Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard

Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard
bab 108


__ADS_3

Sebuah bangunan rumah terbuat dari kayu, bertingkat dua yang terlihat begitu asri dan menyejukkan, terletak di tengah-tengah hutan rimba.


Rumah tersebut menjadi markas dari anggota tim Daredevil black, para pembunuh bayaran dan juga agen mata-mata.


Sebuah rumah yang jauh dari pemukiman warga di sebuah desa yang terkenal dengan pemandangan indahnya di salah satu di kota Chicago.


Di dalam rumah tampak terlihat seorang pria dengan perangai tinggi kekar, sedang termenung di atas kursi roda, menatap keluar melalui kaca jendela kamar dengan tatapan kosong.


Sudah beberapa hari ini, pria yang bernama Keenan Lerian itu hanya bisa mengurung dirinya dalam keadaan terluka dan rapuh sendirian di dalam kamarnya.


Ken meratapi nasibnya yang begitu tragis dan memilukan. Kebahagiaan yang ia idamkan kini tinggal angan semata.


Hanya kebahagiaan sederhana yang diinginkan Ken, yaitu bisa berkumpul dengan mommy dan kedua adik kembarnya.


Impian untuk hidup bahagia dengan wanita yang sangat dicintainya kini, hanya menjadi cinta dan khayalan semu semata.


Ken hanya bisa merenung dengan hati hampa dan tatapan kosong.


Belum lagi kondisinya yang sekarang, hanya bisa terdiam di atas kursi roda. Beruntung dirinya, memiliki seorang sahabat yang begitu setia dan tetap merawatnya.


Hanya kematian yang Ken pilih sekarang ini, namun rasa Dendamnya menguasai dirinya.


Dendam yang akan ia balaskan kepada sang bibi yaitu,. Ratu Rosella.


Sebisa mungkin Ken keluar dari kegelapan hampa yang ia rasakan. Bangkit dari keterpurukan dan luka atas kehilangan orang-orang yang begitu ia sayangi.


~


Ken terdengar menghela nafas panjang dan menghembuskannya dengan pelan, bersamaan pula pintu kamarnya terbuka.


Ken menoleh ke arah pintu kamar dan terlatih sahabatnya, Glenn disana uang yang sedang berjalan mendekat ke arahnya.


"Kau, membutuhkan sesuatu?" Tanya Glenn.


"Berhentilah, berkata seperti itu dan menatapku seperti itu. Aku merasa seperti pria malang yang haus akan belas kasihan,"lirih Ken.


Glenn hanya bisa memutar bola matanya ke atas, dan menarik nafas.


Dia sangat mengenal sahabatnya ini dan mereka sudah bersahabat sejak kecil.


"Aku hanya bertanya, Ken!" Ujar Glenn sabar.


Tidak ada jawaban dari Ken. Pria itu kembali termenung.


Dan menatap hamparan pohon-pohon tinggi yang ada di sekeliling markas mereka.


"Beritanya, sudah hilang, tapi, …." Glenn menjeda ucapannya, ingin melihat reaksi Ken.


Dan benar saja, pria itu langsung berpaling dan menatap Glenn dengan raut penasaran.


"Tapi apa?" Tanya Ken dengan alis mengerut tajam.


"Mereka akan kembali ke istana Alexander," sambung Glenn.

__ADS_1


"Amber dan Bram, mereka sudah menikah dan akan mengadakan konferensi pers besok oagi," imbuh Glenn.


.


"Menikah?!


"Hm. Mereka menikah, saat si kembar mendapatkan perilaku buruk."


Ken terlihat tersenyum miris dengan tatapan nanar keluar jendela.


Ternyata kesempatannya sudah hilang untuk memiliki Amber dan harapannya kini hanya bisa menjadi sebuah pajangan indah dalam pikiran dan hatinya.


"Jadi, mereka akan kembali?"


"Hum, begitulah yang aku dapat dari orang suruhan kita," terang Glenn.


"Apa mereka juga membawa si kembar?"


"Tidak. Mereka akan tetap menitipkan si kembar kepada tuan tuan, Boy," ucap Glenn yang sudah berada di depan Ken.


"Mereka, sengaja menutup informasi tentang. Bryan dan Bryana. Agar terhindar dari bahaya," ucapnya lagi.


"Jadi, mereka menyembunyikan status si kembar?"


"Hum. Dan mengganti dengan anak kembar yang lain."


"Mereka, mengikuti cara ratu iblis itu ternyata," kekeh Ken dengan lirih.


"Maka, bangkitlah dan kita akan mendapatkan bagian untuk menghabisi si wanita licik itu."


"Dia harus mati ditanganku, lebih dulu," gumam Ken dengan dingin dan tatapan yang berubah tajam.


