
Enam tahun kemudian.
Seorang wanita cantik dengan tampilan begitu seksi dan menggoda, terlihat berlenggang masuk ke dalam sebuah bar ternama di kota Milan.
Ia berlenggang dengan begitu indahnya, membuat para mata keranjang memandangnya dengan lapar.
Mereka berlomba-lomba ingin mendekati wanita itu, tapi niat mereka terhenti saat, seorang pria dewasa menyambut wanita cantik tersebut dengan senyum mesum penuh arti.
Sedangkan wanita cantik dengan body indah bagaikan seorang Model terkenal di dunia, menyambut uluran tangan pria dewasa itu dengan tersenyum indah.
"Selamat datang nona, lincy," sapa tuan Lorenzo sambil mendekatkan telapak tangan wanita itu ke depan bibirnya dan memberikan kecupan hangat di sana.
"Terimakasih, atas sambutan anda tuan, Lorenzo," sahut lincy.
"Suatu penghormatan untuk menyambut wanita secantik anda nona, lincy," puji tuan Lorenzo yang penuh dengan kemesuman.
"Sekali lagi terimakasih, atas pujian anda tuan," sang wanita yang kini sudah berada di sebuah kamar mewah.
Mata wanita itu merotasi setiap sudut kamar mewah itu sangat teliti.
Senyum tipis terlihat di mulut wanita itu, saat menemukan target yang ia cari, melalui sebuah lensa mata canggih yang ia pakai.
Lensa mata yang berwarna hijau yang menutupi warna mata asli wanita ini.
Tiba-tiba, sepasang tangan kekar memeluknya dari belakang dan menghirup ceruk leher wanita itu.
"Kau sangat wangi," bisik tuan Lorenzo.
Wanita itu hanya bisa menahan rasa jijiknya dan juga amarahnya.
Sekuat tenaga ia menahan amarahnya dan juga rasa jijiknya yang mulai menjalar di seluruh tubuhnya.
"Sial. Ini sangat menjijikkan," batinnya berteriak.
"Apakah, kita bisa mulai sekarang,?" Tanya tuan Lorenzo dengan suara yang sudah dikuasai oleh gelora hasraat.
"Aku, akan menghajarmu Ken," umpat wanita itu yang adalah Amber Wilson.
Malam ini ia dan anggota tim Daredevil black menjalankan misi dengan membunuh tuan Lorenzo, yang seorang konglomerat terpandang, yang memiliki usaha dimana-mana. Seorang pengusaha yang senang dengan dunia malam dan juga dunia jaalang tentunya.
Yang paling mencengangkan, orang dibalik tugas misi ini adalah, istri tuan Lorenzo sendiri, yang ingin menguasai semua harta tuan Lorenzo.
Di sinilah sekarang Amber, yang berperan sebagai seorang wanita panggilan khusus seorang konglomerat terpandang.
Jujur saja Amber paling menghindari peran ini, yang menurutnya sangatlah menjijikkan. Tapi Amber tidak memiliki cara lain selain pasrah dan menerima tantangan ini dengan separuh hati.
Meskipun ia harus merelakan tubuhnya di sentuh dan di cumbu, ini demi misi mereka.
Amber menghindari tuan Lorenzo, saat pria dewasa itu ingin memegang salah satu benda berharganya.
"Maaf tuan, aku harus ke kamar mandi," pamit Amber dan tanpa memperhatikan wajah merah tuan Lorenzo, Amber segera berlari ke kamar mandi.
*
*
*
"Sial! Umpat Amber yang membersihkan semua jejak pria sialan itu.
"Aku, akan membunuhmu, Glenn.!!! Amuk Amber.
Terdengar kekehan di seberang sana melalui anting yang Amber kenakan.
Terdengar juga gerutukan di seberang sana yang tentu saja dari Ken. Yang begitu marah saat pria itu menciumi tubuh indah Amber.
"Hati-hatilah, sweety." Ken memberikan peringatan kepada Amber.
__ADS_1
"Aku, akan membunuhnya sekarang. Aku tidak akan rela ia terus menyentuh tubuhku ini," bisik Amber.
"Jangan, gegabah, Amber,!" Terdengar pekikan Glenn di sana.
"Aku, tidak peduli," sahut Amber.
"Amber.!!!
"Tut." Amber mematikan alat yang terpasang di antingnya.
Ia mengangkat gaun hitam yang ia pakai dan mengeluarkan sebuah belati kecil yang sangatlah tajam.
"Mari kita akhiri ini," gumam Amber.
Ia pun keluar dari kamar mandi dengan memasang wajah penuh godaan.
"Clek!
Pemandangan yang pertama kali Amber lihat saat keluar dari kamar mandi adalah, penampilan tuan Lorenzo yang sedang bercuumbu dengan seorang pria muda.
Ingin rasanya Amber kembali berlari kedalam kamar mandi, tapi sekuat tenaga ia menahan rasa jijiknya itu.
"Sial! Seharusnya aku membawa senjata api, jadi aku tinggal membidik mereka," monolog Amber dalam hati.
"Kemarilah, nona, lincy." Panggil tuan Lorenzo dengan seorang pria muda yang sedang menciumi tubuhnya.
"Kita, akan berpesta malam ini, babe," ucap tuan Lorenzo dengan wajah bahagia.
"Lebih tepatnya kau akan menemui ajalmu tuan, Lorenzo," gumam Amber.
Amber pun berjalan dengan anggunnya ke arah sofa dimana para manusia menjijikkan itu bercumbu.
