Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard

Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard
bab 37


__ADS_3

Seluruh sudut hotel mewah di salah satu kota, Chicago kini sudah dikepung oleh kepolisian. Beberapa para aparat kepolisian kini berlarian dan juga menelusuri setiap sela di hotel tersebut.


Sementara Amber, kini sedang berada di salah satu toilet yang berada di hotel tersebut.


Ia melepaskan semua atribut yang ia kenakan untuk melancarkan misi nya malam ini.


Ia membuangnya ke dalam tempat sampah dan Amber terduduk di atas closed sambil mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.


Amber yang sudah berhasil membunuh Mr. Yousef si pejabat sampah masyarakat itu, tidak menduga kalau Mr. Yousef menyembunyikan alarm darurat pada cincin yang Mr Yousef pakai.


Dengan langkah cepat Amber keluar dari kamar tersebut, tanpa membawa barang yang klien nya itu butuhkan.


Amber hanya mengkhawatirkan keselamatan bayi-bayinya.


Ia tidak ingin terjadi hal-hal buruk pada anak-anaknya.


Dan disinilah sekarang Amber, bersembunyi di dalam toilet sambil mengatur nafasnya.


Ia juga sejak tadi menahan rasa nyeri pada perutnya.


"Stth!


Amber terdengar mendesis saat perutnya terasa sakit.


Dengan lembut Amber mengusap-usap perutnya untuk menenangkan anak-anaknya.


"Sabarlah, baby twist," bisik Amber.


"Tenanglah. Sampai kita keluar dari sini," bisiknya lagi.


Amber tau sudah saatnya ia akan melahirkan dan sekuat tenaga Amber menahan rasa sakit itu.


"Tenanglah, oke," ujar Amber sambil menarik nafas dan menghembuskannya secara perlahan.


Amber bangkit dari duduknya dan ia membuka pintu toilet tersebut sambil berjalan tertatih.


Ia terlihat beberapa kali berhenti ketika rasa sakit itu muncul. Dan kembali melangkah saat rasa sakit itu hilang.


Amber masih melangkah melewati koridor hotel bagian belakang. Ia akan menunggu Ken di san, sesuai dengan rencana mereka semula.


Benda yang berada di telinga Amber terjatuh entah dimana. Karena terlalu panik dan khawatir.


"Sabarlah, baby's," lirih Amber yang sekuat tenaga menahan rasa sakit pada perutnya.


Amber berjalan sambil mencoba mengatur nafasnya.


"Oh Tuhan, ini rasanya sakit sekali," ringis Amber sambil menggenggam kuat pada ujung tembok.


"Astaga, apa ini," pekik Amber saat sebuah cairan putih dan kental mengalir dari bagian atas pahanya.


"Sabarlah dan tenanglah, baby's. Please. Tenanglah," lirih Amber.


Amber menyeret kakinya untuk melangkah ke arah pintu keluar yang tinggal beberapa langkah lagi.


Ia hanya tidak ingin para polisi menyadari kehadirannya di sini.


Karena sudah dipastikan banyak saksi mata yang melihat dirinya menaiki lantai paling atas di hotel ini dan hanya dirinya pelayan yang sedang hamil di sini.

__ADS_1


Amber yang sudah sampai di pintu keluar, lantas membuka pintu tersebut dan ia pun dapat menghirup udara segar dan bernafas lega.


Tapi tantang Amber belum berakhir, karena dirinya harus melewati pos penjagaan yang ada di setiap sudut gerbang hotel.


"Sia! Umpat Amber.


"Tuhan, tolong lah aku dan juga anak-anakku." Doa Amber dalam hati.


"Aku, pasti bisa. Demi anak-anakku," lirihnya sambil menahan rasa yang amat sakit.


Amber keluar dari tempat persembunyiannya dan melanjutkan langkahnya ke arah pintu darurat.


Ia berjalan tertatih sambil menyeret langkahnya. Air yang keluar dari atas pahanya tidak ia pedulikan, Amber hanya ingin cepat keluar dari sini dan menuju rumah sakit.


Ia membutuhkan bantuan seorang dokter sekarang ini, untuk menyelamatkan bayi-bayinya.


Di tidak memikirkan keselamatannya, yang ia pikirkan adalah bagaimana dirinya akan keluar dari sini dan mendatangi rumah sakit terdekat.


