Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard

Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard
bab 51


__ADS_3

Luis menopang tubuh Bram menuju pintu istana.


Seorang pengawal yang menjaga pintu gerbang berlari mendatangi Luis dan membantu Luis membawa Bram masuk.


Camelia yang baru saja akan kembali ke kamarnya, terkejut saat netra birunya melihat sang suami dalam keadaan yang begitu mengenaskan dan dibantu oleh para pengawal.


Camelia berlari ke arah suaminya yang sudah tidak sadarkan diri.


Camelia beralih mengambil tubuh suaminya dan membawa Bram memasuki kamar.


Amber yang masih berdiri di lantai dua dan menyaksikan sendiri keadaan pria yang menghancurkan hidupnya itu dalam keadaan hancur.


Amber terlihat tersenyum miring dan beranjak dari sana.


Ia sudah merasa puas melihat keadaan Bram yang terlihat rapuh dan menderita.


"Cih, ini baru permulaan dan kau sudah ingin mati," gumam Amber sambil berjalan ke arah kamarnya.


*


*


*


Sementara di dalam kamar Camelia dan Bram.


Camelia dengan tertatih merebahkan tubuh tinggi Bram di atas ranjang.


Ia membuka sepatu suaminya dan juga pakaian Bram.


Camelia mengambil sebuah kain basah dan membersihkan tubuh suaminya yang terlihat lengket.


Sambil menggerutu kesal, Camelia melayani suaminya itu yang terus meracau tidak jelas.


Camelia menukik alisnya saat melihat wajah dan mata Bram yang terlihat sembab dan memar.


"Apa yang terjadi padamu, sayang," bisik Camelia di dekat telinga Bram.


"Kenapa, kamu terlihat begitu hancur dan rapuh? Dan apa yang terjadi dengan wajahmu,?" Tanyanya dengan bisikan.


Setelah selesai membersihkan tubuh suaminya, Camelia pun mengobati luka di wajah Bram.


Ia juga memeriksa tubuh suaminya yang belum memakai sehelai kain pun.


Camelia meneguk salivanya saat menatap tubuh kekar Bram.


Camelia mengarahkan jari-jarinya ke atas tubuh Bram dan membelainya dengan lembut.


Seandainya ia tidak kedatangan tamu, bisa saja Camelia memaksa suaminya melakukan ritual suami-istri malam ini. Meminta haknya sebagai seorang istri yang begitu mendambakan sentuhan memabukkan Bram.

__ADS_1


Camelia hanya bisa menggigit bibir bawahnya untuk menahan gejolak hasraat yang kian merasuki seluruh tubuhnya.


Camelia mendekatkan wajahnya ke wajah Bram dan bermaksud menciumi bibir bram yang terlihat menggoda. Tapi Bram mendorong tubuhnya ke belakang hingga tercerambat di sisi ranjang yang kosong.


"Jangan, menyentuhku," racau Bram dengan mata tertutup.


"Jangan menyentuhku, jalaang. Tubuhku hanya untuk wanitaku yang sangat aku cintai," gumam Bram yang masih terdengar jelas oleh Camelia, yang kini tertegun di tempatnya.


Camelia menatap Bram tajam dengan perasaan marah dan ingin berteriak saat ini.


Dia mendengar jelas racauan suaminya yang menyebutkan nama wanita lain sambil meminta maaf dengan air mata mengalir.


"Sayang, maafkan aku. Please maaf aku Amber Wilson," lirih Bram.


"Jangan, membenciku sayang. Aku berjanji akan merelakan semuanya asal kau kembali padaku, aku akan meninggalkannya demi dirimu, sayang," racau Bram.


"Amber Wilson," cicit Camelia.


Amarah wanita itu meledak di saat mendengar racauan Bram yang ingin kembali ke wanita masa lalunya.


Camelia menyoroti wajah Bram tajam. Dadanya terlihat naik-turun dan wajah putihnya tampak terlihat merah darah akibat menahan emosi yang lebih tepat rasa cemburu.


Camelia tidak akan membiarkan suaminya kembali kepada wanita masa lalu Bram. Yah Bram menceritakan semua tentang wanita yang sangat ia cintai kepada Camelia di saat mereka sepakat untuk bersahabat dan tidak saling menuntut hak apapun.


Dengan susah payah Camelia mengambil hati suaminya agar melupakan wanita yang ternyata masih saja mengisi hati Bram.


