang pemilik mansion.
Boy dan Carlos duduk di sofa mewah yang terdapat di ruangan kerja Boy.
Mereka berdua sejak tadi menunggu kedatangan bawahan Carlos, yang membawa sebuah informasi tentang seseorang dan juga keberadaan kedua orang tua Carlos.
"Duduklah!" Suruh Boy sang tuan rumah.
Dengan patuh kedua pria kaku itu pun duduk di depan, para tuan muda hebat dan berkuasa.
__ADS_1
"Apa yang kalian dapatkan?" Carlos menatap intens kedua asisten nya itu.
Jastin dan Patrick menyerahkan sebuah berkas kepada Carlos secara bersamaan.
Carlos pun menerima kedua berkas yang di berikan oleh kedua asistennya, yang ia beri tugas masing-masing.
Carlos membuka berkas tersebut dan membacanya dengan wajah yang begitu serius.
Boy terdiam menunggu sahabatnya itu selesai membaca semua berkas yang di berikan oleh Jastin dan Patrick.
"Daredevil black?" gumam Carlos dan mengarahkan pandangannya kepada Jastin.
"Tuan Keenan Lerian, ketua dari Daredevil black." pungkas Jastin.
"kelompok para mata-mata dan pembunuh bayaran," sela Boy.
kini tatapan Carlos berpindah pada sang sahabat.
"Kau, mengenalnya?''
"Hm, dia sahabat istri ku," sahut Boy.
"Kenapa, kau tidak mengatakannya padaku, sialan," geram Carlos.
"Ck, tidak penting," jawab Boy tidak acuh.
"Boy Raymond Cole!" geram Carlos.
"Harusnya, kau berterimakasih padanya karena pria itu, yang sudah menyelamatkan kedua keponakanmu," ungkap Boy.
"Apa yang kau katakan, Boy!"
"Dia yang sudah menyelamatkan, Amber."
"Oh iya, Amber juga bagian dari anggota Daredevil black."
"Apa?"
"hm, dia wanita pembunuh bayaran," ujar Boy.
"Sial!" umpat Carlos.
"Kau kenapa?" tanya Boy dengan menyengitkan alisnya bingung.
"Anak bodoh itu dalam bahaya," gumam Carlos.
"Apa yang kau katakan?" tanya Boy yang masih kebingungan.
"Adikku dalam bahaya, BODOH!" bentak Carlos.
"Amber mendapatkan misi rahasia dengan Griffin menjadi targetnya!" pekik Carlos frustasi.
"Itu tidak akan pernah terjadi," sambung Boy.
"Tapi kita harus mencegah sebelum itu terjadi," sahut Carlos.
"Tuan!" sela Jastin.
"Katakan!" perintah Carlos dan Boy bersamaan, yang terlihat frustasi dan kebinggungan.
"Tuan Keenan Lerian adalah anak dari, ...."
__ADS_1
"Siapa?" tanya keduanya dengan penasaran.
"Ratu Rosella!"