Dengan wajah pucat dan juga keringat dingin sudah membasahi tubuh Amber, ia tidak akan menyerah dan ia masih berusaha untuk bisa menyelamatkan anak-anaknya.


tidak hentinya Amber mengelusi perutnya untuk menenangkan bayi kembarnya.


rasa sakit yang begitu dahsyat ia tahan dengan mengigiti bibirnya, Hingg bibir Amber terluka.


cairan merah pun kini tampak mengalir dari atas pahanya, Amber hanya bisa tertegun dengan perasaan khawatir.


"Aku mohon, bertahanlah, baby's," bisik Amber.


dengan langkah tersaruk-saruk, Amber terus melanjutkan langkahnya , senyum lega pun terlihat di wajah pucat Amber.


dengan segera ia menyebrang untuk bisa sampai ke arah pintu pagar yang ada di ujung sana.


ia tidak memikirkan bahaya apa yang akan ia dapatkan, Amber hanya memikirkan nasib bayi kembarnya yang ia rasa akan segera keluar.


bertepatan itu juga sebuah mobil hitam melaju ke arah basement hotel.


"ckitttt"


suara ban mobil yang berhenti secara tiba-tiba terdengar nyaring.


Amber membeku di depan mobil mewah itu dengan tubuh menegang. tak lama kemudian tubuh lemas, Amber pun luruh keatas aspal.


dengan wajah yang kini makin memucat dan cairan merah tidak hentinya keluar dari atas pahanya.


seorang wanita cantik dan juga pria tampan keluar dari mobil mewah itu.


keduanya juga tak kalah paniknya, seperti Amber.


sepasang suami-istri itu, berjalan mendekati Amber yang sedang membelakangi mereka.


wanita yang turun dari mobil, menegang saat melihat sosok wanita terkapar di depan mobil mereka.


"tenanglah, sayang," ujar sang suami.


"aku takut, sayang," sahut sang istri.


"lebih, baik kita memeriksanya,"

__ADS_1


"hm!


"tunggu disini."


sang istri menggakuk patuh. dan ia hanya terdiam di samping mobil mewah mereka.


pria itupun berjalan ke arah Amber yang sudah meluruh di tanah.


dalam keadaan yang sangat menyedihkan dan mengenaskan.


pria itu terlihat berjongkok dan membalikkan tubuh Amber.


mata pria itu membeliak saat mengenali wajah Amber.


"Amber,? cicitnya.


ia pun makin terkejut saat melihat perut dan cairan merah keluar dari atas paha Amber.


"Sayang, ada apa," sang istri yang penasaran pun menghampiri sang suami.


dan reaksinya sama dengan suaminya saat mengenali sosok wanita tersebut.


"Amber.!!! pekik wanita itu.


"Astaga, Amber. apa yang terjadi padamu." Ruby meraih tubuh Amber yang berada di tangan suaminya.


"Amber, sadarlah," ujar Ruby sambil menangis dan penepuk-nepuk pipi Amber yang di penuhi peluh.


"Astaga,!" pekiknya ketika melihat darah segar mengalir dari jalan lahir Amber.


"sayang, kita harus cepat membawanya ke rumah sakit," pinta Ruby pada sang suami.


"Cepatlah," sentak Ruby saat melihat suaminya itu tertegun dengan melihat keadaan Amber.


"Sayang! seru Ruby ketika suaminya itu hanya terdiam.


"D-dia hamil," tanya Boy yang tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


"hm! dia hamil anak Bram," jawab Ruby.


"A-anak Bram,? Boy membeo.


"cepatlah, sayang," teriak Ruby.


"baiklah,"


boy dan Ruby pun membawa Amber masuk kedalam mobil dan mereka akan membawa Amber kerumah sakit terdekat.


Boy masih mencerna semua yang ia lihat.


Amber hamil? dan ia hamil anak Bram, pria brengsek itu.


Boy hanya bisa menahan amarahnya. bisa-bisanya pria bejat itu meninggalkan wanitanya dalam keadaan hamil.


Boy berjanji akan membuat Bram menyesali perbuatannya.


ia tidak akan membiarkan Bram, mendekati Amber dan anak-anaknya kelak.

__ADS_1


"Kau akan menyesal, brengsek," geram Boy dalam hati. sambil melirik Istrinya yang menangis.


__ADS_2