"Aku, juga sudah mendapatkan informasi mengenai kedua adikmu." Sela Glenn.


Ken menolehkan wajahnya segera kepada Glenn yang sedang duduk di sofa.


"Apa yang kalian temukan? Tentang kematian mereka yang tragis? Atau kuburan mereka," seloroh Ken dengan wajah menyedihkan.


"Salah satu dari mereka, masih hidup dan di selamatkan oleh pasangan suami-istri," tutur Glenn.


Sontak saja Ken terkejut dan menuntut sambungan dari perkataan Glenn dalam diam.


"Dia berada di kediaman, tuan Boy. Dan sekarang dia melanjutkan sekolahnya di salah satu perguruan tinggi di kota ini," ungkap Glenn.


Ken yang merasa senang dan lega, langsung menjatuhkan punggungnya ke belakang dengan tubuh yang lemas.


Hatinya yang hampa tiba-tiba menghangat dengan kabar sang adik, yang masih hidup meskipun dia harus kehilangan adik perempuannya satu.


Dengan sudut bibir yang mengembang keatas, Ken menatap sahabatnya dengan binar kebahagiaan.


"Aku, ingin bertemu dengannya," seru Ken.


"Tidak sekarang, biarkan dia berada disana. Agar dia aman," sahut Glenn.

__ADS_1


"Siapa? Kenapa aku tidak pernah melihatnya berada di kediaman Ruby?" Gumam Ken.


"Dia baru satu bulan, tinggal di sana. Selamat ini dia tinggal bersama keponakan bibi lili di desa," imbuh Glenn.


"Mereka menemukan adikmu, dalam keadaan terbawa arus sungai yang ada di desa mereka. Dan dalam keadaan sekujur tubuhnya penuh luka. Kemungkinan dia dilecehkan, karena wanita itu, menjual kedua adikmu di rumah pelacuran." Ungkap Glenn, mengatakan semua informasi yang didapat dari anak buah mereka.


"Adikmu juga kehilangan ingatannya, dan dia kini hidup dengan identitas barunya, jadi mungkin dia tidak akan mengenalimu," sambung Glenn.


"Aku tidak peduli, yang penting dia masih hidup, aku sudah merasa senang," sahut Ken.


"Kita, juga belum tahu apakah adikmu yang lain masih hidup atau sudah tiada, karena tidak ada satupun informasi yang kami temukan."


"Bukankah, kalian berpisah saat mereka berumur 10 tahun?"


"Hum. Mereka masih terlalu kecil melihat kekejaman wanita itu," geram Ken.


"Kemungkinan, mereka dijual saat berusia, 14 tahun," seru Glenn.


"Brengsek! Aku bersumpah, akan menghabisi wanita itu," geram Ken dengan wajah yang sangat memendam amarah.


"Bolehkah, aku melihatnya meskipun dari jauh." Dengan binar penuh harapan Ken berikan kepada sahabatnya.


"Sembuhlah terlebih dahulu," ujar Glenn.


"Aku tidak sakit, Glenn!"


"Aku tahu, tapi apa kau akan keluar dari sini dalam keadaan begini? Penuh kerapuhan dan menyedihkan?" Tutur Glenn.


Ken lantas terdiam, apa yang Glenn ucapkan ada benarnya.


Setidaknya ia menata kembali hidup nya agar tidak terlalu terlihat terpuruk dan menyedihkan.


"Tenanglah, dia akan aman," ujar Glenn sambil menepuk punggung sahabatnya.


"Apa kau memiliki, fotonya?"


"Hum!"


"Bolehkah aku melihatnya? Aku begitu merindukan adik kecilku," ucap Ken dengan mata yang sudah berembun.


"Adik kecilmu, sangat imut dan cantik. Dia juga gadis yang ceria dan sangat bar-bar," pungkas Glenn dengan tersenyum miring.


"Keisha?" Gumam Ken.


Ken sangat mengenali karakter yang dituturkan oleh Glenn barusan. Dan sifat itu ada pada diri adik perempuannya yang paling kecil, Keisha Lerian.


Dan adik satunya bernama, Kelly Lerian. Yang memiliki sifat yang sangat berbanding terbalik, yang memiliki sifat egois dan pembangkang.


"Kakak, berharap kau juga masih hidup," lirih Ken dalam hati.


Sebagai seorang kakak laki-laki yang sangat menyayangi kedua adik kembarnya, Ken berharap adik perempuan satunya masih hidup, meskipun mereka sering berselisih paham.


"Ini!" Glenn memberi ponselnya kepada Ken yang terdapat sebuah foto seorang gadis muda nun imut, sedang tertawa lepas.

__ADS_1


"Dia terlihat semakin menggemaskan," gumam Ken.


"Juga cantik!" Seloroh Glenn.


__ADS_2