Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard

Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard
bab 29


__ADS_3

"Hg" terdengar suara lenguhan halus dari seorang wanita yang matanya kini sedang mengerjap-ngerjap, yang masih terasa berat untuk terbuka, tapi panggilan alam harus memaksa Amber membuka lebar-lebar mata bulat bermanik coklat terang itu. Amber menggeliatkan badannya sambil menguap lebar. Ia bangun dari tidurnya dan duduk sebentar di ranjang untuk menyatukan dengan sempurna nyawanya yang masih terasa melayang-layang.


Amber terlihat mengernyit heran, saat maniknya menatap keseluruhan kamar yang ia tempati. Kamar yang lumayan besar dengan warna krem mendominasi kamar tersebut.


Amber turun dari ranjang dengan bertelanjang kaki.


Ia menggulung rambut coklatnya keatas dan membiarkan anak-anak rambutnya mengenai wajah polos tanpa makeup itu.


"Clek!


Amber keluar dari kamar dengan pakaian yang kemarin ia kenakan.


Amber menatap sekeliling bangunan castle tersebut dengan kening mengkerut. Ia menuruni tangga yang berkelok-kelok itu.


Saat berada di ujung tangga, indera penciuman Amber disapa oleh, aroma masakan yang membuat isi perutnya bergerak dan berdemo ria.


Amber mengendus-endus kan, hidungnya dan berjalan mengikuti arah aroma masakan yang membuat perutnya mendadak lapar.


Amber tertegun di tempatnya saat, melihat pemandangan yang membuatnya bergeming.


Amber masih betah menatap punggung lebar Ken yang Tanpa atasan itu yang memame sebuah tato yang memenuhi bagian belakangnya.


Ken yang sibuk menyiapkan sarapan, tidak menyadari keberadaan Amber dibelakangnya.


Ken hanya fokus pada masakan khusus dibuat untuk Amber.


Sedangkan Amber, masih bergeming di tempatnya.


Ia merasa Dejavu dengan pemandangan di depannya ini. Dia Dejavu saat masih bersama Bram.


Di saat ia terbangun dan mendapati Bram di dapur, memunggunginya dalam keadaan setengah telanjang memamerkan punggung kokoh Bram yang memiliki tato juga.


Biasanya Amber akan berlari dan langsung meloncat di punggung kekasihnya itu. Dan dengan senang hati Bram membiarkan dirinya bermanja-manja kepadanya.


Tidak lupa ritual yang selalu Bram lakukan padanya yaitu, ciuman di seluruh wajah Amber dan sebuah pelukan hangat.

__ADS_1


Bram akan memperlakukan Amber begitu manis, layaknya seorang kekasih yang sangat berharga.


Setetes air kristal bening membasahi pipi hangat Amber pagi ini. Air mata rindu akan sosok yang akan Amber lupakan.


Tapi itu mungkin akan sia-sia, kalau kenangan itu masih menghantui pikiran Amber.


"Kau, sudah bangun, sweety.?" Sebuah sapaan hangat dan lembut menyadarkan Amber dari lamunan masa lalunya.


Ken menyimpan hasil masakannya di atas meja. Ia berjalan mendekati Amber yang masih bergeming di depan pintu dapur.


"Sweety! Sentak Ken sambil menyentuh lengan Amber lembut.


Amber terlihat terkesiap saat merasakan sentuhan Ken.


Amber mendongak sedikit kepalanya, ia menatap nanar manik hijau Ken.


Pun Ken menatap dalam manik coklat berkilau Amber.


"Apa, kau baik-baik saja, sweety.?" Ken mengusap kristal bening di ekor mata Amber.


Ken menatap lekat raut wajah Amber dan juga menyusuri netra teduh Amber yang penuh kerinduan dan luka bersamaan.


"Apa, kau yakin, sweety.?" Tanya Ken kembali.


"Hum! Gumam Amber sambil mengangguk perlahan.


"Kau memasak.?" Amber mengalihkan suasana tidak nyaman itu di dengan topik lain.


"Hu'um. Aku memasak untuk." Ken membenarkan pertanyaan Amber.


"Benarkah! Dari bau nya terasa enak. Boleh aku mencicipi nya, Ken.?


"Tentu. Aku memasak khusus untukmu, sweety,!"


"Ayo kemari.!" Ken menarik lembut tangan Amber dan mendudukkannya di kursi makan.

__ADS_1


"Makan lah." Suruh Ken, memberikan sebuah sarapan yang membuat Amber menelan ludahnya.


Dengan tidak sabar Amber menyuapkan sarapan yang disiapkan oleh, Ken kedalam mulut.


Amber terlihat memejamkan mata itu meresapi rasa masakan Ken.


"Bagaimana. Apa enak.?" Ken bertanya untuk menetralisir perasaannya saat dihadapkan pemandangan indah di depannya.


Amber yang memejamkan mata dengan ekspresi yang begitu sangat menggemaskan, membuat jiwa kelelakiannya bangkit. Ayolah Ken adalah pria normal apalagi ini pagi hari. Untung lah, Ken bukanlah pria brengsek yang sering mencelup-celup kemana. Ia adalah seorang pria yang masih menjaga tubuh indahnya dari sentuhan seorang wanita, kecuali Amber, yang menjadi wanita pertama yang ia sentuh.


"Enak. Sangat enak.!" Jawab Amber dengan senyuman yang begitu indah.


Lagi-lagi jantung Ken berdetang kencang, wajahnya bahkan sudah berusia merah merona.


"Wajahmu, kenapa.?" Tanya Amber.


"Ah, i-itu. Tidak apa-apa. Lanjut sarapan mu, aku ingin ke kamar." Ujar Ken.


"Kau, tidak sarapan bersama ku.?"


"Sarapanlah terlebih dahulu, aku bisa nanti. Ada sesuatu yang ingin aku lakukan di kamar."


"Baiklah. Tapi kau jangan marah, kalau sarapannya aku habiskan."


"Tidak masalah, sweety."


"Ck! Menyebalkan."


Ken hanya tersenyum melihat wajah kesal Amber. Ia mengusap lembut rambut Amber dan meninggalkan wanita itu sendiri di meja makan.


Amber pun memakan sarapannya dalam diam.


Ia terlihat menikmati sarapan sederhana tapi begitu lezat, membuat Amber menghabiskan dua porsi sarapan pagi.


"Selamat pagi, nona."

__ADS_1


__ADS_2