Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard

Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard
bab 132


__ADS_3

"Kau, siap?" Boy yang tiba-tiba muncul dari arah belakang, mengagetkan Carlos yang sedang memilah sebuah senjata api dan juga beberapa senjata tajam lainnya.


Carlos menoleh sekilas dan tanpa menjawab pertanyaan sahabatnya, ia kembali memilih senjata yang sangat mematikan.


Dadanya kini bergemuruh dan terasa panas, saat mendapatkan kabar bahwa, kedua keponakan kembarnya di culik bersama dengan gadis kecilnya yang imut.


Dengan raut wajah penuh emosi dan tatapan mata tajam yang mengerikan, Carlos masih memilih senjata tajam yang akan melukai semua musuh yang sudah berani menyentuh kulit gadisnya dan juga kedua kepanasannya.


Gigi Carlos bahkan masih bergesekan, karena geram akan tindakan ratu Rosella kali ini, yang membahayakan nyawa orang-orang kesayangannya, apalagi nyawa mengancam keselamatan gadis kecilnya yang semalam ia sayang-sayang dan pagi ini mendapatkan kabar tentang penculikan gadisnya dan kedua keponakan kembarnya.


Si kembar sendiri di culik di sekolah di jam sekolah pulang dan secara kebetulan hari ini, Kitty yang menjemput mereka, yang akan menghabiskan waktu bermain-main di pusat perbelanjaan.


Ketiganya di bungkam dengan obat bius di parkiran sekolah yang kebetulan, sepi dan para penjaga sekolah sedang istirahat.


Jadilah ketiganya dibawa para suruhan ratu Rosella, di sebuah villa yang terletak di ujung kota Chicago. Yang terletak di sebuah desa terpencil dekat sebuah dermaga tua, yang biasa ratu Rosella melakukan transaksi jual-beli barang-barang terlarang, tanpa tercium oleh pihak kepolisian, atau para agen mata-mata pemerintah kota.


"Ayo!" Ajak Carlos dengan wajah suram.


Boy hanya bisa memutar bola matanya jengah melihat tingkah Carlos.


"Cih! Baru saja jatuh cinta, sudah berlebihan!" Cibir Boy.


Carlos berhenti dan melirik Boy tajam, setelah itu ia pun melanjutkan langkahnya, dengan Boy berjalan di sampingnya.


~


"Sayang, aku pergi dulu!" Pamit Boy, kepada Ruby yang berjalan mondar-mandir di ruangan tamu bersama bibi lili.


"Hm! Gumam Ruby dengan wajah khawatir.


"Jangan khawatir, aku pasti membawa si kembar dengan selamat," janji Boy dengan sungguh-sungguh.


"Aku, percaya padamu, sayang," jawab Ruby.


"Aku berdoa, semoga kedua anakku selamat," cicit Ruby.


"Itu harus dan pasti, kami akan menyelamatkan mereka," hibur Boy kepada istrinya itu.

__ADS_1


"Aku pergi, jaga dirimu baik-baik. Ingin, bersembunyilah di ruangan bawah tanah, ok." Perintah Boy.


"Hm. Baiklah," sahut Boy.


"Aku pergi!" Pamit Boy sambil mengecup sayang kening sang istri.


"Tuan. Selamat cucuku!" Sela bibi lili.


"Aku pasti akan menyelamatkannya," timpal Carlos tiba-tiba.


"Terimakasih, tuan," ucap bibi lili.


Carlos tidak menanggapi ucapan bibi lili, ia mendahului Boy menuju mobil dengan perasaan campur aduk. Marah, khawatir, resah dan gelisah, menjadi satu, itulah isi perasaan Carlos sekarang.


~


Di tempat lain.


"APA!"


Gadis di depannya pun tersedak makanannya mendengar teriakan sang kakak, saat menerima panggilan telepon.


"Brengsek!" Umpat nya kasar dan membanting ponsel mewahnya ke atas lantai.


"Prang"


Lagi-lagi gadis cantik itu terkejut dengan perbuatan kakaknya.


"Ada apa, kak?" Kell yang masih mengontrol rasa terkejutnya bertanya kepada Ken.


"Habiskan makananmu!" Suruh Ken tanpa menjawab pertanyaan sang adik.


"Kakak mau kemana?" Tanya Kell kembali dengan alis terangkat.


"Tidak, apa-apa!" Sahut Ken dengan tersenyum hangat.


"Kakak menyembunyikan sesuatu dariku?" Selidik Kell dengan mata memicing.

__ADS_1


Ken menghela nafas panjang dan membuangnya secara perlahan, di tatapnya kembali wajah cantik adiknya yang pastinya tidak menyukai ungkapan darinya.


Ia sudah tahu watak adiknya satu ini, yang tidak pernah menyukai adik paling kecilnya atau kembarnya.


Kell pasti akan merasa diacuhkan kembali dan merasa Keisha lebih diutamakan.


"Kakak!" Seru Kell.


"Ada apa?" Ulang Kell dengan wajah penasaran.


"Kakak, akan menyelamatkan Keisha!" Lirih Ken.


"K — Keisha?" Kell terbata mendengar ucapan sang kakak.


"Hm! Ken mengangguk pelan.


"D – dia m – masih, h – hidup?" Dengan terbata Kell bertanya dengan dada berdebar kencang.


Ken tidak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan.


Kell terdiam dengan seluruh tubuhnya tiba-tiba membeku dan wajah yang begitu terkejut.


"Kei masih hidup?" Cicitnya pelan.


"Mana bisa? Bukankah, aku sudah mendorongnya di atas jembatan? Seharusnya dia sudah mati. Tidak, ini tidak bisa di biarkan, dia harus mati, dia tidak boleh menjadi penghalang ku menjadi adik kesayangan kakak." Kell terus bermonolog dalam hati, tanpa menyadari Ken sudah mendorong kursi rodanya ke arah belakang.


Kell yang tersadar dan tidak menemukan, sang kakak di depannya, ikut berdiri dan menyusul Ken.


Ia menyusuri setiap lorong yang ia temui di belakang rumah sederhana yang ditempati oleh Ken.


Kell bersembunyi di balik dinding, ketika ia mendengar pembicaraan sang kakak bersama sahabatnya Glen.


Kell hanya bisa mengepalkan kedua tangannya, setiap sang kakak menyebut nama Kitty dengan nada khawatir.


Entah mengapa Kell begitu membenci adik kembarnya itu, ia begitu merasa tersaingi oleh paras dan pembawaan pribadi adik kembarnya itu.


Sedangkan dia pun juga cantik dengan porsinya dia sendiri, namun kembali pada kepribadian Kell, yang memang memiliki ambisi tinggi dan egois, juga akan terobsesi kepada hal-hal yang berhubungan dengan sang adik.

__ADS_1


__ADS_2