Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard

Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard
bab 78


__ADS_3

Matahari pagi mulai menguning indah yang siap menghangatkan bumi dan juga menyapa para makhluk bumi untuk menyambut pagi hari dengan wajah ceria pun semangat untuk memulai aktivitas para penghuni di muka bumi.


Seperti yang dirasakan oleh pria yang sejak tadi tersenyum sambil memandangi wajah cantik wanitanya yang masih betah menutup matanya.


Bram memberikan kecupan selamat pagi di kening Amber, sebelum pria itu bangkit dari ranjang dan berjalan ke arah kamar mandi.


*


*


Tidak lama kemudian terdengar suara lenguhan halus di atas ranjang dan juga pergerakan pelan.


Mata bulat dengan bulu mata lentik itu mulai bergerak-gerak. Mata indah dengan manik coklat itu pun terbuka lebar.


Amber merotasi maniknya sekeliling ruangan asing yang ia tempati sekarang.


Amber tersentak kaget kala dirinya tersadar. Wanita itu lantas bangkit dari tidurnya dan memeriksa seluruh tubuhnya, yang mana gaun yang ia kenakan semalam sudah menghilang dari tubuhnya, yang kini hanya menyisakan dalam saja, sebuah bra sport dan juga shot ketat.


Amber memindai pandangannya ke arah samping dengan kening yang mengkerut tajam.


Amber dapat melihat bekas seseorang di sampingnya semalam, itu artinya ia tidur dengan sosok tersebut.


Amber menyingkap selimut tebal yang menutupi tubuh indahnya. Ia bermaksud berdiri, namun tiba-tiba kepalanya berdenyut sakit.


Amber terduduk sebentar di pinggiran ranjang, sebelum ia bangkit dan berjalan menuju kain yang menggantung di sekeliling ruangan, yang Amber yakin itu adalah jendela.


Indra pendengaran Amber yang tajam, menangkap suara air mengalir dari kamar mandi.


Dengan tatapan tajam Amber memindai seisi kamar tidur tersebut.


Amber dapat melihat beberapa pakaian pria tergantung di lemari yang berada di sudut kamar dan juga aksesoris pria lain.


Amber memejamkan matanya ketika indera penciumannya disajikan oleh aroma lembut nan maskulin yang sangat ia kenali plus ia rindukan.


"Kau, sudah bangun, sayang." seruan suara berat yang sangat seksi menyapa Amber, dari arah belakang.


Amber terlihat terkejut dengan suara berat yang menyapanya dan ia pun makin terkejut ketika, sebuah tangan kekar memeluk pinggangnya dari arah belakang.

__ADS_1


"Selamat pagi, sayang," bisik Bram lembut tepat di telinga Amber dan memberikan kecupan di pipi mulusnya.


Wajah cantik Amber masih terlihat kebingungan dan sepertinya ia nampak linglung.


Tubuhnya bahkan masih membeku di tempatnya berdiri, ia mencoba mengingat kejadian semalam di acara pelelangan.


Manik coklat Amber membola, ketika mengingat kejadian terakhir semalam yang, berakhir dirinya ada di kamar asing ini bersama pria masa lalunya.


"Bryan, Brayan," batin Amber.


Amber pun melepaskan tangan kekar Bram yang berada di atas perutnya.


Dengan segera Amber berniat berjalan ke arah pintu kamar. Namun langkahnya terhenti ketika Bram menarik tangannya kasar, sehingga Amber kembali pada posisinya tadi.


Bram melingkarkan tangannya di pundak Amber melalui arah belakang dan tangan satunya digunakan untuk menyingkirkan rambut Amber kesamping.


Bram menundukkan sedikit kepalanya dan menyerukan wajahnya di ceruk leher jenjang wanitanya, memberikan kecupan kilas dan kembali menghirup aroma lembut sang wanita.


"Kau, tidak akan pernah bisa kemana-mana, sayang," bisik Bram di balik ceruk leher Amber.


"Tidak!" Tolak Bram.


"Disinilah, tempat kita mulai sekarang, dan tidak ada satu orang pun selain kita disini," ujar Bram pelan sambil menghirup dalam-dalam wangi lembut Amber.


"Apa maksudmu, pangeran Griffin," sentak Amber.


"Dear, panggil aku dengan panggilan kesayanganmu padaku," bisik Bram yang sengaja menghembuskan nafasnya di kulit leher mulus Amber.


Amber terdengar terkekeh, ketika mendengar permintaan Bram.


"Tidak akan pernah," jawab Amber dingin.


Bram hanya tersenyum tipis di balik leher Amber dan ia mengencangkan kedua tangannya di perut dan pundak Amber.


"Aku tidak peduli penolakan mu, sayang, yang jelas kau tidak akan bisa kemana pun." Tekan Bram.


"Lepaskan dan biarkan aku pergi," pinta Amber mencoba untuk menekan Amarahnya.

__ADS_1


"Tidak," lirih Bram.


"Brengsek. Biarkan aku pergi!" Bentak dan maki Amber.


Wanita itu berusaha lepas dari jerat lilitan tangan kekar Bram.


Namun sayang tenaga pria kekar dan tinggi itu sangatlah kuat.


"Lepaskan," pinta Amber lagi.


"Aku harus pergi dan menemui si, …." Amber tak mampu melanjutkan kalimat perkataannya saat ia tersadar dengan apa yang ia katakan.


Hampir saja ia membuka keberadaan si kembar.


"Menemui, siapa?" Tanya Bram yang mengurai rangkulannya.


"Jangan katakan, kau ingin menemui pria itu," geram Bram.


"Karena, aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi. Kau hanya milikku dan itu berlaku untuk selamanya," ujarnya dengan wajah yang sudah berubah merah padam.


"Bukan urusanmu dan cepatlah lepaskan aku, sialan!"


"Tidak semudah itu sayang,"


"Brengsek!"


"Bugh"


Amber menyikut perut Bram dari arah depan dengan sangat kuat.


Bram terlihat mundur kebelakang dan lilitan tangannya di Perut dan pundak Amber terlepas.


Bram nampak memegangi perutnya yang terasa sakit.


Bram menarik kembali pergelangan tangan Amber yang sudah mulai berjalan ke arah pintu dan menariknya lagi.


Tapi Amber terlihat melawan dengan memelintir tangan Bram dan memberikan pria tampan itu sebuah pukulan di rahangnya.

__ADS_1


__ADS_2