
"Kau, yakin ingin mengajaknya bergabung dengan kelompok kita, Ken.?! Glenn dan Ken kini sedang, berada di tempat latihan menembak. Glenn yang tidak percaya dengan ucapan Ken yang ingin mengajak seorang wanita bergabung di tim mereka.
"Jawab aku, sialan." Pekik Glenn dan menendang tulang kering sahabat itu.
"Aku rasa kita membutuhkan seorang wanita dalam tim kita, Glenn,!" Sahut Ken, tanpa melihat sahabatnya itu.
"Why? Tanya Glenn dengan alis yang menukik tajam.
"Kita, membutuhkan keahlian seorang wanita untuk memudahkan tugas dan misi kita," jawab Ken yang sedang mengisi peluru pada senjatanya.
" yang, kau katakan ada benarnya juga," sahut Glenn membenarkan pendapat Ken.
"Apa kau yakin dia mampu melakukan tugas berbahaya ini, Ken.!?
"Hum. Aku yakin. Dan aku sudah melihat kemampuan dan keberanian wanita ku,"
"Benarkah! Jangan bilang kau tertarik dengannya karena ketangguhan wanita itu."
"Salah satunya itu. Dan yang paling membuatku tertarik adalah, sikapnya yang baik dan penyayang. Dia juga seorang wanita yang sangat manis dan menggemaskan." Ujar Ken sambil tersenyum membayangkan wajah galak dan menggemaskan Amber.
"Ck! Dasar bucin," decak Glenn dengan mata mendelik ke arah Ken yang tersenyum usil kepadanya.
"Baiklah, aku menyetujui saran mu, tapi jangan sampai karena keberhasilannya membuka kefokusan mu terpecah." Pesan Glenn pada sahabatnya itu
"Itu tidak akan terjadi," balas Ken cepat.
"Ck! Aku hanya mewanti-wanti dirimu, Ken," dengus Glenn.
"Entahlah. Yang penting semua anggota tim kita dapat menerima, Amber."
"Hm!
__ADS_1
"Kau, mau kemana.?
"Istirahatlah.!
"Kamu, juga istirahatlah,!"
Glenn tidak menyahuti perintah Ken, pria dengan tubuh tinggi kekar itu melanjutkan latihan menembaknya.
Sedangkan Ken, melangkah kearah kamar miliknya yang berada di sebelah kamar, Amber.
Ken, menghempaskan tubuh lelahnya di atas ranjang king size miliknya. Ia menerawang jauh memikirkan masalah yang terjadi pada wanita yang sekarang berada bersamanya.
Ken tidak ingin terlalu dalam mengorek masalah Amber, yang membuat wanita tangguh itu terlihat rapuh.
"Mungkin, suatu saat dia akan cerita sendiri padaku." Monolognya.
Tak lama kemudian mata Ken pun terasa berat dan tertutup. Nafas teratur pria itu kini terdengar dari hidungnya. Menandakan Ken sudah terlelap.
Misi rahasia tentang mencari tahu tentang rahasia rival seseorang yang menyewa jasa tim mereka.
Sebuah tim rahasia yang melakukan sebuah misi berbahaya, seperti misi membunuh dan misi penyusup yang akan mencari tahu rahasia yang sangat penting. Atau misi mengintai lawan.
Keenan Lerian, sendiri adalah ketua dari tim rahasia ini. Karena kehebatan dan kecerdasan yang Keenan miliki ia mampu mendirikan, kelompok tim rahasia yang diberi nama, tim Daredevil black.
Sudah lima tahun Daredevil black didirikan dan sudah banyak orang yang memakai jasa mereka dari berbagai kalangan. Yang paling banyak dari kalangan konglomerat dan para pejabat negara. Dan setiap misi yang mereka lakukan selalu berhasil tanpa sedikitpun meninggalkan jejak.
Itu karena Keenan memiliki kemampuan otak yang genius. Dan memiliki rencana misi yang sangat mudah dilakukan dan paling penting tidak meninggalkan jejak.
*
*
__ADS_1
*
Sementara di belahan dunia lain.
Bram yang baru tiba di kediaman sang ibu ratu, lewat tengah malam. Ia memasuki kamarnya yang tentu saja ada sosok wanita cantik yang setia menunggunya di ranjang.
Camelia tersenyum manis kepada Bram, Camelia lantas turun dari ranjang dan mendekati sang suami.
Ia berlakon layaknya istri yang baik. Mengambil mantel sang suami dan juga tas kerja milik Bram, menyimpannya di tempat biasa . Ia juga membukakan sepatu suaminya itu.
"Tidak perlu.!" Tolak Bram saat tangan Camelia ingin membuka kancing kemejanya Bram.
"Aku, hanya ingin melayanimu. Sebagai istri ini adalah kewajibanku, maka izinkan aku melakukannya." Pinta Camelia dengan tatapan memohon.
"Tapi aku tidak suka disentuh.!" Tolak Bram dingin.
"Aku, istrimu, Pangeran Griffin.!" Balas Camelia dengan nada penuh tekanan.
"Aku tidak peduli," sahut Bram.
Bram meninggalkan Camelia yang hanya bisa mematung di tempatnya.
Entah cara apalagi yang akan Camelia lakukan agar bisa mengambil hati Bram. Ia ingin menyerah. Tapi rasa ingin memiliki itu membuat semangatnya bangkit untuk mendapatkan hati Bram. ia juga yakin suatu saat Bram akan melihat dirinya dan bisa menerima dirinya sebagai pendampingnya.
Bram sendiri, melangkah memasuki kamar mandi. Tanpa memperdulikan Camelia yang menatapnya nanar. Ia butuh menyegarkan tubuh dan pikirannya.
Didalam pikiran Bram hanya ada rasa khawatir yang iya tujukan kepada Amber tentunya.
Bram mengguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin. Ia tidak memperdulikan air dingin bagaikan es itu menusuk sampai seluruh tulang-tulangnya.
Bram mengepalkan tangannya dan memukulkannya ke dinding. Hingga tangan Bram kembali berdarah dan terluka.
__ADS_1
"Aku merindukanmu, sayang."