
Bram masih dalam keadaan berjongkok dan menerbitkan senyum bahagianya kepada kedua anak kembarnya yang sedang berlari ke arahnya bersama Amber.
Dengan kedua tangan terbuka, untuk menyambut kedua buahnya dan membawanya ke dalam dekapannya hangat seorang daddy.
"Anak-anakku," batin Bram dengan kedua matanya sudah berkilau karena genangan air mata.
"Daddy!"
Langsung saja kedua anak kembarnya itu, menabrakkan diri ke dalam pelukan hangat sang daddy.
Bram memeluk kedua anaknya dan menghujani wajah si kembar dengan ciuman secara bergantian.
Ia begitu terharu dan juga bahagia dengan sambutan antusias dari anak-anaknya.
Pelukan erat dna juga tangisan mengiringi, pertemuan ana antara anak dan daddy.
Amber mengusap air mata bahagianya, menyaksikan kebahagiaan kedua anaknya dan juga pria tercintanya.
Bram mendongak kepalanya dan menatap wanitanya dengan perasaan yang campur aduk.
Ia mengulurkan kedua tangannya di sela-sela pelukannya di kedua tubuh mungil anak-anaknya.
Amber pun berjongkok di dekat Bram dan ikut turut memeluk kedua buah hati mereka.
Kebahagiaan terlihat jelas dari raut wajah si kembar, karena mereka kini sudah berkumpul lengkap dalam satu keluarga yang bahagia.
Amber menciumi puncak kepala anak-anaknya dan juga mencium pipi Bram.
Ia bahagia, sangat bahagia. Anak-anaknya bisa menerima daddy mereka dengan antusias dan juga raut wajah bahagia.
Amber sempat ragu, kalau anak-anaknya mau menerima daddy mereka dengan tangan terbuka.
Tapi pikirannya itu kini berganti kelegaan dan juga kebahagiaan.
Anak dan kedua orang tua itu, masih saling berpelukan hangat penuh kasih sayang dan juga kerinduan.
Gie hanya bisa menatap bingung keempat orang yang kini saling berpelukan.
Di hanya bisa terperangah, ketika si kembar memanggil pria asing menurut Gie, daddy.
"Daddy?! Monolog anak kecil tampan itu.
"Jadi, pria itu adalah, daddy twins B?" Tanya Gie pada dirinya sendiri.
Anak Boy itu kini menatap calon keluarga bahagia itu dengan sangat intens.
Entah apa yang ada di pikiran, Gie. Dia hanya ketakutan, kalau-kalau pria asing itu membawa pergi adik peri nya.
"Ehem"
Sebuah deheman, membuat suasana hangat penuh keharuan itu terhenti, ketika Bram mendengar deheman seseorang dari arah belakang mereka.
Amber melepaskan pelukannya, pun dengan Bram. Ia Lalu melihat ke arah belakang tubuh Amber.
Dan Bram hanya bisa mencebikkan bibirnya, saat mengetahui siapa yang mengganggu kebahagiaan mereka.
"Akhirnya, kalian berkumpul juga," seru Ruby yang turut bahagia melihat si kembar sudah berkumpul dengan kedua orang tua mereka.
"Cih!" Boy berdecak kesal dan ia langsung meraih tubuh mungil Bryana dan menggendongnya.
"My princess, jangan dekat-dekat dengannya!" Pinta Boy yang mengarahkan tatapannya kepada Bram.
Bram yang mendengar ucapan Boy, tentu saja tidak terima.
Ia lantas mendekat ke arah Boy dan mengambil paksa putrinya.
"Hey! Dia putriku!" Pekik Boy tidak terima atas apa yang dilakukan Bram.
__ADS_1
"Dia putriku, ….!" Sahut Bram tidak mau kalah.
Bram menggendong tubuh Bryana dan kini ia meraih tangan satunya ke arah Bryan.
Jadilah kini Bram menggendong kedua anak kembarnya dengan begitu posesif.
"Hey, … kau. Kembalikan putriku!" Pekik Boy lagi.
Boy berusaha merebut si imut Bryana dari gendongan daddynya.
Boy tidak rela, gadis kecilnya yang imut dimiliki oleh orang lain.
"Dia putriku asal kau tahu, aku yang sudah membuat mereka dengan penuh cinta dan perasaan di atas ranjang dan juga di tempat di mana saja kami mau," seloroh Bram dengan perkataan absurd.
"Dasar, pria mesum!" Pekik Boy geram.
"Jaga ucapanmu di depan anak-anakku.!" Geram Boy.
"Mereka, anak-anakku. Bukan anakmu." Boy menjawab tak kalah sengitnya.
"Tapi, aku yang membesarkan mereka!" Sengit Boy yang makin menjadi.
"Tapi aku yang sudah membuat mereka. Kalau aku tidak membuatnya, pasti mereka tidak akan ada di dunia ini," sahut Bram, dengan wajah penuh bermusuhan ia berikan kepada sahabatnya.
