
Setelah menempuh perjalanan udara selama satu jam lebih, kini Bram sudah berada di sebuah pulau terpencil.
Pulau kecil yang dikelilingi oleh pohon-pohon liar yang lebat menutupi, sebuah villa yang terletak di atas tebing yang tidak terlalu tinggi.
Helikopter yang membawa Bram kini mendatar tepat di atas lapangan luas di sekitar villa sederhana tapi berkesan mewah dan elegan.
Villa yang memiliki tiga lantai, disinilah Bram menghabiskan masa-masa kehilangan keluarga tercintanya.
Ibu yang kini entah dimana dan ayah yang sudah di Klein meninggal dalam sebuah kecelakaan maut.
Bram turun dari helikopter dengan tubuh Amber berada di gendongannya.
Bram berjalan ke arah pintu belakang villa yang nampak terlihat sunyi.
Tidak ada seorangpun di dalam villa tersebut. Bram hanya meminta anak buahnya untuk membersihkan villa yang akan ia tempati bersama wanitanya.
"Kau, sudah menyiapkan semuanya?" Tanya Bram kepada pengawal pribadinya.
"Sudah tuan," sahut sang pengawal.
"Hm, tunggu aku di ruangan kaca!" Pinta Bram sambil membawa Amber menaiki tangga menuju lantai tiga.
"Baik tuan," jawab jastin sang pengawal pribadi Bram.
Bram menapaki setiap anak tangga yang akan membawanya ke kamar paling atas.
Sesekali Bram menatap wajah cantik Amber yang belum sadar diri. Bram terlihat mengecupi kening wanita yang masih menempati posisi hatinya sampai sekarang.
"Kau, semakin menggemaskan, sayang," bisik Bram.
"Kau, juga semakin cantik," bisik Bram kembali dengan meninggalkan satu kecupan di bibir ranum Amber.
"Bibir mu, bahkan masih sama, manis dan legit." Bram terlihat terkekeh sambil melangkah menaiki setiap tangga menuju lantai paling atas.
*
*
"Tidurlah, sayang," bisik Bram tepat di atas kening Amber.
"Aku akan segera kembali," ujarnya lalu meninggalkan satu kecupan hangat di kening dan bibir ranum Amber.
Bram menata kembali selimut tebal yang membungkus tubuh Amber, menyakinkan wanitanya sudah merasa nyaman dan aman.
setelah yakin Bram berjalan ke arah pintu kamar. Bram keluar dari kamarnya, meninggalkan Amber yang kini terbaring di atas ranjang yang tidak terlalu besar itu.
*
*
*
__ADS_1
"Apa kau menemukan sesuatu?" tanya Bram setelah mendudukkan dirinya di sofa tunggal.
"Belum," sahut jastin yang raut wajahnya terlihat menyesal.
"Ini sudah 7 tahun, jastin! tapi kau belum juga mendapatkan kabar tentang ibuku," lirih Bram sambil mengusap wajahnya kasar.
"Harus, sampai kapan aku harus berpura-pura menjadi sosok suami manis kepada, wanita menjijikkan itu," pungkas Bram frustasi.
"Sabarlah, tuan," ujar jastin.
"Aku sudah lelah bersabar, jastin! ini sudah 7 tahun aku bersabar melakukan pernikahan menjijikkan ini."
"Tapi, kita belum mengetahui keberadaan, ibu anda tuan."
"Dasar wanita tua licik."
"Aku, bersumpah akan menghancurkan wanita gila itu."
"Pantau terus pergerakan, wanita menjijikkan itu,"
"Baik tuan."
"Aku pasti bisa menemukanmu, mom," gumam Bram.
"Setelah, aku menemukanmu, aku berjanji akan membuat ratu Rosella menderita, seperti mommy alami, karena wanita murahan itu."
Bram bermonolog seorang diri di ruangan kaca yang terletak di lantai paling atas.
*
*
*
"Kabar, yang sangat hot," jawab Boy dan dengan usilnya mengigit kecil telinga sang istri.
"Hot?" Ruby membeo.
"lupakan, sebaiknya kita pulang segera," ucap Boy.
"Tapi si kembar belum bertemu, Amber," ujar Ruby.
"Kemana, wanita itu?" tanya Boy.
"Amber, sayang," protes Ruby.
"terserah!
"Dia belum datang, sejak pagi kami menunggu, tapi Amber belum terlihat," lirih Ruby.
Boy hanya bisa mendegus kesal, ketika menyadari sesuatu.
__ADS_1
"Ayo kita pulang!"
"tapi say, ...."
"Sudah cepatlah masuk kedalam mobil!" perintah Boy.
"Tapi mereka belum bertemu, Amber," balas Ruby yang memandangi wajah menggemaskan si kembar.
"Dia tida akan datang,"
"Kenapa?"
"Karena, si brengsek itu membawanya."
"siapa?"
"si brengsek, Bram," dengus Boy.
"APA! pekik Ruby.
"Pelankan, suaramu, sayang. kau akan membangunkan anak-anak," bisik Boy.
"kenapa kau diam saja?"
" biarkan mereka menyelesaikan kesalahan pahaman keduanya."
"Apa?"
"Entahlah. yang jelas berikan mereka ruang untuk menyelesaikan masalah mereka, ini juga demi si kembar," pungkas Boy dengan bijak.
"Suamiku selalu yang terbaik," puji Ruby sambil mencium pipi suaminya.
"Lakukan, ini di dalam kamar tidur kita, sayang," goda Boy dengan kerlinggan mesum.
"Dasar mesum," cibir Ruby.
Boy hanya terkekeh melihat wajah cemberut sang istri.
"kita harus, lebih hati-hati mulai sekarang, sayang."
"why?"
"Ini demi keselamatan si kembar,"
"wanita peyot itu, sudah menyadari keberadaan si kembar."
"Apa dia sangat berbahaya?"
"hm, dan sangat licik,"
"Semoga si kembar selalu aman," lirih Ruby sambil menatap ke tiga bocah yang sedang tidur di kursi belakang.
__ADS_1
"Aku berjanji, akan selalu melindungi mereka," ucap Boy.
"Hm, itu harus, karena kau sangat menyayangi mereka," sahut Ruby yang mengalihkan tatapannya kepada sang suami.