Amber menyembunyikan belatinya di belakang punggungnya.
Sambil tersenyum menyeringai Amber melangkah lebih dekat ke arah tuan Lorenzo yang sudah tersulut hasraat.
Amber melewati tuan Lorenzo dan berdiri di belakang pria dewasa itu. Amber membelai leher tuan Lorenzo dengan sebelah tangannya dan menariknya ke belakang hingga kepala tuan Lorenzo mendongak keatas.
Tuan Lorenzo yang tidak menyadari bahaya apapun, hanya menikmati perlakuan Amber yang kini tersenyum menyeringai kepadanya.
"Ucapkan, selamat tinggal untuk kesenanganmu ang yang terakhir tuan, Lorenzo,?"
Tanpa banyak berkata-kata, Amber menggores leher tuan Lorenzo dan melukai dada tuan Lorenzo yang berada di atas jantung pria dewasa itu.
"Akhh! Pekik pria muda yang menemani tuan Lorenzo.
Amber pun melemparkan belatinya kearah pria itu yang ingin melarikan diri, tapi naas sebuah belati kini menancap di belakang kepala pria itu.
Amber sengaja menghabisi pria muda itu, ia tidak ingin mencari masalah dengan pihak kepolisian lagi.
"Cih! Kau hanyalah sampah masyarakat dan aku berhak membersihkan para sampah seperti kalian," sinis Amber sambil menendang kaki tuan Lorenzo yang sudah terkapar.
"Misi, selesai," ujar Amber sambil mengaktifkan Earpiece yang terpasang di antingnya.
"Sekarang, cepatlah keluar dari sana, sweety," perintah Ken.
"Hm! Gumam Amber.
Ia mendekati tas kerja tuan Lorenzo dan mengambil sebuah berkas penting yang diinginkan istri dari tuan Lorenzo.
"Istri yang gila harta dan suami yang sangat brengsek, sungguh pasangan yang serasi," gumam Amber sambil tersenyum miring.
Ia pun keluar dari kamar VVIP yang ada di bar terkenal di kota Mila.
Amber melangkah dengan santainya tanpa merasa bersalah sedikitpun. Jejak cairan merah tuan Lorenzo sudah dibersihkan dan kini ia sudah berjalan ke arah pintu keluar di bagian belakang.
Semua tatapan lapar para pria menjijikkan ia abaikan dan Amber bahkan melayangkan tamparannya kepada salah satu pria tua yang mencoba menyentuhnya.
__ADS_1
Dan pria itu pun terkapar dan tak sadarkan diri saat mendapatkan tamparan keras dari Amber.
Dari lantai atas seorang pria dengan manik abu-abunya yang begitu menggoda tersenyum cerah saat melihat sosok wanita yang ia cari-cari.
"Aku, menemukanmu, honey," bisiknya dengan menampilkan senyum menawannya.
"Cari tahu tentang wanitaku," perintahnya kepada ajudan setia Carlos.
Yah Carlos lah, yang tersenyum saat melihat sosok Amber yang sangat memukau malam ini. Membuat Carlos semakin menggila Amber.
Wanita yang selama ini ia cari, namun tak satupun orang suruhannya yang menemukan jejak Amber.
"Baik, pangeran,"
"Pergilah," perintahnya.
Pengawal setia Carlos pun meninggalkan ruangan yang ia tempati, untuk menjalankan tugas yang ia perintahkan.
"Kali, ini kau tidak akan lolos dari, honey," monolog Carlos yang masih menatap Amber sedang berjalan keluar dari bar tersebut.
*
*
*
"Ini, pakailah." Ken menyerahkan sebuah jaket kepada Amber.
Ia sejak tadi merasa panas melihat penampilan Amber dan ia juga tidak rela Tubuh Amber menjadi objek pemandangan indah buat pria brengsek.
Ia memukul kepala Glenn yang tidak bisa berkedip saat melihat penampilan Amber.
"Tutup matamu, sialan," geram Ken.
"Cih! Glenn hanya berdecak dan menjalankan mobilnya untuk keluar dengan cepat dari area bar, sebelum ada yang menyadari perbuatan Amber.
"Kau, ingin mengunjungi si kembar," tanya Ken sambil menoleh ke kursi belakang.
"Hm! Aku sudah janji pada mereka," sahut Amber dengan merebahkan punggung belakangnya di sandaran mobil.
"Biar aku menemanimu, menemui mereka."
"Hm! Itu harus karena mereka selalu merengek ingin bertemu dengan daddynya," sahut Amber.
"Aku, juga merindukan mereka," lirih Ken.
"Hm. Jangan lupa pesan mereka," ujar Amber mengingatkan Ken.
"Astaga. Aku melupakannya," pekik Ken.
"Maka bersiap-siaplah," cibir Amber.
"Kau, benar aku harus bersiap menerima amukan si kembar," gumam Ken yang juga merebahkan punggungnya di sandaran mobil.
"Kenapa kita lewat sini," tanya Ken dengan dahi mengkerut.
"Ada yang mengikuti kita," jawab Glenn.
"Siap,?" Tanya Amber dan Ken bersamaan dan menoleh kebelakang.
"Entahlah. Lebih baik kalian memasang sabuk pengaman kalian," pinta Glenn.
Amber dan Ken pun menuruti perintah Glenn dan berpegang kencang pada sabuk pengaman mereka.
Saat mobil yang dikemudikan oleh Glenn melaju sangat kencang.
"Sial!
__ADS_1
.