Ruby, Amber, Gie dan kedua si kembar, hanya bisa terdiam mendengar dan melihat perdebatan antara Boy dan Bram uang yang sedang memperebutkan si imut Bryana.
"Kemarin kan, putriku!" pinta Boy yang masih berusaha merebut sang putri imut miliknya.
"Tidak!" tolak Bram yang memeluk tubuh bk dua anak kembarnya lebih posesif.
"berikan, padaku brengsek!" geram Boy lirih.
"Cih. dalam mimpimu," olok Bram dengan bibir mencibir ke arah Boy.
"Bram!!! teriak Boy.
Ruby yang mendengar perkataan Bram hanya bisa tersenyum kikuk.
Amber hanya bisa menghela nafas. ia harus segera menghentikan perdebatan ini, yang semakin memanas.
Amber mendekati Bram yang masih menggendong kedua anak kembarnya dengan begitu posesif.
Amber menyentuh lengan Bram dan mengusapnya lembut.
Amber tersenyum manis saat kepada kedua anaknya dan mencium pipi di kembar secara bergantian.
"Dea!" seru Amber lembut.
Bram memalingkan wajahnya kesamping. "hum," gumam Bram.
"Berikan!" pinta Amber.
Bram terlihat menggelengkan kepalanya, menolak permintaan sang wanita, saat menyuruhnya memberikan anak gadis imun-nya kepada Boy.
"tapi, dia putriku," rengek Bram.
"Biarkan, tuan Boy bersama Bryana," ujar Amber dengan lembut.
"Tap, ...."
"Dear!"
Dengan berat hati, Bram menyerahkan si imut Bryana kepada sahabatnya, Boy.
Bryana sendiri hanya bisa terdiam dalam gendongan daddynya.
namun ia juga tidak ingin membuat daddy kesayangannya bersedih.
__ADS_1
jadilah gadis mungil itu berpindah gendongan kepada daddy Boy.
meskipun ia masih ingin menghabiskan waktu dengan Daddy aslinya.
Sedangkan Boy, tersenyum kemenangan karena Bram menyerahkan putrinya pada dirinya.
namun Bram masih menatap, Boy dengan permusuhan.
ingin rasanya Bram mencakar wajah sahabatnya itu, yang tersenyum mengejek padanya.
"Jangan sedih, dad, ada Bryan yang akan menemani, daddy," ucap si tampan Bryan.
mendengar ucapan anak laki-lakinya, membuat Amber dan Bram terhenyak dengan nada sendu sang putra.
Bram lupa kalau dia masih memiliki satu buah hati lagi yang, wajahnya sangat mirip dengannya.
"Maafkan, daddy," ucap Bram.
pria itu memeluk putranya dengan perasaan bersalah, karena mengabaikan putranya dan lebih memilih berdebat dengan sahabatnya.
"Tidak apa-apa, daddy." si tampan Bryan memeluk leher daddy begitu erat dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang daddy.
"Daddy, menyayangi kalian," bisik Bram.
"Bry juga sangat menyayangi, daddy dan merindukanmu, daddy," lirih Bryan.
"Maaf, daddy baru menemui kalian."
"Tidak masalah, kami tahu, daddy pasti sibuk bekerja."
"Bekerja?!
"Hm. katakan kakek, daddy sedang bekerja di luar negeri."
"Kakek?!
"Hm, kakek yang mirip wajah denganku."
Kini Bram dan Amber saling menatap dalam diam dan dengan wajah kebingungan.
Amber dan Bram bersamaan menatap wajah sang putra dengan intens.
"Apa, putra kita memiliki wajah yang sama dengan, daddy mu, sayang?" tanya Bram sambil menatap Bryan dan Amber bergantian.
"Tidak! keluargaku, tidak memiliki manik abu-abu," sahut Amber.
"Benarkah?!
"Hu'um. bukankah, Bryan sangat mirip denganmu? itu artinya yang dia sebut kakek, adalah daddy mu, dear," pungkas Amber.
"Daddy?!
"Apa dia masih hidup?"
Bram tidak menjawab pertanyaan Amber, ia kini menatap tajam kepada sahabatnya Boy, yang sedang pura-pura melakukan sesuatu.
"Kakek, Philips, sangat baik, daddy," timpal Bryana.
membuat Boy terbatuk-batuk dengan tiba-tiba.
"Apa?" tanya Bram.
"Kakek, Philips juga yang memberitahukan kami tentang daddy dan memperlihatkan foto daddy pada kami," seloroh Bryana, tanpa memperhatikan raut terkejut kedua orang tuanya.
Tidak dengan Boy yang merasa gusar, apalagi melihat tatapan mematikan, Bram dan Carlos yang baru bergabung.
"Apa, yang kau sembunyikan pada kami, Boy Raymond Cole!!!"
__ADS_1