Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard

Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard
bab 82


__ADS_3

"Dia di mana?" Ken yang sekarang berada di sebuah restoran mewah di negara Chicago.


Pria itu bertanya kepada seorang pria setengah baya dengan berpenampilan rapi yang sedang berdiri di depan pintu sebuah ruangan khusus restoran mewah tersebut.


"Beliau, sudah menunggu anda sejak tadi tuan muda," jawab pria setengah baya itu dengan memasang wajah datarnya.


"Katakan padanya, aku sudah tiba!" Perintahnya.


Dengan patuh dan sambil pria itu membuka pintu ruangan tersebut dan mempersilahkan Ken masuk dengan badan yang setengah membungkuk.


Ken dapat melihat sosok wanita setengah baya yang sedang berdiri di depan jendela besar yang ada di ruangan khusus itu. Wanita itu memunggungi Ken sambil melipat kedua tangannya di dada, dengan pandangan tajamnya menerawang ke depan.


"Kau sudah datang, son?" Wanita itu bertanya sambil membalikkan tubuhnya.


Wanita itu tersenyum hangat kepada Ken dengan tatapan yang lembut penuh kerinduan.


Ken hanya mengangguk menjawab pertanyaan wanita anggun di depannya, yang juga menatapnya tak kalah lembutnya.


"Kemarilah, dan berikan mommy pelukan," pinta wanita itu yang kini merentangkan kedua tangannya.


Segera saja Ken mendekati wanita tersebut dengan perasaan rindu yang membuncah.


Keduanya pun saling berpelukan untuk mengobati rasa rindu mereka, yang sangat jarang bertemu.


Ken bahkan memeluk erat wanita setengah baya itu dengan penuh kasih sayang, pun dengan wanita yang terlihat berkelas itu, memeluk Ken tak kalah eratnya.


"Mom, merindukanmu, sayang." Ucapnya.


"Aku, juga sangat merindukanmu, mom" jawab Ken.


"Bagaimana keadaanmu, son?" Tanya wanita yang masih terlihat cantik di usianya yang tidak muda lagi.


"Baik," balas Ken sambil mengurai pelukannya.


"Bagaimana kabar, mommy?" Tanya Ken balik.


"Baik, sangat baik," jawabnya dengan tatapan yang penuh kepahitan.


"Apa dia menyakiti, mommy?" Tanya Ken lagi, kali ini dengan tatapan marah.


"Tidak, son!"


"Bohong, mommy pasti berbohong!" Pekik Ken.


"Lalu mommy harus apa, nak?"

__ADS_1


"Hentikan semua ini, mom!" Pinta Ken dengan tatapan memohon.


Wanita itu terlihat menggelengkan kepalanya dengan wajah sendu.


"Mommy tidak bisa," ujarnya.


"Kenapa, mom!" Tanya Ken sambil mengusap wajahnya dengan gerakan frustasi.


"Kedua adikmu masih dalam genggamannya, nak" sahutnya lirih.


Ken hanya bisa menggeram frustasi dengan situasi yang dialami keluarganya selama bertahun-tahun lamanya.


Mereka berada dalam tekanan seseorang yang sangat kejam dan berkuasa.


Meskipun mereka memiliki sebuah darah yang sama tapi sosok tersebut sangatlah licik dan kejam.


"Harus sampai kapan, kita menjadi biduk mereka, mom?"


"Entahlah, mommy juga sudah merasa lelah."


"Kita menyakiti orang-orang yang tidak bersalah, mom!"


"Hm!


"Kita tunggu, pangeran Griffin tiada. Setelah itu kita memohon kepadanya untuk melepaskan kita,"


"Setidaknya, kita mencoba,"


"Seharusnya, aku membunuhnya saja!"


"Tidak nak, dia sangatlah berbahaya dan licik. Sekarang kau pulanglah, sebelum dia datang," perintah wanita setengah baya itu.


"Dia datang menemui, mommy lagi?"


"Dia hanya ingin melihat hasil kerja kita, lakukan ini demi adik-adikmu, bukan karena wanita itu."


"Aku tidak berjanji, mom!"


"Kau harus melakukannya, Keenan Lerian!"


"Aku akan membunuhnya, kalau begitu," ujar Ken.


"Jangan nak!" Cegah sang mommy.


"Wah, jadi kau ingin membunuh bibi mu, anak muda?" Seorang wanita dengan penampilan sangat anggun dan angkuh muncul tiba-tiba dan membuat, Ken dan sang mommy terkejut.

__ADS_1


"K-kakak?" Seru mommy Ken yang terkejut ketika mengetahui kedatangan seorang wanita yang sangat mirip dengan wajahnya.


"Hay, adik!"


"Lepaskan kami," sela Ken dengan tatapan tajam ke arah wanita Arogan itu.


"Melepaskan kalian, berarti nyawa adik-adik mu juga terlepas dari raga mereka," ancam wanita itu dengan wajah angkuhnya.


"Jangan, kakak," mohon mommy Ken.


"Dasar wanita licik!" Bentak Ken.


Wanita itu pun hanya tersenyum remeh kepada anak dan ibu itu yang terlihat tak berdaya.


"Lakukan segera yang aku perintahkan," titah wanita sombong tersebut.


"Kau akan membuat kami menjadi kambing hitam lagi?"


"Karena itu tugas kalian,"


Ken hanya bisa menyembunyikan rasa amarahnya .


Dengan menghela nafas panjang, untuk menetralisir amarahnya yang sangat membuncah sekarang ini.


"Datanglah ke pulau itu, dan pastikan dia mati dengan sangat menyedihkan!" Perintah wanita itu lagi, lalu melempar Ken sebuah iPad ke arahnya.


dengan sigap Ken menangkap iPad mini itu dan manatap sejenak.


"Aku yakin malam ini, hidupnya akan berakhir!" Kekehan wanita itu begitu terdengar sangat mengerikan.


"Pergilah," usirnya.


"Tidak!" Tolak Ken.


"Keluarlah dan pergi dari sini!" Perintah wanita itu lagi.


"Aku tidak akan meninggalkan, mommyku," Ken berusaha menolak permintaan wanita tersebut.


"Kau pasti akan menyakiti mommyku lagi," pungkas Ken.


"Aku hanya memberi hukum padanya," bisik wanita setengah baya itu di telinga Ken.


"berhentilah, menyakiti, mommyku," pinta Ken.


" Itu Tidak akan pernah terjadi," sarkas wanita itu.

__ADS_1


"Seret dia!" titahnya kepada para pengawalnya.


__ADS_2