"Aku, tidak akan membiarkan wanita itu merebutmu dari ku, aku tidak akan menerimanya, kau harus menjadi milikku seutuhnya dan itu akan terjadi malam ini. Aku tidak peduli, yang penting kau menjadi milikku seutuhnya Griffin." Camelia menanggalkan seluruh kain yang melekat di tubuhnya.


"Malam ini kau akan mengingkari janjimu dan juga menepati janji yang kau ucapkan malam itu," bisik Camelia di telinga Bram dan membelai tubuh suaminya.


Camelia terlihat tersenyum licik ketika sentuhannya berhasil membuat Bram terbawa suasana.


Camelia menempel bibir mereka dan mencumbuui bibir Bram kasar dengan tangan yang merambat kemana-mana.


Bram yang merasakan sesuatu di atas bibirnya tersadar dan ia pun mendorong tubuh polos Camelia,


Hingga istrinya itu terjatuh ke lantai.


Bram bangun sambil memijat kepalanya yang terasa sakit. Pemandangannya pun masih berputar-putar. Bram menggelengkan kepalanya untuk menetralkan penglihatannya.


Perutnya pun kini terasa diaduk dan detik berikutnya dia memuntahkan isi perutnya di atas selimut tebal.


Camelia hanya bisa bergeming di bawah sana dengan wajah pias bercampur amarah.


Dia kembali memunguti pakaiannya dan berjalan ke arah pintu, meninggalkan Bram sendiri yang masih memuntahkan isi perutnya.


"Brakkk! Camelia membanting pintu kamarnya dengan sangat kasar.


Camelia terlihat berjalan ke arah ruangan lain yang ada di lantai paling atas.

__ADS_1


Seseorang mengikuti langkah Camelia dari belakang dengan senyum penuh arti.


"Dasar, pria sialan. Berani-beraninya dia menolakku dan mencampakkan ku di saat aku sudah merendahkan diri sendiri," geram Camelia dengan meneguk sebuah minuman keras langsung dari botolnya.


"Aku, tidak akan bisa menerima penghinaan ini. Dia harus membayar mahal atas apa yang ia lakukan padaku. Aku berjanji akan menghancurkan wanita sialan itu, akhh! Prangg." Camelia melemparkan kasar minuman botol itu ke arah dinding. Hingga pecah dan berhamburan di lantai.


"Aku pastikan kau akan berlekuk lutut di hadapan sialan," amuk Camelia dan menghempaskan beberapa motol minuman yang berada di atas meja mini bar tersebut.


"Akhh! Sialan," umpat Camelia kasar. Wibawanya seorang tuan putri kini berganti dengan wanita kasar yang penuh ambisi plus kelicikan.


"Akhhh!


Amukan Camelia terhenti saat sebuah tangan kekar memeluknya dari belakang dan mengecup pundaknya yang terekspos.


Camelia membeku dan ia membalikkan tubuhnya menatap tajam pada pria tinggi di depannya.


"Apa, yang kau lakukan di sini," tanya Camelia dingin.


"Aku merindukanmu, honey," sahut pria tersebut.


"Kau, terlalu nekat pangeran William," geram Camelia.


Dengan terlihat khawatir atas kedatangan pangeran William.


"Aku, hanya merindukan, Robert," sahut William sambil mencium tengkuk dan leher panjang Camelia.


"Dan aku juga merindukan tubuh sayang," bisik William sambil mengigit kecil leher Camelia.


"Aku, tidak bisa melayanimu," ujar Camelia dan menjauh dari jangkauan pria gila di dekatnya.


"Why,?" tanya William dengan alis menukik ke atas.


"Aku kedatangan tamuku," sahut Camelia tidak acuh.


"Cih! Tapi kau ingin menjamah suamimu yang tidak sadar," cibir William.


"Pangeran William.!! Geram Camelia.


"Berhentilah, memantau ku, sialan," pekik Camelia.


"Jaga sikap mu sayang, ingat kau seorang tuan putri," ujar William sambil terkekeh.


"Aku, tidak perduli. Aku harus melayani ku malam ini sayang, aku akan menerima pelayanan mu dengan cara apapun," ucap William dengan senyum mesumnya.


"Dasar kau pria brengsek," bentak Camelia.


"Ingat, kau juga adalah wanita murahan, sayang," balas William dengan seringai licik.


"Come on, baby." William menarik kasar Camelia dan menghempaskan tubuh wanita itu di sofa.

__ADS_1


__ADS_2